Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Bayi Laki - Laki


__ADS_3

Note : ***Harap bersabar ya teman - teman, yang udah pada nungguin partnya Elvano dan Kanaya author kasih spoiler lagi nih, mungkin untuk Bab besok Kanaya dan Elvano bakalan bertemu. Gimana senengkan? Iya lah pasti seneng? hehehe... dan maaf kalau author selalu berbelit - belit dalam membuat cerita. Harap di maklumi ya sayang, karena author masih amatiran dalam menulis. Kalau ada typho dalam penulisannya langsung ingatkan author, biar author langsung benerin hehehe...Sekali lagi harap di maklumi karena author juga masih harus mengurusi ke tiga Novel lainnya yang masih on going juga.


Yuk... berikan juga vote semampunya aja, kalau berkenan jangan lupa untuk tekan tombol like..like..like..likenya yah...


Happy Reading semuanya...🤗***


"Pak Devan, saya tunggu di lobby ya, Pak." ujar Monika sambil membereskan berkas - berkasnya di atas meja Devan. Kemudian ia keluar setelah sebelumnya tersenyum pada Kanaya. Ia dan Devan memang berencana pergi menemui salah satu klien mereka setelah itu.


"Kamu mau pergi, Van?" tanya Kanaya saat Monika sudah keluar dari kantor Devan.


"Ya, sebentar lagi. Ada apa Ay? Kok tumben kamu datang ke kantor? Ngggak bilang - bilang lagi," ujar Devan sambil tersenyum dan mendudukan Kanaya di kursi penerima tamu.


"Gak Pa - pa, Van. Aku hanya sebentar saja. Aku cuma mau kembalikan ini," ujar Kanaya sambil mengambil jam tangan Devan dari dalam tas tangannya.


"Oh ya, jam tanganku ketinggalan ya di tempatmu! Pantas saja aku cari - cari tadi pagi nggak ketemu," ujar Devan menepuk jidatnya dan tertawa seakan - akan membodohi dirinya sendiri.


"Tapi sebenarnya kamu tidak perlu nganterin sampai kesini, nanti kan aku juga ketempatmu," ujar Devan sambil berjongkok dan memegang perut Kanaya seperti biasanya.


Entah mengapa Kanaya merasa risih.


"Nggak pa - pa, Van.Kebetulan aku juga sekalian lewat," ujar Kanaya cepat - cepat.


"Aku sebaiknya pamit, kamu juga mau pergi," ujar Kanaya sembari beranjak dari duduknya.


"Kamu kesini naik apa? Aku minta Beni anterin kamu ya? Dia kebetulan mau pergi kearah yang sama denganmu," ujar Devan menawarkan. Ia sendiri tidak bisa mengantarkan Kanaya pulang karena ia sudah berjanji dengan klien Monika untuk menemuinya sedangkan ia tidak mau jika Kanaya pulang seorang diri.


"Nggak usah, Van. Aku naik mobil kantor, kebetulan mau ke tempat customer setelah ini," ujar Kanaya.


"Bener?" tanya Devan memastikan. Ia tidak mau Kanaya menolak tawarannya karena tidak enak hati.


"Iya benar," jawab Kanaya sambil berbalik.


"Tunggu Ay, bareng aku!" Seru Devan, lalu ia mengambil tas kerja, jas dan telepon genggam di atas meja.


Setelah itu menghampiri Kanaya dan berjalan keluar dari kantornya bersama.


Sesampainya di lobby kantor, Monika telah duduk menunggu Devan sambil melihat jam tangannya.


Ia pun berdiri dan tersenyum saat melihat Devan turun.


"Tunggu ya Monik, aku antar Kanaya dulu," ujar Devan di luar ekspetasi Monika.


"Dimana mobilmu, Ay?" tanya Devan sambil melihat ke arah luar lobby.


"Itu Van," jawab Kanaya sambil menunjuk sebuah mobil dan ia pun memanggil mobil itu dengan gerakan tangannya.


"Hati - hati ya, Ay. Kamu jangan terlalu capek kerja. Nanti sore aku ketempatmu," ujar Devan saat Kanaya naik ke dalam mobil kantornya. Kanaya merasa wajahnya menghangat, karena Devan mengucapkan itu di depan Salsa dan juga juga driver kantornya. Ia hanya mengangguk dan tersenyum pada Devan.


"Hati - hati bawa mobilnya, Pak." ujar Devan pada driver kantor Kanaya sebelum ia menutup pintu mobil dan membiarkan mobil kantor Kanaya meninggalkan halaman kantornya.


Monika tampak berpikir melihat perlakuan Devan pada wanita yang bernama Kanaya itu.


'Bagaimana caranya ya?' batin monika.


Kanaya yang berada di jalan pun termenung.


"Bu Kanaya, Pak Devan orangnya baik banget ya Bu," komentar Salsa tersenyum pada Kanaya. Sebagai seorang wanita Salsa iri dengan perlakuan Devan pada Kanaya. Padahal mereka bukanlah suami istri.


Kanaya hanya tersenyum menanggapi ucapan Salsa, karena hatinya sedang resah dan gelisah. Devan memang tidak berubah, masih sangat perhatian padanya. Namun, entah mengapa ia sangat resah mengetahui ada Monika yang sering bersama dengan Devan sehari - hari, terbayang ingatannya saat melihat Elvano dan juga Maya yang sedang bermesraan di kantor. Ia tahu Devan bukanlah Elvano, akan tetapi ia tidak akan sanggup jika hal ini terulang kembali.


"Bagaimana pun aku harus percaya pada Devan," batin Kanaya. Meskipun ia tahu, tidak ada yang mengikat hubungannya dengan Devan. Devan sah - sah saja jika ingin berhubungan dengan orang lain karena Devan bukanlah kekasihnya ataupun Suaminya. Dan Kanaya tidak akan bisa protes atau komplen.


****


Hari sabtu itu, Kanaya berencana mengunjungi Bunda dan juga Devan di rumah. Kanaya memang sengaja tidak memberitahu Devan karena hari itu, adalah hari ulang tahun Devan. Ia dan Mamanya berencana memberikannya kejutan untuk Devan dan telah membuatkan Devan sebuah kue ulang tahun dengan base cake coklat resep dari Mamanya Ratna dan di hias oleh Kanaya dengan menggunakan coklat ganache dan buah - buahan segar. Kanaya juga telah memesan nasi tumpeng berukuran sefang untuk mereka makan bersama - sama.


"Sudah siap, Ay?" tanya Ratna sambil menyembulkan wajahnya di pintu kamar mereka.


"Sudah, Mah." Jawab Kanaya sambil memasukkan sebuah kotak kado kecil yang ia siapkan untuk Devan.


Kanaya dan Ratna pun turun ke lantai bawah, tepat saat taksi online pesanan mereka sampai. Kanaya dan Ratna masuk kedalam taksi sementara OB Apartemen membantu memasukkan tumpeng ke kursi penumpang di depan.


Kanaya sangat bersemangat karena hari itu sahabatnya dan juga orang yang sangat dekat dan ia sayangi saat itu sedang berulang tahun. Tidak banyak yang ia lakukan kecuali melakukan apa yang ia lakukan saat itu dan menelepon Devan tengah malam tadi untuk mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Dan untuk mendukung kejutannya pagi itu, ia pun sudah mengatakan kepada Devan kalau ia tidak bisa kerumah Devan karena harus pergi dengan Ibu Rena, yang tentunya hanya alasan saja bagi Kanaya.


Hanya 15 menit perjalanan, mereka telah sampai di depan rumah Devan. Saat itu ada dua buah mobil tidak di kenal Kanaya terparkir di depannya.


Kanaya tidak tahu mobil siapa itu, mungkin saja tamu Devan.


Kanaya tetap melanjutkan niatnya dan memencet bel pintu rumah Devan. Sementara itu, supir taksi membantunya membawakan tumpeng untuk Devan.


Tak seberapa lama pintu terbuka, dan Monika yang membukakan pintu.


Mereka berdua sama - sama tertegun, dan saling pandang. Ratna yang tidak tahu siapa Monika pun bingung, dan berpikir jika ia adalah saudara atau kerabat Devan.


"Bu Kanaya! Mau cari Pak Devan, ya?" tanyanya tanpa mempersilahkannya masuk.


"Siapa Monik?" terdengar suara Devan bertanya.


"Ada Bu Kanaya, Pak!" Teriak Monika masih berdiri di depan pintu sambil tersenyum dan tidak mempersilahkan Kanaya dan Ratna masuk.

__ADS_1


Devan yang sedang berada di dalam pun segera beranjak keluar begitu mendengar nama Kanaya di sebut.


"Kanaya! Ya ampun, kamu kenapa tiba - tiba ada di sini?" tanya Devan sambil tertawa, ia lemudian membuka pintu lebar - lebar dan mencium tangan Ratna.


Monika yang melihat hal seperti itu, langsung


masuk ke dalam rumah Devan.


"Masuk Tante," ujar Devan pada Ratna.


"Selamat ulang tahun, Ya Devan. Tante doakan yang terbaik untukmu," ujar Ratna sambil memeluk Devan.


"Terima kasih Tante," ujar Devan.


"Bunda, ada Tante Ratna datang!" Teriak Devan memberitahukan pada Bundanya. Dan Ratna pun masuk ke dalam menemui Alika.


Tinggal Devan berdua dengan Kanaya yang saat itu menahan gejolak perasaannya saat melihat Monika ada di dalam rumah Devan.


Apa hubungan Devan dan Monika sudah begitu dekat hingga Monika bebas berada di dalam rumah Devan? Pikir Kanaya. Kanaya memaksakan sebuah senyum.


"Selamat ulang tahun ya, Van." ucap Kanaya. Ia berusaha untuk tersenyum tulus untuk sahabatnya Devan, meskipun hatinya kecewa dan sakit.


Siapa aku yang bisa melarang Devan, berhubungan dengan Monika? Batin Kanaya.


"Terima kasih Ay, akhirnya kamu datang juga," ujar Devan sambil memeluk Kanaya.


Kanaya melepas pelukan Devan dan tersenyum.


"Aku... bawa tumpeng untukmu, Van. Aku nggak bisa bawa macam - macam," ujar Kanaya sambil menunjuk nasi tumpeng yang masih di pegang oleh supir taksi online itu dengan tersenyum.


Devan pun langsung mengambil taksi online itu dan mengucapkan terima kasih pada supir taksi online itu.


"Repot - repot, Ay." ujar Devan sambil memabwa nasi tumpeng itu ke dalam rumah.


Kanaya mengikutinya, dan saat ia masuk ia terkejut karena di dalam rumah Devan terdapat beberapa orang yang Kanaya kenal sebagi Karyawan Devan di kantor.


Jadi Monika tidak sendirian di rumah Devan, tetapi bersama - sama dengan teman kantornya yang lain? Pikir Kanaya sambil terbengong.


"Teman - teman, masih ingat Kanaya, kan?" ujar Devan memperkenalkan Kanaya.


"Halo Bu Kanaya!" Mereka semua menyapanya.


"Halo semua," sapa balik Kanaya sambil tersenyum.Kanaya merasa tidak enak hati, telah menyangka yang tidak - tidak pada Monika.


"Wah, Bu Kanaya bawa apa ini?" tanya Beni yang langsung mendekati nasi tumpeng yang Kanaya bawa dan yang lainnya pun mengikuti.


"Boleh di makan nih, Pak?" tanya Roni teman kantor Devan yang juga hadir di sana.


"Ay, ayo makan bareng - bareng," ajak Devan sambil memegang pundak Kanaya dan mengajaknya ke meja makan.


Kanaya berjalan ke arah meja makan, dan melihat teman kerja Devan yang tidak sabar untuk mengambil nasi tumpeng.


Semua berkumpul di meja makan termasuk juga Monika. Monika hendak mengambil nasi tumpeng itu ke piring yang di pegangnya, namun gerakannya di hentikkan oleh Beni.


"Eh, tunggu dulu yang ulang tahun, belum makan!" Ujar Beni sambil memberikan piring kepada Kanaya.


"Bu, ambillah buat Bapak," ujar Beni sambil tersenyum.


Kanaya melihat ke arah Devan, dan Devan mengangkat kedua alisnya sambil menatap Kanaya.


Kanaya pun mengambil piring itu dan mulai mengambilkan Devan nasi tumpeng dan lauknya.


"Jangan di abisiin Bu, nanti saya nggak kebagian," kelakar salah satu teman Devan.


"Lo, udah makan kue banyak coba juga" Timpal Teman Devan yang lain, membuat yang liannya tertawa.


"Ini, Van " ujar Kanaya sambil memberikan piring yang berisi nasi tumpeng untuk Devan.


"Makasih Ay," ucap Devan, dan tanpa malu - malu mengecup pipi Kanaya.


Cie...cie... suara sorakan terdengar di ruangan itu membuat Kanaya memerah wajahnya.


"Udahlah Pak, Resmiin aja!" Kelakar Roni. Membuat Devan dan Kanaya tersipu malu.


"Ayo di makan!" Ujar Devan pada teman - temannya yang lain, mengalihkan pembicaraan.


Mereka pun mulai mengambil nasi tumpeng di piring masing - masing.


******


Kanaya POV


Sore ini adalah jadwalku untuk kontrol ke dokter kandungan dan aku sudah membuat janji dengan Dokter Gita.


Meskipun jadwal kerja Devan hari ini cukup padat, namun ia bersikeras ingin mengantarkanku ke dokter kandungan dan aku pun memilih jadwal sore agar ia bisa ikut serta.


"Berhenti di depan Pak," ujarku pada supir taksi online yang mengantarkanku ke kantor Devan. Devan sendiri masih dalam perjalanan dari kantor pengadilan dan tidak bisa menjemput ke apartemen. Alhasil kami janjian dan bertemu di kantornya. Aku pun masuk naik ke lantai dua tempat kantor Devan berada. Devan sendiri yang mengatakan agar aku menunggu di ruangannya.


Tak sampai setengah jam Devan sudah sampai di kantornya.

__ADS_1


"Sudah lama, Ay?" tanyanya sambil berjalan masuk kedalam ruangan kantornya dan berjalan menghampiriku.


"Belum lama, Van," jawabku sambil melihat padanya, yang langsung duduk di sebelahku.


"Kita berangkat sekarang ya, masih cukup waktunya," ujarnya sambil melihat jam tangannya dan beranjak menuju meja kerjanya, merapikan barang - barangnya di meja dan memasukannya ke dalam tas kerjanya.


Saat ia hampir selesai sebuah ketukan pintu di kantornya terdengar dan wajah Monika menyembul dari antara daun pintu. Ia menatapku sekilas sebelum berkata pada Devan, " Bisa minta waktunya sebentar, Pak?"


"Ada apa Monika?" tanya Devan sambil berjalan menghampiriku dan aku pun beranjak berdiri.


Monika berjalan menghampiri kami sambil membawa sebuah file di tangannya.


"Ini berkas file untuk kasus Pak Renata besok, mungkin bapak bisa membacanya sebentar sebelum kita bertemu beliau besok," ujar Monika sambil memberikan file itu pada Devan.


Devan mengambil file yang di berikan oleh Monika dan melihatnya sekilas, sebelum ia memasukkannya kedalam tas kerjanya.


"Ok, nanti saya baca ya," ujar Devan.


"Oh ya, Pak. Saya sudah cek in kan untuk penerbangan kita besok pagi dan juga hotel kita disana," ujar Monika sambil menaruh tangannya di lengan Devan. Sesuatu yang seharusnya tidak perlu ia lakukan. Untuk apa ia menyentuh bagian tubuh rekan kerjanya.


Tunggu? Apa dia mengatakan penerbangan dan juga hotel? Apa mereka akan pergi keluar kota. Pikirku saat itu.


"Ok, kita bicara lagi nanti Monika. Aku dan Kanaya harus segera pergi," ujar Devan tidak terlalu memperhatikan hal detail yang aku lihat.


Devan pun kemudian menarik lenganku dan kemudian mengajakku turun kelantai dasar untuk segera berangkat ke rumah sakit.


"Besok kamu akan keluar kota bersama Monika? Apa hanya kalian berdua?" tanya ku pada Devan saat ia tengah mengendari mobilnya.


"Ya, besok aku akan pergi keluar kota, bersama Monika dan juga Vera dari bagian Admin. Kenapa, Ay?" tanya Devan sambil menoleh sesaat kearahku.Sebelum ia memperhatikan jalanan di depannya kembali.


"Nggak pa - pa," jawabku pendek tidak ingin menujukkan rasa keberatanku. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menjadi batu sandungan dalam pekerjaannya. Bagaimana pun Devan dan Monika kesana untuk pergi bekerja bukan.


"Benar nggak pa - pa?" tanya Devan sekali lagi.


Dan aku tidak menjawabnya, melainkan menunjuk pintu gedung rumah sakit di luar mobil.


"Itu Van, masuk situ?" ujarku mengalihkan pembicaraannya.


Devan pun mengikuti arahanku dan mencari tempat parkir yang tidak terlalu jauh dari pintu masuk gedung.


"Ibu Kanaya Zavira," panggil suster yang membantu Dokter Gita. Setelah kami menunggu selama kurang dari satu jam di depan ruang praktek Dokter itu.


Devan tersenyum dan dengan antusias menggandengku masuk kedalam ruang praktek Dokter Gita.


"Coba lihat, bagaimana kedaan bayi Ibu hari ini," ujar Dokter Gita sambil mengoleskan cream dingin di atas perutku dan mulai menjalankan transduser stick di atasnya.


Dan layar di hadapan kami pun menampakkan bayi mungil yang sedang setengah meringkuk di dalam perutku. Tampak kaki dan tangannya bergerak perlahan. Lucu dan menggemaskan.


perasaanku terhadap anak dalam kandunganku pun bertambah seiring bertambahnya usia kandunganku. Kalau dulu aku sempat menolaknya sekarang aku sangat menyayanginya.


"Ooh!" Tiba - tiba Dokter Gita memekik dan mengambil respon screen shoot dari layar monitor di hadapan kami.


Apa yang terjadi? Ya Tuhan, semoga dia baik - baik saja. Pikirku saat itu.


Aku dan Devan pun saling pandang, berharap - harap cemas dengan sikap Dokter Gita.


"Ada apa, Dok?" tanyaku ingin tahu begitu pula dengan Devan. Ia menggenggam tanganku dan terlihat sama cemasnya denganku.


Dokter Gita menatap kami, dan tiba - tiba tertawa geli, seperti menertawai dirinya sendiri.


"Maafkan saya," ucapnya.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Saya hanya terkejut saat bayi Bu Kanaya menjadi tidak malu - malu," ujarnya sambil memainkan stick transdusernya untuk mengambil angle yang tepat, sebelum ia berkata "Apa Bu Kanaya dan Pak Devan ingin tahu jenis kelaminnya atau menunggu hingga lahiran?"


Dokter Gita mentap kami dengan tersenyum lebar. Menunggu jawaban dari kami.


Akupun menatap Devan, aku tahu. Aku Ibunya dan aku yang berhak memutuskannya. Namun, entah mengapa aku pun ingin Devan ikut memutuskan.


"Terserah kamu, Ay." jawab Devan..Namun, aku pun tahu ia sangat ingin tahu jenis kelamin jabang bayi yang sering kami panggil Dedek.


"Tentu Dokter, apakah kami bisa melihatnya?" tanyaku. Tanpa ku sadari tanganku menggenggam erat tangan Devan, karena begitu bersemangat ingin mengetahuinya. Koreksi, kami berdua sangat bersemangat!


"Lihat ini... yang seperti penyu ini?" tanya Dokter Gita, sambil menunjuk gambar di dekat pangkal paha bayi.


Aku tidak melihatnya seperti penyu tetapi sekilas memang mirip dan membuatku ingin tertawa geli.


"Ini tandanya anak Ibu gagah dan tampan," ujar Dokter Gita sambil tersenyum.


Gagah dan tampan? Anakku laki - laki?


"Dia bayi laki - laki, Ay!" Suara Devan lah yang membangunkanku dari lamunanku.


Aku menoleh dan melihat Devan tersenyum sangat lebar dengan mata berbinar sambil kedua tangannya menggenggam tanganku dan mengecupnya.


Tak terasa air mataku mengalir karena bahagia.


Sebelumnya aku tidak pernah mempermasalahkan apakah anakku laki - laki atau perempuan sama saja. Ia adalah anakku, darah dagingku, apa pun jenis kelaminnya. Namun, setelah mengetahui anakku laki - laki rasa penasaranku terbayarkan.


"Anakku laki - laki,"

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk selalu like komen dan vote.


__ADS_2