
Devan membukakkan pintu mobil dan mendudukkan Kanaya di kursi penumpang depan sebelum ia duduk di kursi pengemudi.Ia pun segera melajukkan mobilnya.
"Kita kemana sih, Van? Jauh nggak tempatnya?" tanya Kanaya sambil melihat jalanan di sekitarnya. Harus di akuinya kota A jauh lebih berkembamg dari pada kota D, tempat kelahirannya.
"Nggak, deket kok. Kamu pasti akan suka tempatnya," jawab Devan.
"Oh ya? Memang kamu tahu dari mana?" tanya Kanaya sambil tertawa.
"Kelinci cantikku, apa yang aku nggak tau tentang dirimu?" tanya Devan sambil menyeringai.
Kanaya tertawa.
"Ya ampun Devaaannn! Udah berapa abad kamu nggak manggil aku dengan sebutan itu?" tanya Kanaya dengan tergelak mendengar Devan memanggilnya ' Kelinci cantikku'.
"Karena kamu cocok dengan sebutan itu, kamu sangat cantik dan kuat." ujar Devan sambil tersenyum.
Kanaya berhenti dan memandang Devan.
"Terima kasih, Van. Tetapi aku tidak sekuat itu," ujar Kanaya.
"Percayalah, Ay. Kamu lebih kuat dari apa yang kamu duga," ujar Devan sambil menatap lekat manik mata Kanaya, sebelum ia kembali fokus ke arah jalanan di depannya.
Kanaya terdiam menyandarkan punggungnya di sandaran kursi hingga Devan mermarkirkan kendaraannya di sebuah rumah makan di pinggir taman
"Ayo Ay, kita sudah sampai," ajak Devan sambil keluar dari mobilnya.
Kanaya pun keluar dan berjalan bersama Devan melalui jalan setapak ke arah bangunan rumah makan yang terlihat tidak terlalu besar. Namun, begitu, mereka masuk kedalamnya, bagian dalam bangunan itu, melebar dan tampak taman yang sangat luas di dalamnya dengan meja dan kursi kayu di atas hamparan rumput.
Devan menggandeng tangan Kanaya sembari ia berbicara dengan pelayan rumah makan itu, yang kemudian menujukkan mereka meja di taman yang berada tak jauh dari sebuah kolam kecil.
Sepanjang perjalanan mereka menuju meja itu, mata Kanaya menyapu ke arah di taman sekitarnya.
Devan benar, ia memang menyukai tempat itu.
Mereka duduk di kursi mereka dan Devan memesankan untuk mereka berdua makanan dan minuman yang ada di sana sementara Kanaya memandangi Devan tanpa berkedip. Kanaya berpikir, kalau ada orang yang di dunia ini mengerti benar dirinya selain kedua orang tuanya, dia adalah Devan Permana. Laki - laki yang di kenalnya dengan baik sejak mereka masih memakai seragam biru putih. Laki - laki yang selalu mengucapkan selamat pagi padanya lebih dulu dari siapa pun di rumahnya, baik melalui telepon atau pun berteriak dari jendela kamarnya yang hanya bersebrangan dari jendela kamar Kanaya. Kanaya merasa sangat beruntung bisa mengenal dekat Devan, meskipun jalan hidup mereka berbeda, Kanaya dengan kehidupannya yang sekarang, dan Devan dengan hubungannya bersama Melisa.
"Auuuu!" Teriak Kanaya saat tiba - tiba Devan memencet hidungnya dan Devan pun tertawa.
"Aku memang tampan Kanaya, tapi nggak begitu juga kali ngelihatnya. Tuh, kamu ngebuat Mbaknya ketawa geli," ujar Devan sambil menunjuk Mbak pelayan di rumah makan itu, sedang tertawa sambil menutup mulutnya karena geli.
Wajah Kanaya memerah karena malu, Devan memergokinya tengah menatapnya.
__ADS_1
"Udah Mbak, itu aja pesanannya," ujar Devan sambil geleng - geleng kepala.
"Tapi aku belum pesan, Van." ujar Kanaya hendak memanggil Mbak pelayan itu kembali.
"Sudah aku pesankan, Ay. Habis aku panggil kamu diam saja," ujar Devan sambil menahan senyumnya.
"Iya deh, Van. Maaf." jawab Kanaya dan Devan hanya tersenyum saja.
"Kita jalan - jalan yuk, Ay." ajak Devan sambil menunjuk melihat taman di sekitar mereka.
Kanaya dan Devan berjalan di jalan yang setapak mengitari taman di rumah makan itu.Rumah makan itu memang cocok untuk berkumpul keluarga. Banyak pengunjung yang membawa serta orang tua dan anak - anak mereka.
Tiba - tiba seorang anak laki - laki berusia kurang dari 2,5 tahun berlari dan menabrak Kanaya.
"Aahh!" Pekik Kanaya karena kaget. Namun, ia segera berjongkok untuk membantu anak kecil itu yang mengoceh tidak jelas. Ibu dari anak itu pun pamit, dan pergi membawa anaknya.
"Lucu sekali anak itu," ucap Kanaya sambil tersenyum.
"Dia tahu sekali kemana harus menabrak," timpal Devan sambil membuat ekspresi orang berpikir.
"Maksud kamu?" tanya Kanaya kembali menimpali.
"Ya, masih kecil saja sudah tahu, mana yang cantik," ujar Devan.
"Devannn... kamu itu," ujar Kanaya sambil mencubit lengan Devan, hingga Devan berpura - pura mengaduh dan tertawa.
Devan merangkul Kanaya dan berjalan kembali ke meja mereka.
Di meja, makanan dan minuman pesanan mereka telah sampai dan mereka berdua segera menikmatinya.
"Aku mau lihat kolam itu, Van." ujar Kanaya setelah mereka selesai menyantap kudapan dan minuman mereka.
Kanaya pun berjalan ke arah kolam yang tak jauh dari mereka. Dan Devan pun mengikutinya.
Mereka berjalan ke dek kayu di pinggir kolam sambil melihat ikan - ikan koi yang berenang menghampiri mereka.
"Cakep - cakep ya Van, ikannya." ujar Kanaya sambil berjongkok dan memasukkan tanganya kedalam kolam dan menyentuh ikan - ikan yang jinak itu.
"Lembut," komentar Kanaya saat jari - jarinya menyentuh punggung ikan di kolam. Ia pun duduk di pinggir kolam memperhatikan ikan - ikan itu saling bergerombol menampakkan dirinya.
Devan ikut duduk sambil menekuk lututnya di sebelah Kanaya. Kemeja putihnya sudah di gulung sebatas lengan dan ikut memasukkan tangannya ke dalam kolam.
__ADS_1
"Kita bisa pelihara ikan koi kalau kamu mau, Ay. Nanti, aku buatkan kolam di belakang rumah," ujar Devan sambil tangannya mengelus ikan koi putih dengan bulatan merah di dahinya.
Kanaya tertegun dan hatinya tersentuh oleh ucapan Devan, meskipun ia tidak tahu bagaimana caranya bereaksi.
"Devan..." ucap Kanaya lirih.
"Kenapa Ay?" tanya Devan sambil menoleh ke arah Kanaya.
"Aku... kamu... nggak seharusnya bicara itu," ucap Kanaya sambil menarik nafas dalam.
Devan mengubah arah duduknya menghadap Kanaya.
'Saatnya aku harus mengatakan ini padamu, Ay. Aku tak ingin kehilanganmu lagi.' batin Devan.
"Kenapa aku nggak boleh bicara seperti itu?" tanya Devan sambil mengangkat wajah Kanaya dengan jarinya hingga kedua mata mereka saling bertatap.
"Karena aku tahu... itu tidak mungkin, Van?" jawab Kanaya.
"Aku..., aku tidak mungkin selamanya tinggal di rumahmu, kamu punya Melisa dan....."
"Aku dan Melisa sudah tidak ada hubungan apa - apa lagi," potong Devan.
Kanaya terkejut ' Apa?! Mereka sudah putus?' batin Kanaya.
"Hubungan kami sudah berakhir," ujar Devan lagi, mempertegas.
"Apa karena aku tinggal bersamamu? Makanya Melisa marah dan meninggalkanmu?" tanya Kanaya sambil merasa tidak enak hati.
Devan menggeleng.
"Hubungan Melisa dan aku tidak berjalan karena aku," ujar Devan sambil melihat kembali ikan - ikan yang dengan antusiasnya mendekati mereka.
"Harusnya aku yang tidak memulai hubungan itu, dan memaksakan keadaan," ujar Devan lagi.
"Kenapa?" tanya Kanaya yang masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi.
"Karena aku jatuh cinta pada orang lain," jawab Devan sambil mengangkat wajahnya dan menatap Kanaya.
Deg.
Kenapa... kenapa Devan menatapku seperti itu, apakah.... apakah... Devan...? Pikiran Kanaya menerawang.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.