Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Kekesalan Elvano


__ADS_3

Hasil pemeriksaan kesehatan Kanaya tidak langsung di terima hari itu, di butuhkannya hingga beberapa hari sampai semua hasil pemeriksaan selesai.


Devan pun mengendari mobilnya pulang bersama Kanaya dan juga Bella.Kanaya tampak tertidur di kursi penumpang di sampingnya karena kelelahan setelah medical check up dan pengisian berkas seharian, sedangkan Bella pun terlihat tertidur di kursi belakang.


Saat telah sampai di halaman depan rumahnya, telepon genggam Devan bergetar, di lihatnya Melisa yang meneleponnya. Devan lupa ia belum menghubungi Melisa sejak kemarin dan memberitahukannya bahwa ia telah sampai di kota B.


"Halo, Melisa?" sapa Devan dengan suara yang pelan. Ia tidak membangunkan Kanaya yang sedang tertidur di sebelahnya.


"Devan, apa kabarmu? Kenapa kamu tidak pernah meneleponku?" tanya Melisa dengan nada yang kesal.


"Maaf, Mel. Aku terlalu sibuk mengurusi kasus Kanaya, sehingga lupa untuk menghubungimu," ujar Devan merasa bersalah.


Melisa mendesah mendengar penjelasan Devan.


'Kanaya lagi.. Kanaya lagi..' keluhnya di dalam hati.


"Kamu masih di kota D? Kapan kamu pulang? Memangnya besok kamu tidak mau pergi?" tanya Melisa dengan nada merajuk.


"Aku.... sudah kembali Melisa. Tapi aku belum sempat ke tempatmu," ujar Devan semakin merasa bersalah.


Kanaya yang samar - samar mendengar percakapan Devan pun terbangun dari tidurnya.


"Kamu sudah pulang Devan? Ya ampun kenapa kamu tidak bilang? Kita kan bisa mengahabiskan waktu bersama hari ini! Aku sudah kangen sekali sama kamu Devan!" Ujar Melisa dengan terkejut.


"Iya, Mel. Maaf aku masih sibuk dengan beberapa kasus," jawab Devan.


"Jadi bagaimana Kanaya? Apa dia sudah kembali ke suaminya?" tanya Melisa.


Devan menoleh ke arah Kanaya yang berpura - pura tidak mendengar apa - apa. Ia pun memindahkan telepon genggamnya ke sebelah kanan.


"Mel, ini sudah malam dan aku baru saja pulang. Kita bicara lagi besok ya?" ujar Devan berusaha menutupi percakapannya dengan Melisa.

__ADS_1


"Devan ini belum juga jam 9 malam!" Ujar Melisa setengah berteriak.


"Ya, aku tahu. Besok aku telepon ya," ujar Devan kemudian memutus sambungan teleponnya.


"Ayo kita keluar, Ay" ajak Devan sambil membereskan barang - barangnya dan mematikan mesin mobilnya.


Kanaya bisa mendengar samar - samar percakapan Devan dan juga Melisa, dan ia tersadar bahwa Devan yang sekarang bukan lagi seseorang yang hanya memikirkan dirinya. Ia mempunyai orang lain yang ia sayangi dan sedikit banyak ia merasa cemburu dengan hubungan Devan dan juga Melisa. Namun segera di buangnya jauh rasa itu dan berusaha menyadarkan dirinya bahwa ada orang lain yang lebih penting dalam hidup Devan saat ini dan orang itu bukanlah dirinya.


"Devan, sungguh aku meminta maaf padamu. Karena mengurusiku, kamu jadi tidak punya waktu dengan Melisa," ujar Kanaya. Ia berusaha tegar saat mengatakannya. Ia tidak berani menatapnya langsung.


"Apa - apaan sih, Ay. Kok kamu ngomongnya kaya gitu?" tanya Devan heran dengan sikap Kanaya.


"Kamu kan bukan orang lain buat aku, dan Melisa tahu itu. Kamu jangan kuatir dengan hal - hal yang tidak perlu. Kamu harus fokus pada apa yang kita kerjakan, oke?" ujar Devan sambil memegang pundak Kanaya.


"Aku hanya enggak enak saja, sama Melisa," ujar Kanaya.


"Nggak usah berpikir begitu, Ay. Melisa pasti akan mengerti," ujar Devan, kemudian ia keluar dari mobil memutari mobilnya untuk membukakan pintu bagi Kanaya.


"Ay, kalau kamu terbangun nanti malam, panggil saja aku." ujar Devan sebelum Kanaya masuk kedalam kamarnya.


"Makasih, Van. Aku akan tidur dengan Bella malam ini," jawab Kanaya.


Kanaya sengaja mengajak Bella tidur dengannya. Karena ia merasa tidak enak jika harus bersama dengan Devan saat statusnya masih Istri Elvano. Sedangkan Devan juga mempunyai seorang kekasih.


Meskipun mereka tidak melakukan apa - apa. Tetapi Kanaya sadar, hubungannya dengan Devan saat ini tidak bisa di samakan dengan hubungan mereka di masa lalu, ada sesuatu yang berubah dan ia merasa tidak enak hati terutama pada Melisa.


***


Elvano sangat kesal karena tidak bisa membawa Kanaya kembali ke kota D bersamanya.


Anton pun bingung, karena pekerjaan di perusahaan menjadi terbengkalai demi mengurusi masalah pribadi atasannya. Sementara Ardi pun tidak bisa berbuat banyak. Karena ia mengenal Gilang dan anak buahnya yang berdiri di belakang Devan.

__ADS_1


Gilang adalah orang yang paling di segani dalam dunia mereka, bahkan sampai di kota D. Tidak ada yang berani macam - macam dengan Gilang dan anak buahnya. Pantas saja ia tidak bisa menemukan Devan dan juga Kanaya saat mereka pergi ke kota D, ia tidak akan heran jika Gilang terlibat di dalamnya. Apalagi Gilang bekerja dan loyal pada pengusaha sekaliber Alexander David Mahendra. Apakah Alexander David Mahendra juga terlibat? Jika benar, sebaiknya Elvano tidak macam - macam dengannya. Pikir Ardi.


"Elvano dimana Kanaya?" tanya Luna dengan raut wajah yang senang, saat Elvano sampai di rumah. Ia mengetahui jika Kanaya akan pulang kerumah saat ia menghubungi nomor telepon rumah Elvano dan Desi yang menjawabnya.


"Diamlah, Mah! Saat ini aku tidak ingin bicara!" Bentak Elvano dengan wajah masam, dan langsung naik ke lantai dua tanpa menghiraukan Papa dan Mamanya yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Anton, ada apa? Sebenarnya apa yang sudah terjadi?" tanya Luna ingin tahu.


Anton dan Ardi saling pandang.


"Kalian berdua masuklah!" Ujar Sean, Papa Elvano sambil menunjuk pada Anton dan Ardi.


Anton dan Ardi pun masuk mengikuti Sean dan duduk berhadapan dengannya. Luna pun duduk di samping suaminya.


"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah kalian pergi untuk menjemput Kanaya pulang? Dimana Kanaya, dan kenapa Elvano sangat kesal?" tanya Sean penasaran.


"Maaf Pak, saya tidak tahu apakah saya berhak untuk menceritakan hal ini atau tidak," ujar Anton yang merasa enggan untuk menceritakan apa yang sebenarnya sudah terjadi.


"Sudahlah Anton! Jangan berbelit - belit! Ceritakan saja apa yang terjadi! Apa kalian sudah menemukan Kanaya?" Tanya Sean memaksa.


"Kami mengetahui Ibu Kanaya berada di kota B bersama dengan Bapak Devan Permana, dan Pak Devan sudah mengkonfirmasi, jika Ibu Kanaya memang berada di sana," ujar Ardi


"Kenapa dia tidak ikut pulang bersama Elvano?" tanya Sean dengan heran.


"Ibu Kanaya tidak mau menemui Pak Elvano, tetapi meminta penasehat hukumnya untuk berbicara dengan Pak Elvano?" jawab Anton.


"Penasehat hukum? Apa maksudmu?" tanya Sean bertambah heran. Kenapa Kanaya mempunyai penasehat hukum? Pikir Sean.


"Karena Ibu Kanaya akan menuntut cerai dan Devan Permana adalah penasehat hukumnya." terang Anton.


Sean dan juga Luna begitu terkejut.

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen dan vote. Jika berkenan tekan tombol like...like..like yang banyak yah...


__ADS_2