
7 tahun kemudian...
Kanaya, Devan, Elvano dan Adella sedang meluangkan waktu di rumah bersama di rumah Kanaya dan juga Devan. Mereka memang kerap melakukan aktivitas bersama atau berlibur bersama.
"Bunda! Aku nggak mau main sama Kakak!" Ujar Clara yang sudah berusia 7 tahun, merengut sampai melipat tangannya di depan dada. Ia mengadu pada Kanaya yang sedang menyiapakan es jeruk di pinggir kolam.
"Alvaro!?" Tanya Kanaya pada Alvaro yang selalu menjahili adiknya itu.
"Bunda, aku nggak ngapa - ngapain! Claranya aja yang manja!" Ujar Alvaro dengan kesal sambil melempar bola yang di peganganya ke rumput dan duduk di kursi lounger di pinggir kolam renang sambil merengut dan mengambil Handphone miliknya.
"Aku main sama Keira aja!' Ucap Clara sambil mengambil bola yang tadi di lempar Alvaro dan ia berlari menghampiri Keira yang sedang di kepang rambutnya oleh Adella.
Keira adalah anak Adella, tak lama setelah Elvano dan Adella menikah. Adella melahirkan Keira Navisha, bayi perempuan yang sangat lucu dan dalam perkembangannya menjadi teman bermain Clara. Jarak usia di antara mereka pun hanya terpaut 8 bulan saja.
Devan yang melihat apa yang terjadi pada Alvaro yang saat itu sudah berusia 9 tahun pun menghampirinya.
"Kenapa Kak?" tanya Devan sambil mengacak - acak rambut Alvaro.
"Nggak apa - apa, Yah. Alvaro lagi males bermain aja," jawab Alvaro sambil melihat layar ponselnya.
"Alvaro sudah besar, mengalah sama adik - adik," ujar Devan mengingatkan.
"Ayah, kenapa sih Ayah selalu belain Clara?! Apa karena Clara itu anak Ayah dan aku bukan?" tanya Alvaro pada Devan. Ia memang tidak berteriak, namun semua orang yang ada di sana bisa mendengarnya, termasuk Elvano, Adella dan juga Kanaya, bahkam Clara adiknya.
"Alvaro!" Tegur Kanaya. Kanaya tidak pernah menyangka, jika Alvaro akan mengatakan hal itu.
Alvaro memang sudah mengetahui bahwa Elvano adalah Ayah kandungnya, sejak 6 bulan yang lalu. Setelah selama beberapa bulan ia bertanya pada dirinya sendiri mengapa Elvano begitu dekat dengannya dan ia memanggilnya Papa. Belum lagi fitur mereka berdua yang mirip. Kanaya, Devan dan Elvano pun sepakat, sudah waktunya Alvaro untuk tahu.
"Alvaro, jangan berpikir seperti itu, Ayah...." ucapan Devan lalu di potong oleh Alvaro.
"Tapi benar kan Ayah! Aku ini memang bukan anak Ayah!" Teriak Alvaro, lalu berlari.
"Alvaro!" Panggil Devan. Namun Alvaro tidak berhenti dan terus berlari masuk ke dalam kamarnya.
"Biar aku yang bicara padanya," ujar Elvano. Lalu ia berjalan ke arah Alvaro.
"Sabar ya, Yang. Aku yakin dia belum tahu apa yang di bicarakannya," ujar Kanaya menghibur Devan yang tampak sedih, setelah apa yang Alvaro katakan. Devan mengangguk dan memaksakan sebuah senyuman.
Semua orang tahu bagaimana Devan sangat menyayangi Alvaro bahkan sebelum ia di lahirkan, dan sedikit pun rasa sayangnya tidak berkurang setelah kelahiran Clara. Sehingga ia sangat sedih ketika Alvaro menyebutnya tidak adil, karena Alvaro bukan darah dagingnya dan mengatakan jika dia bukan anaknya.
__ADS_1
"Ayo main lagi," ujar Adella pada Clara agar kembali bermain dan tidak memperhatikan apa yang terjadi.
Elvano mengetuk pintu kamar Alvaro.
"Alvaro, ini Papa?" ujar Elvano.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar dan ia pun masuk.
Saat Elvano masuk ke dalam kamar Alvaro, di lihatnya Alvaro sedang bertelungkup di atas ranjangnya.
"Alvaro... ada apa?" tanya Elvano, sambil ia duduk dan mengelus punggung putranya itu.
"Sudah Pa, tinggalkan Alvaro sendiri!" Seru Alvaro sambil bertelungkup.
"Alvaro, kenapa kamu ngomong seperti itu sama, Ayah?" tanya Elvano sambil mengelus kepala anaknya.
"Tetapi memang benar Alvaro bukan anak Ayah kan? Alvaro anak Papa!" Ujar Alvaro sambil ia duduk. Air mata mengurai di pipinya.
"Memang Alvaro anak Papa. Tetapi Alvaro harus tahu, kasih sayang Ayah Alvaro tidak berkurang dari rasa sayang Papa ke Alvaro. Kami berdua menyayangi kamu sama besarnya" ujar Elvano sambil menatap mata anaknya dan tersenyum.
"Dan Alvaro sangat beruntung karena mempunyai seorang Bunda, seorang Ayah dan seorang Papa yang sangat menyayangi Alvaro,"
"Tapi kenapa Clara yang selalu di bela, padahal Alvaro tidak berbuat apa - apa," ujar Alvaro mengadu pada Elvano.
"Alvaro mau tinggal sama Papa," ujar Alvaro tiba - tiba.
Elvano sangat terkejut. Alvaro memang kadang - kadang juga menginap di rumahnya satu atau dua malam. Tetapi mengatakan jika ia ingin tinggal bersamanya baru kali ini.
Walaupun begitu, ia mengerti jika Alvaro masih belum menerima apa yang terjadi dan masih mencari jati dirinya.
"Papa nggak keberatan, tapi Alvaro harus meminta ijin dulu sama Bunda dan Ayah," ujar Elvano. Bagaimana pun ia harus bisa berlaku fair pada Kanaya dan juga Devan, sebagai orang tua Alvaro di atas kertas.
Di kolam renang, Clara yang mendengar apa yang di katakan Kakaknya, tidak lagi menjadi ceria. Ia merasa bersalah, menyadari Kakaknya di marahi Bunda karenanya.
Dan lagi Clara juga menjadi sangat sedih mendengar Kakaknya yang mengatakan dia bukan anak Ayahnya, ia tidak ingin kehilangan seorang Kakak, dan takut jika Kakaknya akan pergi, jika Kakaknya bukanlah anak Ayah mereka.
Ia pun keluar dari kolam dan menghampiri Bundanya sambil menangis.
"Bunda, Kakak nggak salah Clara yang salah karena Clara mau main bola terus, dan nggak bolehin Kakak main," ujar Clara sambil terisak.
__ADS_1
Meskipun Clara dan Alvaro sering berebut mainan atau pun bertengakar, sebenarnya mereka berdua saling menyayangi.
Kanaya mengangkat Clara kedalam pelukannya dan melihat wajahnya yang sedang menangis tersedu - sedu.
"Lain kali, Clara nggak boleh begitu, harus mau berbagi sama Kakak. Apalagi Kakak sudah berbaik hati mau mengalah untuk Clara, ya?" ujar Kanaya sambil mereka duduk di lounger bersama Devan.
"Clara, dengar apa kata Bunda dan Clara juga harus bicara yang jujur," ujar Devan sambil mencubit hidung putrinya dengan gemas.
"Ayah, apa benar Kakak bukan anak Ayah?" tanya Clara masih sambil terisak.
Devan dan Kanaya saling pandang.
"Kata siapa? Clara dan Alvaro dua - duanya anak Ayah, di sini!" Ujar Devan sambil menepuk jantungnya.
"Jadi kalau ada yang bilang Kakak bukan anak Ayah, kasih tahu Ayah siapa yang ngomong, biar Ayah nanti yang jewer kupingnya," ujar Devan sambil menyeringai dan berpura - pura galak, membuat Clara tertawa sesaat.
"Tapi Clara, mau minta maaf sama Kakak," ujar Clara tiba - tiba sambil merajuk. Wajah Clara yang merajuk meluluhkan hati siapa pun yang melihatnya.
"Ayo Ayah antar," ujar Devan sambil beranjak dari duduknya.
Dan mereka berdua pun berjalan menuju ke kamar Alvaro.
Saat mereka sampai di depan kamar Alvaro, pintu kamar sedikit terbuka dan terlihat Elvano tengah berbicara dengan Alvaro.
Devan sempat mendengar Alvaro meminta tinggal di rumah Elvano dan Elvano mengatakan jika ia harus minta izin terlebih dahulu padanya dan Kanaya. Ada sedikit rasa sakit di hati Devan, bahwa Alvaro belum bisa menerima rasa sayangnya yang tulus, meskipun ia bukan Ayah kandungnya.
Clara mendongak dan melihat ke arah Ayahnya, meminta persetujuan Ayahnya itu untuk masuk ke kamar Kakaknya. Devan tersenyum dan mengerti apa yang putrinya itu tanyakan dan ia pun mengangguk.
Clara mengetuk pintu kamar Alvaro dan berkata, "Kak, ini Clara." dan ia pun masuk kedalam kamar.
Alvaro dan Elvano pun menoleh ke arah pintu, dan melihat Clara masuk ke dalam kamarnya, memanjat ranjang Alvaro dan memeluknya.
"Maafin Clara ya, Kak. Clara yang jahat udah nggak kasih Kakak main bola," ujar Clara masih memeluk Alvaro, Kakaknya. Ia kemudian melepaskan pelukannya dan berkata lagi, "Kakak jangan pergi ya Kak, kata Ayah, Kakak anak Ayah di sini."
Clara menunjuk jantungnya persis seperti yang Devan lakukan.
Devan terkesiap, tidak menyangka Clara akan mengatakan hal itu pada Alvaro. Ia tidak tahu akan seperti apa reaksi Alvaro saat mendengarnya. Ia berharap tidak membuat Alvaro semakin jauh darinya.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.