
"Alvaro dan Clara juga sering menanyakanmu," ucapku sambil mataku mencoba mencari keberadaan Alvaro dan Clara. Namun, tak dapat ku temukan mereka. Terakhir ku lihat mereka sedang asyik bermain dengan anak - anak yang lain. Yang ikut menghadiri acara tersebut.
"Hanya Alvaro dan Clara?" tanyanya. Masih dapat kurasakan tatapan matanya ke arahku meskipun aku tidak menatapnya.
"Kak El... aku..." aku masih tidak tahu harus mengatakan apa padanya. Di satu sisi aku senang bertemu dengannya tetapi di sisi lain aku sangat takut kehilangan Devan untuk selamanya, jika aku membiarkannya masuk ke dalam hatiku.
"Papa!" Kudengar suara Alvaro dan Clara berteriak memanggil Elvano. Kami berdua menoleh ke arah asal suara itu dan dalam sekejap mata, kedua anakku itu telah berhambur memeluknya.
"Papa kemana aja? Kok nggak pernah main ke rumah! Clara kangen!" Clara berceloteh sambil memeluk Elvano. Dia memang tidak sabar untuk bertemu dengan Elvano, dan sering bertanya kapan Elvano pulang ke luar kota.
"Papah kapan pulang, Pah? Nanti sore main ke rumah ya Pah, abis dari sini," ujar Alvaro tidak mau ketinggalan.
"Iya, nanti Papa ke rumah, Papa juga sudah kangen sama kalian," jawab Elvano sambil memandang Alvaro dan Clara secara bergantian.
"Pah, tadi Clara ikut lomba gambar, dan Clara menang! Ayo Pah, lihat gambar Clara!" Clara menarik Elvano ke arah papan tempat gambarnya terpajang. Elvano sempat menoleh kepadaku dan menatapku seperti masih ingin mengobrol, namun Clara sungguh tidak sabar menariknya pergi. Mau tak mau ia pun pergi mengikuti Clara.
Kuperhatikan ia dan Alvaro dari kejauhan sampai seseorang menepuk pundakku.
"Bengong aja, liatin siapa sih?" tanya Adella yang tahu - tahu sudah ada di sampingku.
"Eh, nggak... itu... Alvaro sama Clara..." jawabku sambil menunjuk mereka yang sedang. mengobrol bersama Elvano.
__ADS_1
Adella melihat ke arah pandanganku. Mengangguk dan tersenyum.
"Minum itu yuk Ay," ujar Adella sambil mengajakku mendekati es kok tail yang di sediakan pelayan pesta itu.
Kami masing - masing mengambil satu gelas dan di kursi yang agak berjauhan dengan tamu pesta yang lainnya.
"Elvano sangat perhatian pada Alvaro dan juga Clara," ujar Adella. Sambil ia menyendokkan es koktail yang berisi aneka macam - macam buah - buahan segar.
"Kak Elvano, juga sangat perhatian pada Keira kok, Dell. Sama saja, aku rasa. Kak Elvano menyayangi mereka semua sama rata," komentarku, tidak ingin ia berpikiran Elvano akan lebih memperhatikan Alvaro dan juga Clara di bandingkan Keira anak mereka.
Aku pun melihat Elvano perhatian dan sayang pada Keira, sama seperti ia perhatian dan sayang pada Alvaro dan Clara.
Adella tersenyum. Namun, senyumnya kali ini sedikit berbeda. Aku tidak dapat mengartikan senyumannya. Apa ia cemburu? Pikirku.
"Kanaya, aku sudah tahu kalau Elvano sudah menyatakan kalau dia mencintaimu," ujar Adella tiba - tiba.
Jadi, ini adalah alasan Adella mengajak aku untuk duduk bersamanya, untuk membicarakan Kak Elvano. Aku rasa Kak Elvano sudah memberitahunya apa yang telah terjadi belakangan ini.
"Adella..." aku merasa tidak enak hati membicarakan hal ini padanya.Kami berdua sama - sama mantan Istrinya. Bagaimana pun aku tidak ingin melukai perasaannya. Ia mungkin saja masih menyimpan rasa pada Elvano.
"Aku tahu, ia sangat mencintaimu sejak dulu, bahkan sebelum aku menikah dengannya," aku Adella, yang membuatku bertambah terkejut.
"Adella, itu... itu tidak mungkin. Aku minta maaf, aku dan Kak Elvano memang pernah menikah sebelum....." ujarku mencoba menerangkan Padanya.
"Aku tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kalian berdua. Elvano sungguh menceritakannya," ujarnya sambil memandangku dan tersenyum.Senyumnya tulus, membuat rasa gelisahku berkurang.
__ADS_1
"Sebenarnya ini adalah rahasia antara aku dan Elvano, tetapi aku ingin kamu tahu. Karena apa yang akan aku katakan ini benar,Kanaya." ujarnya.
"Seperti kau tahu, Aku dan Elvano sudah bersahabat sejak lama, dan kami saling terbuka satu sama lain. Tidak ada hal yang ia ceritakan padaku, setidaknya itulah yang aku tahu," ujar Adella sambil tertawa.
Aku pun mendengarkannya. Meskipun aku tahu, ini tentang dirinya dan juga Kak Elvano, tetapi ia ingin bercerita denganku dan aku pun menghargainya.
"Aku dan Elvano tidak pernah mencintai seperti layaknya suami - istri, ia menikahiku karena ingin membantuku," ucapnya mulai bercerita.
Tidak pernah saling cinta? Karena saling membantu? Apa maksudnya?
"Aku hamil dan pacarku tidak mau bertanggung jawab. Oleh sebab itu Elvano menikahiku, memgambil tanggung jawab pacarku yang tidak berguna itu," ucap Adella sambil tertawa getir.
Aku sangat terkejut mendengar pengakuannya.
'Keira bukan anak Kak Elvano?'
Bersambung...
**Hallo Kak, author balik lagi nih, jangan lupa beri ranting 5 dan Vote dari kalian semua ya Kakak.
Novel ini, bentar lagi mau tamat ya Kakak. karena bakal ada Novel David dan Juga Rena**
Terima kasih sudah memabaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa, like komen vote dan hadiahnya.
__ADS_1