
Melisa memang tidak pernah bertanya dimana Kanaya tinggal selama ini di kota B, dan Devan pun tidak pernah bercerita bahwa Kanaya tinggal bersamanya. Hal itulah yang membuatnya sangat marah, kesal dan juga cemburu pada Kanaya.
Melisa merasa kehadiran Kanaya di kota B membuat hubungannya dengan Devan menjadi semakin sulit dan menjauh.
Melisa tidak menampik, meski pun Kanaya bukanlah seorang model seperti dirinya, akan tetapi ia memiliki paras yang sangat cantik,dan tutur kata yang lembut. Dan ketakutan dalam diri Melisa adalah bahwa Devan mencintai Kanaya selama ini dan hubungan mereka tidaklah murni sebagai dua orang sahabat.
Devan mengambil tempat duduk di sudut cafe itu, jauh dari meja yang lainnya yang telah terisi.
Devan pun segera memesankan mereka minuman. Meskipun ia tidak begitu mengenal Melisa, seperti ia mengenal Kanaya. Akan tetapi, ia masih mengetahui apa minuman kesukaan Melisa.
Sebagai seorang pengacara sudah pembawaannya untuk memperhatikan segala sesuatunya dengan detail.
"Mel, aku minta maaf. Jika aku, jarang punya banyak waktu untukmu," ujar Devan memulai pembicaraan.
"Tapi kenapa, kamu punya banyak waktu untuk Kanaya?" Sergah Melisa.
"Mel, aku pun baru kali ini mengajak Kanaya untuk pergi keluar. Itu pun karena kami di undang makan siang bersama," ujar Devan.
"Di undang siapa?" tanya Melisa.
"Kami di undang oleh Pak David.." ujar Devan, namun di potong perkataannya sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya.
"Kamu mengajak Kanaya untuk makan siang bersama Alexander David Mahendra? Devan! Kamu saja belum pernah mengajak aku untuk bertemu dengan Alexander David Mahendra!" Ujar Melisa dengan emosi. Ia tampak sangat marah mengetahui jika Devan mengajak Kanaya dan bukan dirinya untuk bertemu seseorang sekelas Alexander David Mahendra.
' Aku pacarnya dan kenapa dia malah mengajak Kanaya?' batin Melisa kesal.
"Melisa, kamu jangan salah sangka. Ibu Rena dan Pak David yang mengundang Kanaya, bukan aku yang mengajaknya," terang Devan.
Melisa tertawa, menertawakan ucapan Devan. Dia sama sekali tidak percaya ucapan Devan padanya.
"Bagaimana mungkin seorang seperti Pak David dan Ibu Rena mengundang Kanaya, seseorang yang tidak mereka kenal, dan bukan siapa - siapa, Devan? Apa Kanaya seorang model terkenal? Seorang pengusaha? Orang berada? Tidak! Dia hanyalah seorang Istri yang teraniyaya!" Ujar Melisa sembari tertawa dan meluapkan kekesalannya.
"Melisa! Jaga ucapanmu! Pak David adalah orang yang membantu aku dan Kanaya, dan itulah sebabnya mereka ingin menemuinya. Dan, Melisa jangan pernah memandang rendah Kanayaaa!" Seru Devan berusaha menahan emosinya mendengar perkataan Melisa pada Kanaya. Melisa sempat tertegun sesaat.
__ADS_1
"Tapi benarkah yang aku bilang? Dia itu istri orang Devann. Istri orang!" Ujar Melisa menekankan pada Devan bahwa wanita yang di perhatikannya itu adalah istri orang, dan milik orang lain.
"Melisa, sebenarnya apa maumu?" tanya Devan dengan nada datar dan tanpa emosi.
"Mauku?" gumam Melisa sambil tertawa, dan bertepatan dengan seorang pelayan membawa pesanan minuman mereka. Melisa pun kemudian meminum habis es lemon limenya yang baru saja di taruh di atas meja oleh pelayan cafe itu.
"Aku mau kamu Devan.... aku mau kamu memperhatikan aku seperti kamu memperhatikan Kanaya. Aku mau kamu memandang aku seperti cara kamu memandang Kanaya...." ujar Melisa dengan mata yang berkaca - kaca.
Devan tertegun mendengar semua itu, ia merasa sangat bersalah.
Apakah sedemikin jelas perasaannya pada Kanaya, sehingga Melisa bisa melihatnya? pikir Devan
Devan berpindah duduk di sebelah Melisa.
"Melisa.... maafkan aku," ujar Devan sambil meraih tangan Melisa.
"Maafkan aku, karena aku sudah menyakitimu," ujar Devan sambil menatap mata Melisa. Ia benar - benar merasa bersalah.
"Apakah kamu sangat mencintainya?" tanya Melisa. Melisapun berat menanyakan hal ini, karena ia belum sanggup untuk mendengar jawaban dari Devan. Meskipun begitu, ia sangat berharap Devan mengatakan ' Tidak'.
Melisa kembali tertawa.
"Devan....., kamu bahkan tidak bisa menutupinya.." ucap Melisa sambil tertawa miris.
Melisa memang benar, karena Devan tidak menyangkalnya sama sekali.
"Aku mau pulang," ucap Melisa dan beranjak dari duduknya.
Devan mengikuti Melisa, setelah ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan memanggil pelayan.
Selama perjalanan pulang. Mereka tidak saling bicara. Namun, Devan sempat menoleh beberapa kali pada Melisa, rasa bersalahnya membuatnya begitu khawatir pada Melisa.
Devan berhenti di parkiran basement di sebuah apartemen dan mengatar Melisa pulang ke unit apartementnya.
__ADS_1
"Masuklah dulu, Devan," tiba - tiba Melisa berkata seperti itu saat Devan hendak pamit di depan pintu apartemen milik Melisa.
"Mel, ini sudah malam..." ucapan Devan langsung di potong oleh Melisa.
"Tolong lah Devan, sekali ini saja." pinta Melisa sambil memegang tangan Devan. Devan tak sampai hati untuk menolaknya dan ia pun masuk ke dalam apartemen Melisa.
Devan berjalan mengelilingi apartemen milik Melisa dan melihat - lihat foto Melisa yang terpampang disana. Sudah lama ia tidak masuk ke dalam apartemen Melisa.
"Kamu mau kopi?" tanya Melisa sambil berjalan ke arah dapurnya.
"Aku tidak bisa lama, Melisa. Karena aku harus berangkat keluar kota pagi - pagi," ujar Devan sambil menoleh sesaat pada Melisa yang sedang minum segelas air di dapur.
Namun Melisa tetap membuatkannya kopi juga.
"Minumlah kopimu, Devan." ujar Melisa sambil menaruh secangkir kopi di atas meja.
Devan pun mau tak mau berjalan menuju ke arah sofa dan duduk disana. Ia menyesap sedikit, kopi yang di buatkan Melisa untuknya.
Devan mengambil telepon genggamnya dari kantong bajunya dan tersadar jika ia belum mengecesnya.
"Mel, boleh aku pinjam chargermu sebentar, 5 menit saja," ujar Devan dan melisa pun memberikan charger miliknya dan menghubungkannya dengan stop kontak listrik di dekat Devan.
"Aku gant baju dulu, ya." ujar Melisa dan Devan pun mengangguk.
Devan berpikir untuk menunggu beberapa menit hingga teleponnya menyala dan menghabiskan kopi yang sudah di buat oleh Melisa.
Tak lama telepon genggam Devan mulai mengisi daya dan layarnya pun mulai menyala.
Devan sibuk melihat layar telepon genggamnya saat Melisa keluar dari kamarnya. Ia menghampirinya dengan lingerie yang tipis dan seksi.
Devan tidak menyadari kehadiran Melisa, hingga Melisa menarik telepon gengamnya dan menaruhnya di meja. Kemudian ia duduk di pangkuan Devan, menghadapnya dan merangkuk lehernya.
"Mel..." Devan tidak sempat berkata - kata karena bibirnya telah di kunci dengan bibir Melisa yang menciumnya dengan penuh gelora.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa, like komen dan juga vote.