
"Maaf Nyonya, ini perintah Tuan," ujar Desi merasa tidak enak mengajak Nyonyanya itu ke kamar tamu yang paling kecil di rumah itu, padahal ia tahu wanita ini adalah istri Tuannya.
Ia pun tidak mengerti kenapa Tuannya memerintahkan seperti itu, dan bukannya mengajak istrinya ke kamar yang luas dan mewah.
"Tidak apa kamar ini cukup," ujar Kanaya sambil memaksakan sebuah senyuman sambil melihat - lihat sekeliling kamar itu, membuka pintu ke arah kamar mandi dalam yang ada di sana.
"Apa ada hal lain yang Nyonya inginkan?" tanya Desi sebelum dia pergi.
"Tidak, terima kasih." jawab Kanaya.
Setelah kepergian Desi. Kanaya merebahkan dirinya di kasur kecil yang ada di kamar itu. Ia menghela nafas dan memandang langit - langit kamarnya.
Ia masih tidak mengerti dengan perlakuan Elvano padanya, dan apa tujuan menikahinya.
Ia akan menanyakan hal itu saat bertemu dengan Elvano nanti. Mungkin setelah mengetahui alasan Elvano melakukan semua itu, ia akan bisa merubah pikiran dan sikap Elvano.
Seingat Kanaya, Elvano adalah seorang pemuda yang pekerja keras dan sopan, jadi bagaimana mungkin, ia berlaku kasar padanya? Kanaya yakin Elvano hanya salah paham tentang dirinya dan ia akan meperbaikinya.
***
Elvano memasuki ke dalam kamarnya yang luas dan mewah. Kamarnya dua kali lipat lebih besar dari pada kamar Kanaya. Dengan kasur besar, interior mewah dan sebuah kamar mandi besar di dalamnya.
Elvano membaringkan tubuhnya di atas ranjang besarnya, mengenang kembali kekasihnya. Di hari yang naas itu, ia menelepon Kirana dan menanyakan kabarnya.
*** Flashback Devita Enam bulan yang lalu***
"Sayang, kamu sedang apa?" tanya Elvano dengan nada lembut kepada kekasihnya Devita.
"Aku sedang bersiap - siapa." jawab Devita dengan riang.
"Bersiap - siap? Bukankah semuanya sudah di persiapkan?" tanya Elvano heran. Elvano berpikir Devita bersiap - siap untuk pernikahan mereka yang akan di gelar seminggu lagi dari hari itu.
"Bukan itu, Sayang. Aku sedang bersiap - siap untuk pergi bersama Kanaya. Kami akan pergi ke taman bermain hari ini," ujar Devita.
Ke taman bermain? pikir Elvano sambil matanya menatap jendela rumahnya. Langit tampak mendung, dan memang saat itu sedang musim hujan.
"Nggak usah pergi, sebentar lagi hujan. Kalian tidak akan puas bermain kalau hujan." ujar Elvano melarang Devita untuk pergi.
"Tapi sayang, aku...." ucapan Devita terhenti
"Aku sudah lama tidak pergi bersama Kanaya, dan dia ingin sekali pergi ke taman bermain." ujar Devita. Devita sengaja mengatakan hal itu karena ia tahu Elvano tidak akan pernah mengijinkan jika ia yang mengatakan dialah yang menginginkan pergi ke taman bermain hari itu.
"Katakan saja sudah mau hujan. Kalian kan bisa pergi bermain lain waktu," ujar Elvano yang masih tak mengijinkan Devita pergi ke taman bermain.
__ADS_1
"Sebentar saja Sayang, kami hanya main beberapa permainan, aku tidak tega menolaknya," ujar Devita.
"Dan lagi aku ingin membicarakan sesuatu dengannya?" tambah Devita lagi.
Elvano mengerutkan keningnya. Apa Devita akan menanyakan hal itu pada Kanaya? pikir Elvano.
Elvano memang sudah mengetahui ketertarikan Kanaya padanya, hanya saja ia mengabaikannya.
"Aku harus berbicara padanya sebelum aku menikah denganmu. Aku tidak ingin menyakitinya," ujar Devita berharap Elvano mengerti.
"Bicaralah padanya, tapi tak usah pergi ke taman bermain. Pergilah ke restoran atau menonton bioskop atau yang lainnya." ujar Elvano.
"Baiklah," jawab Devita dengan nada sedih.
"Sayang, aku melakukan ini karena aku sayang padamu, aku tidak ingin terjadi hal - hal buruk padamu," ujar Elvano karena menangkap nada kecewa di suara Devita.
"Baiklah" jawab Devita pendek.
Setelah berbicara beberapa saat akhirnya mereka memutuskan percakapan telepon.
Akan tetapi sore harinya, kabar kematian Devitalah yang di terima oleh Elvano, dan hal itu membuatnya sangat terpukul. Apalagi Devita mrninggal dengan keadaan yang sangat mengenaskan.
*** Flashback berakhir***
Tak terasa air mata Elvano mengalir mengenang hari itu. Seandainya saja Devita mendengar perkataannya dan tidak pergi bermain hari itu, untuk menyenangkan hati Kanaya, Devita mungkin masih hidup bersamaanya sampai saat ini. Dan menikah dengannya bukan dengan Kanaya.
Bunyi dering telepon membangunkan Elvano dari lamunannya. Di lihatnya nama Maya muncul di sana.
Elvano mengenal Maya, karena Devita sering meluangkan waktunya bersama Maya dan juga Lisda, jika tidak bersama dirinya.
Elvano pun sebenarnya tidak mengenal dekat mereka. Namun sepeninggalan Devita, Maya sering mendatanginya untuk menghiburnya. Awalnya Elvano juga tidak terlalu menggubrisnya, karena kesedihan yang sangat di rasakannya. Namun suatu hari ketika Maya menceritakan suatu rahasia padanya menyangkut kematian Devita yang tidak di ketahui oleh orang lain.
*** Flashback Maya dua minggu yang lalu ***
"Maaf Maya, aku sedang sibuk sekali hari ini," ujar Elvano saat Maya memintanya bertemu
untuk makan malam bersama.
"Sebentar saja Elvano, aku hanya ingin menemanimu, agar kamu tidak bersedih lagi," ujar Maya membujuk Elvano.
'Siapapun tidak ada yang bisa menghiburku, apalagi seseorang seperti Maya! ' Batin Elvano
Elvano tidak tertarik pada Maya, meskipun perempuan itu sering merayu Elvano ataupun berpakaian super minim di hadapannya. Bagi Elvano hatinya telah mati setelah kepergian Devita.
__ADS_1
Elvano hendak menutup percakapan teleponnya saat tiba - tiba Maya berkata, " Pergilah makan malam denganku dan aku akan menceritakan siapa yang telah membuat Devita celaka."
Membuat Devita celaka? Apa maksudnya? pikir Elvano
"Apa maksudmu?" tanya Elvano dengan nada tinggi. Ia tidak rela jika ada orang lain yang berbicara tidak baik tentang Devita. Apalagi berbicara seenaknya sendiri.
"Temui aku nanti malam dan aku akan menceritakan kepadamu kejadian yang sesungguhnya," ujar Maya kemudian menutup percakapan teleponnya.
Elvano tidak tenang memikirkan perkataan Maya. Siapa yang ia maksud mencelakakan Devita dan apa kejadian yang sesungguhnya terjadi? Bukankah polisi sudah menyatakan kematian Devita murni karena kecelakaan? pikir Elvano.
Elvano pun mulai menemui Maya malam itu.
Elvano meminta Maya menceritakan apa yang terjadi begitu ia menemui Maya, namun Maya bersikukuh meminta makan malam dahulu setelah itu ia baru menceritakannya. Elvano pun terpaksa menuruti kemauan Maya, demi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Elvano, aku berada di sana saat kejadian itu dan sebelumnya," ujar Maya saat tiba waktunya ia harus menceritakan apa yang di ketahuinya.
"Kau berada disana?" tanya Elvano heran.
Maya mendekatkan wajahnya ke arah Elvano
"Ya. saat kejaadian itu aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Kanaya melepaskan Devita bukan menariknya ke atas," jawab Maya sambil berbisik.
"Tidak mungkin Maya! Kanaya adalah kembaran Devita, dia tidak mungkin melakukan itu!" ujar Elvano masih tidak percaya apa yang di katakan Maya.
"itu benar Elvano, aku tidak berbohong!" ucap Maya berusaha meyakinkan Elvano.
"Kamu mungkin tidak percaya apa yang aku katakan saat ini. Tapi orang yang jatuh cinta akan melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya," ujar Maya sambil menatap Elvano penuh arti.
'Elvano mengerutkan keningnya. Dari mana Maya tahu kalau Kanaya menyukai dirinya? ' Batin Elvano.
"Sebelum menaiki Ferris Wheell, Devita dan Kanaya sempat bertengkar, dan aku mendengar apa yang mereka bicarakan," ujar Maya dengan sangat meyakinkan. Padahal saat itu ia melihat Kanaya dan Devita justru saling berpelukan.
"Apa yang mereka pertengkarkan?" tanya Elvano mulai mendengarkan apa yang dikatakan Maya.
Maya mendekat pada Elvano seakan - akan ia sedang mengatakan suatu rahasia yang penting.
"Kanaya mengatakan pada Devita untuk membatalkan pernikahannya, karena ia tidak rela jika Devita menikah denganmu," bisik Maya.
Wajah Elvano langsung merah padam.
"Apa kau yakin Kanaya mengatakan itu?" tanya Elvano dengan sangat emosi.
"Ya. Aku mendengarnya sendiri Kanaya mengatakan itu. Dia tidak mau kalian menikah. Aku rasa itu sebabnya ia melepaskan Devita pada hari itu. Ia sengaja melakukannya!" ujar Maya pada Elvano.
__ADS_1
"Kurang ajar kau Kanaya!! pembunuh kau!" geram Elvano sambil mengepalkan tangannya.
Jangan lupa like komen dan vote.