Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Tidak Berani Berharap


__ADS_3

"Dari Elvano? Kok tumben dia perhatian ke Kanaya? Pake ngasih buket bunga segala lagi !" batin Devan.


"Dari siapa, Ay?" tanya Ratna sambil berjalan mendekat.


"Dari,,," Kanaya tidak melanjutkan ucapannya. Ratna pun langsung mengambil kartu ucapan yang ada di tangan Kanaya.


Setelah membaca kartu ucapan itu, Ratna memandang Kanaya.


"Kalian sedang menjalin hubungan?" tanya Ratna dengan heran, Karena ia pun belum pernah melihat Elvano berkomunikasi dengan keluarga mereka lagi sejak kematian Devita.


Kanaya menggeleng.


" Nggak Ma, Kanaya nggak pernah ketemu dia, kecuali...." ujar Kanaya kemudian menggantung kalimatnya.


"Kecuali?" tanya Ratna menunggu lanjutan ucapan dari Kanaya.


"Minggu lalu, Kanaya dan juga Devan ketemu Elvano di Mall. Tapi kita nggak ngobrol kok, Ma. Ya kan, Devan?" ujar Kanaya sekalian mencari dukungan pada Devan.


"Iya Tante. Karena Kanaya tak sengaja menabrak Elvano, tapi dia terus pergi begitu saja tanpa bicara," ujar Devan dengan nada yang sedikit kesal saat membicarakan Elvano.


"Ya sudah, mungkin dia hanya bersikap sopan saja." ujar Ratna sambil mengembalikan kartu itu pada Kanaya.


"Mama di bawah ya, Ay." ujar Ratna sambil berjalan keluar kamar Kanaya.


"Aku juga pulang dulu Kanaya" ujar Devan sambil berjalan kearah pintu keluar.


"Besok berangkat jam berapa, Van?" tanya Kanaya sambil mengikuti Devan keluar kamar.


"Pagi, Ay. Aku udah booking pesawat jam 09.00." jawa Devan.


"Besok aku anter ya, Van." ujar Kanaya.


"Katanya mau ke kampus ngurus ijazah?" ujar Devan sambil menggoda Kanaya.



"Iya, agak siangan ke kampusnya," jawab Kanaya sambil tersenyum.


"Oke, jangan kesiangan ya, Ay. Aku tunggu!" ujar Devan sambil berjalan ke arah rumahnya dan melambaikan tangan.


Kanaya naik kembali ke kamarnya setelah Devan pulang. Ia duduk di atas ranjang sambil melipat kakinya dan meraih foto dirinya dan Devita di meja samping.


"Kak, Hari ini aku sudah di wisuda. Aku berhasil lulus kuliah. Semoga aku bisa membantu Papa dan Mama. Kakak yang tenang disana, ya. ucap Kanaya sambil memandangi wajah Devita di foto itu, Kemudian di pelukknya beberapa saat sebelum di taruhnya kembali foto itu di atas meja.


Kanaya melihat kearah meja belajarnya. dan melihat buket bunga dari Elvano. Ia beranjak dan membawanya kedapur untuk di taruhnya dalam Vas bunga.

__ADS_1


Kanaya pun heran kenapa tiba - tiba Elvano mengirimnya buket bunga, padahal kemarin saat bertemu dengannya ia menatap Kanaya dengan sangat tajam. Kanaya saja sampai merinding di buatnya.


***


Pagi - pagi Kanaya sudah bertandang kerumah Devan.


"Pagi Bunda?" saat Kanaya masuk dari pintu belakang rumah Devan. Dan bertemu dengan Bunda Alika disana.


"Pagi sayang, kebetulan Bunda sudah masak nasi goreng, kita makan bareng, Ya?" ujar Alika sambil menyiapkan piring untuk sarapan mereka.


"Kelihatannya lezat Bun," ujar Kanaya sambil menghirup aroma nasi goreng buatan Alika.


"Devan mana, Bun?" tanya Kanaya sambil menengok ke kanan dan ke kiri.


"Masih di atas, Kamu panggilin gih, Ay. Biar dia cepat turun." ujar Bunda sambil menunjuk kamar Devan.


Kanaya mengangguk dan naik ke atas kamar Devan.


"Van, Devan!" panggil Kanaya sambil mengetuk pintu kamar Devan.


"Masuk Ay." Terdengar suara Devan dari dalam kamar.


Kanaya pun membuka pintu kamar dan melangkah masuk. Devan sedang menutup tas hand Carry kecilnya dan bertelanjang dada.



"Kata Bunda di suruh sarapan, Van?" ucap Kanaya sedikit melirik ke arah Devan. yang sedang akan mengancingkan kemejanya.


"Kalau mau melihat, lihat saja, Ay. Nggak usah melirik seperti itu," ujar Devan sengaja menggoda Kanaya yang memerah wajahnya karena telah melihat dada bidang Devan.



Kanaya memang sering melihat Devan berlatih di halaman belakang rumahnya setiap pagi, tapi tidak pernah sedekat ini. melihat tubuh bertelanjang Devan.


"Siapa yang mau lihat? Lagian kalau bicara kan harus melihat ke orangnya," ujar Kanaya beralasan.


"Ya, sudah aku tunggu di bawah ya, Van," ujar Kanaya hendak berbalik keluar kamar Devan. namun tiba - tiba Devan menahannya.


"Tunggu Kanaya, bareng sama aku," ujar Devan menahan tangan Kanaya.


Ia kemudian mengambil tas hand carrynya. Dan menariknya bersamanya.


Sebelum berangkat mereka sarapan terlebih dahulu bersama dengan Bunda di ruang makan rumah Devan.


"Bunda nggak ikut nganterin kalian yah, kalian hati - hati di jalan," ujar Alika pada mereka berdua sambil mengantarkan ke depan pitu rumah.

__ADS_1


"Iya Bun, ngak apa - apa, kan ada supir pribadi," kelakar Devan menyebut Kanaya sebagai supir.


"Enak aja Van! Udah cepet naik!" ujar Kanaya sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Devan pergi ya, Bund." pamit Devan pada Bundanya sambil mencium tangan Alika.


"Ya, hati - hati, Van." Jawab Alika.


"Sini Ay, aku yang nyetir," ujar Devan setelah memaruh tasnya di dalam bagasi.


"Udah, Van.."


"Jangan ngeyel, Ay! biar aku saja yang nyetir!" ujar Devan sambil menarik perlahan Kanaya keluar dari bangku kemudi.


Kanaya pun mengalah, dan membiarkan Devan yang mengendarai mobilnya.


"Van, nanti kalau kamu jadi pindah, Bunda gimana?" tanya Kanaya mengingat Bunda hanya sendirian di rumah itu.


"Aku udah ngajak Bunda, Ay. Tapi Bunda nggak mau, karena makam Ayah di sini. Kamu kan tahu setiap minggu Bunda selalu ke makam Ayah," Ujar Devan.


"Kata Bunda, biar aku yang pulang ke rumah sebulan sekali," tambah Devan sambil memandang jalan di depannya.


"Ay, apa kamu masih ada perasaan sama, Elvano? tanya Devan tiba - tiba.


"Apa sih, Van! Kok tau - tau nanya kaya gitu!" sergah Kanaya.


"Aku mau tau aja, Ay. Kamu kan dulu suka banget sama dia. Kalau ternyata dia menaruh perhatian sama kamu, kamu masih mau sama dia?" tanya Devan sambil menoleh sesaat ke arah Kanaya kemudian kembali melihat jalanan yang ada di depannya.


Semalaman Devan memikirkan buket bunga yang di kirim oleh Elvano. Ia merasa apa yang di lakukan oleh Elvano sangatlah ganjil. Setelah tidak menggubris Kanaya selama ini, tiba - tiba ia mulai menunjukkan perhatian kepada Kanaya. Dan itu membuat tanda tanya besar bagi Devan. Oleh sebab itu, Devan menanyakan hal ini pada Kanaya.


Kanaya diam tak menjawab.


"Kamu masih suka ya Ay, Sama dia?" gumam Devan.


"Aku udah mengikhlaskan Kak Elvano bersama dengan Kak Devita." ujar Kanaya matanya menggenang dan setetes air mata menetes di ujung matanya.


"Dan aku......tidak berani berharap...." ujar Kanaya dengan lirih.


Devan menepikan mobilnya.


"Maafin aku, Ay? Nggak seharusnya aku ngungkit - ngungkit hal itu," ujar Devan sambil memeluk Kanaya dengan erat.


Entah mengapa Devan merasa tidak ingin kehilangan Kanaya, hingga ia memeluk Kanaya demikian erat.


__ADS_1


Setelah sampai di bandara, diam - diam Devan memotret bayangannya bersama Kanaya.


Jangan lupa like komen dan vote.


__ADS_2