Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Rencana Alvaro dan Clara


__ADS_3

Clara dan Alvaro duduk di saung itu dan melihat makanan mulai berdatangan sambil menelan ludah. Kanaya dan Elvano memesan beberapa menu di tengah meja yang bisa mereka santap bersama - sama.


Kanaya menyendokkan ke piring Alvaro, Clara dan Elvano. Alvaro dan Clara yang sudah sangat lapar segera menerima piring mereka dengan antusias dan mengambil lauk kesukaan mereka. Sesaat saja saung itu menjadi ramai dengan celotehan Clara dan Alvaro yang saling berlomba mengambil lauk favorit mereka.


"Clara, Alvaro jangan saling berebut! Masih cukup untuk semua!" Ujar Kanaya sambil geleng kepala melihat Kakak beradik itu memperebutkan ayam goreng lengkuas kesukaan mereka.


Sementara Elvano menerima piringnya dengan tersenyum, sambil memandang Kanaya lalu beralih ke piringnya.


Ternyata Kanaya masih ingat porsi makannya, batin Elvano sambil tersenyum dan melihat porsi nasi yang tidak terlalu banyak di piringnya. Elvano memang terbiasa makan nasi porsi sedikit sejak dulu, dan Kanaya masih mengingatnya.


Sudah lama sekali sejak Kanaya menyiapkan makanan untuknya. Dulu sekali saat Kanaya menjadi istrinya, ia masih menyiapkan sarapan untuknya setiap pagi. Mengambilkan nasi dan lauk pauk kesukaannya. Dan hati Elvano menjadi hangat setelah menerima piring itu.


"Kak El, kok nggak di makan? Apa nasinya kurang?" tanya Kanaya sambil menoleh padanya dan Elvano pun menoleh pada Kanaya sehingga pandangan mereka bertemu.Namun Kanaya segera menunduk dan berdehem untuk menghilangkan ke gugupannyan, sebelum ia mengambil lauk untuk dirinya sendiri.


Entah mengapa Kanaya merasa deg - degan saat pandangan mata mereka bertemu. Sudah lama ia tidak merasa seperti ini sebelumnya terhadap Elvano, tetapi kenapa sekarang ia merasa seperti itu?


Kejadian sesaat tadi sempat di tangkap oleh Alvaro dan Clara dan membuat Kakak beradik itu tersenyum penuh makna.


Saat mereka selesai makan, Alvaro membisikkan sesuatu di telinga Clara, saat mereka berdua sedang mencuci tangan di wastafel. Clara pun mengangguk dan memberikan jempol untuk Kakaknya itu.


"Papa, es krim Clara mana?" tanya Clara sambil merajuk di samping Elvano.


"Ada, tadi Papa udah pesankan," ujar Elvano sambil merangkul gadis kecil manja itu dengan sayang dan mengecup pucuk kepalanya.


Tak lama pelayan datang membawakan Clara semangkuk es krim vanila dan coklat dengan biskuit oreo dan wafer coklat di atasnya.


"Hmmm... enaaak!" Ujar Clara sambil menelan ludah dan menjilat bibirnya sendiri.


Clara hendak mengambil sendok es krim itu, saat tangan Alvaro menyenggol lengannya. Membuatnya teringat pesan Kakaknya tadi.


"Pah, suapin," pinta Clara dengan manja.


"Clara, kamu kan sudah besar, masa minta di suapin?" ujar Kanaya menegur Clara yang bersikap manja pada Elvano.


"Tapi Clara mau nya di suapin sama Papa Elvano!" Ucap Clara sambil cemberut karena teguran Bundanya.

__ADS_1


"Sudah Ay, nggak papa biar aku yang suapin," ujar Elvano. Siapa yang tidak meleleh melihat rajukan Clara? Apalagi Elvano sangat senang jika Clara manja pandanya.


Elvano mengambil mangkuk es krim itu, dan mulai menyuapi Clara.


"Hm... enak... lezat...." sebentar saja gumaman Clara akan rasa es krim kesukaannya itu terdengar oleh semua orang.


Elvano tertawa mendengar Clara berkomentar mengenai enaknya es krim itu setiap kali ia menyuapinya.


"Kakak mau coba?" tanya Clara.


"Enak banget ya?" tanya balik Alvaro.


Clara mengangguk dengan terlalu bersemangat malah, dengan mulut yang masih belepotan es krim.


"Mau Pah, suapin," ujar Alvaro.


"Alvaro!" Tegur Kanaya, karena Alvaro sudah besar dan ikut manja seperti Clara.


Elvano tertawa dan berkata, "Nggak pa - pa Ay, sekali - kali aku suapin Alvaro!"


"Hmmm.. memang enak, Pah. Papa cobain deh," ujar Alvaro.


"Iya Pah, enak. Papa cobain yah." timpal Clara pula.


Karena di paksa oleh Clara, Elvano pun mencobanya, namun tidak ber ekspresi luar biasa seperti Alvaro dan Clara. Menurutnya es krim itu rasanya standar saja, seperti rasa es krim coklat dan vanila seperti biasanya.


"Enak," ucap Elvano, agar Kakak beradik itu senang.


"Bunda, belum coba!" Ujar Alvaro tiba - tiba saat Elvano mau menyuapi Clara kembali.


"Nggak, Bunda masih kenyang. Kalian saja yang habiskan," ujar Kanaya menolak. Ia sudah merasa kenyang. Selain itu, ia tahu es krim itu kesukaan Clara.


"Ah Bunda nggak asyik, masa semua udah coba, Bunda nggak?" ujar Alvaro sengaja menantang Bundanya.


"Alvaro, bukan begitu. Bunda...."

__ADS_1


"Pah, suapin Bunda. Bunda harus coba juga!" Ujar Clara sambil menatap Elvano.


"Clara, Bunda...."


"Bunda harus coba! Kalau nggak, Clara nggak mau pulang!" Ancam Clara sambil ia duduk dan melipat tangannya di depan dada.


Kanaya tahu, betapa keras kepalanya Clara. Kalau sudah punya keinginan ia akan terus bertahan sampai keinginannya itu di penuhi. Di desak seperti itu, akhirnya Kanaya pun mengalah. Sesendok es krim masih bisa ia terima. Tangan Kanaya mengambil mangkuk es krim di tangan Elvano.


"Suapin dong Pah! Masa Kak Alvaro sama Clara yang di suapin dan Bunda nggak?" gantian Clara yang protes pada Elvano dengan wajah polosnya.


Elvano dan Kanaya di buat speechless olehnya.


"Cobain Ay." akhirnya Elvano yang mempunyai insiatif untuk menyuapi Kanaya. Mau tidak mau Kanaya membuka mulutnya dan menerima suapan Elvano dengan di tonton oleh kedua anaknya.


'Ada - ada saja, Clara,' batin Kanaya sambil menelan es krim suapan dari Elvano, tetapi ia tidak berani menatap Elvano saat menerimanya. Entah mengapa ia merasa malu.


"Clara udah kenyang, Pah. Buat Bunda aja," ujar Clara sambil melihat sisa es krim di mangkok itu tinggal sesendok lagi.


"Sekali lagi, Ay! Tuh, kamu dengar kan, apa kata Clara," ujar Elvano. Tiba - tiba ia menjadi setuju dengan ucapan Clara, meskipun ia tidak tahu rencana Alvaro dan Clara. Lagi pula, kapan lagi ia mempunyai kesempatan untuk menyuapi Kanaya?


Di suapinya Kanaya sekali lagi, kali ini sesendok penuh, menghabiskan isi mangkuknya.


Kanaya menatap Elvano seperti berbicara, 'Kamu aja deh, aku udah kenyang, tetapi Elvano tetap menyodorkan sendok itu di mulut Kanaya, dan mau tak mau Kanaya pun menerimanya.


Elvano tersenyum dan membersihkan noda es krim yang tertinggal di pinggir bibir Kanaya dengan tangannya. Seketika itu juga Kanaya menjadi gugup karena merasa panasnya sentuhan jari Elvano di bibirnya, dan ia pun segera berbalik badan.


"Bunda, cuci tangan dulu," ujar Kanaya sambil menunduk, mencoba menyembunyikan rona di wajahnya.


Alvaro dan Clara saling pandang dan tersenyum melihat Bunda mereka yang sedang salah tingkah.


Saat Elvano sedang membayar tagihan makanan mereka, Alvaro kembali membisikkan sesuatu di telinga Clara. Clara memang paling cocok melakukan semua rencana mereka, karena ia masih bisa merajuk dan bertingkah manja, sehingga dapat memuluskan rencana mereka.


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2