
Devan baru saja selesai mendelegasikan pekerjaannya kepada Beni Asistennya dan membereskan berkas - berkas kantornya sore itu. Ia berencana pergi ke kota D besok pagi untuk menemui Gilang dan menemaninya mencari keberadaan Kanaya.
Setelah di rasa beres dan tidak ada lagi yang harus ia kerjakan, Devan pun langsung melaju dengan mobilnya ke sebuah gedung. Di driveaway gedung itu, ia menghubungi Melisa.
"Mel, aku sudah ada di depan," ujarnya melalui panggilan telepon, dan tak lama Melisa pun muncul dari dalam lobby gedung itu dan masuk kedalam mobil Devan.
"Sudah lama menunggu?" tanya Melisa sambil tersenyum. Ia baru saja selesai sesi pemotretan dengan sebuah majalah populer di kota mereka.
"Tidak, aku baru saja sampai. Untungnya jalanan tidak terlalu macet," jawab Devan sambil mengendari mobilnya.
"Tumben, sudah selesai pekerjaanmu," ujar Melisa mengomentari pekerjaan Devan. Biasanya Devan sering pulang kerja terlambat, dan tidak sempat menjemputnya.
"Aku harus pulang cepat hari ini, karena besok akan pergi ke luar kota pagi - pagi sekali," ujar Devan sambil menoleh sekilas ke arah Melisa dan tersenyum.
"Oh begitu," gumam Melisa.
"Kalau begitu, masih sempatkan kalau kita makan dulu, aku sudah lapar sekali," ujar Melisa dengan manja.
Devan menoleh ke arah Melisa dan melihat tatapan memelas gadis yang duduk di sampingnya.
"Ya, tentu saja." ujar Devan sambil tersenyum. Ia tidak tega untuk menolak permintaan Melisa.
Devan memang selalu sibuk dan jarang bisa menyempatkan waktunya untuk menemani Melisa, oleh karena itu ia merasa tidak enak jika menolaknya. Devan pikir tidak masalah jika ia menghabiskan waktu 1 jam lagi. Ia masih memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat dan bersiap - siap.
Ia pun mengemudikan mobilnya ke sebuah restoran, dan parkir tak jauh dari pintu masuk restoran itu. Saat itu belumlah petang, dan restoran belum padat pengunjung, sehingga mereka pun langsung mendapatkan meja untuk makan. Mereka langsung memesan makanan dan minuman karena Devan juga tidak bisa berlama - lama. Ia harus menyiapkan diri untuk pergi ke kota D, dengan pesawat paling awal besok pagi. Ia berencana ingin mengikuti Gilang mencari Kanaya disana.
Saat tengah menyantap makanan mereka, tiba - tiba ponsel Devan yang ada di atas meja bergetar dan keluarlah nama Gilang. Devan pun segera mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo Gilang," balas Devan.
"Ada berita apa, Gilang?" tanya Devan dengan penuh harap.
__ADS_1
Melisa melihat raut wajah Devan saat ia mengangkat telepon dari orang itu.
"Saya sudah menemukan Ibu Kanaya," ujar Gilang dan terdengar begitu merdu di telinga Devan.
"Benarkah?" tanya Devan dengan raut wajah yang hampr tidak percaya.
"Ya, dia masih tinggal di kota D dan tinggal bersama Bella," terang Gilang.
"Apakah ia baik - baik saja?" tanya Devan dengan penuh harap.
"Ia terlihat baik - baik saja, dan saya masih berada di dekat rumah tinggalnya," ujar Gilang.
Devan memejamkan matanya, bersyukur Gilang menemukannya dalam keadaan yang baik - baik saja.
"Gilang, saya akan segera kesana tolong berjagalah di sana sebentar," ujar Devan lalu memutuskan percakapan teleponnya.
"Ada apa Devan?" tanya Melisa yang melihat ekspresi wajah Devan yang terlihat lega dan was - was sekaligus.
"Dia menemukan Kanaya," jawab Devan sambil memencet nomor di telepon genggamnya menghubungi biro perjalanan langganannya.
"Halo, saya Devan Permana, saya punya reservasi untuk besok pagi ke kota D. Bisa saya majukan untuk malam ini?" tanya Devan pada lawan bicaranya di telepon.
Melisa menaruh alat makanannya dan memperhatikan Devan. Devan tidak terlalu antusias sama sekali sejak ia kembali ke kota B beberapa hari yang lalu, dan sekarang dia terlihat sangat antusias untuk pergi kesana untuk menemui Kanaya yang baru di temukan. Siapa sebenarnya Kanaya bagi Devan?" raut wajah Devan selalu berbeda jika berhubungan dengan nama seorang Kanaya.
"Jam berapa? 1 jam lagi? Baik, langsung booking dan check in kan saya, saya akan segera ke bandara," ujar Devan melalui panggilan teleponnya dan ia pun segera menutupnya.
Devan tampak sedikit gugup mencari tas kerja yang di tinggalkannya di mobil. Saat dia teringat meninggalkannya di mobil, ia pun menoleh pada Melisa.
"Melisa, maafkan aku. Aku harus segera pergi pesawatku berangkat 1 jam lagi," ujar Devan dengan wajah merasa bersalah dan tak enak hati.
"Apakah kamu harus pergi sekarang? Tidak bisakah menunggu esok pagi?" tanya Melisa yang tidak suka, jika Devan meninggalkannya dengan tergesa - gesa untuk menemui Kanaya.
__ADS_1
"Mel, maafkan aku. Kanaya baru saja di temukan. dan aku harus melihatnya. Aku khawatir dengan keadaannya," ujar Devan pada Melisa. Meminta ia untuk mengerti.
"Bukankah orang tadi mengatakan dia baik - baik saja?" tanya Melisa masih tidak rela Devan pergi.
Devan menghela napas dan duduk kembali di kursinya.
"Melisa, aku tahu apa yang aku lakukan ini berlebihan menurutmu, tapi Kanaya adalah sahabatku sejak kecil, dan kami tumbuh bersama. Dan saat ini dia membutuhkan bantuanku, Mel. Dia sedang meminta pertolonganku, dan aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Tolong mengertilah..." ujar Devan sekali lagi berharap Melisa untuk mengerti keadaannya.
Melisa tidak menjawab dan hanya memandangi salad sayur yang ada di hadapannya.
"Maafkan aku, aku akan meminta Beni untuk mengantarkanmu pulang, habiskan makananmu," ujar Devan, kemudian beranjak dan mengecup pipi Melisa. Setelah itu ia keluar dari restoran, sambil menelepon Beni, asistennya untuk menjemput Melisa pulang. Sedangkan ia sendiri langsung melajukan mobilnya ke bandara.
Devan menunggu dengan tidak sabar 1 jam penerbangan yang di tempuhnya, sampai akhirnya sampai ia mendarat di kota D, dan langsung memesan taksi dan menuju ke alamat yang di kirimkan Gilang. Perjalanan dengan taksi tidak memakan waktu yang lama. Sekitar 20 menit ia telah sampai di sana.
Gilang yang menunggu kedatangan Devan segera keluar dari mobilnya saat ia melihat taksi Devan sudah datang, dan ia menghentikannya.
"Turun disini saja, Pak." ujar Gilang saat kaca jendela di turunkan oleh Devan.
Gilang tidak ingin Devan turun di depan rumah itu, karena akan membuat kedua wanita itu ketakutan.
Devan pun membayar ongkos taksi dan keluar dari taksi itu.
"Mereka masih ada di dalam, apa Bapak mau menemuinya sekarang?" tanya Gilang memastikan.
"Ya, aku harus memastikan ia baik - baik saja," ujar Devan dengan tanpa ragu.
"Baik Pak, mari ikut saya," ujar Gilang langsung menuju ke rumah kontrakan bercat putih dan berpagar bambu.
Perlahan ia membuka pagar bambu itu dan mereka berhenti di depan pintu rumah itu.
Gilang menoleh ke arah Devan, dan mempersilahkan Devan untuk mengetuk pintu sementara ia berdiri di belakangnya untuk berjaga - jaga dan melihat sekitar lingkungan rumah itu. Dan Devan pun mengetuk pintu.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya.