
Setelah menyelesaikan sarapannya, Kanaya meghabiskan waktunya dengan membaca buku di dalam kamarnya. Bella telah membawakan beberapa buah buku yang di pesan Kanaya dari ruang baca.
"Nyonya, apakah Nyonya mau keluar? kita bisa berjalan - jalan sebentar di taman," ujar Bella menawarkan.
Kanaya menggeleng. Ia masih enggan bertemu dengan Elvano. Dengan tetap berada di dalam kamarnya ia tidak akan pernah bertemu dengan Elvano.
Bella sepertinya bisa menebak ke engganan Nyonyanya itu.
"Tuan sudah pergi dari satu jam yang lalu, Nyonya," ujar Bella sambil tersenyum.
Kanaya terdiam. Meskipun ia harusnya merasa senang dengan kepergian Elvano, dan ia bisa dengan leluasa keluar dari kamarnya, tetapi ada rasa kecewa dalam hatinya. Kanaya tahu kemana Elvano pergi dan menghabiskan waktunya. Kemana lagi kalau bukan ke pulau bersama Maya?.
Sedikit banyak mengetahui hal itu membuat sakit hatinya.
"Mungkin nanti sore Bella, aku hanya ingin beristirahat dalam kamar," ujar Kanaya dengan menunduk.
Bella pun tidak memaksa.
"Saya ada di bawah, kalau membutuhkan apa - apa Nyonya tinggal hubungi saya," ujar Bella sambil undur diri.
Kanaya pun menghabiskan harinya di dalam kamar, membaca buku sambil berbaring telungkup di ranjangnya. Ia mencoba menikmati hari itu sebagai hari liburnya, bebas tanpa harus membersihkan rumah yang sangat besar seperti yang di lakukannya setiap hari.
Menjelang sore Kanaya berganti pakaian dengan menggunakan atasan yang oversize dan sebuah legging. Ia temani Bella berjalan - jalan di taman.
"Kanaya!" panggil Luna tiba - tiba muncul di taman belakang, berjalan menghampirinya sambil tersenyum. Di belakangnya, Desi berjalan mengiringi.
"Mama," ujar Kanaya berusaha tersenyum meskipun ia sangat terkejut.
'Mau apa Mama kesini? Apa ia tahu apa yang terjadi?' Batin Kanaya.
__ADS_1
"Bagaimana kondisimu, Sayang? kata Desi kamu sedang kurang sehat. Apa yang kamu rasakan?" tanya Luna dengan ekspresi wajah kuatir.
Kanaya menoleh ke arah Desi. Apa Desi menceritakan apa yang terjadi?
"Maaf Nyonya saya terpaksa menceritakan kalau Nyonya sedang demam tadi pagi," ujar Desi sambil memberi tatapan penuh arti.
"Iya Mah, Kanaya memang demam tadi pagi, tapi sore ini sudah enakan, itu sebabnya Kanaya keluar untuk mencari udara segar."
"Ah, Syukurlah! Mama sangat khawatir kalau ada apa - apa denganmu!" ujar Luna sambil memeluk Kanaya erat.
Sentuhan tangan Luna yang begitu erat di punggungnya terasa sangat nyeri bagi Kanaya. Namun ia mencoba untuk menahannya. Luna tidak boleh tahu apa yang telah Elvano lakukan padanya, atau Elvano akan mencelakakan kedua orang tuanya dan juga keluarga Devan.
Apalagi kondisi perusahaan Papa Kanaya yang masih belumlah stabil, bahkan dengan suntikan dana yang di dapat dari Elvano sekalipun. Oleh karena itu Kanaya tidak bisa berbuat apa - apa selain menuruti kemauan Elvano.
"Tadinya Mama mau mengajak kamu dan Elvano berjalan - jalan keluar, karena kebetulan Mama lewat dekat sini," ujar Luna sambil duduk di kursi taman di dekat mereka.
"Kak Elvano... sedang ada pekerjaan di luar kota dan harus menginap," jawab Kanaya sambil duduk di tepi bangku taman bersama Luna. Kanaya berusaha menutupi hubungannya dengan Elvano dan juga Maya kepada ibu mertuanya itu.
"Elvano...Elvano istri sedang sakit kok malah pergi ke luar kota?!" ujar Luna sambil geleng - geleng kepala.
"Nggak apa - apa Ma, Kanaya hanya sakit biasa, mungkin mau flu saja. Dan Elvano memang ada meeting penting ke luar kota dan tidak bisa di tinggal," ujar Kanaya sambil tersenyum.
"Maaf Nyonya Luna, Nyonya mau minum apa?" tanya Desi memotong percakapan mereka.
"Buatkan saya teh hangat saja, Desi," jawab Luna.
"Baik Nyonya, Nyonya Kanaya?" tanya Desi lagi.
"Samakan saja, Desi." Jawab Kanaya.
__ADS_1
Desi pun mengangguk dan meninggalkan mereka berdua.
"Bagaimana hubunganmu dengan Elvano, Kanaya? Apakah semuanya baik - baik saja?" tanya Luna sambil menatap Kanaya dan tersenyum.
"Baik Mah," jawab Kanaya juga sambil tersenyum. Kanaya sudah terbiasa bersandiwara mengenai hubungannya denngan Elvano, sehingga saat di tanya pun, ia sudah bersikap biasa saja.
Luna tampak memperhatikan Kanaya.
"Apakah dia memperlakukanmu dengan baik?" tanya Luna.
Tenggorokan Kanaya seperti terasa tercekat. Ingin rasanya ia bercerita kepada ibu mertuanya yang sangat baik itu, apa yang anaknya tengah lakukan padanya, namun ia tidak bisa.
"Ini tehnya Nyonya," ucap Desi tiba - tiba sambil menyajikan dua cangkir teh dan sepiring kue
"Terima kasih Desi," ujar Luna.
"Diminum dulu, Mah," ajak Kanaya dan mereka pun menikmati teh hangat dan kudapan yang di bawa oleh Desi.
"Kamu belum jawab pertanyaan Mama Kanaya," ujar Luna teringat pada pertanyaannya tadi.
Kanaya meminum tehnya kembali. Memberi waktu bagi perang batin di hatinya. Apakah dia akan menceritakan yang sebenarnya atau menutupinya.
"Kanaya? Apa Elvano menyakitimu?" tanya Luna kembali karena tidak sabar mendengar jawaban dari Kanaya.
Kondisi Kanaya sehabis di hukum cambuk😊
Jangan lupa, like komen dan vote.
__ADS_1