
Makanan pesanan mereka pun datang, dan mereka pun mulai menyantapnya.
"Mbak Kanaya, kalau boleh saya tahu bagaimana dengan perkembangan kasusnya?" tanya Rena pada Kanaya. Saat Devan dan David sibuk membicarakan perusahaan.
"Saya bersyukur sekali Bu, perceraian saya akhirnya bisa selesai," ujar Kanaya.
"O ya? Saya ikut senang jika memang itu yang di harapkan," ujar Rena sambil tersenyum.
"Hidup memang tidak selalu mudah, Mbak Kanaya. Kadang untuk bisa berbahagia, kita harus melewati kehidupan yang sulit. Mungkin Mbak Kanaya mengalaminya dengan seperti itu, dan saya pun mengalaminya dengan cara yang berbeda. Tapi, kita harus yakin bahwa kesabaran kita akan berbuah manis," ujar Rena.
"Iya, Bu Rena. Terima kasih atas dukungan Ibu," ujar Kanaya.
Setelah itu ponsel Rena pun bergetar dan ia segera mengangkat vidio call dari Yuki.
"Yang, Brayen..." ujar Rena langsung menepuk pundak David. David dan Rena pun serta merta sibuk berbicara dengan buah hati mereka.
"Ay, kamu mau coba ini?" tanya Devan sambil mengembalikkan sepotong daging dari piringnya dan menyuapkannya ke mulut Kanaya.
"Enak Ay?" tanya Devan sambil mengambilkan sebuah tisu dan membersihkan tepian bibir Kanaya yang terkena saus daging tadi.
"Enak Van. Punyaku juga enak. Kamu mau coba juga?" tanya Kanaya.
"Mau dong, Ay.... Pakein semuanya ya." ujar Devan.
"Tapi sambelnya ini pedes loh, Van." ujar Kanaya memperingatkan makanan yang ada di piringnya.
"Gak pa - pa, aku bisa tahan." jawab Devan.
Kanaya menyuapkan Devan dari piringnya. Dan tak berapa lama Devan kelihatan kepedasan. Kanaya tertawa sambil mengambilkan Devan air putih.
"Katanya bisa tahan," ledek Kanaya.
"Bisa, tapi kamunya aja yang udah khawatir sama aku,"ujar Devan menyangkal.
"Iya deh, Iya." jawab Kanaya sambil tersenyum geli. Dan melirik Devan.
"Kalau terlalu pedas jangan di makan, Yang," ujar Devan mengingatkan Kanaya sambil mengenggam tangan Kanaya di atas meja.
"Iya Van, ini nggak aku makan, ini aku pinggirin kok," jawab Kanaya memandang Devan.
Mereka tidak memyadari jika interaksi mereka berdua di perhatikan oleh David dan juga Rena. Dan membuat David serta Rena tersenyum penuh arti.
"Yang, aku jadi teringat jaman dulu," bisik Rena di telinga David
"Jaman dulu yang bagian mana?" tanya David sambil mengangkat alisnya beberapa kali, menggoda Rena.
__ADS_1
"Kamu tuh Yang, kalau ada maunya...." ujar Rena sambil mencubit lengan suaminya dengan manja.
*****
Dit dit dit dit dit...
Bunyi alarm telepon genggam Kanaya membangunkannya. Ia pun meraih telepon genggamnya itu dengan mata terpejam. Setelah beberapa saat, ia membuka matanya untuk mematikan alarm itu dan seberkas senyum tersungging di pipinya. Karena tadi malam adalah tidur yang paling nyenyak yang ia rasakan setelah beberapa bulan terakhir ini. Ia tidak bermimpi buruk tadi malam, dan hatinya sangat gembira pagi itu.
Kanaya berbaring kembali menatap langit - langit kamarnya, tersenyum saat teringat makan malamnya bersama dengan Devan. Meskipun mereka bersama dengan Pak David dan Bu Rena, tetapi perhatian Devan padanya tidak pernah berkurang.
"Apa ini yang di namakan jatuh cinta?" gumamnya pelan. Senyum lebar menghias wajah Kanaya pagi itu, ia tidak pernah menyangka bersama Devan bisa membuatnya benar - benar begitu bahagia.
Ia melihat jam dinding dan segera beranjak dari tidurnya
Satu lagi berita gembira yang membuatnya hatinya senang adalah Ibu Rena menawarkannya sebuah pekerjaan untuk mengelola apartemen miliknya, menggantikan manager apartemennya yang mengundurkan diri dan harus pindah ke kota lain. Tentu saja Kanaya tidak akan menyia - nyiakan kesempatan itu.
Kanaya bergegas mandi, dan setelah mandi, Kanaya berjalan ke lemari pakaiannya sambil bersenandung. Saat ia tengah mengambil satu setel pakaian, secara tidak sengaja tangannya menjatuhkan sebuah kotak berwarna hitam. Ia tertegun beberapa saat dan raut wajahnya berubah saat melihat kotak hitam itu, ia mengambil kotak itu dan memandanginya sembari ia duduk di tepi ranjang. Sudah lama ia tidak melihat kotak itu yang dia taruh di bawah tumpukkan pakaian. Entah mengapa, kotak itu kembali terlihat.
Kanaya menahan nafasnya sebelum ia membuka kotak itu, sebuah cincin dan jam tangan classic berwarna hitam. Duan buah benda yang mengingatkan Kanaya pada Elvano, baik dari kebaikan atau pun keburukannya. 'Couple' kata - kata itu pulalah yang di ingatnya saat melihat kedua benda itu. Namun, Kanaya tidak ingin mengingatnya kembali, kisah hidupnya bersama Elvano sudah usai. Di tutupnya kotak itu, dan di masukkannya ke dalam sebuah map coklat yang ia tutup dengan rapat, kemudian di masukkannya lagi ke dalam tasnya di atas meja.
Kanaya segera bersiap - siap dan berusaha untuk tidak memikirkan lagi kotak itu. Setelah semuanya siap ia pun keluar dari kamarnya dan hampir bersamaan dengan Devan yang sudah rapi dan hendak berangkat kerja pagi itu.
"Udah siap, Ay?" tanya Devan sambil tersenyum melihat wajah ceria Kanaya pagi itu.
"Iya, Van. Aku sangat exciting hari ini, meskipun aku sedikit gugup," ujar Kanaya, dengan jujur.
"Tuh, dengerin apa kata Mama mu. Nggak ada yang meragukan kemampuan mu, Ay. Aku tahu kamu bisa. Ibu Rena pun tidak akan memberikanmu kesempatan ini, kalau dia tidak melihat potensi di dirimu," ujar Devan menyemangatinya.
"Terima kasih, Mah, Van." ujar Kanaya sambil tersenyum. Bahagia sekali rasanya jika ada orang - orang yang memberikan dukungan seperti yang di rasakan Kanaya pagi itu. Setelah selesai sarapan pagi itu, Devan mengantar Kanaya ke Clarissa Sky Garden, Apartement milik Ibu Adrena Clarissa Putri.
"Ay, pagi ini aku ada sidang dan aku tidak tahu akan selesai jam berapa. Nanti, kalau aku selesai cepat dan kira - kira bisa jemput, akan aku kabari ya, Ay." ujar Devan sebeluk Kanaya turun dari mobilnya.
"Gak pa - pa, Van. Kalau kamu sibuk, aku bisa pulang naik taksi." jawab Kanaya.
"Bener, Ay? Kamu hati - hati ya, Sayang." ujar Devan sambil memandang Kanaya. Kanaya mengangguk dan tersenyum sebelum ia keluar dari mobil Devan.
Devan menunggu hingga Kanaya masuk ke dalam lobby Apartemen, barulah ia mengendarai mobilnya ke Firma Hukumnya.
Kanaya menunggu Ibu Rena di lobby apartemen itu, ia memang berangkat lebih pagi agar bisa datang lebih awal.
Tak lama sebuah mobil mewah berwarna merah menepi di depan lobby apartemen itu dan keluarlah Rena, menggunakan setelan celana hitam panjang dan blouse berwarna merah.
"Sudah lama menunggu?" sapa Rena saat ia berada di dekat Kanaya.
"Saya belum lama datang, Bu." jawab Kanaya sambil tersenyum. Petugas Front Office dan Karyawan lainnya di apartemen itu pun langsung menyalami Rena.
__ADS_1
"Hesti, apa kantor sudah di rapikan?" tanya Rena pada seorang recepcionist yang menyambutnya.
"Sudah Bu, silahkan." jawab Hesti sambil mempersilahkan Rena dan Kanaya untuk berjalan menuju ke kantor manager yang di maksud.
"Ini Mbak Kanaya, Apartemen yang saya maksud. Memang bukan apartemen yang sangat mewah tapi, tetapi tingkat occupancynya sangat tinggi karena letaknya yang strategis," ujar Rena sambil mereka memasuki ruangan kantor manager apartement.
"Iya Bu, saya juga memang melihat lokasinya sangat strategis, bisa dengan mudah di capai dari mana saja," jawab Kanaya.
Kanaya berpikir itulah alasannya kenapa Adrena Clarissa Putri memiliki apartement itu. Meskipun pada awalnya ia heran, karena apartement itu bukanlah apartement yang sangat mewah.
"Pasti Mbak Kanaya berpikir, kenapa saya masih mempertahankan apartemen ini..." ujar Rena sambil tertawa kecil saat melihat raut wajah Kanaya.
"Maafkan saya, Bu." ujar Kanaya sambil tersenyum malu, merasa tertangkap basah apa yang ada di benaknya.
"Tidak apa, banyak juga yang menanyakan kepada saya," ujar Rena.
"Dulu saya tinggal di sini, jauh sebelum saya bertemu dengan Pak David," ujar Rena.
"Saya kuliah sambil bekerja, dan hanya ini apartement yang mampu saya bayar," ujar Rena mengenang masa lalu.
"Dulu tidak seperti ini, Apartemen ini sempat di renovasi oleh Pak David saat Bapak membelinys setahun yang lalu."
"Jadi Bapak baru membelinya tahun lalu, Bu?" tanya Kanaya. Ia pikir Davidlah pemilik Apartement ini sejak awal.
"Ya, waktu saya tanya kenapa membelikan apartemen ini, dia bilang terlalu banyak kenangan indah di sini," terang Rena sambil tertawa dan menerawang jauh.
"Jadi bagaimana Mbak Kanaya, apa Mbak Kanaya mau membantu saya mengelola apartemen ini? Tidak terlalu mewah tetapi apartemen ini cukup di sukai dan unitnya hampir selalu terisi penuh," tanya Rena menanyakan kesediaan Kanaya.
"Saya akan senang sekali, Bu. Saya akan berusaha untuk tidak mengecewakan Ibu," ujar Kanaya merasa sangat senang di berikan kesempatan itu.
"Syukurlah saya sangat yakin Mbak Kanaya bisa mengelola apartemen ini dengan baik. Teman - teman yang lain pun mereka sangat mudah untuk di ajak bekerja sama." ujar Rena.
"Kalau Mbak Kanaya sudah yakin, nanti kita tinggal tanda tangani saja kontrak kerjasamanya, dan Mbak Kanaya bisa mulai bekerja, kapan Mbak Kanaya siap. Mungkin minggu depan?" tanya Rena.
"Saya rasa minggu depan cukup, Bu?" jawab Kanaya menyetujui tawaran Rena.
"Bagus! Kalau begitu semuanya sudah beres, tinggal menandatangani kontrak saja. Sementara kontrak di siapkan bagaimana kalau kita melihat - lihat apartemen ini?" ujar Rena sambil dengan ramahnya menggandeng lengan Kanaya dan mengajaknya keluar kantor itu, ia pun menerangkan sendiri fasilitas yang ada di apartemen itu.
Akhirnya selesai sudah pertemuannya dengan Adrena Clarissa Putri setelah hampir dua jam berbicara mengenai apartemen dan melihat - lihat kondisi apartemen itu.
Saat pulang Kanaya tidak langsung kembali ke rumah. Ia mampir dulu ke sebuah kantor ekspedisi. Ia sengaja datang ke kantor itu untuk mengirimkan paket hitam yang di temukannya tadi untuk kembali pada pemiliknya.
Bersambung..
Ayo... Ayo yang sudah kangen sama Neng Maya siapa nih? Tunggu Up selanjutnya yah~~
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen dan vote.