
**Sekilas Info :
Yeay....👏👏 Akhirnya Novel pertama Author tamat juga 🤗 Sekali lagi saya sebagai penulis IPC (Istri Pengganti Ceo) sangat berterima kasih kepada para reader yang sudah setia meluangkan waktunya membaca karya abal - abal ku ini. Much Love😘 Tapi tenang aja. Abis ini author bakalan buat extra partnya kok.
Ingat! Ingat! Hari ini episode terakhir 'IPC' bertepatan dengan hari senin Author mohon kasih likenya dong jangan pada pelit ya..ya...ya😄 Jangan lupa sajen vote dan hadiahnya ya para readerku. Yuk lah perbanyak juga komentarnya~~
Happy Reading semuanya....🤗**
"Maaf," ucap Kanaya saat itu juga, namun ia tertegun saat melihat wajah orang yang berada di atas kursi roda di hadapannya.
Orang yang berada di atas kursi roda itu pun tertegun menatapnya mereka berdua sama - sama tidak menyangka akan bertemu lagi.
"Maaf," ujar Kanaya sekali lagi, lalu berjalan melewatinya hendak pergi meninggalkannya. Ia tidak ingin mencari masalah apa pun atau mengorek kenangan masa lalu.
"Kanaya, bisa aku bicara denganmu?" pinta orang itu saat Kanaya lewat di sebelahnya.
"Maya, maaf... aku...." ucap Kanaya pada Maya yang duduk di atas kursi roda. Ia menoleh dan menolak untuk bicara dengannya. Namun, ucapannya di potong oleh Maya.
"Kanaya, aku mohon. Aku hanya meminta sedikit waktumu," pinta Maya dengan memohon.
Kanaya ragu, ia ingin mengubur kenangan pahit masa lalunya. Namun, melihat raut wajah Maya yang memohon padanya, ia pun menjadi iba.
"Baiklah, tapi aku hanya punya waktu sebentar saja," ujar Kanaya beralasan. Ia merasa tidak perlu berbicara lama - lama dengan Maya yang hanya akan membuka kenangan pahit di masa lalunya itu.
"Sebentar pun tidak apa," jawab Maya, sambil tersenyum.
Kanaya membayar buku bacaannya terlebih dahulu, sebelum ia bisa duduk berdua bersama dengan Maya di sebuah cafe tak jauh dari toko buku itu.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Maya?" tanya Kanaya setelah mereka duduk dan memesan minuman di cafe itu.
Maya menarik nafas dalam dan memandang ke arah Kanaya.
"Kanaya, aku ingin meminta maaf padamu, atas apa yang telah aku lakukan padamu dulu," ujar Maya dengan beban rasa bersalah di hatinya.
Kanaya memandang dan merasa iba padanya. Namun, ia memilih diam untuk membiarkan Maya menyelesaikan perkataannya.
"Aku benar - benar telah menyakitimu, menjelek - jelekkan namamu, memfitnahmu, dan aku bahkan menghasut Elvano untuk membencimu," ujarnya.
"Semua hal yang Elvano lakukan padamu dulu, semuanya karena aku yang menghasutnya, maafkan aku... maafkan aku, Kanaya," ujar Maya.
Tetapi nasi sudah menjadi bubur, yang telah terjadi dan membekas di dalam diri Kanaya Zavira tidak akan pernah terlupakan. Ia memang bisa memaafkan tapi akan sulit untuk melupakan.
Maya menangis, karena beban rasa bersalah yang di tanggungnya selama ini. Ia sendiri, juga tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Kanaya lagi. Oleh sebab itu, ia meminta maaf padanya, saat ia berkesempatan bertemu dengannya.
Kanaya memberikan sehelai tissu dan menaruh sekotak tissu di dekat Maya. Maya mengambilnya untuk mengusap air matanya yang jatuh.
"Maya, kenapa kamu melakukan ini, setelah semua ini?" tanya Kanaya dengan rasa iba.
__ADS_1
"Karena aku merasa bersalah padamu, Kanaya. Aku yang sudah menyebabkan rumah tangga kalian hancur," jawab Maya dengan terisak - isak.
"Kanaya kamu harus tahu, bahwa sebenarnya Elvano sangat mencintaimu saat itu. Tapi, dia... dia tidak menyadarinya, dan aku yang membuat nya berpikir bahwa ia membencimu, bukan sebaliknya," ujar Maya yang membuat Kanaya terkejut.
"Itu benar Kanaya. Saat dia bersamaku, hanya ada kamu yang ada di benaknya, dan ia sangat cemburu pada laki - laki yang mendekatimu. Aku sangat cemburu, karena ia tidak pernah sekalipun memikirkan aku, atau cemburu seperti cemburunya dia padamu," ujar Maya bercerita dengan jujur apa yang di ketahui dan di rasakannya saat itu.
"Kanaya, aku sudah mendapatkan hukumanku dengan menjadi orang cacat, tidak berguna dan aku bahkan tidak bisa memiliki keturunan lagi," ujarnya.
"Tetapi sebelum aku bertemu denganmu, dan meminta maaf padamu, hidupku tidak akan pernah tenang. Aku mohon maafkan aku, maafkan aku Kanaya," pinta Maya lagi sambil meraih tangan Kanaya di atas meja dan menciuminya.
Kanaya merasa risih, dan berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Maya. Ia merasa Maya tidak perlu memohon - mohon seperti itu, apalagi di tengah - tengah tempat umum.
"Maya, sudahlah...aku.. aku sudah memaafkanmu," ujar Kanaya akhirnya, barulah Maya mau melepaskan tangannya.
Namun, tampaknya Maya masih sangat terbawa suasana hatinya, sehingga, ia masih terus menangis.
Kanaya berpindah duduk di sebelah Maya dan mencoba menenangkannya.
"Maya, kamu sudah mendapatkan pelajaran dari apa yang kamu lakukan dulu. Dan aku pun sudah memaafkanmu. Jadi, berhentilah menangis dan berusahalah menjadi orang yang lebih baik lagi, mulai saat ini," ujar Kanaya mencoba menghiburnya dan menyemangatinya.
"Sudah terlambat Kanaya...." ujarnya.
"Aku tidak berguna, cacat dan tidak ada yang menginginkan aku. Hidupku, sudah hancur!" Ujarnya dengan putus asa.
"Maya, berhentilah berbicara seperti itu, masih banyak hal yang bisa kamu lakukan," ujar Kanaya menyemangati Maya.
Walaupun dahulu Maya berlaku jahat padanya dia sudah memaafkannya. Dan ia merasa iba pada Maya yang saat itu, ada di hadapannya.
"Terima kasih sudah memafkan aku Kanaya. Mulai saat ini, aku tidak akan menganggu hidupmu lagi," ujarnya dengan menunduk, kemudian pergi dengan kursi rodanya.
Kanaya memandang iba padanya dan melihatnya menghilang di balik pintu lift mall itu.
Selepas kepergian Maya, ia duduk memikirkan apa yang telah terjadi pada Maya. Ia berharap Maya bisa bangkit dan berusaha untuk menjalani hidupnya dengan lebih bersemangat.
Sedangkan, Apa yang Maya katakan mengenai Elvano, ia sungguh tidak menduganya. Karena Elvano tidak pernah mengatakan, sejak kapan ia mulai jatuh cinta padanya, tetapi sejak pernikahan pertama mereka? Kanaya benar - benar tidak pernah menyangka Elvano telah menyimpan perasaan padanya sudah selama itu.
Tiba - tiba ia merasa rindu pada Elvano, tanpa di sadarinya ia mengusap perutnya, merasa Elvano ada di dalam dirinya.
Saat sedang merasa rindu pada Elvano, telepon genggamnya berbunyi, dan menampakkan foto Elvano di layar telepon genggamnya. Segera di angkatnya panggilan telepon itu.
"Sayang, kamu lagi ada dimana?" tanya Elvano, saat ia mengangkat panggilan teleponnya.
"Yang, aku masih di mall. Kamu sudah selesai?" tanya Kanaya.
"Aku baru saja selesai. Kamu di mall mana? Biar aku kesana," ujar Elvano.
"Nggak usah, Yang. Biar aku yang ketempatmu, mobilnya kan sama aku," ujar Kanaya sambil beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Aku nggak pa - pa," jawab Elvano.
"Kak El, aku on the way, biar aku yang ketempatmu. Tunggu aku ya," ujar Kanaya lalu mematikan percakapan telepon mereka. Kanaya segera memanggil supir kantor Elvano Dan mereka segera pergi ke gedung pertemuan rapat Elvano berada.
Elvano segera masuk kedalam mobil, saat mobil yang Kanaya naiki sampai disana dan menjemputnya.
"Restoran Glatzier ya," ujar Elvano pada supir yang sudah membukakan pintu untuknya.
Ia baru saja duduk dan belum sempat berbicara pada Kanaya, saat Kanaya berpindah duduk di pangkuannya secara tiba - tiba, memeluknya dan mencium bibirnya dengan penuh passion
Meskipun Elvano terkejut, namun di balasnya juga kecupan panas dari Kanaya untuknya. Ia bahkan dapat merasakan besarnya hasrat Kanaya padanya.
"Sayang, kamu mau cerita apa yang sudah terjadi?" tanya Elvano ingin tahu, apa yang menyebabkannya Kanaya menggelora seperti itu.
Kanaya melingkarkan tangannya di leher Elvano.
"Apa tidak boleh aku melakukan ini?" tanya Kanaya masih memberikan kecupan - kecupan kecil di bibir Elvano. Untung saja Kanaya telah menurunkan pembatas kabin di mobil mereka, sehingga supir yang membawa mereka tidak melihat apa yang mereka lakukan.
"Tentu saja boleh Yang, sangat boleh," ujar Elvano membalas kecupan Kanaya sekaligus tersenyum geli dengan perubahan sikap Kanaya yang penuh dengan inisiatif saat bermesaraan dengannya.
"Aku pikir kita harus segera kembali ke hotel sekarang," ucap Elvano sambil terkekeh di antara cumbuan mereka. Tidak mungkin mereka makan di restoran dengan hasrat yang menggebu - gebu seperti itu.
"Kak El, sejak kapan kamu jatuh cinta padaku?" tanya Kanaya ingin mendengar jawaban dari Elvano.
"Sejak dulu, Ay. Bahkan, sebelum aku menikahimu, aku telah jatuh hati padamu. Aku hanya terlalu bodoh untuk menyadari dan mengakuinya," ujar Elvano denga jujur.
"Benar apa kata Maya," batin Kanaya, sambil memegang bibir Elvano dengan jari tangannya.
"Kak Elvano... aku pikir.. aku jatuh cinta padamu," ucap Kanaya tiba - tiba sambil memandang ke arah suaminya.
"Ya? Kamu baru sadar kalau kamu sudah jatuh cinta padaku?" tanya Elvano dengan canda sambil menatap kedua manik mata Kanaya dengan penuh cinta.
Dalam hatinya ia sangat bahagia, mendebgar Kanaya ia jatuh cinta padanya. Itu artinya Kanaya memcintainya, sama besar seperti ia mencintai Kanaya.
"Ya, aku rasa aku baru saja menyadarinya," jawab Kanaya sambil tersenyum malu, lalu mendekap erat tubuh Elvano, seakan tidak ingin berpisah.
"Aku mencintaimu, Kak El..." ucap Kanaya sambil membenamkan wajahnya di dada Elvano dan membiarkan Elvano memeluknya dengan erat.
...- TAMAT -...
Terima kasih, karena telah mengikuti kisah Kanaya dan Elvano.
Mohon maaf jika ada kesalahan yang di sengaja ataupun tidak di sengaja.
Jangan lupa baca, cerita David dan Rena yah udah di Up banyak loh.
__ADS_1
Sampai ketemu di cerita saya yang selanjutnya yah...
Love you all......😘