
Kanaya hanya terdiam di dalam mobil yang membawanya kembali pulang ke rumah Elvano. Luna dan keluarga Elvano yang lainnya terlalu baik padanya, ia tidak sampai hati jika mereka terkena getahnya.
Saat Elvano menghentikkan mobilnya di teras depan rumah, Kanaya menepuk pundak Elvano.
"Kak El, aku... ingin menginap... di rumah... orang tuaku... besok," ujar Kanaya perlahan.
"Tapi Ay, kamu baru saja pulang?" ujar Elvano tidak setuju.
"Aku.. sudah lama... tidak... menginap.. disana?" jawab Kanaya sambil menatap mata Elvano.
"Aku.... mau... pulang..." ujar Kanaya lagi, berharap Elvano mengabulkan permintaannya.
Elvano berdecak. Ia baru saja membawa Kanaya pulang, dan sekarang Kanaya meminta untuk menginap di keluarga Adi Wiguna.
"Kak El, Papaku... sedang... sakit.." ujar Kanaya.
"Aku... hanya... beberapa hari... nanti.. aku balik. kesini..." ujar Kanaya lagi.
"Tapi kamu pun sedang sakit, Kanaya," ujar Elvano.
"Aku... baik - baik... saja," jawab Kanaya.
Elvano kembali berdecak lagi.
"Semalam! Aku ijinkan kamu menginap semalam!" Ujar Elvano akhirnya.
Kanaya mengangguk. Semalam lebih baik dari pada tidak sama sekali, pikirnya.
Ia pun keluar dari dalam mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah Elvano.
"Nyonya! Nyonya! Sudah kembali!" Seru Bella sambil menghampiri Kanaya dan memeluknya.
"Iya Bella!" Jawab Kanaya sambil tersenyum.
"Mari Tuan, biarkan saya bawakan tasnya," ujar Bella sambil meminta tas Kanaya yang di bawa, Tuannya.
"Bawa ke kamarku, Bella," ujar Elvano pada Bella sambil menyerahkan tas Kanaya.
Kanaya dan Bella tertegun, kamar Elvano?
"Ba..baik, Tuan," jawab Bella sambil meraih tas itu dan segera membawanya masuk dan meninggalkan Kanaya dan Elvano.
"Aku.. tidur... di kamarku.. saja," ujar Kanaya.
Elvano menggeleng.
__ADS_1
"Aku... tidur sendiri... leher ku masih... sakit.. tidak... bisa tidur.. bersama orang lain..." ujar Kanaya lalu berjalan masuk ke dalam rumah dan memilih masuk ke dalam kamarnya.
Elvano menghela napas melihat Kanaya yang bersikeras tidak mau tidur di kamarnya.
Kanaya tidak keluar dari kamarnya seharian. Ia masih enggan bertemu dengan Elvano setelah apa yang terjadi waktu itu. Dan Elvano tidak bisa memaksa Kanaya, karena Kanaya sakit akibat perbuatannya. Ia terpaksa mengabulkan keinginan Kanaya, termasuk menginap di rumah kedua orang tuanya.
Namun, Elvano tak segelisah kemarin, karena menyadari Kanaya telah kembali pulang.
***
Kanaya belum sempat menginap kerumah orang tuanya saat ia mendapat kabar berpulangnya Papanya, Rayhan Adi Wiguna. Kanaya segera pergi kerumah orang tuanya di temani Elvano, dan Kanaya menginap beberapa hari di rumah orang tuanya.
Elvano sendiri tidak ikut menginap karena ia harus pergi ke luar kota untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang tidak bisa di tinggal. Ia pun membiarkan Kanaya untuk meluangkan waktu bersama Mamanya.
Kanaya memanfaatkan waktu yang ia punya untuk membantu Mamanya membereskan rumah dan memilih - milih barang - barang peninggalan Papanya. Saat tengah membereskan barang - barang Papanya di kamar saat ia melihat foto - foto lama keluarga mereka.
Ia tersenyum, melihat foto keluarga mereka yang masih lengkap. Papa, Mama, Devita dan dirinya. "Sekarang, hanya tinggal Aku dan Mama," gumam Kanaya. Di simpannya foto itu, bersama foto - foto yang lain dalam kotak penyimpanan.
Saat tengah memeriksa foto - foto lainnya ia menemukan foto dirinya dan Devan yang masih di simpan oleh Papanya. Saat itu mereka sedang berlibur bersama, keluarganya dan keluaraga Devan, saat Ayah Devan masih hidup. Mereka pergi berlibur ke Bali bersama - sama dan menginap di Hotel. Kanaya tersenyum mengingat kenangan bahagia keluarga mereka.
'Devan, bagaimana kabarmu sekarang? Batin Kanaya.
Kanaya tidak melihat Devan datang ke pemakaman Papanya. Mungkin Devan tidak tahu, kalau tahu ia pasti datang. Pikir kanaya.
Kanaya menghela napas. Ia kemudian membereskan barang - barang yang ada di depannya dan memasukkan foto Devan dan dirinya ke sakunya.
"Mah, Kanaya pergi dulu, ya." Pamit Kanaya pada Ratna.
"Iya, hati - hati di jalan. Nanti kamu masih pulang kerumah, kan?" tanya Ratna memastikan putrinya untuk pulang kerumah Adi Wiguna.
"Iya, Mah. Kak Elvano, juga masih di luar kota, mungkin nanti kalau Kak Elvano sudah pulang, baru Kanaya balik ke rumah Elvano."
Kanaya mengangguk.
"Ya sudah, nanti kamu kesiangan," ujar Ratna sambil mrlirik jam di dinding dan Kanaya pun pergi ke tempat Dokter Adam.
***
Sementara itu Devan tengah berada di kota D bersama Alvian, Asisten Alexander David Mahendra. Ia sedang mengurus perijinan legal perusahaan David yang akan melebarkan sayapnya di kota D.
Devan sendiri baru menyelesaikan kasusnya di kota K dari baru pulang tadi malam. Dan pagi - pagi ia berangkat bersama Alvian dengan pesawat pribadi milik David.
Devan berencana mengunjungi Ratna Adi Wiguna, untuk menyampaikan bela sungkawanya atas meninggalnya Rayhan Adi Wiguna. Setelah selesai mengajukan surat perijinan perusahaan David.
"Alvian, surat perijinannya sudah aku urus dan tinggal menunggu kabar saja dari kolegaku," ujar Devan kepada Alvian di kantor sementara David di kota itu sambil membereskan barang - barangnya.
__ADS_1
"Oke, kamu mau kemana?" tanya Alvian, yang melihat Devan bersiap - siap untuk pergi.
"Aku harus mengunjungi kerabat. Orang tua temanku baru saja meninggal dunia beberapa hari yang lalu. Nanti aku temui di Hotel ya," ujar Devan pada Alvian sambil melambaikan tangan.
Devan menggunakan taksi untuk pergi ke rumah Ratna Adi Wiguna.
"Stop disini, Pak." ujar Devan pada sopir taksi tepat di depan rumahnya.
Rumah tempat tinggal yang dulu di huni olehnya dan keluarganya itu, tampak kosong dan tak terurus. Devan telah mengajak Bundanya untuk tinggal bersama di kota B saat ia memulai Firma hukumnya 8 bulan yang lalu.
Setelah membayar ongkos taksinya, Devan pun turun.
Ia berniat mengunjungi rumahnya, setelah menemui Ratna. Sempat terlintas di benaknya pertanyaan dan harapan bisa berjumpa dengan Kanaya di rumah Ratna. Akan tetapi, Devan tidak melihat mobil lain yang terparkir di depan rumah Ratna. Sehingga ia berkesimpulan Kanaya tidak ada di sana.
Ia pun mengetuk pintu rumah Ratna.
Setelah beberapa saat, Ratna membukakan pintu.
"Devan?" tanya Ratna sambil mengerutkan dahinya.
"Iya Tante. Ini Devan," ujarnya sambil tersenyum.
"Ya Ampun Devan..., kamu banyak berubah, Nak!" Ujar Ratna sambil mememeluk Devan saat itu juga.
"Tante hampir nggak mengenali kamu," ujar Ratna sambil memegang lengan Devan dan memandang wajah laki - laki berusia 24 tahun itu yang sekarang tampak lebih dewasa dan matang.
"Iya Tante," jawab Devan sambil tersenyum
"Masuk, Van. Aduh..., kamu sudah jauh - jauh datang kesini. Tante merasa senang bisa melihatmu," ujar Ratna sambil tersenyum, mengajak Devan masuk dan menutup Pintu.
Devan pun duduk di sofa ruang keluarga rumah itu bersama dengan Ratna.
"Tante, Devan turut berduka cita atas berpulangnya Om Rayhan. Devan juga minta maaf tidak bisa menghadiri pemakaman Om Rayhan." ujar Devan menyampaikan rasa bela sungkawanya dengan tulus.
Ratna menghela napas dan tersenyum.
"Nggak apa - apa, Van. Terima kasih kamu sudah menyempatkan datang kesini. Tante minta Devan bisa memaafkan kesalahan - kesalahan, Om Rayhan. Dan mendoakan agar jalannya lapang disana." ujar Ratna sambil memandang Devan.
"Iya Tante," jawab Devan.
"Kamu nginap dimana, Van?" tanya Ratna.
"Devan, nginap di Hotel Tante," jawab Devan.
"Padahal kamu juga bisa menginap disini. Kanaya juga pasti ingin mengobrol lama denganmu," ujar Ratna.
__ADS_1
"Ka... Kanaya, Tante? Kanaya ada disini?" tanya Devan langsung saat Ratna menyebutkan nama Kanaya.
Jangan lupa, like, komen, vote dan hadiahnya.