Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Perlakuan Manis.


__ADS_3

Hai - hai para reader ku ayo... ayo author selalu ingetin ke kalian jangan pelit kasih tombol likenya dong๐Ÿ˜” Sajen vote dan hadiahnya juga yah.. ya... ya.. ya...๐Ÿ˜ข Di bab paling akhir ada kejutan buat para reader coba tebak! Kira - kira dia siapa yah.๐Ÿค” Yuk ramaikan kolom komentarnya....author maksa nih๐Ÿ˜‚


Salam dunia perhaluan๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜…


Happy Reading semuanya......๐Ÿค—


"Bunda, Bunda tidak ingat apa kata Dokter? Bunda kan tidak boleh capek atau kurang tidur!" Ujar Clara memarahi Bundanya, Membuat Elvano dan Kanaya saling pandang.


"Nanti kalau terjadi sesuatu dengan Dede bagaimana?" tanya Clara yang sangat perhatian pada adik yang ada dalam kandungan Kanaya.


5 bulan sudah Kanaya menikah dengan Elvano. Ia memutuskan untuk tidak ber KB dan mengabulkan keinginan Elvano untuk segera memiliki momongan. Dan saat itu, Kanaya telah 4 bulan mengandung anak Elvano.


"Iya sayang, nanti Bunda nggak akan tidur malam lagi," jawab Kanaya mencoba menenangkan Clara yang tampak khawatir.


"Jangan marah - marah, Ra. Bunda kan masih capek," ujar Alvaro menegur Clara.


Clara terdiam mendengar teguran dari Kakaknya dan selain itu pun ia sayang pada Bundanya.


"Nggak pa - pa. Kalian kangen ya sama Bunda dan Papa?" tanya Kanaya pada kedua anaknya itu.


"Iya, kangen Bunda, kapan pulang?" tanya Clara dan Alvaro hampir bersamaan.


Elvano dan Kanaya sedang berada di kota D. Karena Elvano harus menghadiri rapat pemegang saham di salah satu perusahaan yang di milikinya di kota itu dan harus menginap selama dua hari. Dan ia meminta Kanaya untuk ikut menemaninya.


Tentu saja Kanaya senang menemani Elvano, meskipun ia harus meninggalkan Alvaro dan juga Clara bersama Desi dan Siti. Kedua anak mereka tidak bisa ikut karena harus ke sekolah.


"Bunda, tunggu Papa selesai kerja dulu. Mungkin, nanti malam pulang. Kalian sudah siap mau ke sekolah? Sudah sarapan?" tanya Kanaya sambil melihat kedua anaknya itu sudah memakai seragam sekolah.


"Sudah Bun, sebentar lagi berangkat di antar Om Arya," jawab Alvaro.


"Itu Om Arya!" Ujar Clara sambil melihat ke suatu arah.


"Tuh, sudah waktunya untuk sekolah. Ayo berangkat, nanti kalian terlambat!" Ujar Elvano sambil melihat jam tangan di meja nakas di dekatnya.


"Iya, Pah. Bun, nanti siang Alvaro telepon lagi ya," ujar Alvaro.


"Iya, sayang. Hati - hati di jalan yah. We love you, muach!" Ujar Kanaya sambil membuat kissbye di layar telepon di depannya.

__ADS_1


"Dah Papah, Dah Bunda, Dah Dede!" Ujar Clara sambil membalas kissbye dan melambaikan tangannya sebelum memutus sambungan video call mereka.


"Baru kemarin bertemu, sudah kangen rasanya," gumam Kanaya sambil meletakkan telepon genggam itu kembali ke meja dan membayangkan Alvaro dan juga Clara yang saat itu sudah dalam perjalanan menuju ke sekolahnya.


"Mereka memang ngangenin kaya kamu," goda Elvano sambil mendekap erat Kanaya. Membuat Kanaya tersenyum bahagia.


"Nanti sore juga kita pulang. Secepatnya setelah aku selesai rapat hari ini," tambah Elvano. Ia pun sudah sangat rindu pada ke dua anak itu.


Kanaya mengangguk dan merebahkan kepalanya di dada Elvano.


"Apa rencanamu hari ini?" tanya Elvano.


"Aku belum ada rencana," jawab Kanaya kemudian menambahkan, "Mungkin aku mau jalan - jalan yang dekat saja. Kemarin kan sudah pergi seharian sama Mama dan juga Lisa,"


"Jangan terlalu capek ya, Yang. Istirahat kalau kamu masih capek," ujar Elvano sambil tangannya mengelus gundukkan kecil di perut Kanaya, calon jabang bayi, miliknya dan Kanaya.


"Aku nggak capek, Kak El. Jangan kuatir," ujar Kanaya menoleh ke arah suaminya.


"Oke..."


Cup. Elvano mengecup bibir Kanaya dengan lembut.


Cup. Di kecupnya lagi dengan canda.


"Mandi....,"


Cup.


"Dulu...."


Cup.


Kanaya tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari Elvano pagi itu dan balas mengecup bibir Elvano selama beberapa detik.


"Hmmm.... apa sebaiknya aku tinggal saja di hotel bersamamu?" tanya Elvano sambil memandang wajah Istrinya. Merasa malas untuk meninggalkannya sendirian di kamar hotel.


Kanaya tertawa.

__ADS_1


"Nggak, Yang. Sudah sana mandi, nanti kamu terlambat rapat lagi!" Ujar Kanaya sambil membuka selimut yang menutupi tubuh Elvano dan mengisyaratkannya untuk jalan ke kamar mandi.


Elvano pun bangun dengan enggan. Ia sebenarnya masih ingin bercanda dan bermesraan dengan Istrinya, akan tetapi hari memang sudah siang dan ia harus segera berangkat rapat.


Setelah mandi, berpakaian dan sarapan bersama Kanaya di kamar di hotel, Elvano pun harus segera berangkat.


"Aku pergi dulu ya, Sayang. Nanti, biar supir kantor yang antar kalau kamu mau pergi. Dia stand by di bawah. Tinggal telepon saja," ujar Elvano sambil berjalan ke arah pintu keluar.


"Iya, Yang. Hati - hati di jalan." ujar Kanaya sambil mengantarkan Elvano ke depan pintu kamar mereka.


Elvano berjongkok dan mengelus perut Kanaya, untuk kemudian mendaratkan kecupan di sana.


"Papa kerja dulu ya, sayang. Kalian sehat - sehat dan jaga Bunda ya," Ujar Elvano pada anak dalam kandungan Kanaya.


Kanaya tersenyum melihat itu. Memang ke inginan Elvano untuk merasakan semua moment menjadi seorang Ayah sejak awal kehamilannya. Itu sebabnya ia ingin selalu bersama dengan Kanaya.


Elvano kembali berdiri tegak dan menatap Istrinya, kemudian berkata, "I love you and our kids,"


"I love you too," balas Kanaya sambil tersenyum dan mengecup pipi Elvano sebelum ia pergi.


Kanaya menutup pintu kamar dan menarik nafas lega. Ia merasa bahagia setelah menikah kembali dengan Elvano. Elvano benar - benar memperlakukannya, Alvaro dan Clara dengan sangat baik dan penuh kasih sayang. Elvano benar - benar menepati janjinya.


Kanaya berjalan menuju kamar mandi, membuka gaun tidurnya dan melihat penampilannya di depan cermin. Ia mengusap sedikit perutnya yang tampak sedikit membesar sambil berucap, " Sehat - sehat ya Nak. Bunda, Papa, Kakak Alvaro dan Kakak Clara sayang pada kalian,"


Setelah mandi, Kanaya memutuskan untuk pergi berbelanja, ke sebuah mall dekat dengan hotel tempatnya menginap.


Kanaya masuk kedalam sebuah toko buku dan melihat - lihat novel dari pengarang favoritnya. Karena fokus membaca sinopsis buku yang di pegang. Ia hampir saja bertabrakkan dengan seorang pemakai kursi roda yang sedang mencari buku di sana.


"Maaf," ucap Kanaya saat itu juga. Namun, ia tertegun saat melihat wajah orang yang berada di atas kursi roda di hadapannya itu.


Orang yang berada di atas kursi roda pun tertegun menatapnya. Mereka sama - sama tidak menyangka akan bertemu lagi.


"Maaf," ujar Kanaya sekali lagi, lalu berjalan melewatinya hendak pergi meninggalkannya.


Bersambung...


Nantikan terus kisah mereka ya...!

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya.


__ADS_2