Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Tidak Bisa Menerima


__ADS_3

"Bagaimana keadaanya, Dok?" tanya Devan sambil duduk di ranjang di samping Kanaya dan memegang tangan Kanaya kembali.


Alika dan Ratna tampak sangat tegang, mereka saling pandang mundah - mudahan dugaan mereka salah.


Dokter itu tersenyum dan berpikir Devan sudah tidak sabar ingin mendengar hasil tesnya.


"Selamat ya Pak, Bu. Ibu sedang tidak sakit, tetapi sedang mengandung dan usia kandungannya sudah mencapai 10 minggu ," ujar Dokter itu sambil tersenyum lebar.


Devan dan Kanaya sangat terkejut mendengar hal itu. Bagi mereka berdua hal itu tidak pernah terbesit di dalam benak mereka.


'A.... apa?! Kanaya hamil....' batin Devan. Sambil menoleh ke arah Kanaya yang masih melongo dengan apa yang Dokter katakan. Ekspresi Kanaya pun berubah tak menentu.


'Aaaaaa... Apa? aku hamil? Itu tidak mungkin... tidak mungkin....' batin Kanaya dengan mata yang menggenang. Lidahnya kelu tidak bisa berkata apa - apa. Berbagai macam perasaan berkecamuk di dirinya.


"Do.. Dokter... Dokter pasti salah, kan?" ujara Kanaya dengan mata yang berkaca - kaca sambil tersenyum canggung.


"Ibu Kanaya, hasil tesnya menyatakan kalau Ibu Kanaya memang positif hamil," ujar Dokter tersebut karena masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Tolong Dokter periksa lagi. Saya tidak mungkin hamil dokter... tidak mungkin saya hamil!" Ujar Kanaya dengan nada yang meninggi.


Kanaya berusaha menyangkal dan ia menolak untuk di nyatakan hamil. Ia benar - benar tidak bisa menerima kenyataan jika dirinya sedang mengandung!



"Tidak Dokter, saya tidak hamil!" Teriak Kanaya.


Devan yang masih syock dengan kabar itu pun terdiam. Dia berusaha menerima apa yang dokter baru saja katakan. 'Kanaya hamil. 10 minggu, anak Elvano?' ucap Devan dalam hati.


"Dokter, sebaiknya anda keluar dulu," ucap Alika mencoba menyandarkan Dokter dengan situasi yang ada. Barulah Dokter sadar jika Kanaya tidak menginginkan kehamilan itu. Ia telah salah menginterprestasikan pasangan di hadapannya.


Dokter tesebut menyangka Kanaya dan Devan adalah sepasang Suami Istri, karena melihat begitu perhatiannya Devan pada Kanaya.


Dokter pun langsung memanggil perawat untuk membantunya menenangkan Kanaya yang tampak sangat histeris.

__ADS_1


"Devan... Devan!" panggil Alika sambil mengguncang bahu Devan, dan Devan pun tersadar dari lamuananya sendiri. Ia menoleh dan melihat kanaya yang sedang histeris dengan di pegangi oleh dua orang perawat. Secara reflek Devan menghampiri Kanaya dan langsung memeluknya.


"Sudah Ay. Tidak pa - pa." ucapnya sambil mengelus dan memeluk kepala Kanaya berusaha untuk menenangkannya.


"Tidak! Aku tidak mau!" Ujar Kanaya sambil menepis tangan Devan. Ia tidak bisa menerima begitu saja ucapan Devan.


Saat itu kondisi Kanaya tidak bisa menerima siapapun untuk mendekatinya. Ia sangat kecewa dan marah dengan apa yang terjadi. Kabar kehamilannya benar - benar merupakan pukulan berat buatnya. Padahal ia baru saja terbebas dan menutup buku dari pernikahannya dengan Elvano dan akan memulai kisahnya yang baru bersama Devan. Dan sekarang ia tidak nyatakan telah mengandung anak Elvano?


Kanaya benar - benar terpukul, bagaimana mungkin ia bisa bersama dengan Devan. Sedangkan ia tengah mengandung anak dari Elvano?"


Terpaksa perawat pun memberikan obat penenang kepada Kanaya yang masih histeris hingga ia bisa kembali tenang dan perawat membaringkannya di ranjang.


Kanaya sudah tidak histeris lagi, akan tetapi ia masih meneteskan air mata, belum bisa menerima kenyataan jika dirinya telah mengandung anak dari Yohanes Elvano Alvarendra.


Alika dan Ratna pun langsung mendekatinya dan menemaninya berbaring di ranjang rumah sakit, sementara Devan memilih untuk keluar dari ruangan rawat Kanaya untuk berpikir sejenak. Karena ia pun masih syock dengan apa yang telah terjadi. Semua ini terjadi di luar rencannya dan Kanaya.


Devan keluar dari Kamar dan bersandar di tembok kaca rumah sakit itu. ia jujur sangat bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Di sisi lain Ia sangat mencintai Kanaya, akan tetapi anak yang di kandung Kanaya bukanlah anakanya. Devan menengadah dan memandang langit - langit yang ada di atasnya.



Ia pun berjalan ke taman yang ada di samping rumah sakit itu dan duduk di sana.


Ia berencana menikahi Kanaya meski ia tahu Kanaya sudah tidak gadis lagi. Buatnya itu tidakmasalah, karena ia mencintai Kanaya apa adanya, ia mencinta Kanaya bukan hanya dari fisiknya, tetapi jauh lebih dalam dari itu. Dan saat orang yang sedang di cintainya itu tengah mendapatkan cobaan yan berat dan Devan tahu Kanaya sangat membutuhkan dirinya. Yah, apapun keputusan Kanaya, akan selalu berada bersamanya. Devan pernah menjanjikan satu hal pada Kanaya dan dia bersungguh - sungguh mengucapkannya.


Dengan langkah pasti Devan kembali ke kamar perawatan Kanaya. Ia membuka pintu perlahan dan melangkah masuk. Saat ia masuk Kanaya sedang duduk di ranjang rumah sakit menghadap ke arah lain, sementara Alika dan Ratna berusaha untuk menguatkannya.


Alika dan Ratna saling pandang sebelum mereka beranjak keluar kamar itu, memberi waktu Devan dan Kanaya berbicara.


Kanaya sudah tampak tidak emosional lagi,akan tetapi ia masih saja menangis.



"Kanaya..." ucap Devan sambil meraih tangan Kanaya. Namun, Kanaya segera menariknya.

__ADS_1


Devan tidak berputus asa ia duduk di tepi ranjang dan menyingkap rambut Kanaya yang menutupi wajahnya.


Kanaya terlihat sangat sedih dan putus asa. Matanya membengkak karena tangis nya sejak tadi.


"Aku tahu, kamu sangat terkejut. Kita semua pun sama terkejut. Tapi, kamu nggak boleh seperti ini, Ay." ujar Devan.



"Aku tidak menginginkannya, Van. Aku sungguh tidak menginginkan anak ini!" Sergah Kanaya sambil memukul - mukul perutnya.


"Kanaya... Kanaya!" Ujar Devan langsung menarik tangan Kanaya dari perutnya dan memeluknya. Ia memeluknya dalam dekapannya.


"Ingat Kanaya anak itu tidak berdosa, jangan pernah kamu sakiti dia," ujar Devan mencoba melepaskan pelukannya. Ia tidak ingin Kanaya menyakiti anak dalam kandungannya atau pun menyakitinya dirinya sendiri.


"Kenapa seperti ini, Van? Kenapa aku harus mengandung anak Kak Elvano?" ucap Kanaya.


"Aku ingin bebas, Van? Aku tidak ingin bersama Kak Elvano lagi! Tapi kenapa sekarang ada anak Kak Elvano di dalam perutku? Kenapa?" tanya Kanaya sambil berurai air mata.


Devan melepaskan pelukannya dan menangkup wajah sedih Kanaya.


"Ay..., dengarkan aku. Kamu dan Elvano sudah berpisah. Kalau kamu tidak ingin bersama dengannya lagi, tidak ada yang akan memaksamu untuk kembali bersama dia," ujar Devan sambil menatap manik mata Kanaya tanpa berkedip dan begitu pula Kanaya.


"Siapa pun Ayahnya. Kamu adalah Ibunya. Dan anak ini adalah bagian dari kamu, Ay. Dia mengandalkanmu jangan kamu sakiti dia...." ujar Devan seperti menghipnotis Kanaya yang memandangnya tanpa berkedip.


"Dan aku berjanji, Ay. Akan selalu menemanimu melalui ini semua. Aku tidak akan membiarkanmu sendiri," janji Devan.


Kanaya mendengarkan perkataan Devan dan ia pun memejamkan matanya. Di saat ia sangat tepuruk pun Devan selalu ada untuknya.


"Kamu akan baik - baik saja, Ay. Aku janji, aku nggak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu," ujar Devan sambil memeluk Kanaya kembali dan mengusap lembut rambutnya.


Bersambung...


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan juga hadiahnya. Jangan lupa tinggalkan jejak komentar kalian.

__ADS_1


__ADS_2