Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Bukan Salah Kanaya


__ADS_3

Sean dan Luna begitu terkejut.


"Kanaya ingin bercerai?" gumam Luna.


"Iya, Bu. Oleh sebab itu Ibu Kanaya tidak ingin pulang bersama kami tambah Anton.


'Pantas saja Elvano terlihat sangat gusar,' batin Luna.


"Anton, bagaimana kondisi perusahaan?" tanya Sean.


"Maaf Pak Sean, sejak Ibu Kanaya menghilang, Pak Elvano jarang berada di kantor, sehingga banyak pekerjaan yang tertunda tanpa persetujuan Pak Elvano." ujar Anton.


Sean menghela napas.


"Anton saya akan mengambil alih perusahaan semenyatara Elvano mengurusi masalah perceraiannya. Laporkan pada saya kondisi perusahaan hari ini di rumah saya, besok pagi saya akan ke kantor," ujar Sean.


"Pah, apa Papa serius?" tanya Luna.


"Mama lihat sendiri kan, bagaimana keadaan Elvano? Biarkan dia menyelesaikan urusannya dulu, sementara biar Papa yang mengurus perusahaan. Mama jangan kuatir, ada Anton yang akan membantu Papa di kantor," ujar Sean.


"Bapak benar, Bu Luna. Saya rasa biar Pak Elvano bisa berkonsentrasi terlebih dahulu menyelesaikan masalahnya. Dan saya akan membantu Bapak di kantor, Ibu Luna tidak perlu khawatir," ujar Anton.


Akhirnya Luna pun menyetujui hal itu.


Sean bangkit dari duduknya.


"Papa mau kemana?" tanya Luna.


"Papa mau bicara dengan Elvano," ujar Sean lalu ia berjalan naik ke lantai dua menuju kamar Elvano.


Elvano yang masuk ke dalam kamarnya tampak sangat kesal dan melempar apa saja yang ada di dekatnya.


"Kanayaaaaa! Kenapa kamu tega meninggalkan aku, sayang... ku mohon kembalilah padaku. Aku sungguh berjanji akan memperbaiki semuanya, kumohon kembalilah" tangis Elvano sambil memandangi foto Kanaya.


"Akkgggghhhh....!!! Devan kurang ajar kamu! Aku tidak akan membiarkan kamu mengambil Kanaya dariku, tidak akan pernah!" Ujar Elvano dengan geram.


Tiba - tiba pintu kamarnya di ketuk.


"Elvano, ini Papa. Biarkan Papa masuk," ujar Sean dari balik pintu.


Elvano tidak menjawab. Ia paling malas jika harus menenangkan apa yang terjadi kepada orang tuanya.


Tak mendapat balasan, Sean pun memutar ganggang pintu yang tidak terkunci dan melangkah masuk.


"Elvano," panggil Sean pada putra satu - satunya yang tampak sangat emosi saat itu.

__ADS_1


Elvano hanya melengos melihat Papanya masuk ke kamarnya.


"Keluarlah Pah! Elvano tidak ingin bicara!" Ujar Elvano sambil merebahkan dirinya di atas ranjang membelakangi Sean.


"Papa ikut prihatin, atas apa yang terjadi. Papa harap kamu bisa menyelesaikan masalahmu dan Kanaya dengan cepat." ujar Sean.


"Untuk sementara ini, Papa mau kamu fokus dulu pada masalahmu. Sementara urusan perusahaan biar Papa yang tanggung," ujar Sean.


"Maksud Papa? Apa Papa mencoba menyingkirkan Elvano dari perusahaan?" tanya Elvano sambil beranjak dari duduknya.


"Ini untuk kebaikanmu Elvano, nanti kalau urusanmu dan Kanaya sudah selesai. Kamu bisa mengambil alih lagi perusahaan, Papa tidak keberatan," ujar Sean menerangkan agar Elvano tidak salah pengertian.


"Ambilah cuti 1 - 2 bulan, dengan begitu kamu akan punya waktu untuk fokus pada masalah pribadimu dan mungkin kamu bisa membujuk Kanaya untuk kembali. Kamu tidak akan bisa melakukan itu jika masih memikirkan perusahaan, Elvano. Percayalah Papa tahu," ujar Sean.


Elvano memikirkan perkataan Papanya dan perlahan menyetujuinya.


"Baiklah Pah, Elvano akan mencoba menyelesaikan masalah Elvano dengan cepat," ujar Elvano sambil tertunduk.


"Elvano, apa benar kamu ingin Kanaya kembali setelah dia meninggalkanmu," tanya Sean.


Sean tidak tahu alasan Elvano meninggalkan Kanaya, karena Elvano tidak pernah terbuka menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Tentu saja Pah..., Elvano sangat mencintai Kanaya dan tak ingin kehilangan dia!" Ujar Elvano dengan lirih.


"Kanaya adalah seorang wanita yang sangat baik. Meskipun dia tidak bisa memberimu keturunan," gumam Sean. Entah kenapa dia menyinggung masalah keturunan.


Elvano menoleh pada Papanya.


"Kanaya tidak seperti itu, Pah, dan Elvano sangat menginginkan keturunan bersama Kanaya." ujar Elvano.


" Tapi, bukankah kamu yang memberitahukan bahwa Kanaya tidak bisa memberikanmu keturunan? Itu sebabnya kamu berselingkuh dengan Maya, kan?" tanya Sean bingung.


Elvano hanya bisa menggeleng.


'Ini semua karena Maya. Maya yang sudah mengatakan bahwa Kanaya tidak bisa memiliki keturunan, dan saat itu, aku pun tidak membelanya,' batin Elvano


Sean hanya bisa mendesah, menyadari bahwa selama ini putranya lah yang bersalah, bukannya Kanaya, meskipun ia tidak tahu apa saja kesalahan Elvano pada Kanaya hingga ia memutuskan pergi dari rumah dan ingin bercerai dengan Elvano..


"Bicarakanlah dengan pengacara apa jalan yang terbaik yang harus di tempuh. Mintalah bermediasi agar kamu bisa bertatap muka dengan Kanaya. Papa rasa Kanaya akan memaafkanmu, jika kamu benar - benar menujukkan niatmu," nasehat Sean sambil menepuk pundak Elvano.


Elvano mengangguk.


Sean pun beranjak dan pergi meninggalkan putranya itu untuk dapat berpikir dengan jernih. Ia pun pulang bersama Sean.


***

__ADS_1


Pagi harinya Ratna Adi Wiguna datang dengan diantar oleh Bagas kerumah Devan.


"Mamah!" Panggil Kanaya saat ia bertemu dengan Mamahnya dan memeluknya erat.


"Kanaya! Syukurlah kamu baik - baik saja, Nak.!" Ujar Ratna saat melihat kondisi anaknya baik - baik saja.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Ay?" tanya Ratna sambil memegang kedua belah pipi Kanaya yang tampak lebih tirus dari saat terakhir ia melihatnya.


"Panjang ceritanya, Mah," ujar Kanaya sambil memeluk Mamanya.


"Ratna, apa kabar?" sapa Bunda Alika saat melihat Ratna datang.


"Alika, sudah lama kita tidak bertemu," ujar Ratna sambil memeluk Alika.


"Duduklah dulu, Ratna. Kamu pasti masih lelah setelah perjalanan jauh," ujar Alika sambil mengajak Ratna duduk di sofa ruang tamu mereka.


"Siti! Siti! Tolong buatkan teh untuk Mama Ratna dan Bagas," ujar Bunda Alika pada Siti, dan Siti pun segera pergi ke dapur untuk membuatkan minuman.


Bagas bersalaman dengan semua yang ada di sana kemudian pergi ke ruang makan bersama Devan untuk mengobrol. Devan membiarkan Kanaya untuk melepas rindunya terlebih dahulu dengan Mamanya, sembari ia bercakap - cakap dengan Bagas.


"Apa yang terjadi Kanaya? Kenapa kamu pergi meninggalkan Elvano?" tanya Ratna sambil berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Kanaya mau bercerai dengan Kak Elvano, Mah? Kanaya sudah tidak mau lagi bersama Kak Elvano."


"Bercerai? Kenapa, Ay? Bukankah kalian saling mencintai?" tanya Ratna dengan heran.


Kanaya menggeleng.


" Tidak Mah, selama ini Kanaya dan Kak Elvano hanya bersandiwara saja."


Bersambung....



Yuk vote yang setuju Kanaya sama Devan bersatu siapa nih...πŸ€—



Vote lagi yuk. Yang setuju Elvano dan Kanaya nggak bercerai siapa nih...πŸ€—


Silahkan pilih tim kalian masing - masing ya....πŸ˜ƒπŸ˜„πŸ˜Š


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa untuk like, komen, vote, dan hadiahnya. Kalau berkenan tekan tombol like.. like.. like yang banyak yah..😁 Ayo - ayo mari kita ramaikan kolom komentar cerita kehaluan Author iniπŸ˜ƒπŸ˜

__ADS_1


__ADS_2