Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Pernah Bertemu


__ADS_3

Babak baru dalam kehidupan Kanaya segera di mulai.


Berkas perkara sudah di daftarkan dan minggu depan Kanaya harus menghadiri mediasi yang akan di lakukan di kota D. Mau tak mau Kanaya harus menghadirinya, karena kedua belah pihak wajib hadir di sana.


Namun Kanaya tidak begitu khawatir lagi, dengan adanya Devan, Bunda dan Mamanya yang berada di sisinya dan memberinya dukungan, ia merasa lebih aman dan terlindungi.


Selain itu Devan pun telah menjadwalkan sesi temu dengan psikolog untuk mengatasi trauma serta pemaksaan yang Elvano lakukan padanya. Meskipun ia masih bermimpi buruk, namun hal itu sudah berangsur - angsur berkurang, seiring dengan rasa aman dan nyaman yang di rasakannya belakangan ini.


Berat badan Kanaya pun berangsur - angsur bertambah dan wajahnya yang semula pucat kini telah mengeluarkan ronanya.


"Ay...." ucap Devan saat Kanaya keluar dari kamar dengan padanan rok midi floral dan atasan yang berlengan panjang berwarna senada dengan warna floral di roknya, membuatnya terlihat cantik dan manis.


"Ayo, Van. Aku sudah siap," ujar Kanaya sambil tersenyum dan menghampiri Devan yang masih terkesima oleh penampilan Kanaya.


"Devan?" panggil Kanaya sambil memencet hidung Devan yang masih diam dan tidak bergerak.


"Oh eh, iya Ay. Ayo...ayo berangkat," ujar Devan sambil beranjak dari duduknya cepat - cepat dengan salah tingkah.


Bunda Alika yang melihat hal itu tersenyum geli.


"Hati - hati kalian di jalan," ujar Ratna yanga baru keluar dari kamar Kanaya.


"Iya Mah, Kanaya dan juga Devan pergi dulu ya," ujar Kanaya sambil mencium tangan Mama dan juga Bundanya. Dan Devan pun melakukan hal yang sama juga.


"Ya, hati - hati," ujar Alika pula.


Siang itu, Kanaya dan Devan hendak menghadiri undangan makan siang di kediaman Alexanader David Mahendra. Mereka sengaja mengundang Devan dan juga Kanaya, setelah mendengar penuturan dari Gilang mengenai apa yang telah terjadi. Terutama Rena Istri David yang sangat ingin sekali bertemu dengan Kanaya untuk memberinya dukungan moral.


"Pak David dan Ibu Rena, seperti apa mereka?" tanya Kanaya saat Devan sedang mengendarai kendaraannya.


"Mereka sangat baik. Bahkan Pak David yang pertama kali membantuku untuk membuka Firma Hukumku di sini. Dan Ibu Rena, ia pun sangat baik. Mereka adalah pasangan yang serasi," ujar Devan sambil menoleh dan memandang Kanaya.


'Seandainya kita bisa seperti mereka, Ay.' batin Devan


Kanaya mengangguk dan menoleh ke arah Devan, sehingga tatapan mata mereka saling bertemu.

__ADS_1


"Menurutmu, apa mereka akan menyukaiku?" tanya Kanaya sambil menunduk.


"Tentu saja, Ay. Kamu baik dan cantik. Tentu saja mereka akan menyukaimu," ujar Devan sambil melirik wajah Kanaya yang mulai bersemu merah.


"Sebelumnya ini acara makan siang keluarga, sebelum mereka pergi ke California, untuk liburan. Tapi, Bu Rena bersikeras ingin mengundangmu," ujar Devan.


'Bu Rena, bersikeras ingin mengundangku, ada apa?' pikir Kanaya.


"Tidak usah khawatir, Ibu Rena hanya ingin berkenalan dengan mu," ujar Devan yang tidak ingin berpikiran yang tidak - tidak.


Tak lama mereka sudah sampai di depan gerbang, dan seorang penjaga menyai maksud kedatangan mereka.


"Saya Devan Permana, kami di undang makan siang oleh Pak David," ujar Devan.


Dan penjaga pintu itu pun mempersilahkan mereka untuk masuk.


Dari gerbang itu, mereka masih mengendarai mobil cukup jauh untuk sampai di halaman rumah.


Kanaya terkesima melihat rumah megah David yang berkali - kali lipat lebih besar dari rumah Elvano. Tak heran jika David di kenal sebagai pengusaha yang kaya raya.


"Kita sudah sampai," kata Devan.


Devan keluar dan memutari mobil hingga ia bisa membuka pintu mobil untuk Kanaya dan meraih tangan Kanaya.


"Ayo, Ay." ajaknya.


Mereka pun berpegangan tangan sambil melangkah mendekati rumah.


"Pak Devan, silahkan masuk," ujar Jefri, kepala asisten rumah tangga itu, membukakan pintu bagi mereka.


"Mari ikuti saya, Bapak dan Ibu bisa menunggu di taman belakang," ujar Jefri sambil mendahului mereka di depan dan menunjukkan jalan.


Di halaman belakang yang juga sangatlah luas, mereka bertemu dengan beberapa orang yang sedang menyantap makan siang di area samping kolam renang.


"Pak Devan Permana? Apa kabar, Pak? Sudah lama tidak bertemu dengan, Bapak?" ujar seorang pria yang hanya berbeda beberapa tahun dari Devan.

__ADS_1


"Pak Austin, baik Pak. Bapak sendiri bagaimana kabarnya?" tanya Devan sambil menyalami pria itu.


"Saya baik - baik saja. Saya dengar Firma Hukum Anda memenangkan kasus besar kemarin, selamat!" Ujar Austin, namun sempat melirik ke arah Kanaya sesaat. Ia mungkin ingin bertanya, namun di urungkan niatnya.


"Terima kasih Pak Austin. Oh iya, ini Kanaya, teman saya. Kanaya, ini Pak Austin Leonard Alfaro, Kakak dari Ibu Rena." ujar Devan memperkenalkan mereka.


"Apa kabar, Pak Austin?" sapa Kanaya sopan sambil menjabat tangan Austin.


Visual



Visual Austin Leonard Alfaro


"Baik Mbak Kanaya, Wah.. Pak Devan beruntung sekali hidupnya selalu di kelilingi wanita - wanita yang sangat cantik," ujar Austin sambil tersenyum pada Kanaya.


"Kemana saja saya selama ini, tidak pernah melihat wanita secantik Mbak Kanaya ini?" seloroh Austin sambil tidak lepas dari memandangi Kanaya.


"Karena Ibu Kanaya memang tidak tinggal di sini!" Tiba - tiba seorang pria dari arah samping ikut berkomentar dan menghampiri mereka.


Mereka semua menoleh ke arah pria tersebut.


"Apa kabar, Bu Kanaya? Masih ingat saya? tanya pria itu.


Kanaya memandangi wajah pria itu. Ia memang pernah bertemu dengannya, hanya saja ia lupa dimana. Kanaya mencoba mengingat - ingat dimana ia pernah bertemu dengan pria itu.


Bersambung...


Nantikan terus kisah mereka ya~~


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya. Kalau berkenan jangan lupa untuk tekan tombol like..like..like..like yang banyak yah.


Terima kasih atas dukungannya selama ini...❤

__ADS_1


__ADS_2