Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Salam Perpisahan


__ADS_3

"Kanaya tidak terjadi apapun dalam 4 tahun pernikahanku dengan Elvano. Dia menganggap Keira sebagai anaknya karena ia telah berjanji padaku, untuk menjaga nama baikku, dan juga Keira." ujar Adella.


"Akan tetapi hubunganku dengan Elvano pure hanya sebagai sahabat, tak ada kisah romance antara aku dan dia," tambahnya lagi sambil menatapku, dan aku tahu ia tidak berbohong.


"Kenapa?" tanyaku heran. Mereka terlihat kompak bersama, dan ternyata tidak ada rasa cinta di antara mereka.


Meskipun Elvano menikahi Adella karena ingin membantunya, Akan tetapi mereka berdua adalah dua orang dewasa yang berlawanan jenis. Bagaimana mungkin hidup bersama selama 4 tahun tanpa ada perasaaan yang timbul? Apalagi sahabat bisa saling jatuh cinta, bukan. Seperti aku dan Devan.


"Karena dia tidak mungkin mencintaiku, Kanaya. Dia hanya mencintaimu. Dia selalu mencintaimu, bahkan sampai detik ini!" Ujar Adella padaku.


Pernyataan Adella membuatku sangat terkejut. Aku tidak pernah menyangka bahwa Kak Elvano akan menyimpan perasaan padaku sedemikian lama. Apakah ia mempunyai rasa ini setelah perceraian kami? Bagaimana mungkin ia menutupinya rapat - rapat selama ini? Bahkan saat aku bersama dengan Devan, dan ia ada di sekitar kami?


Aku menoleh ke arah Kak Elvano yang masih bersama dengan Alvaro dan juga Clara, aku hampir tidak percaya pada apa yang kudengar, kulihat Alvaro dan Clara tertawa tergelak saat Kak Elvano mengatakan sesuatu kepada mereka. Mereka bertiga terlihat sangat akrab.


"Dia tidak menyuruhku mengatakan ini. Ini adalah keinginanku sendiri Kanaya. Karena aku menyayangi Elvano sebagai sahabat, dan aku ingin terbaik untuknya,"


"Bagi Elvano tidak ada wanita lain dalam hidupnya. Hanya kamu Kanaya, satu - satunya wanita yang ada di hatinya sejak dulu. Aku pikir kamu harus tahu tentang ini," ujar Adella memberitahukan alasannya mengatakana ini padaku.


Ia menepuk pundakku perlahaan, seperti memberiku kekuatan untuk menerima apa yang di sampaikannya. Kemudian Adella beranjak dan membiarkanku untuk berpikir sendiri di kursi taman itu.


Tak terasa 2 jam sudah berlalu dan pesta itu pun berakhir. Seperti janjinya, Elvano ikut pulang bersama kami. Ia bermain bersama dengan Alvaro dan Clara selama 2 jam lamanya. Bisa kudengar suara gelak tawa Alvaro dan Clara yang bersenda gurau dengannya di ruang keluarga. Kubiarkan mereka bermain dan melepas rindu beberapa lama, karena besok mereka tidak sekolah, sampai waktunya Alvaro dan Clara untuk tidur karena sudah larut malam.


"Aku pulang ya Ay, makasih udah ijinin aku main sama anak - anak," ujar Elvano sambil memakai sepatunya di teras depan rumah.


"Ya, hati - hati di jalan,Kak El," jawabku sambil mengantarkannya ke luar rumah dan berjalan menuju mobilnya.


"Ya Ay, makasih. Kalau ada apa - apa jangan sungkan untuk menghubungiku ya," ujar Elvano sambil menatapku dan mengenggam erat kedua tanganku.


Kak Elvano, kembali mengecup pipiku sebeluma ia masuk ke dalam mobilnya, dan melaju meninggalkan rumahku, meninggalkanku dengan rasa yang tak menentu.


Selepas kepergian Kak Elvano, aku masuk ke dalam kamarku dan memutuskan untuk mandi dan menjernihkan pikiran. Setelah selesai mandi aku masuk kedalam closet pakaianku menimbang - nimbang akan memakai apa kau malam itu. Pilihanku jatuh pada kemeja putih milik Devan yang tergantung rapi diantara beberapa pakaiannya yang masih ku simpan. Ku coba menghirup pakaian itu, dan samar - samar kurasakan wangi tubuh Devan.


"Devan...." kupanggil namanya karena aku sangat merindukannya, ku ingin bercerita padanya apa yang kurasakan.


Kupakai kemeja itu langsung setelah mengenakan pakaian dalamku dan aku pun, berbaring di ranjang sendirian. Aku meringkuk dan meraih guling untuk menemani kesendirian ku malam itu. Kembali memikirkan apa yang kurasakan pada Kak Elvano dan ketakutanku.


Devan apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin kamu menghilang dari pikiranku dan juga hatiku, tapi rasa ini...


Aku menarik nafas panjang.

__ADS_1


Maafkan aku, karena merasakan apa yang kurasakan pada Kak Elvano. Aku sendiri pun tidak tahu mengapa atau bagaimana hal ini bisa terjadi.


Kutarik nafas dalam sekali lagi dan memejamkam mataku berharap bisa menemukan dari rasa gundahku.


******


Aku terbangun pagi itu, heran dengan ruangan yang kulihat ada di hadapanku, setelah beberapa saat aku menyadari bahwa aku berada di kamar di rumah keluargaku. Rumah dari masa kecil yang ku tinggali bersama Mama, Papa, Devita Kakakku.


Kamar itu, masih sama seperti dulu, saat aku tinggali, sebelum aku menikah dengan Kak Elvano. Tidak ada yang berubah semuanya masih sama, lemari pakaianku, meja belajarku dan bahkan ranjang ukuran single milikku.


Aku beranjak berdiri saat tiba - tiba aku teringat sesuatu yang sangat penting yang harus aku temui di sana.


"Devan!" pekikku, teringat dia tinggal persis di sebelah rumahku.


Aku berjalan cepat menghampiri jendela dan melihat jendela kamar Devan yang terang benderang.


Dia ada di kamarnya! Pekikku riang gembira.


Aku pun langsung berlari keluar kamar dan langsung menuruni tangga dan berlari keluar rumah menuju ke rumahnya.


"Devan!!" Teriakku sambil memasuki rumah itu dan langsung naik ke lantai atas dimana kamar Devan berada.


"Devan!" Panggilku sekali lagi saat ku membuka pintu kamarnya.



"Kenapa Ay? kok lari - lari?" tanyanya sambil menertawanku, tawanya yang khas kalau dia sedang meledekku saat kami remaja dulu.


"Devan!" Panggilku sambil ke peluk dia dengan erat. Kapan lagi aku bisa memeluk dia dengan erat seperti ini?


Tak terasa bulir air mata menetes di pipiku, saat aku melepas kerinduanku padanya.


"Kenapa menangis?" sambil meraih daguku dan menatap mataku.


"Aku takut," jawabku.


"Apa yang kamu takutkan?" tanyanya padaku sambil menghapus air mataku dengan ibu jarinya.


"Aku tidak ingin kamu menghilang dari hidupku Devan," ujarku.

__ADS_1


"Dan kenapa aku harus menghilang? Bukankah sudah ku bilang aku akan selalu ada di hatimu, Alvaro dan juga Clara?" tanyanya.


"Kamu tidak mengerti..." ujarku kembali menunduk dan membenamkan wajahku di dada bidangnya.


"Membuka hatimu untuk orang lain bukan berati kamu akan melupakan aku Kanaya," ujar Devan sambil berjalan mengajakku keluar kamarnya.


Aku mendongak menatap wajahnya. Ia tampak serius mengatakannya. Seakan ia tahu apa yang membuatku gelisah meskipun aku tidak mengutarakannya.


"Dan kamu harus tahu, bahwa Elvano bukanlah orang lain bagimu," ujar Devan sambil menatapku sesaat, lalu kembali memperhatikan anak tangga yang kami turuni hingga mencapai lantai bawah rumahnya.


Aku tahu, Kak Elvano bukanlah orang baru yang ku kenal dalam hidupku, tetapi tetap saja....


"Elvano pernah ada di hatimu, namun sesungguhnya dia masih ada di sana dan tidak pernah meninggalkanmu. Dan kamu Kanaya, justru kamu yang membuka hatimu untukku," ujar Devan lagi, entah apa maksud perkataannya, bahwa justru akulah yang sudah membuka hatiku untuknya? Bukankah memang selama ini hatiku memang untuknya, Devan Permana seorang?


"Dan selama itu, kamu memberikan yang terbaik darimu untukku. Aku sungguh sangat beruntung bisa memilikimu dan menjadi bagian dari hidupmu," ujarnya


Ia kemudian membuka pintu rumahnya dan kami berjalan keluar ke halaman pekarangan rumah kami berdua.


Aku mencoba mencerna apa yang di katakannya


"Tapi Devan, aku sungguh - sungguh mencintaimu?" ujarku tidak mengerti.


"Aku tahu sayang, dan aku pun mencintaimu dengan sungguh - sungguh," ujar Devan sambil tersenyum dengan penuh kehangatan.


"Hidupku bersamamu adalah hal yang sangat berarti untukku, tetapi waktuku bersamamu sudah usai Kanaya, sekarang saatnya kamu memberi kesempatan padanya," ucap Devan.


Aku memandang Devan dan mencari kesungguhan dari kata - katanya. Dan ia memang bersungguh - sungguh mengatakannya.


"Aku ingin kamu bahagia.Kamu berhak untuk bahagia, dan aku yakin ia bisa membahagiakanmu dan anak - anak." ujar Devan.


Ia tersenyum dan mengecup keningku begitu dalam, sehingga dapat kurasakan salam perpisahan yang tidak di ucapkan dengan kata - kata.


"Aku harus segera pergi Kanaya, jaga dirimu baik - baik," ujarnya sambil menatapku.


Kali ini aku tidak menangis aku mengangguk dan tersenyum padanya, melihatnya berbalik dan masuk kedalam rumahnya yang lama - lama menjadi tak terlihat, meninggalkan kepulan asap di sekitarku kemudian bunyi bip..bip...bip.. yang semakin lama semakin keras terdengar.


Saat aku membuka mataku, aku berada di dalam kamarku kembali, masih memakai kemeja milik Devan yang ku pakai tadi malam. Dan bunyi alarm telepon genggamku yang berbunyi sangat nyaringlah yang membangunkanku.


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2