
*** Note: Kasih author semangat yuk... dengan kasih vote ataupun hadiahnya. Biar author lebih semangat untuk Up lebih banyak. Dan jangan lupa tinggalkan jejak komen kalian ya~~
Happy Reading semuanya🤗***
"Aku yakin kamu akan kembali sukses kalau kamu mau, walaupun tanpa aku," tambah Kanaya.
Apapun hal buruk yang Elvano telah lakukan padanya, tetapi ia tak lagi membenci Elvano, dan ia pun ingin Elvano mempunyai hidup yang baik suatu saat nanti, kembali menjadi Elvano yang di kagumi banyak orang. Bagaimana pun ia adalah Ayah dari anak yang di kandungnya.
Tiba - tiba anak dalam kandungan Kanaya membuat gerakan menyentak, yang membuat Kanaya berteriak.
"Ahh!" Ringis Kanaya sambil memegang perutnya. Ia tidak menyangka jika Alvaro akan bereaksi seperti itu. Ada apa denganya?
"Kenapa Ay?" tanya Elvano yang melihat Kanaya meringis.
"Apa kamu sakit?" tanya Elvano lagi dengan khawatir sambil beranjak dari duduknya melihat ke arah tangan Kanaya.
Saat itulah ia melihat perut Kanaya yang membesar, hingga Elvano merasa tersengat listik beratus - ratus voltase.
Kanaya hamil? Apa... dia sudah bersama dengan orang lain? pikiran itu langsung berkelebat di benaknya.
Hatinya pun mulai merasakan sakit yang luar biasa saat mengetahui Kanaya telah move on darinya dan telah bersama orang lain dengan begitu mudahnya, bahkan saat ini dia telah mengandung anak orang itu.
Kanaya masih mengelus perutnya menenangkan anak dalam perutnya dan sejenak melupakan Elvano.
Ia baru teringat kembali saat ia mengangkat wajahnya dan melihat raut wajah Elvano yang tercengang menyadari Elvano telah mengetahui kehamilannya. Bahwa ia telah mengandung anaknya.
Apa yang akan terjadi? jantung Kanaya berdebar kencang.
Elvano duduk kembali dengan tidak bergairah.
"Apa kamu baik - baik saja?" tanya Elvano lagi setelah ia bisa mengontrol dirinya kembali.
"Ya, aku baik Kak El. Dia.... memang suka menendang," ujar Kanaya.
"Selamat Ay. Aku harap kamu bahagia dengannya," ujar Elvano sambil menunduk, ia sangat kecewa.
"Kanaya...,"
" Dia belum tahu anak ini adalah anaknya. Ya Tuhan, bagaimana aku harus memberitahunya?" batin Kanaya.
__ADS_1
Mereka diam selama beberapa waktu, seperti sibuk dengan pikiran masing - masing.
"Kak Elvano, ada sesuatu yang aku harus beritahu padamu," ujar Kanaya akhirnya.
Kanaya sangat gugup akan tetapi ia berusaha untuk tetap tenang.
Elvano mengangkat wajahnya.
"Anak ini..... dia anakmu," ujar Kanaya bagaimanapun ia telah ada di hadapan Elvano dan ia harus mengatakannya. Kalau tidak, hal itu akan menghantuinya seumur hidupnya.
"A.... apa?" Elvano sangat terkejut hingga mulutnya menganga dan matanya membelalak hampir tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Ay.... kamu.... bilang... anak itu... anakku?" tanya Elvano dengan mata berkaca - kaca.
Tiba - tiba Elvano merasakan kebahagian yang tiada taranya saat hatinya terasa hangat dan waktu terasa berhenti saat itu.
Kanaya mengandung anakku! Anakku! Ya Tuhan!
Saking gembiranya sampai Elvano beranjak tiba - tiba dan mendekati Kanaya, membuat Kanaya terkejut dan ikut berdiri.
saat itu sipir yang mengawasi ruangan itu melihatnya dan langsung menghentikkan Elvano.
"Elvano, di larang kontak fisik!" Teriak sipir itu sambil memegang lengan Elvano mencegahnya mendekati Kanaya yang tampak ketakutan dan pucat pasi.
Elvano sangat bahagia dan ingin memegang perut Kanaya yang sedang mengandung anaknya.
Sipir itu melihat ke arah perut Kanaya yang membesar, dan ia pun iba saat melihat wajah Elvano yang selama ini tidak pernah bergairah, namun sangat bahagia dan berseri - seri saat itu.
"Baiklah, tapi sebentar saja. Waktu berkunjung juga sudah hampir habis," ujar sipir itu kemudian melepaskan lengan Elvano.
Buat Kanaya ia masih sangat takut jika harus berkontak fisik dengan Elvano, sehingga secara reflek tangan Kanaya membuat pertahanan saat Elvano mencoba mendekatinya. Dan Elvano melihat hal itu, betapa Kanaya belum bisa menerima dirinya.
"Kanaya, bolehkah aku memegangnya?" pinta Elvano dengan penuh harap.
Kanaya menelan ludahnya. Ia masih sangat takut untuk berdekatan dengan Elvano apalagi jika Elvano menyentuhnya.Akan tetapi ia tahu, anak itu adalah anak Elvano juga. Kapan lagi Elvano akan bisa menyentuh anaknya? Sedangkan Kanaya mungkin tidak akan mengunjungi Elvano lagi.
Perlahan - lahan Kanaya duduk di bangku panjang yang di dudukinya. Dan Elvano pun duduk, namun kali ini ia duduk di samping Kanaya di bangku panjang itu.
Elvano memandangi perut Kanaya yang membesar dan perlahan - lahan kedua tangannya menangkup perut besar Kanaya.
__ADS_1
Kedua tangan Kanaya terkepal erat dan berkeringat saat tangan Elvano menyentuhnya setelah sekian lama.Namun lama - kelamaan ia mulai tenang saat melihat Elvano mulai tersenyum. Senyuman itu bukan untuknya, tetapi untuk bayi yang ada di dalam kandungannya. Senyuman yang sangat tulus menampakkan kebahagiaan yang sangat, saat anak dalam kandungannya bergerak di perut Kanaya.
"Berapa usia kandunganmu? Apakah dia sehat?" tanya Elvano dengan mata yang berkaca - kaca. Ia bahkan sampai meneteskan air mata yang langsung di hapusnya dengan punggung tangannya.
"Dia.... usianya sudah 26 minggu," ujar Kanaya dengan mata yang berkaca - kaca.
"Dan dia juga sangat sehat dan aktif," tambah Kanaya dengan tersenyum, kali ini senyumnya tulus dan tidak di paksakan.
Elvano tersenyum, senyumnya bagaikan senyuman anak kecil yang sangat bahagia saat di ajak ke toko mainan.
"Aku akan menjadi seorang Ayah," gumam Elvano tak henti - hentinya tersenyum, kemudian menatap Kanaya.
"Apa dia perempuan?" tanya Elvano.
Kanaya menggeleng dan berkata, "Laki - laki,"
"Aku punya seorang anak laki - laki!" Teriak Elvano dengan begitu bahagia. Membuat beberapa orang di sekitar mereka menoleh ke arah mereka.
Namun sayang sekali, saat itu bel tanda habis waktu berkunjung mereka berbunyi.
"Ayo, waktu sudah habis, kembali ke tempat kalian masing - masing! Teriak sipir penjara.
"Kanaya, aku sangat bahagia sekali. Bahagia karena kamu dan anak kita datang mengunjungiku," ujar Elvano tidak bisa menahan perasaaan harunya.
"Aku tahu mungkin berat memintamu untuk mengunjungiku lagi. Tetapi kalau ada waktu, kirimkan kabar untukku, sepucuk surat pun cukup untukku," pinta Elvano sambil meneteskan air matanya.
Kanaya sungguh tidak sanggup untuk menolaknya dan ia pun mengangguk.
"Elvano, ayo sudah waktunya!" Teriak sipir dari pintu keluar ruangan itu. Saat itu hanya tinggal Elvano yang belum keluar.
Elvano menunduk dan mengecup perut Kanaya. Ia tahu tidak akan mempunyai kesempatan lagi untuk melakukan hal itu.
"Sehat - sehat ya, Nak. Jaga Mamamu dengan baik," ujar Elvano pada anak dalam kandungan Kanaya. Berat rasanya ia untuk kembali dan melepaskan Kanaya dan anak dalam kandunganya pergi, tetapi ia tidak ada pilihan lain.
Melihat hal itu, Kanaya berusaha untuk menahan air matanya untuk tidak mengalir. Hatinya pun tersentuh. Apalagi ketika melihat raut wajah Elvano yang harus terpaksa pergi meninggalkannya saat sipir penjara mengantarnya pergi.
Kanaya keluar dari gedung Lembaga Pemasyarakatan dengan mata sembab. Air mata yang ia tahan tidak bisa lagi ia bendung sesaat setelah Elvano pergi dari ruangan itu.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk selalu tekan tombol, like, komen, vote dan hadiahnya