
"Iya. Sudah berberapa hari Kanaya menginap di sini. Nemenin Tante, dan bantu beres - beres rumah," ujar Ratna.
"Sekarang Kanaya dimana, Tante?" Tanya Devan dengan antusias.
"Tadi Kanaya pamit ke dokter, mungkin sebentar lagi pulang," ujar Ratna.
"Kanaya sakit Tante?" Tanya Devan saat mendengar Kanaya pergi ke dokter.
"Kanaya jatuh minggu kemarin dan lehernya harus di gips. Tapi sekarang sudah baik. Dia ke dokter untuk melepas gipsnya," ujar Ratna.
"Kamu tunggu disini, Van. Istirahat dulu di kamar Kanaya atau Devita di atas. Tante siapkan makan malam buat kalian" ujar Ratna sambil tersenyum.
Ia berharap Devan mau menunggu Kanaya kembali. Sebab Ratna yakin Kanaya pasti sangat senang sekali jika bisa bertemu Devan. Ia tahu Kanaya belum pernah bertemu Devan sejak menikah dengan Elvano, padahal sebelum itu mereka selalu bersama.
"Devan, anggap seperti rumah sendiri," ujar Ratna sambil mengambilkan air minum untuk Devan.
"Iya Tante, terima kasih," ujar Devan meminum minuman yang di sediakan oleh Kanaya.
Devan pun ke atas dan masuk ke kamar Kanaya. Ia sudah terbiasa keluar masuk ke kamar Kanaya sejak dulu.
Devan tersenyum menghirup aroma parfum yang sama yang sering di pakai Kanaya sejak dulu, Vanila dengan sedikit aroma orange.
Aroma parfum masih terasa kental di kamar Kanaya, menandakan memang Kanaya berada di kamar ini sebelumnya.
Devan pun menunggu Kanaya pulang dan merebahkan dirinya di ranjang single milik Kanaya yang telah di gunakan oleh Kanaya sejak ia kuliah dan masih belum di ganti hingga sekarang.
Namun, Devan tidak bisa berlama - lama di kamar Kanaya. Ia teringat rumah orang tuanya, dan ia pun pergi ke rumahnya untuk menengok kondisi rumah keluarganya sebelum Kanaya datang.
***
Dokter Adam sudah melepas gips Kanaya dan meronsen leher Kanaya, untuk memastikan tidak ada luka - luka lain di sana.
__ADS_1
"Semuanya sudah baik sekarang," ujar Dokter Adam pada Kanaya.
"Terima kasih, Dokter Adam," ujar Kanaya sambil mengulurkan tangan, berterima kasih atas bantuannya selama ini.
Dokter Adam mengangguk dan memadang wanita yang beberapa kali di obatinya karena kekerasan yang di lakukan suaminya sendiri. Ia pun merasa iba namun tidak bisa berbuat apa - apa. Karena ia telah menjadi dokter di keluarga Elvano untuk waktu yang lama.
Kanaya naik ke dalam mobil Mamanya yang ia pinjam dan mengendarainya pulang ke rumah orang tuanya.
"Mah, Kanaya pulang," ujar Kanaya saat membuka pintu rumah dan masuk kedalam.
"Di dapur, Ay." terdengar suara Mamanya dari arah dapur.
Kanaya pun berjalan ke arah dapur. Dan mencium aroma lezat dari arah dapur.
"Bagaimana leher kamu, Ay?" tanya Ratna sambil melihat leher putrinya yang sudah tidak memakai gips lagi."
"Sudah baik, Mah," jawab Kanaya sambil melihat apa yang di masak Mamanya malam itu.
"Wah, Mama masak besar ya hari ini?" tanya Kanaya saat melihat Mamanya itu masak cukup banyak hari itu."
"Karena kita ada tamu istimewa Kanaya." ujar Ratna sambil tersenyum
"Tamu? Siapa, Mah?" tanya Kanaya sambil celingak celinguk mencari jika ada sosok orang lain bersama mereka. Tetapi ia tidak melihat siapapun selain dirinya dan Mamanya.
"Devan," ujar Ratna sambil melirik ke arah Kanaya.
"De..Devan, Mah?" tanya Kanaya dengan terkejut dan membelalakan matanya.
Ratna mengangguk.
"Dimana Mah? Devan di mana?" tanya Kanaya dengan sangat antusias.
__ADS_1
"Tadi dia di sini, tapi dia sudah pulang kerumahnya un...." belum selesai Ratna menyelesaikan ucapannya, Kanaya sudah berlari keluar rumah, menuju rumah Devan.
"Devaannnn!" Panggil Kanaya sambil berlari dan masuk kedalam rumah Devan yang tidak terkunci.
"Devan!" Teriak Kanaya sambil membuka semua pintu ruangan yang ada di lantai dasar rumah Devan.
Devan yang sedang berada di kamarnya pun mendengar suara Kanaya memanggilnya.
"Kanaya,,," gumamnya mengenali suara Kanaya. Ia pun langsung berlari keluar kamar dan turun kelantai bawah, dan melihat Kanaya berdiri di tengah ruangan dengan memakai rok dan atasan berenda berwarna putih.
"Devan!"
"Kanaya!"
Panggil mereka bersamaan sambil menatap satu sama lain. Kemudian berlari dan saling berpelukkan.
"Devan...," Panggil Kanaya sambil terisak. Ia tidak bisa menahan luapan kebahagiaan dalam hatinya, akhirnya bisa bertemu dengan Devan setelah sekian lama.
"Ay...." Panggil Devan sambil mendekap Kanaya demikian erat dan tidak ingin di lepaskan.
Waktu seakan berhenti dan membiarkan mereka tetap seperti itu untuk beberapa saat, hingga Devan melepaskan pelukannya dan memandangi wajah Kanaya yang sembab karena menangis.
"Sudah Ay. Jangan nangis!" Ujar Devan sambil menghapus air mata di pipi Kanaya. Namun, Kanaya justru tambah menangis dengan sikap Devan yang selalu melindunginya dan berusaha menyemangatinya sejak dulu, sesuatu yang tidak ia dapatkan sejak Devan pergi.
Kanaya mendekap Devan dan kembali menangis di dada bidang Devan. Rasanya ia ingin meluapkan isi hatinya dan menceritakan semuanya pada Devan, sahabatnya.
"Ay...," Panggil Devan sambil mengelus lembut rambut Kanaya dalam dekapannya. Ia pun mengajak Kanaya duduk di salah satu sofa di rumah itu setelah ia membuka kain penutupnya.
"Sudah Ay, jangan menangis terus," pinta Devan yang tidak tega melihat kesedihan di raut wajah Kanaya.
"Ay, aku tahu kehilangan Papamu pasti sangat berat untukmu, tapi kamu harus tabah," ujar Devan sambil mengusap air mata di pipi Kanaya dengan jarinya.
__ADS_1
Devan mengira Kanaya sedang sedih setelah kehilangan Papanya.
Jangan lupa like komen dan vote.