
Sejenak ada kepedihan di hati Kanaya. Entah mengapa ia tidak berbahagia dengan Devan memiliki seseorang disana.
"Duduklah Melisa," kata Devan sambil menarik sebuah kursi di dekatnya untuk Melisa duduki. Dan mereka pun duduk kembali. Namun, suasana menjadi canggung.
"Hmm..., kamu mau minum apa?" tanya Devan sambil memberi isyarat pada seorang Waiter untuk datang ke meja mereka.
Waiter pun datang dan memberikan sebuah menu kepada Devan, dan Devan memberikannya pada Melisa.
"Aku mau... lemon sparkling soda, dan... aku rasa aku mau makan, aku belum makan siang," ujar Melisa menyebutkan orderannya sambil ia melihat menu makanan yang ada di buku menu itu.
"Ini saja." tambahnya sambil menunjuk sebuah menu pada Waiter itu. Waiter itu mencatatnya dan pergi.
Kanaya memandangi cake coklat yang sangat ia sukai, namun tidak bernafsu lagi untuk menghabiskannya.
"Jadi Kanaya, Devan bilang kamu sudah menikah, di mana suamimu?" tanya Melisa pada Kanaya.
Kanaya menoleh pada Melisa.
"Dia.... sedang kerja, ke luar kota." jawab Kanaya sambil tersenyum.
"Suaminya seorang pengusaha, tentu saja dia sibuk," kelakar Devan pada Melisa.
"Oooh... Devan kamu pasti sangat senang, ya. Bisa bertemu dengan Kanaya lagi." ujar Melisa pada Devan. Sambil memegang pundak Devan.
"Ya, sudah lama aku dan Kanaya tidak bertemu," jawab Devan.
"Dan aku menemui Kanaya karena Papanya baru saja meninggal beberapa hari yang lalu," ujar Devan.
"Ooh maaf Kanaya, aku tidak tahu. Aku turut berduka cita," ujar Melisa menunjuk ekspresi bela sungkawa.
"Tidak apa, Papa memang sering sakit - sakitan, tapi sekarang dia sudah berada di tempat yang lebih baik," ujar Kanaya sambil tersenyum. Namun, setetes air mata mengalir di pipinya dan cepat - cepat di hapusnya.
"Ay..." ujar Devan sambil menyerongkan tubuhnya ke arah Kanaya dan memegang tangan Kanaya saat ia melihat Kanaya meneteskan air mata.
"Nggak apa - apa, Van. Aku hanya terbawa suasana," ujar Kanaya sambil tersenyum dan menarik tangannya dari pegagangan Devan, saat melihat ekspresi tidak suka Melisa padanya.
__ADS_1
"Aku... aku sebaiknya pulang, Van," ujar Kanaya, tepat saat Waiter datang membawakan pesanan pada Melisa.
Kanaya mengambil tas tangannya dan memberesi barang bawaannya.
"Aku pulang dulu, senang berkenalan denganmu," ujar Kanaya. beranjak sambil mengulurkan tangannya pada Melisa, dan Melisa menyambutnya.
"Kamu makanlah dulu, aku akan mengantar Kanaya," ujar Devan pada Melisa dan ikut beranjak bersama Kanaya.
Kanaya dan Devan pun berjalan ke arah pintu keluar menuju parkiran mobil.
Kanaya membuka kunci mobil yang ia pinjam dari Mamanya dan menaruh tasnya di dalam mobil kemudian berbalik badan pada Devan.
"Terima kasih, Van. Sudah mentraktir aku makan," ujar Kanaya pada Devan.
"Sama - sama, Ay." jawab Devan.
"Kamu hati - hati di jalan, ya. Kapan - kapan kita ketemu lagi," ujar Devan sambil memandang wajah Kanaya dan mereka pun saling pandang.
Kanaya mengangguk dan hendak masuk ke dalam mobilnya, ketika Devan tiba - tiba menarik tubuhnya dan memeluknya dengan erat. Kanaya pun balas memeluk Devan. Dan tanpa berkata - kata mereka berdiri disana dan memeluk satu sama lain dengan erat hingga Devan melepasnya dan menghela napas dalam sebelum ia mundur dan memberi ruang pada Kanaya untuk masuk ke dalam mobilnya.
Kanaya masuk ke dalam mobilnya dan membuka kaca jendelanya, sebelum ia melajukan mobilnya sambil tersenyum dan melambai pada Devan.
Pedih hatinya berada dekat dengan Kanaya dan bisa memeluknya. Namun, ia tidak bisa memilikinya. Devan masih mencintai Kanaya bahkan sampai detik itu.
"Mantan pacar, Pak Devan,?" tanya Alvian yang baru saja turun dari mobil yang terparkir tak jauh dari tempat Devan berdiri.
Devan menoleh dan terkejut melihat Alvian, Asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan David berada di sana.
"Ah, Pak Alvian bisa saja. Itu tadi sahabat saya," ujar Devan sambil tersenyum miris.
"Bukankah itu, Ibu Kanaya. Istri Pak Yohanes Elvano Alvarendra?" tanya Alvian.
Alvian memang tidak mengenal dekat Elvano, tetapi sudah tugasnyalah mencari tahu perihal pengusaha - pengusaha yang ada di kota itu, sejalan dengan masuknya Mahendra Enterprise ke kota D.
"Ya, Pak Alvian benar. Teman saya itu memang Istri dari Yohanes Elvano Alvarendra." jawab Devan.
__ADS_1
"Sayang sekali, Pak Devan. Anda terlihat cocok bersama Bu Kanaya. Semoga saja Bapak bisa menemukan kebahagiaan Bapak," ujar Alvian penuh arti, sambil memberi isyarat pada Devan untuk masuk ke kembali Lobby Hotel. Mereka pun berjalan menuju ke Lobby Hotel.
Alvian melihat Melisa duduk di dalam restoran, ia pun berhenti.
"Saya ke tempat meeting duluan ya, Pak Devan. Bapak nanti kalau sudah selesai bergabung saja," ujar Alvian. Lalu ia segera berjalan ke ruangan yang telah di sewa oleh Mahendra Enterprise untuk meeting mereka siang itu.
Devan segera menghampiri Melisa yang sedang makan.
"Melisa, setelah ini aku masih ada meeting, kamu nggak apa - apa, kan. Aku tinggal?" tanya Devan.
Melisa sedikit cemberut. Ia berharpa Devan bisa menemaninya siang itu.
"Ya mau bagaimana lagi? Setidaknya aku bisa beristirahat di kamarmu," ujar Melisa terpaksa tersenyum.
"Aku akan bukakan kamar untukmu, Mel. Jadi kamu bisa langsung istirahat di kamar," ujar Devan.
"Memangnya aku tidak boleh tidur di kamarmu, saja? Kenapa kita selalu tidur terpisah?" protes Melisa.
"Karena kita belum menikah, Melisa." ujar Devan.
"Aku akan segera bukakan kamar untukmu sekarang." ujar Devan lalu beranjak dari duduknya.
Melisa menaruh alat makannya di piring dengan kesal. Ia merasa Devan terlalu menjaga jarak dengannya, padahal hal yang biasa bagi teman - temannya jika tidur dalam satu kamar hotel yang sama dengan pacar mereka. Apalagi Melisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, betapa Devan sangat perhatian pada teman masa kecilnya Kanaya, melebihi perhatian Devan padanya.
Tak lama Devan datang dengan membawa kunci kamar untuknya.
"Kalau sudah selesai makan, aku antar ke kamar," ujar Devan sambil duduk saat melihat Melisa tidak menyentuh makanannya lagi.
Melisa pun beranjak dengan cemberut sambil membawa tas kopernya, tanpa menunggu Devan.
Devan menghela napas, kemudian beranjak menyusul Melisa menuju ke kamar Melisa di nomor 809, masih satu lantai di kamar dengan kamar Devan 806.
"Maaf ya, Mel. Aku harus benar - benar kerja sekarang, kamu istirahat saja dulu di kamar. Nanti malam kita jalan - jalan," ujar Devan. Kemudian mengecup pipi Melisa.
Setelah itu, Devan pergi ke lantai dasar untuk meeting bersama Alvian dan manajemen kantor Mahendra Enterprise yang ada di kota D.
__ADS_1
Sementara di tempat Devan dan Kanaya makan tadi. Maya sedang menscrool foto - foto Devan dan Kanaya yang di dapatnya siang itu. Ia tersenyum membayangkan betapa Elvano akan sangat marah jika mengetahui Kanaya berhubungan dengan Devan.
Jangan lupa like komen dan vote.