
*** Flashback ON ***
Elvano menjabat tangan investor asing yang telah setuju untuk berinvestasi pada perusahaannya ia pun menghela napas lega akhirnya ia bisa segera pulang dan menemui Kanaya, setelah meninggalkanya hampir 3 jam.
"Kau urus segala sesuatunya Anton. Aku harus segera pulang. Batalkan semua janji temuku hari ini," ujar Elvano pada Anton.
"Apa semuanya baik - baik saja, Pak?" tanya Anton yang melihat ekspresi wajah cemas dan khawatir Bosnya itu saat kali pertama ia datang ke kantor.
"Hmmm... ya," jawab Elvano, tidak ingin mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Panggil Panji, aku menunggunya di lobby," ujar Elvano sambil melangkah menuju lift VIP.
Elvano pun segera pulang dengan di antar Panji.
Ia ingin segera menemui Kanaya dan meminta maaf padanya saat ia telah terbangun. Ia tahu apa yang ia lakukan padanya sangatlah biadab dan menyakitkan, namun ia benar - benar seperti kehilangan akal saat melihat foto Kanaya bersama Devan di hotel itu.
'Kanaya, aku berjanji akan mengganti semua penderitaan yang aku buat untukmu, aku akan membahagiakanmu, Kanaya.' janji Elvano dalam hatinya.
"Cepatlah Panji!" Perintah Elvano agar Panji mempercepat laju mobilnya.
"Ya Tuan," jawab Panji, sambil menambah kecepatan, hingga sampailah mereka dengan cepat di rumahnya.
Elvano pun segera turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah. Rumah tampak sangat sepi saat ia sampai dan masuk ke dalam. Para pelayan pun tak terlihat batang hidungnya.
"Desi?" Panggil Elvano sambil melihat sekelilingnya.
Namun, ia tidak melihat Desi dan hanya ada seorang pelayan yang sedang mengelap kaca tak jauh dari pintu keluar halaman belakang.
"Kemana Desi?" tanyanya.
"Ibu Desi sedang memberikan pengarahan pada anak buahnya di paviliun," jawab pelayan itu.
"Siapa yang menjaga Nyonya?" tanya Elvano dengan heran, karena Desi meninggalkan Kanaya.
"Tadi Bella, ada bersama dengan Nyonya, Tuan?" ujar pelayan itu.
'Oh Bella,' batin Elvano lega. Bella memang sangat dekat dengan Kanaya, mungkin itu sebabnya Desi menugaskan Bella untuk menjaga Kanaya.
__ADS_1
Elvano membalikkan badannya setelah merasa puas dengan jawaban pelayan itu. Ia pun berjalan setengah berlari menaiki tangga melewati kamarnya menuju kamar Kanaya berbaring.
Ia membuka pintunya perlahan, tidak ingin mengejutkan Kanaya dan masuk ke dalam kamar itu.
Namun, saat ia melihat seisi kamar itu, Kanaya tidak tampak di sana.
"Kanaya?" Panggilnya dengan harap - harap cemas.
"Kanaya!" Panggilnya lagi dengan lebih keras saat ia memeriksa kamar mandi yang tidak terkunci dan tidak mendapati Kanaya di sana.
"Kanayaaa!" Panggil Elvano saat membuka pintu kamar dan memeriksa setiap kamar yang ada di sana, termasuk kamarnya. Namun, ia masih tidak menemukan Kanaya. Dan untuk pertama kalinya ia merasa sangat ketakutan akan kehilangan Kanaya.
"Kanayaaa!" Teriaknya dengan lebih keras lagi hingga terdengar ke seluruh rumahnya.
"Cepat panggil Desi!" Teriak Elvano dari lantai dua, pada pelayan yang tadi di ajaknya mengobrol. Pelayan itu langsung berlari dengan cepat untuk memanggil Desi.
"Cepat Desi, Tuan memanggilmu!" Ujar pelayan itu segera saat ia melihat Desi yang baru selesai memberikan pengarahan.
Dengan wajah datar dan tanpa ekspresi Desi berjalan menuju rumah Tuannya itu. Dari luar rumah ia dapat mendengar Tuannya itu memanggil - manggil nama Kanaya.
"Kemana Kanaya? Aku tidak melihat Kanaya di dalam kamar dan di seluruh rumah ini!" Tanya Elvano menuntut jawaban dari Desi.
"Nyonya? Nyonya tadi ada bersama dengan Bella, Tuan." ujar Desi lalu ia melangkah ke kamar Kanaya dan masuk kedalam.
Saat tidak melihat Kanaya ada di kamar ia pun keluar dan memeriksa kamar lainnya.
"Nyonya? Bella ?" panggil Desi seperti halnya Elvano tadi, namun tidak kunjung di temuinya.
"Dimana Desi? Dimana Kanaya?" tanya Elvano dengan putus asa.
Ia telah mencari Kanaya ke seluruh ruangan di rumahnya, namun ia tidak menemukannya.
"Saya akan memerintahkan semua pelayan untuk mencari Nyonya, Tuan!" Ujar Desi ia langsung berlari turun ke bawah dan memanggil semua pelayan.
Elvano terduduk lemas di anak tangga paling bawah sambil melihat Desi memberi intruksi kepada para pelayannya untuk mencari Kanaya dan juga Bella.
'Kanaya dimana kamu? Jangan pergi, Kanaya. Jangan pernah tinggalkan aku!" Batin Elvano sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Ia bukan hanya merasa kehilangan, tetapi juga merasa sebagai orang yang sangat rendah karena apa yang telah ia lakukan pada Kanaya. Ia merasa bersalah karena telah memperlakukan Kanaya demikian buruk, dan ia menyesalinya. Air mata pun mengalir dari balik telapak tangan yang menutupi wajahanya.
*** Flashback OFF ***
"Maaf Melisa, aku tidak bisa ikut pulang bersamamu. Kamu pulanglah bersama Pak Alvian." ujar Devan melalui pesawat teleponnya kepada Melisa.
"Ada apa Devan? Apa yang telah terjadi?" tanya Melisa ingin tahu. Suara Devan terdengar sangat dalam dan begitu sedih.
"Kanaya... dia menghilang?" ujar Devan sambil menengadahkan wajahnya menatap langit di atasnya.
"Menghilang bagaimana maksudmu?" tanya Melisa bingung.
"Akan kuceritakan nanti, kamu pulanglah dulu, Melisa," ujar Devan.
Melisa mendesah, merasa berat meninggalkan Devan. Dalam hatinya ia merasa cemburu dengan perhatian Devan pada Kanaya.
"Baiklah Devan, jaga dirimu baik - baik" ujar Melisa, kemudian ia menutup sambungan teleponnya.
Bunyi sirine mobil polisi masih terdengar, beberapa orang berseragam polisi sedang menyisir halaman depan rumah Elvano.
Devan kembali masuk kedalam rumah Elvano dan melewati Desi yang sedang di interogasi oleh polisi terkait menghilangnya Kanaya.
"Nyonya sedang kurang sehat, oleh sebab itu Tuan, memindahkannya ke kamar di sebelah," ujar Desi berbicara pada polisi yang menanyainya.
Devan melihat Elvano yang sedang duduk lemas di salah satu meja makan dan menghampirinya. Ia meraih kerah baju Elvano dan mengangkat setinggi wajahnya.
"Elvano aku bersumpah. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Kanaya, atau aku menemukan bukti kalau kau telah menyiksa Kanaya, aku akan langsung menjebloskanmu ke penjara! Kau dengar?!" Ujar Devan dengan geram sambil menatap tajam Elvano.
"Pak Devan, sabarlah," ujar salah seorang petugas polisi yang ada di sana sambil berusaha melepaskan tangan Devan dari kerah baju Elvano. Devan pun menghempaskan Elvano ke kursi dan pergi meninggalkan rumah Elvano.
Sepanjang jalan, ia berpikir, kemana Kanaya akan pergi jika ia adalah Kanaya. Devan sendiri sudah menghubungi Ratna Mama Kanaya, dan ternyata Kanaya tidak ada disana.
Devan sangat mengkhawatirkan Kanaya. Kanaya terekam dalam kamera Cctv pergi dalam kondisi yang tidak sehat dan terlihat masih sangat lemah wajahnnya pun terlihat ketakutan.
'Kanaya, dimana kamu?' batin Devan sambil matanya menyisir jalanan di kota itu, mencari keberadaan Kanaya. Berjam - jam ia memutari kota mencari jika ia bisa menemukan Kanaya, namun tiada hasil.
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1