Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Setelah Ratusan Purnama


__ADS_3

**Hallo Kakak, author balik lagi nih..


Nanti bakalan ada up lagi... jadi author minta penuhi kolom komentarnya yak biar author semakin semangat dan tidak ngantuk buat ngetik. author juga minta jangan pelit dong kasih tombol likenya😁


Happy Reading semuanya...🤗**


Clara sebenarnya kecewa mendengar jawaban dari Elvano, karena di dasar hatinya yang paling dalam ia berharap Elvano bisa menjadi figur Ayah bagi dirinya. Akan tetapi kecupan dan candaan Elvano padanya pagi itu, membuatnya tertawa, dan ia lupa pada misinya untuk membuat Elvano menginap lagi,. Bagaimana pun ia adalah anak kecil yang mudah teralihkan.


"Dah Papa, Dah Bunda," ucap Clara saat ia dan Alvaro turun dari halaman sekolah.


Selepas kepergian kedua anak itu ke sekolah, Elvano dan Kanaya terdiam duduk di kursi belakang.


"Kak El..."


"Kanaya.."


Ucap mereka berdua hampir bersamaan.


"Kamu dulu Ay," ucap Elvano memberi kesempatan pada Kanaya untuk bicara leboh dulu.


Kanaya memutar sedikit arah duduknya menghadap Elvano. Namun, saat ingin mengatakan sesuatu, ia ragu dan melirik ke arah Arya yang sedang mengendarai kendaraan.


Elvano melihat hal itu dan menyadari jika Kanaya sungkan untuk bicara jika ada orang lain yang. Ia pun memencet tombol penutup ruang kabin, sehingga antara mereka dan Arya turunlah sekat pemisah ruang.


"Apa yang ingin kamu sampaikan Ay?" tanya Elvano setelah pembatas kabin tertutup sempurna dan membatasi mereka dari Arya.


"Kak El... aku tahu kamu sangat menyayangi anak - anak dan anak - anak juga sayang padamu, tapi..."


Elvano masih menunggu Kanaya untuk melanjutkan kalimatanya dengan harap - harap cemas. Tapi... kamu tidak menyayangi aku Ay? Apa itu yang ingin kamu katakan? Pikir Elvano.

__ADS_1


Ia berharap bukan itu, yang ingin Kanaya sampaikan.


"Tapi aku perlu waktu dan ruang Kak El," ujar Kanaya sambil menatap mata Elvano dengan pandangan memohon kepadanya untuk mengerti.


Elvano pun menatap Kanaya dan menyadari jika Kanaya membutuhkan waktu untuk berpikir dan ia tidak bisa melakukannya jika dirinya ada di dekat Kanaya.


"Maaf Tuan, kita sudah sampai dia Aprtemen Clarissa Sky Garden," ujar Arya melalui interkom.


"Oke Arya, tunggu sebentar," jawab Elvano. Tidak ingin Arya membukakan pintu untuk Kanaya lebih dulu. Karena ia masih ingin berbicara dengan Kanaya.


"Ay, aku tahu kamu masih membutuhkan waktu. Aku pun tidak akan memaksa kamu untuk menerima aku saat ini. Aku akan memberimu ruang dan waktu untuk kamu berpikir. Tetapi aku mau kamu tahu bahwa aku sangat mencintaimu, Ay." ujar Elvano.


"Percayalah Ay, aku bukanlah aku yang dulu. Mencintaimu adalah satu - satunya yang ada dalam benakku saat ini. Aku selalu menunggumu sampai kapanpun, karena hanya ada kamu di dalam hatiku," ujar Elvano kemudian ia mendekati Kanaya dan mengecup pipinya dengan perlahan dan meresapinya. Elvano menatap kedua manik mata Kanaya dan tersenyum sebelum ia keluar dan membukakan pintu bagi Kanaya.


Kanaya keluar perlahan tanpa berkata apapun, dan berjalan masuk ke dalam lobby apartemen itu. Saat ia menoleh, Elvano masih berdiri di samping mobil dan tersenyum padanya. Setelah Kanaya masuk ke dalam kantornya, Elvano masuk kembali ke dalam mobil. Ia duduk dan menghela napas sambil bersandar pada sandaran kursi mobil.


Namun, ia harus bersabar sedikit lagi dan memberi Kanaya ruang dan waktu yang di butuhkannya. Elvano berharap Kanaya akan bisa melihat ketulusan dan cinta yang ada di hatinya untuk Kanaya.


*****


Kanaya Zavira POV


Seminggu sudah sejak hari itu, hari dimana Elvano menyatakan perasaaanya padaku. Ku katakan aku membutuhkan waktu dan ruang.


Terus terang berada di dekatnya, membuatku takut.


Ya, aku takut pada perasaanku padanya.


Elvano bukanlah yang pertama yang menyatakan perasaanya padaku setelah kepergian Devan. Ada beberapa orang laki - laki lain yang ku kenal cukup baik yang menyatakan perasaannya lebih dulu dari pada Elvano, tetapi langsung ku tolak dengan halus saat itu juga, dengan dalih aku masih belum siap untuk berhubungan dekat dengan siapapun, tetapi dengan Elvano aku merasa takut.

__ADS_1


Bukan karena apa yang telah di lakukannya di masa lalu. Sama sekali bukan. Apa yang ia lakukan di masa lalu sudah ku maafkan. Ia telah berubah, dan menjadi orang yang sama sekali berbeda. Elvano yang sekarang jauh lebih baik.


Ia tidak hanya lebih matang dan dewasa, namun sikapnya juga penuh dengan kasih dan sayang. Ia bahkan begitu dekat, bukan hanya pada Alvaro anak biologisnya, tetapi juga pada Clara.


Ketakutanku padanya di sebabkan karena sesuatu yang kurasakan di dalam hatiku. Aku belum siap untuk mengakui jika aku menyukainya, mempunyai rasa untuknya. Aku takut jika ia akan menggantikan Devan di hatiku, itu yang sebenarnya.


Elvano menepati janjinya untuk memberikan aku ruang dan waktu. Sejak hari itu, aku hampir tidak pernah bertemu dengannya ataupun berbicara padanya.


Alvaro dan Clara tentu saja menanyakannya dan ia mengatakan pada mereka bahwa ia sedang pergi keluar kota untuk beberapa hari sehingga tidak bisa datang untuk menemui mereka. Meskipun begitu, Elvano tetap menghubungi mereka melalui telepon atau pun video call. Dan ia selalu mengangkat telepon mereka setiap kali mereka menghubunginya.


Kupandangi wajahku di sebuah cermin kecil, dan kusentuh pipi yang dulu di kecup oleh Elvano, kembali kurasakan hangatnya sentuhannya hanya dari menyentuh pipiku saja. Dan tanpa kusadari, aku merindukannya.


Devan apakah aku berkhianat padamu, karena memiliki perasaan ini untuk Kak Elvano?


Aku memang tidak bertemu dengannya lagi setelah hari itu,tetapi sore ini aku tidak bisa tidak harus berjumpa dengannya.


Rena menggundang kami sekeluarga untuk menghadiri pesta kebun di rumahnya, untuk merayakan ulang tahun ke 8 Laretta, anak keduanya bersama Alexander David Mahendra. Dan tanpa ku duga Elvano hadir di sana setelah di undang oleh Pak David.


Aku melihatnya datang dengan mengenakan kaos berkerah dan celana jeans, dengan membawa kado besar untuk Laretta. Letta terlihat sangat senang saat ia memberikannya dan mengucapkan selamat kepada gadis kecil itu. Kemudian Elvano sempat berbicara pada Pak David dan Ibu Rena sebelum ia melihatku dan menghampiriku.


"Kanaya, apa kabar?" tanyanya sambil mengecup pipiku lagi, membuat jantungku berdebar dengan kencang dan menyebabkan getaran sampai ke ujung - ujung saraf di sekujur tubuh ku saat ia menyentuh pipiku.


"Baik Kak El, bagaimana kabarmu?" tanyaku balik sambil menatap matanya sesaat, sebelum aku mengalihkannya ke tempat lain, ia tidak berani menatapnya cukup lama.


"Aku rindu sama kamu dan juga anak - anak," jawabnya. Kulirik dia saat mengatakannya dan dia tersenyum.


Bersambung...


Jangan lupa like komen vote dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2