Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Pertemuan Elvano Dan Alvaro


__ADS_3

Note : Author mau ucapkan terima kasih banyak yang sebesar - besarnya. Karena masih mau setia menjadi pembaca setia di cerita author ini. Semoga kita semua di lindungi oleh Allah SWT dan di mudahkan segala urusan kita.


Apalagi Kakak - kakak semua yang sudah mau memberikan vote, komentar, like dan hadiahnya.


Meski hanya : Lanjut Thor, Semangat Up Thor, Terima kasih Up nya Thor, dan yang paling terharu itu, ketika Kakak - kakak yang kasih komentarnya panjang, itu mencerminkan Kakak mendalami ceritanya.


Author bersyukur kakak - kakak semua selalu sopan dalam berkomentar, sekali lagi terima kasih.


Happy Reading...🤗


Devan menggenggam tangan Kanaya.


"Aku tahu apa yang ada di pikiranmu," ucap Devan.


Devan tahu yang memberatkan Kanaya bukanlah mengujungi makam kedua Ayah mereka, tetapi dengan berada di kota itu, ia terbebani untuk mengunjungi Elvano yang berarti membawa serta Alvaro bersamanya untuk menemui Elvano.


"Kalau kamu tidak ingin melakukan itu, tidak apa. Kita hanya akan jiarah, tidak perlu bertemu siapapun dan langsung kembali kesini," ujar Devan.


"Oke," jawab Kanaya.


"Kamu yakin?" tanya Devan.


"Ya, kita berangkat besok," jawab Kanaya.


Hari itu mereka berlima, Devan, Kanaya, Alvaro, Ratna dan Alika, mengambil penerbangan pertama di kota B menuju kekota D. Dan mereka langsung pergi menuju ke makam Ayah Devan dan juga Papa Kanaya serta makam Kakaknya Devita.


setelah menghabiskan beberapa waktu di sana, mereka langsung kembali ke hotel.


Ratna dan Alika pergi mengujungi teman mereka. Sementara Devan, Kanaya dan Alvaro beristirahat di hotel.


Tak lama, Bagas, sahabat Devan datang mengujungi mereka di hotel. Devan dan Bagas mengobrol di restoran lobby hotel itu, sementara Kanaya berada di kamar hotel itu bersama dengan Alvaro.


Kanaya memang memutuskan untuk tidak mengujungi Elvano atau pun memberitahukan kedatangannya di kota D pada keluarga Elvano. Namun, entah mengapa ia tidak seharusnya ia melakukan hal itu.


Di pandanginya Alvaro yang memang memiliki wajah perpanduan antara dirinya dan juga Elvano. Alvaro memang anak Elvano dan tidak mengajak Alvaro untuk menemui Elvano membuatnya merasa bersalah.


Elvano memang belum pernah melihat Alvaro secara langsung sejak ia di lahirkan, Kanaya hanya pernah mengiriminya foto saat Alvaro baru lahir.


Ketidakmampuan Elvano untuk menemui Alvano bukan karena ia tidak mau, tetapi karena memang ia tidak bisa menemuinya. Kondisinya yang membuatnya tidak mungkin menemui Alvaro, Anaknya.


Kanaya mencoba menarik napas panjang dan mencoba melepaskan beban rasa bersalah di dadanya.

__ADS_1


"Alvaro, apa kamu mau menemui Papa Elvano?" gumam Kanaya sambil memandangi wajah Alvano dan bermain dengan jemari anaknya.


***


Minggu pagi itu, Elvano termenung dalam sel tahanannya. Hatinya gundah karena ia belum lama mendengar kabar dari Lisa, jika Kanaya akan segera menikah dengan Devan Permana.


Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mencegah hal itu. Tampaknya ia memang harus kehilangan Kanaya untuk selamanya. Tak ada jalan kembali baginya dan Kanaya untuk bersatu kembali. Penyesalan memang datang terlambat bukan?


Dulu Kanaya yang begitu polos, mencintainya dan memujanya. Dan apa yang ia lakukan? Ia menyia - nyiakannya, memperlakukannya seperti sampah, bahkan lebih buruk lagi.


Dan sekarang saat ia sangat menginginkan gadis itu dan mencintainya dengan sepenuh hati, tidak ada jalan kembali baginya.


Nasib memang begitu kejam, namun itulah hidup dan Elvano harus menelannya mentah - mentah. Melepaskan Kanaya adalah hal terberat yang harus ia lakukan.


Di ambilnya beberap foto dari bawah dipan selnya. Foto seorang bayi mungil yang sangat tampan. Kedua mata beningnya menatap tak berdosa. Kanaya memang menepati janjinya. Memberinya kabar dan mengirimkan beberapa foto Alvaro Samudera, putranya itu padanya.


Entah darimana Kanaya menemukan nama Alvaro Samudera, namun Elvano sama sekali tidak protes, karena ia menyukai nama itu. Ia yakin Alvano akan menjadi seseorang yang besar suatu hari nanti seperti besarnya suatu samudera.


"Elvano, ada pengunjung bersiap - siaplah!" Ujar Sipir penjara dari luar bilik selnya itu.


Pengunjung? Siapa? Bukannya Mama dan Papa sudah mengujunginya kemarin? Dan Lisa sudah datang mengunjunginya 2 hari yang lalu, pikir Elvano.


Apa mungkin pengacaranya? Di hari minggu seperti ini?


Saat waktu kunjungan tiba. Sipir penjara membawanya ke ruangan kunjungan.


****


Sementara di luar lapas itu, Devan, Alvaro dan juga Kanaya menunggu di dalam mobil hingga waktu kunjungan tiba


"Kamu yakin tidak ingin aku temani?" tanya Devan pada Kanaya setelah ia melirik jam di pergelangan tangannya.


"Nggak apa - apa, Van. Aku dan Alvaro akan baik - baik saja," ujar Kanaya.


Selain dari pada itu, bukan waktunya yang tepat untuknya hadir di hadapan Elvano bersama Devan. Mungkin di saatnya nanti, jika Elvano sudah bisa menerima dirinya bersama dengan Devan. Untuk saat ini dia hanya ingin mengenalkan Elvaro pada Alvaro, itu tujuan kedatangannya. Dan ia yakin Devan pasti bisa mengerti.


Kanaya benar, Devan memang mengerti. Ia tahu Kanaya tidak akan berniat lebih dari memberikan kesempatan Elvano untuk melihat anaknya. Dan ia pun sepemikiran dengan Kanaya untuk tidak datang berdua dengan Kanaya di hadapan Elvano untuk sementara ini. Devan tahu bagaimana Elvano masih memiliki rasa pada Kanaya, dan ia pun tidak ingin menambahkan minyak pada bara api.


Devan mengantar Kanaya sampai di depan pintu ruang kunjungan dan membiarkan Kanaya dan Alvaro menemui Elvano sendirian.


*****

__ADS_1


Elvano terpana saat ia melangkahkan kaki memasuki ruang kunjungan.


Tak jauh dari tempatnya berdiri, di lihatnya Kanaya sedang berdiri di dekat di sebuah meja, dengan menggedong seorang bayi di tangannya.


Kanaya memandang lurus padanya dan tersenyum. Meskipun begitu, masih terlihat sikap canggung yang berusaha di tutupinya.


Elvano hampir tidak percaya dengan penglihatannya jika sipir penjara tidak menepuk pundaknya dan menyuruhnya untuk berjalan dari pada menutupi pintu masuk ruangan itu.


Elvano pun berjalan perlahan, merasa takut menyadari kenyataan jika ia hanya bermimpi.


Ia berhenti di depan Kanaya dan menampar pipinya sendiri.


Plak! Terasa panas di pipinya!


Anehnya rasa panasnya itu membuatnya tersenyum, dengan suka cita.


Itu artinya ia tidak bermimpi! Kanaya ada di hadapannya bersama anaknya, Alvaro!


"Kanaya, aku tidak bermimimpi, kan?" tanyanya dengan mata berkaca - kaca.


Kanaya melihat Elvano menampar pipinya sendiri dan menanyakan hal itu padanya, dengan tatapan penuh harap bahwa ini adalah kenyataan.


"Tidak Kak Elvano. Kamu tidak bermimpi," ujar Kanaya.


Air mata pun bergulir di pipi Elvano tepat saat Kanaya menjawab pertanyaannya, dan langsung di hapusnya cepat - cepat.


"Apa itu Alvaro? Alvaro anakku!" Tanya Elvano dengan suara yang bergetar. Kanaya tersenyum dan mengangguk.


"Boleh aku menggedongnya?" tanya Elvano sambil memandang dari tempatnya berdiri, mahkluk mungil dalam gendongan Kanaya yang asyik berceloteh dan melihat ke sekelilingnya, terkadang tergelak dan terkadang bermain dengan kerah baju Kanaya.


"Ya Kak El, tentu saja." sambil menuju selangkah mendekati Elvano dan memberikan Alvaro pada Elvano. Kanaya sangat yakin jika Elvano tidak akan menyakiti Alvaro, dan memang tujuannya datang untuk mengenalkan Alvaro pada Elvano bukan?


Elvano meraih tubuh Alvaro perlahan, mengapit ketiak Alvaro dengan kedua tangannya, dan mengangkatnya di depan wajahnya.


Ia tersenyum memperhatikan wajah Alvaro yang begitu tampan. Ya, anaknya itu memang sangat tampan dan memiliki perpaduan antara wajah dirinya dan juga Kanaya yang menurutnya sangat sempurna di matanya.


"Alvaro, ini Papa, Nak."


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu tekan tombol like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2