Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Gosip Yang Menganggu


__ADS_3

"Ay, kamu sudah siap?" tanya Devan sambil menyembulkan kepalanya di pintu kamar Kanaya.


Kanaya sebenarnya sudah siap. Ia hanya tinggal memakai kalungnya saja.


"Sebentar aku pakai kalungnaya dulu," ujar Kanaya sambil memakai kalung di atas meja riasnya.


"Biar aku bantu, Ay." ujar Devan sambil melangkah masuk dan berjalan mendekati Kanaya.


Di ambilnya kalung itu dari tangan Kanaya dan di sematkannya perlahan di leher jenjang Kanaya.


Baru kali itu Devan melihat dari dekat kulit leher Kanaya yang putih bersih. Ia pun menelan ludahnya, jankunnya naik turun saat matanya memandang leher Kanaya tanpa berkedip. Di tambah lagi wangi tubuh Kanaya membuatnya ingin menghirup dari dekat.


Devan adalah lelaki normal. Tentu saja apa yang di sajikan di hadapannya membuat kelelakianya bereaksi. Seandainya saja saat itu Kanaya sudah menjadi istrinya, sudah pasti di kecupinya leher jenjang yang ada di hadapannya. Tetapi, ia harus menahan diri. Paling tidak sampai Kanaya melahirkan anaknya dan mereka bisa menikah.


"Devan?" Panggil Kanaya yang melihat Devan diam tak bergerak.


Devan mengangkat wajahnya dan tersenyum.


"Sudah, Ay. Kamu cantik sekali," puji Devan.


"Terima kasih, Van. Ayo deh kita berangkat sekarang," ajak Kanaya sambil meraih dompetnya dan berjalan keluar bersama dengan Devan.


"Kanaya duduk di depan bersama dengan Devan, biar Mama yang duduk di belakang," ujar Alika sambil menggandeng Kanaya dan mengajaknya duduk di kursi penumpang di depan.


Restoran yang di maksud Devan, letaknya berada di pusat kota dan sebenarnya merupakan sebuah restoran yang bertema indoor garden yang memang cocok untuk kumpul bersama teman atau keluarga.


"Wah, bagus sekali tempat ini Van," ujar Alika sambil memandang takjub restoran itu.


"Bagus ya, Bun" komentar Devan sambil merangkul pundak Bundanya itu.


Mereka berjalan masuk ke dalam restoran mengikuti langkah pelayan restoran yang menunjukkan jalan menuju meja mereka.


"Restoran sekarang memang sudah tidak seperti dulu. Orang ke restoran bukan hanya untuk makan," timpal Ratna yang ikut berkomentar dan Alika menyetujuinya.


"Benar Ratna. Devan, nanti jangan lupa kita foto bersama ya. Bunda mau update status." ujar Alika sambil memandang ke sekeliling restoran itu dengan takjub.


"Iya Bun," jawab Devan sambil tersenyum geli Bundanya yang tidak mau ketinggalan jaman.

__ADS_1


Di restoran itu mereka mencoba berbagai macam makanan yang belum pernah mereka coba sebelumnya.


"Ay, kamu mau coba apalagi?" tanya Devan melihat buku menunya.


"Udah Van, itu saja. Nanti kalau pesannya kebanyakan sayang kan nggak di makan," jawab Kanaya yang sadar diri, kalau nafsu makannya yang berubah - ubah selama kehamilannya.


Dan mereka pun mulai menyantap makanan mereka. Alika dan Ratna sudah terlebih dahulu menghabiskan makanan mereka dan mereka pun sibuk berkeliling Artificial Garden itu untuk berfoto - foto.


Devan dan Kanaya sendiri hampir selesai makan. Saat tiba - tiba pemilik restoran yang juga kolega adalah Devan datang menghampiri mereka.


"Pak Devan, saya sangat senang sekali. Pak Devan bisa mampir kesini!" Ujar kolega Devan itu.


"Iya Pak Surya, kami sekeluarga sangat menyukai tempat ini." puji Devan pada sang pemilik restoran itu.


"Syukurlah, kalau Bapak sekeluarga menyukainya," ucap Surya.


"Waaah, saya tidak tahu kalau Pak Devan sudah menikah!" Ujar Surya dengan sedikit terkejut. Saat melihat Kanaya yang sedang duduk di sebelah Devan dan sedang mengandung.


Kanaya tertegun, akan tetapi Devan tersenyum saja. Ia sama sekali tidak menyangkal.


"Apa kabar, Bu?" Sapa Surya dengan sopan.


"Semoga Ibu menikmati hidangan kami," ujar Surya.


"Saya pribadi sangat suka dengan tema garden seperti ini. Membuat saya menikmati makanan yang ada di sini," jawab Kanaya.


"Syukurlah, memang itu yang kami harapkan," ujar Surya sambil tersenyum lebar.


Tak lama, Devan dan Surya pun saling bercakap - cakap membicarakan suatu pekerjaan.


Kanaya pamit pada Devan untuk pergi ke toilet sementara Devan berbicara dengan Surya. Sesampainya di sana Kanaya segera masuk ke dalam bilik toilet. Namun, saat ia tengah di bilik, ada dua perempuan yang masuk ke dalam toilet dan menutup pintu.


Kanaya mengurungkan niatnya keluar dari toilet. Saat mendengar percakapan dari kedua perempuan itu.


"Kamu lihatkan, Pak Devan Permana? kok, bisa - bisanya sih, dia nempel terus sama perempuan hamil itu? Kayak nggak ada perempuan cantik yang lain aja!" Ujar salah seorang perempuan itu.


"Iya, aku juga heran! Siapa sih perempuan itu?" tanya lawan bicara wanita yang satu lagi.

__ADS_1


"Gosipnya sih, dia seorang janda yang numpang di rumah nya Pak Devan Permana." ujar sang wanita pertama.


"Masa sih? Kok bisa? Apa jangan - jangan dia itu hamil anaknya Pak Devan? Kalau nggak, nggak mungkin lah Pak Devan bakalan perhatian seperti itu sama dia" ujar teman wanita itu.


"Tau tuh! Kumpul kebo kali!" Ujar perempuan pertama sambil tertawa cekikikan.


Kanaya merasa sedih dan tidak enak hati kalau hanya dirinya yang di jelek - jelekkan. Kanaya masih bisa menerimanya. Bagaiamana pun ia adalah seorang janda yang sedang hamil. Akan tetapi mendengar mereka menjelek - jelekkan Devan karena kehadirannya di rumah Devan, Kanaya tidak rela. Ia tidak mau nama Devan jadi jelek karenanya.


Setelah kedua wanita itu pergi barulah Kanaya keluar dari bilik toilet dan berjalan kembali ke meja mereka.


Saat ia sampai, Surya, pemilik restoran sudah tidak ada. Akan tetapi Alika dan Ratna sudah kembali. Raut wajah mereka terlihat begitu senang.


"Kanaya, ayo kita berfoto sekali lagi. Sebelum kita pulang!" Ujar Bunda pada Kanaya. Sementara Alika merangkul Kanaya dan menariknya untuk berfoto bersama.


Bunda Alika, Ratna, Devan dan Kanaya berdiri berangkulan dan mereka berfoto bersama di beberapa tempat di restoran itu.


Semalam mereka berfoto, Kanaya terus memikirkan apa yang di katakan oleh kedua orang wanita itu. Bagaimana mereka menjelek - jelekkan dirinya dan juga Devan.


"Ay, ada apa?" tanya Devan setelah mereka selesai berfoto.


"Nggak ada apa - apa, Van." jawab Kanaya sambil memaksakan sebuah senyuman.


Devan mengenal baik Kanaya. Ia bisa tahu bagaimana perasaan Kanaya hanya dengan melihatnya saja. Dan Devan tahu Kanaya sedang gundah. Tetapi ia tidak tahu apa yang menyebabkanya.


Padahal Kanaya tadi baik - baik saja saat mereka berangkat ke restoran dan saat mereka sedang makan. Apa yang menyebabkannya gelisah? Pikir Devan.


Saat perjalanan pulang pun Kanaya tidak banyak bicara kecuali jika di tanya, dan itu pun hanya jawaban pendek saja.


"Istirahatlah Kalian, " ujar Ratna sebelum ia masuk ke kamarnya untuk beristirahat.


"Ay, ada apa? Kamu bisa langsung cerita padaku?" ujar Devan sambil langsung menahan tangan Kanaya agar tidak masuk kedalam kamarnya.


"Nggak ada apa - apa, Van. Aku hanya lelah, semalam kita kurang tidur," sangkal Kanaya sambil tersenyum.


"Aku..... istirahat dulu, Van.' ujar Kanaya lalu ia masuk kedalam kamarnya meninggalkan Devan yang terdiam dan berpikir.


Bersambung..

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen dan vote.


__ADS_2