Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Kondisi Kandungan Maya


__ADS_3

"Perutku..." ujar Maya, sambil meringis kesakitan.


"Aku akan menelepon Elvano," ujar Lisda dengan segera mengambil telepon genggamnya.


"Jangan!" Ujar Maya, melarang Lisda untuk menelepon Elvano. Apa yang akan Elvano lakukan jika tahu ia sedang merokok dan minum wine?


"Bawa saja aku ke dokter!" Ujar Maya sambil meringis


Lisda pun mengikuti perkataan Maya dan membawanya ke dokter kandungan yang mereka kenal.


Dokter pun memeriksa perut Maya dengan USG.


"Maaf Maya sepertinya janinmu tidak berkembang," ujar Dokter Siska. Dokter kenalan mereka yang kerap memberikan resep pil pengontrol kehamilan.


"Maksud Dokter?" Tanya Maya terkejut.


"Maaf, hal ini memang bisa terjadi karena janin berhenti tumbuh dan berkembang?" ujar Dokter Siska menerangkan.


"Apa tidak bisa di selamatkan, Dokter?" tanya Maya dengan wajah yang pucat pasi.


"Maaf, Maya," ujar Dokter Siska dengan menggeleng.


Tidak! Ini Tidak mungkin terjadi. Elvano tidak boleh tahu hal ini sebelum pernikahan mereka. Kalau tidak, Elvano mungkin tidak akan menikahinya. Batin Maya.


"Apa yang harus saya lakukan dokter?" tanya maya berusaha mencari akal.


"Ada 3 pilihan. Yang pertama kita bisa menunggu hingga keguguran alami terjadi, tapi hal ini bisa cukup lama terjadi dan harus selalu di pantau oleh dokter. Yang kedua, Saya bisa memberikan resep obat untuk merangsang agar keguguran itu bisa lebih cepat terjadi, atau kalau Nona Maya ingin secepatnya di lakukan tindakan medis saat ini pun bisa." ujar Dokter Siska.


Maya berpikir, ia tidak mungkin memilih opsi yang ketiga karena tidak ingin Elvano mengetahui jika ia telah kehilangan bayi yang di kandungnya.


"Mending kau tanya Elvano terlebih dahulu," ujar Lisda, namun mendapatkan pelototan mata dari Maya, dan ia pun berhenti berbicara.


"Dokter bisa memberikan resep seperti yang dokter katakan?" ujar Maya dengan wajah yang sendu. Ia harus berakting sedemikian rupa agar dokter mau memberikan opsi kedua.


"Baiklah Maya, kalau itu keputusanmu," ujar Dokter Siska, lalu menuliskan resepnya dan memberikannya pada Maya.


Maya pun berterima kasih dan kembali ke rumah Elvano di antar oleh Lisda.


Maya membuang obat yang di resepkan oleh dokter ke jalanan melalui jendela kaca mobilnya.


"Maya apa yang kau lakukan, kenapa kau buang obat dokter itu?" tanya Lisda tidak mengerti tindakan Maya.


"Kamu ini tolol sekali, Lisda!" Sergah Maya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menggugurkannya sekarang! Aku harus menunggu hingga aku menikah dengan Elvano, dan membiarkan Elvano mengetahuinya nanti," ujar Maya sambil tersenyum licik dan Lisda mengangguk.


"Ingat Lisda, jangan bilang - bilang ke siapa - siapa mengenai hal ini!" Ujar Maya sebelum ia turun di depan rumah Elvano.


"Tenang Maya aku tidak akan pernah membocorkannya! Memangnya kapan aku pernah tidak setia pada persahabatan kita," ujar Lisda.


Saat Maya hendak membuka pintunya, Lisda menahan lengan Maya.


"Mmmm..., tapi aku belum gajian sampai tanggal segini, dan uangku sudah menipis dan aku bingung.." ujar Lisda.


Maya berdecih, mengerti maksud Lisda.


"Nih, cukup sampai akhir bulan dan jaga mulutmu!" Ujar Maya sambil memberikan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya.


"Beres!" Ujar Lisda sambil tersenyum melihat berlembar - lembar uang berwarna merah di tangannya.


Maya pun turun dari mobil Lisda dan ia pun masuk ke dalam rumah.


***


Keesokan paginya Kanaya berjalan dengan enggan menuju ke meja makan. Bella mengatakan padanya jika Elvano menyuruhnya makan bersama di meja makan bersama dengan dirinya dan juga Maya.


Kanaya malas sekali jika harus melihat kedua orang itu bermesraan di hadapannya. Kanaya mengambil tempat duduk di sebrang Elvano, agar tidak harus berdekatan dengan kedua orang itu.


"Duduk disini, Kanaya!" Ujar Elvano sambil menunjuk tempat duduk di dekat Elvano yang kemarin ia duduki.


"Kanaya, apa aku harus menyeretmu?" Tanya Elvano yang bernada seperti ancaman.


Kanaya menghela napas berat kemudian berdiri dari duduknya dan pindah ke kursi yang di tunjuk Elvano dengan di ikuti tatapan tajam dari Maya.


Kanaya melirik jam tangan yang dipakai Elvano. Jam tangan couple yang di belinya kemarin bersamanya, dan Kanaya pun harus memakainya pagi ini, seperti yang di sampaikan Bella padanya tadi.


Bukan hanya Kanaya yang menyadarinya, namun juga Maya. Ia terlihat sangat dongkol melihat Elvano memakai jam tangan mewah yang sama di kenakan Kanaya.


'Aku harus benar - benar menyingkirkanmu Kanaya, kamu menghalangi jalanku!' Batin Maya.


Apa yang di lakukan Maya untuk mendapatkan Elvano selalu terhambat dengan adanya Kanaya dalam kehidupan Elvano, meskipun ia telah membuat Elvano membenci padanya, tetapi ada saja keberuntungan yang mengikuti Kanaya hingga Elvano tidak pernah menyingkirkannya. Atau benarkah apa yang di katakan Lisda, bahwa Elvano mencintai Kanaya? pikir Maya. Ia tidak senang pikiran terakhir yg ada di benaknya.


Apapun itu Kanaya harus di singkirkan dalam kehidupan Elvano!


"Ay, ambilkan aku nasi. Jangan banyak - banyak," ujar Elvano.


Kanaya pun mengambil piring Elvano dan menyendokkan nasi goreng ke piring itu. Tidak banyak, namun juga tidak sedikit, secukupnya saja menurut takarannya, dan Elvano tidak protes.

__ADS_1


"Pakai itu, Ay" ujar Elvano sambil menunjuk telor mata sapi setengah matang, ke sukaan Elvano.


"Sudah cukup Ay, itu saja," ujar Elvano, kemudian menerima piringnya dari Kanaya.


"Kanaya, ambilkan aku nasi!" Perintah Maya dengan ketus.


"Maya, nasi itu dekat denganmu. Kamu bisa mengambilnya sendiri," ujar Kanaya berusaha sabar menghadapi Maya.


"Maya, kau bisa mengambilnya sendiri, ambilah sendiri. Tidak usah menyuruh Kanaya!" Ujar Elvano membenarkan Kanaya.


Maya tampak kesal dan mengambil nasi sambil berdecak kasar.


Kanaya membiarkan Maya untuk mengambil nasi itu terlebih dahulu, baru ia mengambilnya.


"Kanaya mengambil telor mata sapi yang juga setengah matang dan menaruhnya di piringnya.


"Jangan ambil itu! Aku mau ambil itu!" teriak Maya tiba - tiba.


"Maya sudahlah..." ujar Elvano kesal dengan tingkah Maya.


"Yang, kenapa kamu selalu membelanya? Ini kemauan anak kita. Aku tidak mau yang lainnya, hanya itu! " Ujarnya sambil menunjuk telor piring Kanaya.


Maya sengaja membuatnya seakan - akan ia sedang mengidam.


"Kanaya, berikan telor itu pada Maya?" ujar Elvano pada Kanaya.


Maya pun tersenyum senang karena Elvano berpihak padanya.


Ya Ampun, masalah telor saja. Batin Kanaya.


"Ambillah, aku juga tidak menginginkannya." Ujar Kanaya sambil memberikan piring itu ke piring Maya.


Maya pun memakan telor itu dengan cepat.


"Makan ini, Ay." ujar Elvano sambil memberikan telornya pada Kanaya.


"Tidak usah, kalau aku mau aku tinggal menggoreng sendiri," ujar Kanaya berusaha menolak, namun Elvano sudah menaruh di piring Kanaya. Dan Elvano mengambil telor yang lain.


Maya menghentakkan kakinya karena kesal melihat adegan itu dan memandang Kanaya dengan sinis.


Kanaya tidak ingin berlama - lama di meja makan itu. Untung saja ia hanya mengambil sedikit nasi sehingga ia bisa segera menghabiskan makanannya.


"Aku akan ke atas," ujar Kanaya hendak berdiri.

__ADS_1


"Tunggu, Ay. Aku belum selesai makan," ujar Elvano sambil menahan tangan Kanaya. Mencegahnya pergi dari meja makan.


Jangan lupa, like, komen dan vote.


__ADS_2