
"Istri Bapak mau apa?" tanya Ibu yang berdiri di samping bapak itu.
"Dia mau makan saus padang dari kedai Ibu, kalau bisa. Saya minta tolong sekali. Kami datang dari kota B agar Istri saya bisa makan masakan Bapak dan Ibu," pinta Devan pada sepasang Suami Istri itu.
"Ya sudah, Masnya duduk dulu. Saya masakkan sebentar," ujar Ibu itu, lalu berjalan ke dalam.
Devan merasa lega tadinya dia hampir putus asa. Saat sampai di tempat itu dan suasanya sudah gelap dan sepi.
Devan menunggu sekitar selama 10 menit. Sampai Ibu itu datang dengan membawa sebuah bungkusan plastik berisi dua buah kotak styrofoam.
"Ini Mas, sudah matang," ujar Ibu itu.
"Terima kasih banyak ya Pak, Bu. Saya bebar - benar telah merepotkan," ujar Devan sambil memberikan beberapa lembar uang berwarna merah kepada Ibu itu.
"Banyak sekali, Mas...." ujar Ibu itu sambil melihat uang yang di berikan oleh Devan.
"Tidak apa Bu, saya sangat berterima kasih," ujar Devan dan ia pun pamit kembali ke mobil.
"Semoga aja sesuai dengan keinginan Kanaya." batin Devan sambil membawa kantong plastik di bawanya.
Kanaya segera membuka kunci pintu mobil begitu ia melihat Devan. Ia sangat khawatir karena Devan pergi cukup lama, sedangkan Kanaya tidak membawa telepon genggamnya.
"Gimana Van?" tanya Kanaya sambil mengelus perutnya.
Devan tersenyum dan membawa kantong plastik yang di bawanya kemudian membuka styrofoam pertama yang ternyata berisi nasi hangat yang di taburi bawang goreng. Kanaya tampak antusias melihatnya.
Devan membuka styrofoam kedua yanf berisi cumi pesanan Kanaya. Kanaya menelan ludah melihatnya dan tidak sabar untuk menyantapnya.
Untung saja Ibu itu membawakan dua sendok plastik, sehingga Kanaya bisa langsunf memakannya.
Devan mengambilkan sesendok saus cumi padang dan menaruhnya di atas nasi Kanaya dan Kanaya langsung melahapnya.
__ADS_1
"Hmm... enak Van!" Seru Kanaya sambil mengerjapkan matanya, menikmati makanannya.
Devan tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Demi Ay, Demi." batin Devan.
Meskipun ia merasa hal ini menggelikan, namun ia tidak menyesal melakukannya. Apalagi saat melihat mimik wajah Kanaya yang sangat puas ketika menyantap makanannya.
"Enak banget, Van. Kamu mau?" tanya Kanaya sambil mengunyah cumi saus padangnya.
Devan menggeleng.
"Habiskan Ay. Buat kamu aja," jawab Devan sambil tersenyum memandangi Kanaya.
Kanaya menggeleng dan menyuapkan satu sendok nasi beserta cumi ke mulut Devan dan Devan pun menerimanya.
Menurut Devan rasanya biasa saja, hampir sama rasanya seperti di warung tenda yang tadi mereka datangi. Tetapi kenapa Kanaya sangat menikmati masakan ini? batin Devan.
"Habiskan Ay. Itu masih banyak," ujar Devan sambil menunjuk sisa nasi yang di pegang oleh Kanaya. Kanaya pun baru makan beberapa suap saja.
"Kamu habiskan Van. Aku sudah kenyang," jawab Kanaya sambil menutup kotak styrofoam itu dan memberikannya pada Devan.
Devan speechless, tidak tahu harus berkata apa. Apa semua wanita hamil seperti ini.
***
Sejak kejadian malam itu, Devan tidak pernah menaruh kunci mobilnya di rak lagi. Ia selalu menaruhnya di dalam kamar, khawatir jika Kanaya pergi malam - malam tanpa sepengetahuannya. Dan memang kejadian seperti itu tidak hanya terjadi sekali saja. Kanaya sering merasa lapar di tengah malam dan menginginkan makanan yang kadang tidak tersedia di rumah dan Devan pun dengan sabar mencarikan makanan itu untuk Kanaya.
Terkadang mudah untuk mendapatkannya namun terkadang juga sulit. Dan seperti malam ini, Devan pusing tujuh keliling.
"Kalau besok bagaimana, Ay?" tanya Devan pada Kanaya.
__ADS_1
" Besok, Van?" tanya Kanaya yang bernada seperti gumaman sambil menatap perutnya yang sudah membesar karena sudah mencapai usia kehamilan 5 bulan dan mengelusnya lembut.
"Besok kalau kamu mau aku bisa beli- in 15 atau 20 buat kamu," bujuk Devan.
Bukanya Devan tidak mau mencarikan keinginan Kanaya malam itu, tetapi sangat sulit karena mencari orang yang berjualan es cendol saat tengah malam.
"Aku nggak mau 15 atau 20, Van. Aku cuma mau nya satu..."ujar Kanaya dengan sedih, kemudian membalikkan badannya meninggalkan Devan di ruang makan.
Devan menghela napas sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
'Aduuuhh... gimana ini?' batinnya.
Saat ia menurunkan tangannya, ia melihat Kanaya sedang duduk terdiam di ruang keluarga. Dan Devan pun paling tidak bisa melihat Kanaya bersedih. Mau tak mau ia mengambil kunci mobilnya dan berjalan ke arah Kanaya.
"Ay, kamu tunggu di rumah saja, ya. Biar aku carikan," ujar Devan sambil tersenyum
"Beneran Van." tanya Kanaya dengan secercah binar di matanya.
Devan mengangguk sambil tersenyum. Meskipun ia tidak harus mencari dimana penjual es cendol pada pukul satu malam.
"Kamu istirahat saja dulu, Ay. Nanti aku bangungin kalau aku sudah pulang, Ay." ujar Devan kemudian mengecup tangan Kanaya.
Kanaya mengantar Devan ke pintu depan rumah dan membiarkan Devan mengunci pintu dari luar.
Devan melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah dan berjalan pelan sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Ia teringat ada sebuah Food Corner tak jau dari tempatnya mengemudi dan ia pun menuju kesana, berharap ada yang menjualnya. Namu saat sampai di sana. semu tempat makanan itu sudah tutup.
Devan berpikir harus mencari kemana, segelas es cendol malam itu.
Bersambung..
Jangan lupa untuk like komen dan vote.
__ADS_1