Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Bertemu Elvano


__ADS_3

Kanaya belum pernah pergi kesana, akan tetapi permintaan Lisalah yang membuatnya melangkahkan kaki kesana untuk menemui seseorang yang sebenarnya ingin ia lupakan.


"Sudah waktunya, Bu." ujar Pak Bandi saat ia mulai melihat pintu pengunjung lapas itu sudah di buka.


Kanaya mengangguk dan keluar dari mobil dan berjalan keluar menuju petugas pendaftaran. Setelah beberapa saat menunggu, Kanaya di perbolehkan untuk masuk ke dalam ruangan khusus kunjungan bersama beberapa orang pengunjung lainnya dan ia duduk di sebuah kursi yang di peruntukkan untuknya. Dua buah bangku panjang yang saling berhadapan dan di pisahkan oleh sebuah meja di tengahnya.


Lima menit Kanaya mrnunggu di sana, dan di setiap menitnya ia menguatkan dirinya untuk bertemu dengan Elvano. Sampai ia melihat Elvano berdiri di depan pintu masuk ruangan itu dengan menggunakan rompi tahanan. Kali ini pertama kalinya Kanaya bertemu lagi dengan Elvano setelah ia bertemu Elvano terakhir kali dalam mediasi sidang perceraian mereka.


Elvano tampak sangat berbeda dari Elvano yang dulu Kanaya kenal. Elvano yang dulu adalah seorang pemuda yang gagah, tampan berkharisma, yang semua orang akan menganggumi saat melihatnya. Akan tetapi Elvano yang Kanaya lihat saat itu tampak tidak bersemangat, kusam, dan raut wajahnya pun muram. Tidak ada yang menyangka jika dulu ia adalah seorang CEO yang berwibawa dari sebuah perusahaan terbesar di kota itu.


Elvano sangat terkejut melihat Kanaya duduk di kursi pengunjung hari itu. Ia sama sekali tidak menyangka jika Kanaya akan datang mengunjunginya saat sipir penjara mengatakan ada seseorang yang datang mengunjunginya.


Raut wajah Elvano berubah saat ia melihat Kanaya, wanita yang sangat ia sayangi dan ia idamkan selama ini. Ia tampak begitu cantik sekali, terlihat lebih mature dengan rona wajah yang terlihat lebih segar.


"Kanaya..." ucapnya masih tidak percaya dengan penglihatannya saat ia berjalan perlahan mendekati Kanaya.


Kanaya pun tertegun saat melihat Elvano. Ia merasa canggung namun berhasil memaksakan sebuah senyuman untuk Elvano. Kanaya tidak beranjak berdiri saat Elvano datang menghampirinya dan berhenti tepat di bangku depan Kanaya.


"Kanaya, apa benar ini kamu?" itulah kalimat pertama yang di ucapkan oleh Elvano saat ia berhenti di depan Kanaya.


Kanaya tersenyum dan mengangguk.


"Duduklah, Kak El," ucap Kanaya tanpa berubah sedikit pun dari tempatnya duduk.


Saat itu Kanaya memakai terusan sebatas lutut berwarna hitam yang ia padankan dengan jaket merah marun yang menutupi bagian depan tubuhnya.


Selama kehamilannya, Kanaya memang tidak mengalami kenaikan berat badan yang cukup banyak, sehingga ia tidak terlihat terlalu gemuk, hanya saja jika melihat dari samping, perutnya akan terlihat seperti orang hamil. Tetapi saat ia duduk di bangku itu, jaket dan mejanya menutupi bagian itu, sehingga Elvano tidak bisa melihat jika Kanaya sedang hamil.

__ADS_1


Elvano tidak berkedip sedikitpun saat ia duduk dan memandangi wajah wanita yang ada di hadapannya. Baginya saat itu, hanya ada dirinya dan juga Kanaya, dan ia sama sekali tidak memperhatikan orang lain yang ada di sekitar mereka.


"Kanaya kamu benar - benar ada di sini....." ucap Elvano lagi. Terlihat ia begitu menahan gejolak emosinya.


"Ya, maaf aku baru bisa datang kesini mengunjungimu. Bagaiamana kabarmu, Kak El?" tanya Kanaya.


"Ya Tuhan Kanaya! Kamu memang benar - benar ada di sini!" Ucap Elvano lagi seolah tidak mendengarkan pertanyaan Kanaya.


Senyum lebar dan raut wajah bahagia terpancar dari wajah Elvano. Dia masih belum percaya dengan penglihatannya. Ingin sekali rasanya ia memeluk wanita yang ada di hadapannya itu, seandainya aturan lapas itu tidak melarang adanya kontak fisik.


"Aku bawa ini buatmu, Kak Elvano," ujar Kanaya sambil mendorong sebuah paper bag berisi makanan yang ia beli dalam perjalannya menuju ke lapas, sambil berusaha untuk fokus dan menghindari tatapan mata Elvano yang memandanginya tidak berkedip.


Ia merasa Elvano memandanginya dengan penuh kerinduan, dan itu membuatnya merasa tidak nyaman dan sedikit takut. Karena tekadnya sudah bulat untuk tidak ingin terlibat lagi dengan Elvano. Ia kesini hanya ingin memberinya semangat sebagai orang yang dulu pernah bersamanya. Tidak lebih. Ya, Kanaya tidak ingin lebih dari itu.


Elvano menerima paper bag itu dan berkata " Terima kasih, Ay." tanpa ia berhenti menatap wanita di hadapannya.


"Kak Elvano, aku ikut prihatin atas apa yang terjadi," ujar Kanaya menyatakan tujuan kedatangannya kesana.


"Aku tidak menyesal melakukannya, Kanaya," ujar Elvano, mengangkat wajahnya dan menatap Kanaya kembali.


"Apa? Apa maksudnya?"


Kanaya tidak tahu apa maksud perkataan Elvano.


"Dia pantas mendapatkanya setelah apa yang dia lakukan pada kita. Padaku dan padamu," ujar Elvano sambil menatap mata Kanaya.


Apa maksudnya Maya? Iya tidak menyesal melakukannya pada Maya? Pikir Kanaya.

__ADS_1


"Dan aku pantas menerima semua ini, aku rasa inilah hukuman atas apa yang aku lakukan padamu, bahkan terlalu ringan dan tidak sebanding," tambah Elvano masih menatap mata Kanaya.


"Aku tahu, aku mungkin tak pantas meminta ini, karena apa yang telah aku lakukan padamu tidak termaafkan, tetapi.... aku benar - benar meminta maaf padamu," ujar Elvano.


Elvano terlihat tulus dan meminta dari hatinya yang paling dalam, seakan hal itu adalah beban berat yang di pikulnya selama ini. Rasa penyesalan atas apa yang ia lakukan pada Kanaya.


"Kak Elvano, aku sudah memaafkanmu sejak lama, meskipun aku tidak bisa melupakan apa yang telah kamu lakukan," jawab Kanaya jujur. Ia memang sudah memaafkan Elvano, akan tetapi melupakannya adalah lain hal. Trauma seperti itu tidak bisa hilang begitu saja dan akan selalu membekas.


"Aku berharap kamu bisa selalu tegar menjalani masa hukumanmu. Jangan pernah patah semangat, karena perusahaanmu, Mama, Papa dan Lisa sangat membutuhkanmu. Mereka berharap yang terbaik untukmu," ujar Kanaya menyemangati.


"Tapi hidupku tak berarti lagi tanpamu," ucap Elvano, tiba - tiba membuat Kanaya tertegun. Elvano tidak merasa hidupnya akan berarti banyak setelah kehilangan Kanaya. Dan ia pun tidak berharap Kanaya akan menerimanya kembali, apalagi setelah apa yang ia alami saat ini, menjadi seorang narapidana. Bagaimana mungkin Kanaya akan menerimanya kembali saat ia bukanlah siapa - siapa? Hanya seorang laki - laki yang tidak memiliki siapapun, bahkan harga diri sekalipun di hadapan Kanaya.


"Kak Elvano, kamu tidak boleh berbicara seperti itu," timpal Kanaya


"Aku adalah bagian dari masa lalumu, tetapi kamu masih punya masa depan lain. Masa hukumanmu akan berakhir pada waktunya, dan kamu bisa memulai kembali apa yang kamu raih di waktu yang lalu," ujar Kanaya mencoba menyadarkannya, bahwa ia punya hal lain untuk dia raih.


"Aku yakin kamu akan kembali sukses kalau kamu mau, walaupun tanpa aku," tambah Kanaya.


Tiba - tiba anak dalam kandungan Kanaya membuat gerakan menyentak, yang membuat Kanaya berteriak.


"Kenapa Ay? Apa kamu sakit?


Saat itulah, Elvano melihat perut Kanaya membesar, hingga Elvano merasa tersengat listrik beratus - ratus voltase.


"Kanaya......"


"Kak El, anak ini.... dia adalah anakmu,"

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa untuk selalu like, komen dan vote.


__ADS_2