Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Tawanya Begitu Indah


__ADS_3

"Della!" Panggilnya. Della terlihat gugup.


"Dell, kamu kenapa tidak mengangkat teleponku?" tanyanya.


"Aku..." Adella belum menjawabnya sudah ku potong.


Pria itu, sudah kuduga di adalah pacarnya. Frans, tampak terkejut dengan perlakuanku pada Adella. Dan Della pun terkejut, tapi kubiarkan saja.


"Dia siapa, Dell?" tanyanya pada Adella.


"Aku Elvano pacarnya, dan kamu?" jawabku sambil ku tersenyum padanya, sekaligus bertanya padanya.


Adella memandangku dengan terkejut, tetapi malah ku balas kecupan di pipinya.


"Kenapa sayang? Tidak usah malu - malu mengakui hubungan kita," ujarku sambil tersenyum manis padanya.


"Della!" Seru pria itu. Dia tampak kesal dan berbalik pergi.


"Frans.. ini... sebenarnya...," ujar Della hendak mengatakan yang sejujurnya dan mendekati Frans. Langsung kutarik kembali Adella, agar tidak mendekati Frans. Aku sungguh tidak ingin sahabatku berhubungan dengannya. 'Apa sih yang di lihat Adella dari pria itu?' batinku.


"Elvano, sudahlah!" Teriak Adella padaku, dan berusaha mengejar Frans, namun ia terlambat Frans sudah memanggil taksi dan masuk ke dalam taksi itu.


"Frans!" Panggilnya namun sayang Frans sudah menghilang, melaju dalam taksi itu.


"Elvano! Lihat apa yang sudah kamu lakukan!" Ujarnya marah padaku.


"Dell, aku melakukan ini agar kamu tidak bertemu lagi dengannya. Jangan sia - siakan hidupmu hanya untuk menunggunya!" Ujarku menyadarkannya.


Adella tertawa.


"Lihat siapa yang bicara!" Ujarnya sarkastik dan menatapku tajam. Ia terlihat kesal dan marah padaku.


"Lihat siapa yang tidak bisa melupakan mantannya dan menyia - nyiakan hidupnya menunggu sesuatu yang tidak mungkin terjadi!" Ucapnya padaku, membuatku tertohok.


"Yohanes Elvano Alvarendra, dengarkan! Sebelum kau bicarakan orang lain, harusnya kau mengaca pada dirimu sendiri!" Ujarnya sambil menatapku tajam. Kemudian pergi meninggalkanku.


Ingin rasanya ku umpat dia, karena apa yang di katakannya.Namun sayang, apa yang di katakannya memang benar adanya. Aku dan Adella sama. Kami sama - sama jatuh cinta pada orang yang tak mungkin kami miliki lagi.


********


"Yang, aku benar - benar harus pergi hari ini, tapi aku akan pulang secepatnya," ujar Devan pada Kanaya. Sambil ia menaruh beberapa pakaian ganti ke dalam tas dufflenya.


"Sudah, tidak apa, Yang. Kalau kamu harus kerja, ya bekerjalah, aku tidak akan menghalangi," jawab Kanaya sambil tersenyum.


"Tapi, aku tidak ingin meninggalkan kalian. Apalagi, saat waktunya Princesss sebentar lagi lahir." ujar Devan sambil berlutut dan memegang perut Kanaya dan menciuminya.

__ADS_1


Kanaya tersenyum.


"Prediksi Dokter Gita kan masih 2 minggu lebih, Yang. Nggak perlu khawatir lagian kamu kan hanya ke kota D, nggak terlalu jauh. Kalau ada apa - apa kamu bisa langsung pulang," ujar Kanaya menenangkannya.


"Princess, baik - baik ya. Jaga Bunda...." ujar Devan sambil menjaga perut Kanaya sekali lagi sebelum ia berdiri.


Ia meneruskan mengepak pakaiannya dan menutup resleting pakaiannya saat sudah selesai.


"Joni" Panggilnya.


Tak lama Joni datang.


"Ada apa, Pak?"


"Tolong bawa tas ini ke mobil," ujar Devan sambil menunjuk tas duffle dan tas kerjanya sekaligus.


Joni pun mengerjakan apa yang di perintahkan.


"Alvaro di mana?" tanya Devan.


"Ada di bawah sama Eyang dan Oma," jawab Joni lalu pergi membawa tas Devan.


"Elvano jadi jemput Alvaro?"tanya Devan sambil menoleh ke arah Kanaya.


"Ya, dia sudah di jalan," jawab Kanaya sambil merangkul lengan Devan dan berjalan keluar bersamanya.


"Ya, dia cerita katanya sudah membeli sebuah rumah kemarin," jawab Kanaya, dan Devan mengangguk. Meskipun ia sempat terkejut dengan cepatnya Elvano memutuskan untuk membeli rumah dan pindah.


"Alvaro sendiri bagaimana, Ay? Apa dia sudah bertanya mengenai Elvano?" tanya Devan sambil mereka berjalan perlahan menuruni tangga.


"Belum," jawab Kanaya pendek.


Mereka bertiga memang sudah sepakat untuk tidak membuat Alvaro menjadi bingung atau takut dengan identitas Elvano sebenarnya, sambil menunggu hingga Alvaro sudah lebih siap untuk mengetahuinya.


Mereka bertemu Alvaro, Alika dan Ratna di ruang keluarga dan Devan pun pada mereka.


"Alvaro, Ayah pergi kerja dulu ya, Alvaro jaga Bunda, Oma, Eyang dan juga Dede ya." Ujar Devan sambil menggendong Alvaro keluar rumah menuju mobilnya di ikuti oleh Kanaya, Ratna dan Alika.


"Iya Ayaaah. Ayah ndak ucah atut. Alo pasti aga Unda, Oma, Yang dan Dede," ujar Alvaro sambil menepuk dadanya dengan tegap.


Devan tersenyum lebar mendengarnya.


"Itu jagoan Ayah!" Ujarnya sambil mengusap kepala Alvaro dan mencium pipinya.


Saat itu sebuah mobil terbilang mewah, masuk ke halaman rumah, dan wajah Elvano yang tersenyum terlihat dari jendela mobil yang terbuka. Hanya membutuhkan waktu sebentar bagi Elvano untuk memarkir mobilnya dan turun menghampiri mereka.

__ADS_1


"Mau pergi, Van?" tanyanya saat melihat Devan tengah berpakaian rapi dan mobil telah siap untuk berangkat di dekatnya. Ia pun menyalami Devan, Kanaya, Alika dan Ratna yang ada di sana.


"Iya, mendadak ada kerjaan di kota D," jawab Devan.


"Alvaro, Om Papa Elvano udah datang tuh, katanya mau ajak main Alvaro main ke taman," ujar Devan pada Alvaro.


"Om Papa Elpano!" Panggil Alvaro sambil mengangkat tangannya tinggi minta di gendong oleh Elvano, dan Elvano pun langsung meraihnya.


"Elvano, titip Alvaro ya," ujar Devan saat ia menyerahkan Alvaro.


"Iya, Van. Berapa hari rencanya kamu pergi?" tanya Elvano.


"Kalau bisa sih secepatnya selesai, besok inginnya langsung pulang," jawab Devan dan Elvano mengangguk sambil mencium pipi Alvaro.


"Aku pergi ya, Sayang." ujar Devan sambil merangkul pinggang Kanaya dan mencium keningnya.


"Iya Van, kamu hati - hati ya," ujar Kanaya menatap Devan.


"Iya sayang," ucap Devan, lalu gerakan bibirnya mengucap 'I love you' dan Kanaya membalas hal yang sama.


Devan pun pergi dengan di antar Budi, supirnya ke Bandara.


"Masuk dulu, Kak El." ujar Kanaya sambil menunjuk ke arah pintu masuk.


Elvano tersenyum dan melangkah bersama Kanaya masuk kedalam rumah, sementara Alvaro ada dalam gendongannya.


"Kapan rencana lahiran, Ay?" tanya Elvano sambil melirik ke arah perut Kanaya. Sekelebat terpikir di benaknya saat Kanaya hamil Alvaro selama 9 bulan lamanya dan ia tidak ada bersamanya untuk menaninya. Lagi - lagi penyesalan datang, dan berharap ia ada di sana untuknya.


"Masih 2 minggu lagi," jawab Kanaya sambil mengelus perutnya yang tiba - tiba bergerak dan duduk di sofa.


"Gerak ya?" Elvano bertanya. Ia teringat saat ia masih di penjara dan Kanaya datang dalam keadaan hamil, dan memperbolehkan menyentuh perutnya.


Pertama kali dalam hidupnya ia begitu bersemangat untuk hidup setelah sekian lama. Alvarolah yang merubah hidupnya dan memberinya motivasi.


Tapi kali ini, meskipun ia ingin menyentuh perut Kanaya lagi. Ia tidak berani meminta. Kanaya Istri Devan, dan anak itu anak Devan, bagaimana mungkin ia lancang menyentuh perut Kanaya saat ini.


"Iya. Dia memang tidak seaktif Alvaro waktu dulu, tapi ia juga cukup kuat kalau menendang," ucap Kanaya sambil tertawa. Tawanya begitu indah terdengar di telinga Elvano.


"Mau minum apa, Kak El?" tanya Kanaya.


"Nggak usah, Ay. Aku... sebaiknya langsung aja biar nggak kemalaman," ujar Elvano.


"Siti, tolong ambilkan tas Alvaro," pinta Kanaya pada Siti asisten rumah tangganya. Kanaya memang sudah menyiapkan keperluan Alvaro yang mungkin di butuhkan Alvaro nanti.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2