Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Mencari Apartemen


__ADS_3

Beberapa hari ini Kanaya memikirkan apa yang terjadi antara dirinya dan juga Devan. Dan akibatnya pada nama baik Devan. Ia merasa sangat egois sekali jika ia hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak memikirkan nama baik Devan.


Beberapa hari itu pun Kanaya berusaha mencari apartemen untuk menjaga jarak dengan Devan, terutama jika mereka sedang berdua saja saat berada di tempat umum. Beberapa kali Kanaya menolak ajakan Devan untuk keluar bersamanya. Namun Kanaya tahu, hanya menjaga jarak saja dengan Devan tidak akan cukup. Orang akan terus menggunjingkan tentang mereka selama ia tetap tinggal satu rumah dengan Devan.


Kanaya berpikir untuk pindah ke apartemen Clarissa Sky Garden di tempatnya bekerja. Dengan tinggal terpisah, Devan tidak akan mendapat gunjingan dari orang dan ia pun tidak akan terlalu lelah saat bekerja.


Hanya permasalahannya saat itu, tidak ada unit kosong di gedung apartemen itu. Seluruh unit sudah terisi penuh, kecuali satu unit yaitu unit yang berada di lantai 7 unit 709.


Unit 709 adalah unit milik Adrena Clarissa putri saat ia belum menikah dengan Alexander David Mahendra, dan unit itu di biarkan kosong karena David menginginkan unit itu tidak berubah tetap seperti aslinya. Saat Rena tinggal disana. Dan unit itu memang tidak pernah berubah sedikit pun meski gedung apartement itu telah di renovasi oleh David.


Kebetulan sekali siang itu, Kanaya berkesempatan untuk makan siang bersama dengan Ibu Rena. Mereka memang kerap menghabiskan waktu bersama saat Rena memiliki waktu luang. Kadang kala ikut bersama Audrey. adik David.


Mbak Kanaya anaknya sudah ketahuan laki - laki atau perempuan?" tanya Rena pada Kanaya saat mereka santap siang di halaman belakang rumah Rena. Sambil memperhatikan Brayen yang sedang bermain di taman bersama dengan Yuki.


"Saya belum tahu Bu Rena, dokter sendiri juga belum mengetahui jenis kelaminnya karena setiap kami datang posisi anak saya masih malu - malu untuk memperlihatkannya," jawab Kanaya sambil bercanda.


Rena tertawa.


Memang Kanaya belum tahu jenis kelamin anaknya itu, saat mereka melakukan USG, bayinya berada dalam posisi yang tidak bisa menampakkan jenis kelaminnya. Sehingga dokter pun tidak bisa menentukan pasti apakah perempuan atau laki - laki.


"Nggak pa - pa, Mbak Kanaya. Nanti akan menjadi kejutan yang sangat mendebarkan saat kelahiran," ujar Rena tertawa sambil memegang perut Kanaya.


Ia memperhatikan pergerakan di perut Kanaya


"Waahhhh, anaknya aktif sekali!" Seru Rena saat ia tengah memegang perut Kanaya, dan bayi dalam kandungan Kanaya bergerak - gerak.


"Ibu Rena, dia memang aktif sekali. Apalagi kalau Devan sedang berbicara dengannya. Waahh, dia senang sekali!" Celoteh Kanaya dengan mata yang berbinar - binar tanpa sengaja bercerita tentang interaksi Devan dan anaknya. Dan saat ia tersadar, ia pun diam.


"Pak Devan sepertinya sayang sekali sama anaknya Mbak Kanaya. Mbak Kanaya tahu, kalau anak kita ini, meskipun dalam kandungan, ia bisa merasakan apa yang kita rasakan dan bisa merespon apa yang kita katakan. Seperti tadi yang Mbak Kanaya bilang dia responsi sekali terhadap Pak Devan." ujar Rena sambil tersenyum.

__ADS_1


"Beruntung sekali Mbak Kanaya mempunyai seseorang yang seperti Pak Devan," tambah Rena.


"Ada apa Mbak Kanaya? Kok diam?" tanya Rena saat kanaya tidak merespon ucapannya dan terdiam seperti memikirkan sesuatu


"Gak pa - pa, Bu?" jawab Kanaya sambil tersenyum saat Rena menepuk tangannya.


Rena pun tidak memaksa Kanaya untuk bercerita. Dan mereka mengobrol hal lainnya.


"Bu Rena, seandainya ada seseorang yang mau menyewa apartemen milik Ibu, apakah boleh?" tanya Kanaya dengan hati - hati, khawatir menyinggung hati Rena.


Rena mengerutkan keningnya.


"Apa unit yang lainnya penuh?" tanya Rena heran mengapa Kanaya bertanya mengenai apartemen miliknya, padahal Kanaya sudah tahu jika apartemen itu tidak di sewakan.


"Iya Bu, Alhamdulillah semua unit apartemen sudah full di tempati," jawab Kanaya.


"Kalau boleh tahu, yang mau menyewa apartemen saya siapa, Mbak Kanaya?" tanya Rena sambil melirik Kanaya.


"Ada...Bu, maksudnya kalau Ibu mengijinkan saya ingin menyewanya, untuk saya dan Mama saya," jawab Kanaya dengan jujur.


"Lho, bukannya Mbak Kanaya sudah tinggal di rumah Pak Devan?" tanya Rena heran.


Setahu Rena rumah Devan cukup besar, nyaman dan tidak terlalu jauh dari lokasi apartemen tempat Kanaya bekerja.


"Gak pa - pa Bu. Hanya saja, saya ingin mandiri. Tidak enak merepotkan Pak Devan terus."jawab Kanaya.


Merepotkan Pak Devan? Pikir Rena heran. Setahu Rena Devan Permanalah yang memang mau membantu Kanaya. Rena dan David tahu kalau Devan sangat mencintai Kanaya. Dan menurut Rena pun Kanaya memiliki perasaan yang sama terhadap Devan. Lalu mengapa Kanaya merasa merepotkan Devan?


Tetapi Rena pun teringat dirinya di masa lalu yang juga ingin mandiri dan tidak terlalu bergantung pada David. Dan Kanaya sepertinya berada pada tahap seperti dirinya dulu.

__ADS_1


Rena pun bersimpati pada Kanaya sebagai seorang wanita yang ingin mandiri, padahal ia tengah mengandung dan hidup tanpa suami. Pasti hal itu sangat berat baginya.


"Kalau Mbak Kanaya mau, Mbak Kanaya bisa pakai apartemen itu. Lagi pula apartemen itu sudah lama tidak di huni. Sepertinya bagus kalau Mbak kanaya mau tinggal disana," ujar Rena.


Kanaya tidak menyangka, jika Ibu Rena langsung memberikan Izin apartemennya untuk tinggali.


"Benar Bu? Apa saya boleh tinggal di sana? Saya akan sewa saja Bu, tidak apa?" tanya Kanaya dengan antusias. Ia benar - benar berharap bisa di izinkan tinggal di sana. Tentu ya jika dia tinggal di sana itu akan memudahkan pekerjaannya dengan kondisi kehamilannya yang semakin membesar.


Rena tersenyum.


"Pakai saja Mbak Kanaya, Saya malah senang kalau ada yang menghuni dan merawatnya," jawab Rena tidak ingin Kanaya menyewa apartemen itu.


"Terima kasih Bu Rena, Saya banyak berhutang budi pada, Ibu," ucap Kanaya dengan penuh suka cita.


Kanaya sangat beruntung dengan kebaikan Rena padanya.


Sore harinya, saat Devan menjemput Kanaya pulang, Kanaya pun langsung mengutarakan rencananya pada Devan.


"Van, ada yang pengin aku omongin sama kamu?" ujar Kanaya saat mereka baru saja sampai di depan rumah Devan.


Devan tidak jadi mematikan mesin mobilnya dan membiarkannya tetap menyala. Di lihatnya Kanaya yang menatapnya dengan gugup.


Devan memang sudah mengira, ada yang menganggu pikiran Kanaya beberapa hari belakangan ini,namun Devan tidak pernah memaksa Kanaya untuk bercerita kalau ia belum siap. Dan sore itu Kanaya ingin membicarakannya dengannya.


"Ya udah ngomong aja Ay, aku dengerin," ujar Devan sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan memandang Kanaya.


Bersambung...


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2