Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Bukti Baru


__ADS_3

Kenapa Devan menatapku seperti itu apakah... apakah... Devan...? pikiran Kanaya menerawang. Dadanya berdebar kencang. Ia merasa di atas angin tetapi.... pandangan mata Devan? Apa Devan merasakan apa yang ia rasa? Pikir Kanaya lagi.


Devan meraih kedua tangan Kanaya kemudian mengecupnya.


"Sejak dulu, aku selalu mencintai kamu, Ay? Aku tidak pernah sedikit pun bisa melupakanmu," ucap Devan mengakui pada Kanaya isi hatinya.


Mata Kanaya menggenang, dan ia menggigit bibir bawahnya, ia serasa berada di alam mimpi mendengar pernyataan cinta dari Devan padanya, bahwa ternyata selama ini Devan mencintainya.


"De.. Devan mencintaiku.." batin Kanaya.


"Aku sangat berharap setelah semua ini berakhir, kamu bisa mencintaiku, Ay" ujar Devan .


"Aku ingin membahagiakanmu, hidup bersama dengan mu dan anak - anak kita nanti," ujar Devan sambi tersenyum.


' Aku mau, Van. Aku menginginkannya juga. Tapi, apa itu mungkin?' batin Kanaya meneteskan air matanya.


"VAN... aku.. aku.... tidak seperti yang dulu," ujar Kanaya sambil menunduk. Menyadari dirinya yang sudah ternoda dan tubuhnya tidak sempurna lagi.


"Bagi aku, kamu masih seperti yang dulu, Ay." ujar Devan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Kanaya dan menghapus air matanya.


"Aku tahu, apa yang selama ini kamu alami, Ay" ujar Devan sambil menatap kedua bola mata Kanaya, seakan saling berbicara melalui tatapan mata satu sama lain.


"Tetapi buatku, kamu tetap Kanaya yang aku kenal dan rasa sayangku padamu tidak pernah berubah sedikit pun," ujar Devan tanpa berkedip, menatap bola mata Kanaya.


"Devan..." ucap Kanaya dengan bergetar sambil memeluk Devan dan melingkarkan lengannya di leher Devan.


"Aku sayang kamu, Ay." bisik Devan di telinga Kanaya, membuat Kanaya semakin mendekap erat Devan. Tanpa ia tidak bisa mengucapkan kata - kata kecuali menyebut kan nama Devan di hatinya.


Petang itu begitu menyentuh bagi Kanaya dan juga Devan, mengetahui bahwa mereka berdua mempunyai rasa yang terpendam satu sama lain.


Mereka bergandengan tangan dan melirik sesekali satu sama lain sambil tersenyum tersipu malu seperti layaknya dua orang yang yang sedang jatuh cinta, dalam perjalanan mereka kembali ke mobil.

__ADS_1


Devan tidak ingin melepaskan genggamanya bahkan saat ia mengemudi pun ia kerap memegang tangan Kanaya.


Saat mereka telah di sampai di rumah, hari sudah petang dan lampu teras sudah di nyalakan.


Devan memarkirkan mobilnya di teras rumah, namun ia tidak mematikan mesin mobilnya.


Kanaya membuka pintu mobil hendak keluar, namun di cegah oleh Devan.


"Ay, ada yang mau aku bicarakan denganmu," ujar Devan serius.


Kanaya memandang Devan dengan heran, namun di tutupnya kembali pintu mobil yang telah setengah terbuka saar melihat mimik wajah serius Devan.


"Ada apa, Van?" tanya Kanaya sambil memperhatikan Devan.


Sebagai pengacara Kanaya, Devan harus menyampaikan ini dan menanyakannya kesediaan Kanaya.


"Aku mendapatkan bukti - bukti baru untuk menutut Elvano?" ujar Devan


"Bukti apa?" tanya Kanaya sambil menatap Devan penuh rasa ingin tahu.


"Dokter Adam, dia mau bersaksi untuk kita," jawab Devan.


"Oya? Tapi bagaimana mungkin? Apa dia tiba - tiba berubah pikiran, Van?" tanya Kanaya terkejut sambil bercampur heran.


"Sepertinya begitu," ujar Devan tidak ingin membahas lebih jauh keterlibatan Gilang dalam hal ini.


"Ya Tuhan, terima kasih!" Ucap Kanaya bersyukur sambil menengadahkan tangan membuat Devan tersenyum menatapnya.


"Aku juga mendapatkan beberapa bukti baru, terkait apa yang dia lakukan padamu, " tambah Devan lagi.


"Bukti baru apalagi, Van?" tanaya Kanaya tambah penasaran.

__ADS_1


"Selain laporan medis yang di berikan oleh Dokter Adam, aku juga mendapatkan rekaman CCTV kejadian di rumah Elvano," ujar Devan perlahan.


Kanaya tersentak. Ia menahan napasnya dan ingatannya kembali pada kejadian buruk yang menimpanya di rumah itu.


"Ke... kejadian yang mana?" tanya Kanaya dengan gelisah.


"Semuanya," ujar Devan sambil menatap mata Kanaya. Devan melihat kepedihan ada disana, apalagi Devan pun telah banyak menyaksikan rekaman itu, ia bisa merasakan bagaimana perasaan Kanaya saat ini.


Kanaya menoleh ke arah lain, dan memejamkan matanya, ia mulai teringat kembali kejadian kekerasan Elvano padanya.


"Ay....." Devan menggenggam tangan Kanaya, kemudian meraih wajah Kanaya dan menghadapkannya ke arahnya.


"Aku tahu, apa yang dia lakukan padamu? Dan aku tidak bisa tidak tinggal diam, Ay." ujar Devan nada yang sedikit emosi yang berusaha ia tahan. Karena kegeramannya pada Elvano.


"Izinkan aku membalaskan apa yang dia lakukan padamu, aku akan membuat dia membayar semua penderitaanmu, Ay." ujar Devan sambil menatap kedua manik mata Kanaya.


"Bagaimana kamu akan membalasnya, Van?" tanya Kanaya balik menatap mata Devan.


"Semua bukti - bukti itu cukup untuk menuntut Elvano atas penganiyayaannya terhadapmu dan menjebloskannya ke dalam penjara," ujar Devan penuh keyakinan.


'Menjebloskan Kak Elvano ke penjara?' batin Kanaya.


"Aku... aku tidak bisa membuatnya bebas begitu saja, setelah apa yang dia lakukan terhadapmu. Dia bahkan hampir membunuhmu, Ay!" Ujar Devan dengan emosi. Rupanya Devan terbawa emosi, saat teringat rekaman CCTV yang di lihatnya siang tadi.


Devan menghela napas dalam mencoba mengontrol emosinya, kemudian menatap kembali kedua bola mata Kanaya dengan rasa sayang.


"Kamu tidak pantas di perlakukan seperti itu, tidak ada seorang wanita pun yang pantas di perlakukan seperti itu." ujar Devan.


Kanaya kembali terisak. Sakit yang di rasakannya semakin terasa dan perlakuan buruk Elvano pun masih segar dalam ingatannya.


Bersambung...

__ADS_1


Nantikan terus kisah mereka ya.....!


Jangan lupa untuk selalu, like, komen dan juga vote. Kalau berkenan tekan tombol like.. like.. like yang nayak yah...


__ADS_2