
Elvano dan Ardi pun masuk kedalam mobil Elvano.
"Bandara mana, Pak?" tanya Ardi yang duduk di kursi pengemudi mobil Elvano. Setahu Ardi ada beberapa Bandara yang ada di kota mereka, Bandara internasional untuk pesawat komersil dan ada beberapa Bandara yang di kelola untuk swasta, yang biasa di pakai mereka untuk pesawat pribadi mereka.
"Bandara mana lagi? Kau pikir Devan mampu untuk membeli pesawat pribadi?!" Hardik Elvano pada Ardi. Ardi pun tidak menjawab dan langsung mengendarai mobil Elvano menuju Bandara internasional.
Pesawat yang di tumpangi oleh Kanaya dan Devan telah mendarat dengan selamat di kota B malam itu. Entah bagaimana caranya pihak kepolisian di kota D tidak mengetahui keberadaan mereka di Bandara Kusuma di kota D.
"Ay, bangun Ay. Kita sudah sampai," ujar Devan yang membangunkan Kanaya yang baru saja tertidur di pesawat.
Kanaya terbangun dan melihat sekelilingnya, ia menyadari bahwa mereka sedang berada di pesawat dan teringat apa yang terjadi malam itu.
"Kita sudah sampai, Van?" tanya Kanaya nyaris tak percaya.
"Iya, Ay. Ayo kita turun," ajak Devan sambil tersenyum.
Kanaya sangat terharu, ia tidak menyangka akhirnya ia bisa keluar dari kota D dengan selamat. Malam itu merupakan malam yang menegangkan baginya, saat Gilang harus mengendarai mobilnya dengan waspada dan menghindari blokade jalan aparat melalui jalan - jalan kecil sampai akhirnya mereka sampai di Bandara Kusuma.
"Pak Devan, Pak Alvian sudah menyiapkan hotel untuk Ibu Kanaya dan Bella. Kalau Bapak mengizinkan," ujar Gilang.
Devan memandang ke arah Kanaya, menanyakan pendapatnya.
"Terserah kamu saja, Van. Dimana saja aku tidak keberatan," ujar Kanaya. Ia tidak ingin merepotkan, baginya dimana saja ia tinggal ia sudah sangat bersyukur.
"Terima kasih, Gilang. Tetapi biar Kanaya dan Bella tinggal bersamaku saja." ujar Devan.
Devan berpikir jika Kanaya akan aman jika bersama dengannya. Ia akan bisa melindungi Kanaya, di bandingkan jika Kanaya tinggal di Hotel hanya berdua dengan Bella saja.
"Baiklah, Pak Devan. Di luar sudah ada mobil yang menunggu kita untuk mengantarkan kita pulang," ujar Gilang.
Devan mengangguk dan lagi - lagi merasa berterima kasih atas kebaikan dari Alexander David Mahendra. Mereka pun turun dari pesawat dengan di antar oleh kru pesawat itu. Dua buah mobil telah menunggu mereka di depan Bandara pribadi milik David. Dan menggenggam tangan Kanaya dan berjalan ke arah mobil yang menunggu mereka, setelah itu ia berbalik dan menghadap Gilang yang berjalan mengikutinya.
"Gilang, terima kasih atas bantuanmu. Tanpa bantuanmu saya tidak tahu apakah bisa menemukan Kanaya. Terima kasih," ujar Devan dengan tulus sambil menyalami Gilang.
"Sama - sama Pak Devan, sudah tugas saya membantu Bapak. Saya harap Bapak dan Ibu Kanaya bisa beristirahat dengan tenang malam ini. Hati - hati di jalan," ujar Gilang sambil menyalami Devan.
__ADS_1
"Pak Gilang, saya pribadi sangat berterima kasih atas bantuan Bapak," ujar Kanaya yang bisa membaca bahwa Gilanglah yang membantu Devan menemukannya.
"Sama - sama, Bu." jawab Devan sopan sambil tersenyum memandang Devan dan Kanaya. Dalam hati ia pun lega bisa membantu mereka.
"Kalau Bapak atau Ibu butuh bantuan saya lagi, Pak Devan tinggal hubungi saya," ujar Gilang.
Devan dan Kanaya pun mengangguk.
Mereka masuk kedalam mobil, dan mobil mulai melaju membawa mereka ke tujuan mereka masing - masing.
Kanaya dan Bella saling pandang, merasa lega karena telah sampai di kota B.
Tak lama mereka telah sampai di depan sebuah rumah.
"Ayo, Ay. Kita sudah sampai," ajak Devan kemudian keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Kanaya.
Kanaya keluar dan memandang rumah yang ada di depannya.
"Ini rumahmu, Van?" tanya Kanaya sambil memandang rumah yang cukup besar dan tampak asri itu.
"Iya, Ay. Tidak besar, tapi paling tidak layak untuk ditinggali," ujar Devan sambil tersenyum.
"Kanaya, apa itu kamu, Nak?" tanya Alika, Ibunda Devan yang sedang menunggu di ruang tamu rumah itu.
Devan memang telah memberitahu Ibundanya perihal menghilangnya Kanaya, dan ia pun sempat memberi tahu Ibunya jika ia kembali bersama Kanaya.
Kanaya terkejut melihat Bunda ada di sana. Bunda pun beranjak dan menghampiri dan memeluk Kanaya yang terlihat sangat lelah malam itu.
"Sudah lama sekali, Bunda tidak melihatmu, Kanaya," ujar Bunda sambil memeluk Kanaya dengan erat dan mengelus pundaknya dengan rasa sayang.
"Kanaya juga sudah kangen Bunda, Bunda apa kabar?" tanya Kanaya, terharu bisa bertemu dengan Bunda.
"Bunda baik, Nak. Bunda sangat senang bisa bertemu dengan kamu lagi, Nak." ujar Bunda sambil menatap Kanaya. Wajah Kanaya terlihat masih pucat dan lingkaran hitam terbayang di bawah matanya. Terlihat sekali ia kurang beristirahat.
Seseorang asisten rumah tangga datang dan membawakan teh hangat.
__ADS_1
"Ayo minum dulu," ujar Bunda sambil mengajak Kanaya duduk di sebelahnya.
Mereka pun minum teh hangat yang sudah di sediakan.
"Kamu pasti Bella, ya?" tanya Bunda pada Bella yang duduk tak jauh dari mereka.
"Iya, Nyonya," jawab Bella.
"Jangan panggil Nyonya, panggil saja Bunda," ujar Bunda sambil tersenyum.
"Siti, ini Kanaya, anak Bunda. Dia akan tinggal bersama kita. Nanti kamu tolong bantu, ya, kalau Kanaya membutuhkan sesuatu," ujar Bunda pada Siti, asisten rumah tangga di sana.
"Baik, Bu," jawab Siti sambil tersenyum.
"Dan nanti, tolong antarkan Bella ke kamarnya juga," ujar Bunda sambil menunjuk Bella yang sepantaran dengan Siti.
Siti mengangguk dan tersenyum pada Kanaya.
"Bunda, mengobrol nya besok saja ya, Kanaya biar istirahat dulu, ini sudah malam," ujar Devan saat melihat indikasi Bunda ingin bertanya banyak hal pada Kanaya.
"Iya, Bunda tahu. Kamu pasti lelah, istirahat saja dulu, Bunda sudah menyiapkan kamar untukmu," ujar Bunda, dan Kanaya yang sudah sangat letih pun mengangguk. Bunda mengajak Kanaya ke sebuah ruangan tak jauh dari ruang tamu bersama Devan, sedangkan Bella pergi bersama dengan Siti ke kamar tamu lain.
"Ini kamar mu ya, Ay. Kalau ada yang kurang tinggal bilang saja, biar Devan yang siapkan," ujar Bunda sambil mendudukan Kanaya di ranjang kamar itu.
"Iya Bun, maafkan Kanaya yang sudah merepotkan Bunda dan Devan," ujar Kanaya sambil menatap Bunda dan Devan bergantian.
"Nggak Ay, Bunda nggak repot kok. Apalagi Devan dia senang sekali kalau kamu ada di sini Ay," ujar Bunda sambil melirik Devan yang menunggu mereka selesai berbicara.
"Sekarang kamu istirahat dulu. besok pagi kita bicara lagi?" ujar Devan. Devan pun beranjak dan keluar dari kamar Kanaya.
Pagi belumlah menjelang, dan mereka baru saja tertidur beberapa jam, namun Kanaya sudah terbangun dari mimpi buruknya.
"Tidak kak Elvano! Lepaskan aku, aku mohon Kak El, tolong lepaskan akuuuu!" Teriak Kanaya dengan terengah - engah dan tangannya memukul - mukul tubuh seseorang.
"Ay..., bangun Ay...."
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa like, komen dan vote.