Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Gagal bertemu


__ADS_3

"Bosku mengatakan setelah selesai sarapan kita harus ke ruang rehersal, karena keluarga Mbak Kanaya sudah mulai berdatangan. Bahkan pak Elvano sudah ada disana mencari Mbak Kanaya," ujar Linda memberitahukan Kanaya bahwa acara rehersal akan segera di mulai.


Kanaya menaruh alat makannya dan beranjak dengan enggan.


"Mbak Kanaya habiskan saja dulu makannya," ujar Linda yang merasa tidak enak hati karena Kanaya tidak menghabiskan makanannya.


"Tidak apa, aku juga tidak lapar," ujar Kanaya beranjak dari duduknya.


Linda pun segera beranjak dan menujukkan jalannya ke arah taman belakang hotel .


Tak jauh dari pintu keluar terdapat tenda yang telah di siapkan untuk menunggu tempat acara rehersal.


Kanaya melihat Elvano dan kedua orang tuanya serta Lisa sudah berada di sana. sedangkan kedua orang tuanya belum tampak.


"Hallo sayang bagaimana tidurmu?" ucap Elvano sambil mengecup pipi Kanaya saat akan memasuki tenda.


Kanaya memandang Elvano tengah memeluk dirinya bagaikan sepasang kekasih. Ia berlaku sangat manis berbeda jika berdua saja dengannya.


"Baik aku rasa" jawab Kanaya sambil memaksakan sebuah senyuman


"Kanaya, kami harap para wartawan itu tidak menganggumu?" ujar Luna sambil menghampiri Kanaya. Elvano melepaskan pelukkannya dan membiarkan Mamanya memeluk mencium Kanaya. Elvano hanya berakting meyakinkan orang tuanya dan menutupi niatnya yang sesungguhnya terhadap Kanaya.


"Tidak tante," jawab Kanaya pendek.


"Panggil Mama ya, Kalian kan sebentar lagi akan menikah, kamu akan menjadi anak Mama juga Kanaya," ujar Luna sambil membetulkan anak rambut Kanaya.


"Dan anak papah juga," tambah Sean yang tiba - tiba datang menghampiri.


Kalau saja Elvano bersikap baik padanya, Kanaya pasti sangat bahagia mendapatkan mertua seperti Luna dan juga Sean yang sangat baik padanya.


"Bagaimana keadaanmu, Kanaya. Semua ini pasti terlalu cepat untukmu," tanya Sean.


Kanaya melihat sekilas pada Elvano yang tersenyum padanya namun memandangnya dengan penuh arti. Seberkas tatapan tajam mengancam ada di balik senyuman manis Elavno.


"Saya baik - baik saja Mah, Pah. Memang semuanya terasa sangat cepat. Tetapi Kanaya harap semua akan baik - baik saja," jawab Kanaya sambil melirik ke arah Elvano sekali lagi.

__ADS_1


"Tentu sayang, semuanya akan baik - baik saja. Semua ini aku lakukan khusus untukmu," ujar Elvano kembali memeluk Kanaya dari belakang, menampakkan kepada orang tuanya betapa mesranya mereka berdua.


"Selamat pagi semua!" Sapa Ratna yang baru saja datang bersama dengan Rayhan.


"Ratna, Rayhan, bagaimana kabarmu? Kami sudah menunggu kalian," ujar Luna sambil menghampiri kedua orang tua Kanaya. Begitu juga Sean yang menghampiri Rayhan sebagai besan mereka.


"Bagus sekali Kanaya teruslah bersikap baik seperti ini, Maka kedua orang tuamu akan baik - baik saja." bisik Elvano di telinga Kanaya.


****


Pihak Wedding Organizer pun segera memulai acara gladi resik setelah semua keluarga telah sampai. Mereka mendengarkan penuturan dan Wedding Organizer sambil sesekali tertawa merespon candaan pihak WO mereka.


Kanaya sedang mendengarkan rangkaian acara yang di tuturkan oleh pihak WO, mendengar telepon genggamnya berdering. Ia pun segera mengambil telepon genggamnya yang berdering. Dan yang ia taruh di dalam tas di atas meja.


Elvano yang duduk di sampingnya melihat ID penelpon yang menghubungi telepon Kanaya.


"Sayang, para wartawan itu sungguh menyebalkan, biar aku yang bicara dengan mereka," ujar Elvano sambil meminta telepon genggam Kanaya.


"Biar aku saja......." Namun ucapan Kanaya langsung di potong oleh Elvano.


Elvano pun beranjak dan berjalan menjauh dari tempat acara sambil tersenyum.


"Halo," jawabnya saat mengangkat panggilan telepon dari Devan.


"El? Elvano, ini aku Devan. Bisa aku bicara sebentar dengan Kanaya?" tanya Devan saat menyadari bukan Kanaya yang menjawab teleponnya.


"Kanaya sangat sibuk, dia tidak bisa menjawab panggilan teleponmu," jawab Elvano dengan datar.


"Tapi aku baru pulang dari luar kota, dan aku sudah berada di lobby hotel. Bisa tolong katakan padanya? Aku ingin menemuinya sebentar," ujar Devan memberitahukan jika ia sudah ada di hotel itu.


"Sudah aku katakan, Kanaya sangat sibuk hari in, besok adalah hari pernikahan kami, dan dia tidak punya waktu untuk menemuimu," jawab Elvano sengaja tidak ingin membantu Devan bertemu dengan Kanaya.


Elvano menoleh ke arah Kanaya yang sedang duduk dan menatapnya dengan harap - harap cemas.


"Elvano tolonglah, biarkan aku bertemu dengan Kanaya sebentar saja. Katakan padanya aku ada di lobby," pinta Devan lagi.

__ADS_1


"Kanaya adalah calon istriku Devan, dan aku tidak akan membiarkan dia bertemu dengan laki - laki lain, kamu harus paham itu! sekarang pergilah, Kanaya tidak akan pernah menemuimu!" ucap Elvano kemudian menutup sambungan telepon itu.


Elvano pun segera memutuskan sambungan telepon Devan dan memasukkan Handphone Kanaya dalam kantong bajunya. Kemudian ia mengambil telepon genggam miliknya sendiri dan menyuruh anak buahnya untuk segera mengusir Devan dari lobby hotel.


Devan yang menelepon Kanaya dari lobby hotel, berusaha menelpon kembali nomor telepon Kanaya, akan tetapi telepon genggam Kanaya sudah tidak aktif.


Devan berusaha mencari tahu dimana ia bisa menemui Kanaya. Ia menanyakan pada petugas hotel yang ada di sana, namun mereka tidak memberikan informasi sedikitpun.


'Sial! Kenapa Elvano melarangku untuk bertemu dengan Kanaya?' umpatnya dalam hati.


Tiba - tiba dua orang berpakaian serba hitam menghampirinya.


"Pak Devan? tanya salah satu dari mereka.


"Ya pak, Saya Devan. Ada apa ya?" tanyanya penuh harap semoga saja Elvano berubah pikiran.


"Maaf Bapak, tidak di perbolehkan menunggu di sini," ujar pria itu sambil menunjuk pintu keluar hotel.


"Tapi saya datang kesini untuk menemui teman saya yang akan menikah dengan pemilik hotel ini besok," ujar Devan berharap kedua orang itu akan memperbolehkannya untuk tinggal dan bertemu Kanaya.


"Maaf Pak Devan, sebaiknya Pak Devan tidak berada disini," ujar orang itu lagi.


Devan bersikukuh untuk tetap disana menemui Kanaya, akan tetapi kedua orang itu menyeretnya keluar dan masih berjaga di depan pintu masuk lobyy hotel. Devan pun tidak bisa masuk kembali ke dalam hotel dan memutuskan untuk menunggu di mobilnya yang terpakir di depan lobby hotel.


Elvano kembali ke tempat duduknya di sebelah Kanaya dan tersenyum padanya.


"Apa yang dia katakan? Apa Devan sudah datang?" tanya Kanaya sambil berbisik pada Elvano.


Elvano memeluk Kanaya, dan berbisik di telinga Kanaya dan berkata, "Aku sudah menyuruhnya pergi. Kamu tidak usah khawatir karena kamu tidak akan bertemu dengannya lagi. Sekarang berhentilah untuk memikirkannya dan fokuslah pada acara gladi resik, kamu paham?" Jawab Elvano sambil mencengkeram salah satu lengan Kanaya.


Kanaya meringis Ia hampir saja menangis. Namun di tahannya dan dia pun mengangguk.


"Jangan bertindak yang tidak - tidak atau kamu akan tahu aku akibatnya Kanaya" ancam Elvano di telinga Kanaya.


Terima kasih sudah membaca. Maaf kalau masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa, komen dan vote.


__ADS_2