Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Nyonya Pelayan


__ADS_3

"Mengemudi saja tidak usah banyak tanya!" seru Elvano sambil menatap tajam ke arah Panji melalaui kaca spion dalam.


Panji menelan ludahnya. Ia memutuskan memutari taman kota sekali lagi.


Elvano merasa amarahnya begitu besar pada Kanaya, terlebih setelah melihat Kanaya berpura - pura tidak bersalah dan memasang wajah innocentnya.


Elvano masih mengingat jelas perkataan Maya yang mengatakan, " Dia tidak mau kalian menikah. Aku rasa itu sebabnya ia melepaskan Devita hari itu. Ia sengaja melakukannya"


Kanaya dengan sengaja melepaskan Devita hari itu, membunuhnya dengan dalih kecelakaan! Geram Elvano dalam hatinya.


Kebencian Elvano memuncak dan ia merasa perlu melampiaskannya.


"Ke Apartemen Anggrek, Panji!" Perintah Elvano dengan gigi bergemelutuk.


"Baik, Tuan." jawab Panji dengan patuh. Ia pun segera mengendarai mobilnya ke Apartemen Anggrek.


Hanya dalam waktu 15 menit mereka telah sampai di Apartemen Anggrek, dan Elvano pun langsung turun dan menaiki lift ke lantai yang ia tuju, Unit 908.


Elvano segera membunyikan bel di pintu unit Apartemen itu dan tak berapa lama, Maya yang baru saja bangun tidur dan masih memakai gaun tidurnya membukakan pintu dengan malas.


"Elvano? Ada apa...."


Maya hendak menanyakan tujuan Elvano datang pagi itu secara mendadak ke apartemennya, namun tidak dapat di selesaikannya Karena Elvano telah membungkam bibir Maya dengan bibirnya.


Elvano ******* habis bibir Maya tanpa banyak berkata - kata. Ia hanya ingin melampiaskan kekesalannya pagi itu! Ia membutuhkan Maya untuk melampiaskan emosinya dan gairahnya yang tidak bisa ia bendung lagi.


Elvano sendiri bingung, setiap kali kebenciannya terhadap Kanaya memuncak, gairahnya pun ikut berbicara. Wajah polos Kanaya membuatnya geram, namun sekaligus membangkitkan sesuatu dalam diri Elvano.


Maya sempat terkejut dengan apa yang Elvano lakukan tapi sebentar saja ia sudah menikmati dan ikut dalam permainan panas Elvano pagi itu.


Elvano bermain kasar pagi itu, ia merobek gaun yang di kenakan oleh Maya dan melempar tubuh polos tanpa busana Maya ke satu - satunya ranjang yang ada di Apartemen itu.


Tetapi bukan Maya namanya jika ia tidak bisa mengimbangi permainan ranjang Elvano. Dan ia sangat menikmati permainan kasar Elvano.


Maya sudah terbiasa melakukan hal semacam itu sejak ia remaja. Dan memuaskan hasrat Elvano adalah hal yang mudah baginya.


***

__ADS_1


"Bangun! Kau dengarkan apa kata, Tuan? Cepat bersihkan rumah ini!" Teriak Sarah pada Kanaya yang masih terduduk dengan lemas di sudut ruang makan, setelah amukan Elvano pada padanya. Sarah menarik lengan Kanaya dengan tak sabar menyuruhnya untuk berdiri.


"Sarah apa - apaan ini?" sergah Kanaya pada pelayan itu, karena telah berlaku kasar padanya. Walaupun ia masih syok dengan apa yang Elvano lakukan padanya, tetapi ia tidak terima di perlakukan kasar oleh Sarah.


"Kamu mungkin menikahi Tuan Elvano, Tapi jelas Tuan Elvano tidak menganggap kamu Nyonya di rumah ini! Kamu itu sama saja dengan pelayan di rumah ini! Cepat kerjakan apa yang Tuan katakan, Nyonya Pelayan!" ujar Sarah sambil mendorong Kanaya untuk berjalan.


"Sarah, apa yang kamu lakukan. Kalau sampai ibu Desi tahu..." ujar seorang pelayan lain selain pada Sarah yang berlaku kasar pada istri Bosnya.


"Desi tidak ada disini! Dan Tuan sudah memberikan aku tugas untuk menggantikannya selama ia cuti! Apa kalian mau membantah aku?" ujar Sarah pada pelayan itu sambil bertolak pinggang dan membelalakan matanya.


Pelayan itu pun menunduk dan tidak berani membantah Sarah.


Melihat tidak ada pelayan lain yang membantah, ia pun menoleh pada Kanaya, hendak menyuruh Kanaya untuk bekerja.


"Tidak perlu memerintah aku Sarah! Aku melakukan ini bukan karena takut padamu, tetapi karena Tuanmu adalah suamiku, dan aku hanya patuh pada suamiku bukan padamu!" ujar Kanaya sambil memandang tajam pada Sarah yang selalu mencari masalah dengannya sejak ia berada di rumah itu.


Kanaya pun pergi meninggalkan Sarah dan mulai membersihkan rumah dimulai dari kamar Elvano.


Kamar Elvano sangatlah berantakan. Air teh yang tumpah, pakaian yang berserakan, belum lagi muntahan Elvano di kamar mandi. Rupanya Elvano telah melarang semua pelayan untuk membersihkannya. Ia memang sengaja menyuruh Kanaya membersihkan kamar kotornya.


Sementara itu di Apartemen Anggrek, Elvano menghempaskan dirinya di ranjang setelah ia mendapatkan pelepesan.


Gelisah karena apa yang ada dalam benaknya adalah Kanaya dan bukan Maya.


Elvano bangun dari duduknya dan menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya.


'Kenapa wajah perempuan itu yang selalu ada dalam pikiranku!' Batin Elvano bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya.


"Ada apa Elvano?" tanya Maya dengan manjanya memeluk Elvano dari belakang dan menaruh dagunya di pundak Elvano.


"Kamu hebat sekali Elvano, kamu membuatku kewalahan," bisik Maya di telinga Elvano.


Elvano menghela nafas dan beranjak dari berdiri tanpa menanggapi perkataan Maya.


Ia pun masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa bajunya yang ia ambil dari lantai kamar.


"Elvano?" panggil Maya bingung dengan sikap Elvano yang tidak berbicara sedikit pun padanya. Padahal mereka baru saja selesai berhubungan intim dengan panasnya.

__ADS_1


Namun Maya tersenyum karena mengira Elvano datang ke tempatnya pagi - pagi dan langsung bercinta dengannya karena mengira Elvano telah jatuh hati padanya.


Elvano tidak berlama - lama. Setelah mandi dan berpakaian, ia pun keluar dari dalam kamar mandi.


"Kamu sudah harus pergi Elvano?" tanya Maya dengan cemberut melihat Elvano sudah berpakaian kantor rapi. Ia berharap Elvano mau meluangkan waktu sebentar dengannya.


"Aku harus ke kantor, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," ujar Elvano sambil mengambil telepon genggamnya dari atas meja.


"Apa boleh aku bertemu denganmu, nanti sore?" tanya maya.


"Aku harus memeriksa jadwalku dulu, biar Anton yang menghubungimu," ujar Elvano, lalu berjalan keluar ke apartemen Maya.


Elvano menghubungi Panji dan menyuruhnya menunggu di lobby apartemen, untuk berangkat ke kantor.


"Panji, pulang dan ambilkan tas kerjaku di rumah, dan kembali lagi kesini." ujar Elvano saat mereka sudah sampai di gedung kantor Elvano. Elvano sudah tidak seemosional tadi pagi saat ia masuk ke dalam mobil.


"Baik Tuan." Jawab Panji


Elvano pun naik ke kantornya di lantai teratas gedung itu.


Di rumah Elvano, Kanaya masih sibuk membersihkan rumah besar itu. Setelah selesai dengan kamar Elvano, Ia pun kembali perpindah ke kamar lainnya. Satu persatu tiada henti, sampai seorang pelayan yang kasihan padanya menghampirinya dan mengingatkannya untuk makan siang padanya.


"Nyonya makan dulu," ujar Pelayan itu padanya.


Kanaya memang sudah lapar karena sejak pagi ia belum makan.


Kanaya pun mengangguk dan mengikuti pelayan itu berjalan ke arah meja makan.


Pelayan sudah menyiapkan makanan sederhana di meja untuknya.


"Siapa namamu?" tanya Kanaya padanya.


"Bella, Nyonya," jawab pelayan itu sambil menunduk.


"Terima kasih Bella." ucap Kanaya sambil tersenyum.


Kanaya pun memakan makanan yang ada di meja itu. kanaya menduga Bella lah yang memasak makanannya, sebab pelayan lain tidak ada yang berani mendekatinya.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf kalau masih banyak typho


jangan lupa like komen dan vote.


__ADS_2