
**Stopp....โ Para reader ku jangan lupa kasih like dan sajen votenya dong๐ข Komentarnya juga jangan lupa di perbanyak yah, udah menjelang beberapa episode terakhir nih๐ญ๐ญ Hadiah sekutum bunga mawarnya author tunggu ya. Ada nggak ya yang mau ngasih๐ทโ๐
๐๐ Happy Reading**....
"Pah, ayo pah kita main bola!" Panggil Clara dan Keira bersam - sama sambil menarik tangan Elvano agar masuk ke dalam kolam. Mereka berdua pun kemudian menarik Raka untuk bermain bola basket air bersama mereka.
"Siapa takut!" Jawab Raka dan langsung terjun ke dalam kolam.
Mereka semua sedang menghabiskan weekend bersama sambil barbeque di kolam renang di halaman belakang rumah Elvano.
Raka berpasangan dengan Keira dan Elvano berpasangan dengan Clara, sementara Alvaro menjadi wasitnya. Mereka tampak sangat senang bermain saat itu.
"Lempar Pih!" Teriak Clara pada Elvano, untuk memberikan bola yang saat itu, ia pertahankan dari Raka.
"Papah, ambil Pah!" Teriak Keira juga yang tak mau kalah kepada Raka. Mereka berdua menyemangati pasangannya teamnya masing - masing.
Elvano mengoper bola ke arah Clara. Bola itu sempat meleset dan hampir saja di ambil oleh Keira, namun Clara berhasil mengambilnya terlebih dahulu dan memasukannya ke keranjang basket yang berada di dekatnya.
"Ya! Skor sementara 4 - 2 untuk kemenangan tim Clara!" Teriak Alvaro sebagai wasit pertandingan.
"Goooool!" Teriak Elvano dengan senang saat Clara berhasil mencetak angka untuk tim mereka.
Clara bertepuk tangan dan berlonjak - lonjak gembira karena berhasil memasukkan bola dalam keranjang. Mereka berdua saling tos dan saling berpelukan.
"Ya ampuunn! Lihat itu Kanaya mereka sangat bahagia!" Ujar Luna saat ia sedang menuang minuman dan berdiri di samping Kanaya.
Luna mengunjungi kota B, beberapa hari setelah mengetahui bahwa Elvano dan Kanaya kembali berhubungan, tentu saja ia sangat berbahagia dan mendesak mereka berdua untuk segera menikah kembali.
"Iya Mah," jawab Kanaya sambil tersenyum. Ia juga melihat raut wajah bahagia mereka hari itu.
"Mamah belum pernah melihat Elvano sebahagia beberapa hari belakangan ini," ujar Luna sambil melirik ke arah Kanaya. Kanaya tersenyum dan berusaha menutupi rona merah di wajahnya.
"Sudah Ay, di segerakkan saja," celetuk Adella yang duduk tak jauh dari mereka sedang menggendong bayi berusia 1,5 tahun, anaknya dan Raka.
"Itu juga yang Mama bilang Adella. Semoga mereka segera menentukkan harinya. Buat apa menunggu lama - lama ya kan?" ujar Luna menyetujui ucapan Adella.
"Doa kan saja Mah," jawab Kanaya.
Memang Kanaya hanya bisa menjawab itu, karena masalah pernikahan bukan hanya tergantung darinya.
__ADS_1
Hubungannya denga Elvano setelah pagi hari sarapan bersama itu, baik - baik saja. Ia menjalani hari - harinya bersama Elvano seperti dua orang yang sedang berpacaran. Dan Kanaya tidak keberatan.
Ia dan Elvano memang tidak pernah berpacaran sebelumnya, dan ia pun berpikir jika Elvano ingin menikmati masa - masa itu lebih dulu.
Alvaro dan Clara sangat senang melihat kedekatan Papa dan Bunda mereka, meskipun mereka tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi, tetapi mereka berdua menyangka hal itu, karena apa yang mereka berdua lakukan sebelumnya.
Gluduk Duar!
Terdengar suara petir dan gluduk di angkasa. Cuaca memang sudah mendung sejak tadi, namun memang belum turun hujan.
"Ayo semua naik!" Teriak Raka, saat hujan mulai turun.
"Clara, Alvaro, ayo naik!" Teriak Kanaya memanggil mereka agar keluar dari dalam kolam.
"Ayo, Ra!" Ujar Elvano sambil menarik Clara bersamanya.
Mereka semua bergegas masuk kedalam rumah dan mandi di kamar mandi bilas tak jauh dari pintu belakang rumah.
"Ayo, kalau sudah selesai mandi, semua keruang keluarga ya. Bibi Desi sudah buatkan coklat hangat untuk kalian!" Ujar Kanaya sambil menengok anak - anak yang sedang membilas diri di dalam kamar mandi bilas.
"Bun, jam tangan Clara mana?" tanya Clara saat ia telah selesai mandi dan baru tersadar jam tangan water proof - nya tidak ada.
"Clara nggak lepas Bun, tadi Clara pakai," ujar Clara merajuk. Ia sangat menyanyangi jam tangan itu, karena jam tangan itu pemberian dari Devan, Ayahnya.
"Mungkin, jatuh di dekat kolam. Sekarang Clara pakai baju dulu sama Bibi Desi, nanti Bunda carikan ya," ujar Kanaya menenangkan putrinya.
"Carinya sekarang ya Bunda!" Pinta Clara sambil berjalan dengan Desi untuk memakai pakaian.
"Iya. Sekarang Clara pakai baju dulu dan minum coklat hangat dulu," ujar Kanaya.
Setelah Clara mau di bujuk, Kanaya pun langsung mencari jam tangan Clara di pinggir kolam dengan menggunakan payung.
"Cari apa, Yang?" tanya Elvano yang tiba - tiba berdiri di belakangnya dan memeluknya.
"Kak El. Kaget aku!" Ujar Kanaya yang terkejut sambil menoleh ke arah Elvano. Elvano terkekeh.
"Aku cari jam tangan Clara. Tadi katanya di pakai saat berenang," ujar Kanaya sambil mencari ke seleliling.
"Tadi, memang dia pakai Ay. Aku bantu cari ya. Siapa tahu, terjatuh di kolam," ujar Elvano sambil melihat ke dalam kolam.
__ADS_1
Elvano yang masih mengenakan celana renangnya, berhujan - hujanan di pinggir kolam, berjalan mengitari kolam memeriksa jika ada jam tangan Clara di dalam kolam.
"Ada Ra! Teriaknya dari pinggir kolam, bersebrangan dari tempatnya Kanaya berdiri. Elvano pun langsung melompat masuk ke dalam kolam dan mengambil jam tangan itu dari dasar kolam, kemudian berenang ke arah Kanaya.
"Ketemu?" tanya Kanaya sambil melihat ke arah Elvano. Elvano mengacungkan jam tangan itu dari atas air.
"Syukurlah," ucap Kanaya sambil tersenyum lega.
"Ini Ay!" Ujar Elvano dari dalam kolam sambil mengulurkan tangan dan menyodorkan jam tangan itu. Kanaya memanjangkan tangannya hendak meraih jam tangan Clara, saat tiba - tiba tangan Elvano langsung menariknya masuk ke dalam kolam.
Jebur! Bunyi air menyiprat dari dalam kolam di tengah rintik hujan.
"Aaah!" Teriak Kanaya saat tubuhnya masuk ke dalam kolam secara tiba - tiba, tanpa ia duga.
"Kak Elvano!" Protesnya sambil terengah - engah berusaha mencari udara untuk rongga paru - parunya. Namun, Elvano hanya tertawa dan merangkulnya menarik Kanaya mendekat padanya.
"Maaf sayang," ujarnya sambil tertawa.Kanaya memutar bola matanya sedikit kesal karena tubuhnya basah saat itu.
"Hujannya tambah besar Kak El," ujar Kanaya.
"Kenapa? Kamu tidak takut air hujan kan?" goda Elvano sambil merangkul Kanaya dan menahannya di dalam kolam.
"Takut? Nggak... tapi Clara akan mencari terus jamnya, kalau aku belum memberikannya," jawab Kanaya sambil berusaha berjalan di pinggir kolam.
Mereka berdua berjalan ke pinggir kolam. Dan secara tiba - tiba Elvano menarik dan mengunci tubuh Kanaya tepat di bawah sebuah pancuran air berbentuk ikan yang menutupi tubuh mereka berdua dari hujan.
"Sekarang kita udah nggak ke hujanan lagi," ujar Elvano sambil menyeringai, menggoda Kanaya dan mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Kanaya, hingga mereka berdua tidak berjarak lagi.
Kanaya menelan ludahnya dan secara reflek menaruh tangannya dada bidang Elvano yang tanpa busana, dan hal itu tidak bisa membuat rasa gugupnya mereda, bahkan sebaliknya, saat telapak tangannya menyentuh kulit tubuh Elvano.
Ia belum pernah sedekat ini dengan Elvano apa yang akan Elvano lakukan?
Meskipun hubungan mereka yang semakin dekat beberapa hari belakangan ini, namun Elvano tidak pernah sedikit ini dan kedekatan fisik mereka pun hanya sebatas kecupan di pipi, tangan atau kening.
"Kak El, Clara..." ujar Kanaya beralasan, padahal jantungnya berdegup cukup keras, sehingga ia khawatir Elvano akan mendengarnya.
"Baiklah kamu boleh naik, dan mengambil jam tangan ini. Kalau sudah..." ujar Elvano tidak menyelesaikan kalimatnya sambil menunjuk pipinya, meminta Kanaya untuk mengecup pipinya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote.