Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Ke Rumah Elvano


__ADS_3

Ku biarkan diriku berbaring di atas ranjang, selama beberapa menit memikirkan apa yang ada di dalam mimpiku. Bagiku, rumah itu terasa begitu nyata. Bagaimana aku memeluknya, dan bagaiamana ia menatapku, juga ucapan - ucapannya.


Aku memutuskan pergi ke suatu tempat pagi ini. Beranjank dari ranjangku, mandi selama beberapa menit, kemudian memakai celana jeans dan sweater hoodie serta sepasang sepatu sneaker.


Aku membuka pintu kamar Clara dan melihat gadis kecilku masih tertidur lelap, ku benahi selimutnya yang tersingkap agar ia merasa nyaman dari tidurnya. Ke kecup keningnya mencurahkan rasa sayangku padanya setelah itu, aku pergi ke luar kamarnya dan pergi ke kamar Alvaro.


Jagoan kecilku pun masih tertidur lelap, meringkuk dalam selimutnya dan tidak terbangun saat aku menjatuhkan salah satu koleksi robotnya di atas meja. Ku kecup keningnya seperti yang ku lakukan pada Clara beberapa saat, memandanginya dengan tersenyum dam melihat wajahnya saat tidur lelap. Setelah itu aku keluar dari kamarnya.


Di lantai bawah aku bertemu dengan Siti. Dia terkejut karena sudah melihatku berpakaian rapi di hari minggu pagi seperti itu.


"Aku keluar dulu ya Siti. Nanti kalau anak - anak bangun tolong suruh mandi dan siapkan sarapannya," pesanku padanya.


"Ibu mau kemana?" tanyanya.


"Dekat - dekat sini aja," jawabku.


Ku ambil kunci mobil di atas rak di ruang keluarga, dan berjalan menuju ke garasi mobil.


Dalam setengah jam aku sudah duduk bersila di atas rumput di depan makam Devan, sambil membawa setangkai bunga mawar merah yang ku beli dalam perjalananku kesana.


Kutaruh mawar merah itu di atas makamnya.


"Devan, terima kasih karena sudah mau menemaniku, memberiku kebahagiaan dalam hidupku, yang ku pikir aku tidak akan pernah merasakannya. Seperti yang kamu bilang, kamu akan tetap di hatiku meskipun kamu telah kembali ke sisi - Nya." ucapku padanya.

__ADS_1


Setelah mendoakannya, aku mengenderai mobilku kembali ke rumah. Namun, entah mengapa, pikiranku berubah dan aku merubah arah mobilku.


Aku berhenti di depan sebuah rumah, dan seorang penjaga gerbang menghampiriku.


"Oh, Ibu Kanaya. Silahkan masuk, Bu. Tuan ada di dalam," ujarnya, kemudian membukakan pintu gerbang itu untukku.


Setelah mengucapkan terima kasih aku pun melajukan mobilku dan berhenti tak jauh dari pintu masuk rumah itu.


Terus terang aku ragu untuk melangkah turun. Aku tidak merencanakan pergi kerumah itu pagi itu.


Aku duduk di dalam mobilku selama beberapa menit, menimbang jika ini adalah keputusan yang tepat untuk menemuinya.


Akhirnya ku matikan mesin mobilku dan kuputuskan untuk masuk ke dalam rumah itu dan menemuinya.


Tak lama setelah aku membunyikan bel pintu rumah itu, pintu itu terbuka dan tampaklah Desi yang sangat terkejut saat memandangku.


Aku tersenyum, masih saja ia memanggilku Nyonya, padahal aku bukanlah Nyonya di rumah itu.


Kak Elvano memang membawa Desi bersamanya, untuk mengurus segala sesuatu di rumah itu, saat ia benar - benar pindah ke kota B. Ia pun telah menjual rumah besarnya yang ada di kota D.


"Sudah lama saya tidak melihat Nyonya. Nyonya semakin cantik saja," ujarnya memujiku sambil memelukku hangat.


"Terima kasih Desi," balasku atas pujiannya.

__ADS_1


"Masuk Nyonya. Nyonya mau bertemu dengan Tuan?" tanyanya sambil memanduku, masuk ke dalam rumah, langsung ke ruang keluarga.


"Ya, apa Kak Elvano sudah bangun, Desi?" tanyaku, sedikit merasa tak enak hati karena datang bertamu terlalu pagi.


"Sekarang, Tuan selalu bangun pagi, Nyonya. Dia sedang olahraga sekarang biar saya panggilkan. Nyonya duduk saja dulu," ujarnya sambil mempersilahkan duduk, kemudian ia bergegas masuk ke dalam ke sebuah ruangan. Aku tidak duduk seperti yang di katakannya, dan lebih memilih untuk berjalan - jalan di ruangan itu melihat - lihat dekorasi yang ada.


Aku memang sudah beberapa kali ke rumah Kak Elvano, beberapa kali saat bersama Devan dan beberapa kali pula setelah ke pergian Devan. Akan tetapi aku tidak pernah memperhatikan rumah itu dengan jelas, karena biasanya aku hanya sebentar saja di sana untuk menjemput Alvaro dan juga Clara kalau sedang bermain di rumah Kak Elvano.


"Kanaya?" panggil Elvano dengan nada seperti aku tidak percaya mengujunginya pagi itu. Ia tampak heran melihatku.


Aku menoleh dan melihatnya menghampiriku dengan memakai sweat pants abu - abu dan kaos olahraga berwarna putih. Bulir - bulir keringat tampak di dahinya yang langsung ia seka dengan handuk yang di pegangannya. Bajunya pun tampak basah oleh keringat di tubuhya sesuatu yang jarang ku lihat dari Kak Elvano, mungkin karena baru pagi ini aku ke rumahnya.


"Kamu habis dari mana Ay?" tanyanya dengan heran, mungkin melihat pakaian yang aku kenakan.


Aku melihat ke bawah, ke arah celana jeans dan kaos hoodie yang kukenakan.


"Aku... baru saja dari makam Devan," jawabku jujur.


"Ooh..." gumamnya lalu tersenyum


Bersambung..


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Nantikan terus kisah mereka ya...!


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2