Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Masakan Kanaya


__ADS_3

Kanaya memandang Devan dan menunduk. Kanaya ragu untuk menceritakan apa yang terjadi pada dirinya, jika dirinya mengungkapkan semua perbuatan Elvano pada Devan. Akankah nanti Elvano akan mecelakakan Devan ? Pikir Kanaya.


"Ikhlaskan Ay. Agar jalan Papamu lapang disana. Papamu pasti tidak ingin melihatmu bersedih seperti ini." Ujar Devan berusaha menenagkan hati Kanaya.


Kanaya mengangguk dan menghela napas dalam.


"Iya, Van." jawabnya.


"Aku...aku.. terlalu terbawa perasaan. Apalagi sudah lama kita tidak bertemu, aku merasa sangat kehilangan kamu, Devan." ujar Kanaya pada Devan.


'Aku juga Ay, aku sangat kehilangan kamu. Tetapi kamu sudah milik orang lain' batin Devan.


"Iya, Ay, aku tahu, aku juga kehilangan kamu." ujar Devan sambil tersenyum.


Kanaya tersenyum melihat senyum di wajah Devan. Ia tidak menyangka masih bisa melihat senyum Devan lagi. Baginya bisa bertemu dengan Devan adalah suatu keajaiban.


"Bagaimana kabarmu, Van? kata Mama kamu sudah punya Firma hukummu sendiri, apa benar?" tanya Kanaya ingin tahu kabar Devan.


"Iya Ay. Aku membuat Firma hukumku 8 bulan yang lalu."


"Oh Ya,? Bagaimana bisa, Van?" tanya Kanaya dengan gembira. Ia terkagum sekaligus bangga mendengarnya.


"Panjang ceritanya, Ay. Lain waktu aku ceritakan, ya," ujar Devan.


'Lain waktu? Apakah akan ada lain waktu,' Batin Kanaya.


"Van, beberapa lama kamu ada di kota ini? Kamu tidak langsung pulang kan? Kamu bisa menginap di kamar, Kak Devita, aku.... sudah lama tidak mengobrol denganmu, dan aku ingin mendengar ceritamu," ujar Kanaya berharap Devan bisa tinggal lebih lama dan mereka bisa meluangkan waktu lebih lama seperti di masa lalu.


"Aku sebenarnya sedang bekerja disini, Ay, dan Aku menginap di hotel," ujar Devan.


"Van, aku... aku... tidak tahu lagi kapan bisa mengobrol denganmu...." ujar Kanaya sambil memandang Devan.


"Kanaya, Devan, ayo makan dulu!" Teriak Ratna dari depan rumahnya yang persis di sebelah rumah keluarga Devan.


"Kita makan dulu yuk, Ay. Aku lapar dan kangen masakan Mamamu," ujar Devan sambil beranjak dan menarik tangan Kanaya untuk berdiri.


Mereka pun berjalan menuju rumah Kanaya sambil bergandengan tangan.


"Ayo makan mumpung masih hangat," ujar Ratna pada keduanya.


"Wah, kelihatannya lezat, Tante," ujar Devan sambil menghirup masakan yang di masak Ratna untuk mereka.

__ADS_1


"Devan sudah lama, kan. Tidak makan masakan, Tante?" ujar Ratna sambil memberikan piring untuknya makan.


"Iya, Tante. Masakan Tante memang ngangenin," ujar Devan memuji masakan Ratna.


"Devan pasti ada maunya, Mah. Pasti kamu mau nambah, kan?" kelakar Kanaya pada Devan.


"Nggak kok Tante, beneran masakan Tante memang enak," ujar Devan sambil tersenyum.


"Sudah, ayo di makan. Nanti keburu dingin," ujar Ratna tersenyum melihat Kanaya dan juga Devan. Mereka masih terlihat sama seperti sebelumnya. Dan ia sangat senang melihat Kanaya tersenyum sepanjang makan malam mereka.


***


Dering telepon membangunkan Devan dari tidurnya. Dengan mata tertutup Devan ia menerima panggilan telepon itu.


"Devan, kamu baru bangun?" tanya seorang wanita dari seberang teleponnya.


"Iya, Mel. Aku tidur larut malam, semalam." ujar Devan sambil membuka matanya. Ia tahu suara siapa yang meneleponnya, walaupun ia tidak melihat ID peneleponnya.


"Bagaiamana pekerjaanmu di sana? Kira - kira bisa selesai kapan?" tanya wanita itu.


"Aku belum tahu. Aku baru sampai kemarin. Mungkin 2 - 3 hari lagi," ujar Devan sambil beranjak duduk di ranjang.


"Aku usahakan. Bagaimana pemotretanmu?" tanya Devan.


"Aku masih ada sesi pemotretan lagi besok dan hari ini. Semoga saja bisa segera selesai," ujar wanita itu lagi.


"Nikmati saja pekerjaanmu, nanti pasti cepat selesai," ujar Devan sambil berdiri dan menuju jendela.


"Ya, aku memang menikmatinya. Sudah ya, aku harus pergi. Agenku sudah datang. Bye Devan..." ujar wanita itu, tak lama kemudian menutup sambungan teleponnya.


Devan yang melihat rumah orang tuanya dari kaca jendela yang ada di depannya. Ia memang menginap di rumah Kanaya tadi malam, dan tidur di kamar Almarhumah Devita.


Devan baru tidur menjelang pagi, karena asik mengobrol bersama dengan Kanaya. Mengobrol banyak hal, mulai dari pekerjaannya sampai bagaimana ia membuat Firma hukumnya sendiri. Dan Kanaya mendengarkan penuturannya. Dan melihatnya dengan terkagum - kagum.


Devan pun tak henti - hentinya memandangi wajah polos dan senyuman manis Kanaya, sesuatu yang selama ini ia ingat dan rindukan.


Devan segera tersadar dari lamunannya, saat ia mendengar suara ketukan pintu.


"Van... Devan! Kamu sudah bangun, Van?" terdengar suara Kanaya yang membangunkannya.


Devan pun membuka pintunya.

__ADS_1


"Ay, aku baru bangun. Ini juga mau mandi," ujar Devan sambil tersenyum melihat Kanaya pagi itu sudah rapi dengan memakai baju terusan berwarna soft peach dan mengurai rambutnyan kesamping.


Satu hal yang berubah dari Kanaya adalah cara berdandan dan pakaian Kanaya yang sekarang sudah mengikuti mode, walaupun ia selalu terlihat berpakaian sopan.


"Kalau sudah mandi turun ke bawah ya. Aku udah masak untuk sarapan. Mama juga sudah menunggu di bawah," ujar Kanaya sambil tersenyum melihat muka bantal Devan yang baru bangun tidur.


"Iya, Ay. Sebentar lagi aku ke bawah," ujar Devan.


Kanaya pun berbalik dan turun ke bawah.


Devan pun segera mandi. Ia pun tidak bisa berlama - lama, karena ia berjanji akan menemui Alvian di kantor pagi ini.


Kanaya membuatkan nasi goreng pagi itu, dan Devan makan dengan lahapnya. Terus terang Devan baru kali ini makan masakan Kanaya dan ternyata masakannya cukup enak. Dulu, Kanaya tidak bisa memasak dan ia jarang ke dapur. Satu lagi perubahan yang ia lihat dari Kanaya.


"Ay, kamu masih menginap di sini? Nanti malam?" tanya Devan saat ia telah selesai sarapan.


Kanaya terdiam sejenak.


Elvano mengatakan jika dia akan pulang hari ini dari luar kota. Dan itu berarti dia harus kembali ke rumah Elvano.


"Aku tidak tahu, Van." ujar Kanaya lalu melirik ke arah Mamanya.


"Elvano jadi pulang hari ini, Ay?" tanya Ratna.


Wajah Devan langsung berubah setelah mendengar nama Elvano. Ia hampir saja lupa kalau Kanaya sudah bersuami.


"Sepertinya, Mah" jawab Kanaya sambil memaksakan sebuah senyuman.


"Aku masih beberapa hari disini Ay. Kalau kamu... atau Elvano ada waktu kita bisa bertemu lagi," ujar Devan.


"Iya Van, nanti aku coba tanya Kak Elvano kalau dia sudah pulang," ujar Kanaya dan Devan pun mengangguk.


"Tante, saya pergi dulu, ya. Terima kasih sudah mengijinkan saya untuk menginap di sini," ujar Devan sambil menyalami Ratna.


"Iya Devan, jangan sungkan - sungkan ya, kalau ada waktu atau tugas di sini lagi, menginap saja disini," ujar Ratna.


Kanaya mengantar Devan ke teras depan rumahnya saat taksi pesanan Devan telah datang.


"Ay..." Panggil Devan sambil berbalik menghadap Kanaya.


Jangan lupa like komen dan vote. Kalau berkenan tekan tombol like..like..like..like..like

__ADS_1


__ADS_2