Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Menjemput Kanaya


__ADS_3

Elvano bergegas turun dari lantai dua rumahnya menuju pintu keluar.


"Selamat pagi, Tuan. Apakah Tuan akan pergi pagi ini? Tuan belum menyentuh sarapan, Tuan." ujar Desi mengikuti langkah Elvano menuju pintu depan rumah.


Aku tidak sempat sarapan Desi, aku harus segera berangkat pesawasatku sudah menunggu," ujar Elvano tampak tergesa - gesa.


"Apa Tuan ingin keluar kota? Perlu saya siapkan pakaian, Tuan?" merasa heran dengan Tuannya itu hanya membawa tas jinjing kecil.


"Aku hanya sebentar saja. Bersiap - siaplah di rumah, aku akan menjemput Kanaya pulang," ujar Elvano tanpa menoleh dan langsung masuk ke dalam mobil yang pintunya telah di bukakan oleh Panji.


Desi tertegun sambil memandangi mobil yang di kendarai oleh Panji menghilang di luar pagar kediaman Alvarendra.


Nyonya pulang? Apa Tuan sudah menemukan Nyonya?" pikir Desi was - was.


Tentu saja Desi tidak berharap jika Tuannya akan menemukan Kanaya secepat ini.


Tadi malam, salah satu pelayan melaporkan bahwa Tuannya itu pulang sudah larut malam, dalam keadaan terdiam dan raut wajahnya sangatlah marah, hingga pelayan itu tidak berani memandang Elvano ataupun menyapanya.


' Apa yang terjadi? Mengapa Tuan harus naik pesawat untuk menjemput Nyonya?' batin Desi tidak mengerti.


Tiba - tiba ia teringat Gilang. Lelaki yang di suruh Devan untuk mencari Kanaya. " Apa dia sudah menemukan Nyonya dan membawanya pergi?" gumam Desi.


Desi pun menghubungi Fandi dan menanyakan keadaan Bella.


"Bella dan Nyonya ada di kota B, Bella memberitahuku tadi pagi," ujar Fandi.


"Apa mereka aman? Sebab Tuan pergi pagi ini untuk menjemput Nyonya?" ujar Desi dengan khawatir.


Fandi terdiam.


"Semoga saja. Tadi Bella mengatakan kalau mereka di lindungi oleh seseorang di kota itu." ujar Fandi dengan penuh harap.


"Semoga saja." jawab Desi pula.


Sementara itu Elvano memasuki pesawat pribadinya dengan di temani Anton, Ardi dan beberapa orang lainnya. Mereka pun take off menuju ke kota B.


Ardi telah menyuruh anak buahnya untuk pergi ke kota B dan mengecek keberadaan Kanaya, dan anak buahnya itu telah mengkonfirmasi keberadaan Kanaya di rumah kediaman Devan Permana.


****

__ADS_1


"Selamat pagi, Boss." sapa Nakula salah satu anak buah kepercayaan Gilang melalui pesawat telepon.


"Iya, Nakula. Ada berita apa?" tanya Gilang sambil beranjak dari tidurnya di apartemen singgahnya.


"Yohanes Elvano Alvarendra, baru saja take off dari kota D menuju kota B. Seperti kecurigaan, Boss. Ia mengejar Ibu Kanaya," ujar Nakula yang memantau perkembangan Elvano dan Kanaya selama Gilang beristirahat.


"Apa Ibu Kanaya masih berada di rumah, Pak Devan?" tanya Gilang sambil ia melangkah ke kamar mandi.


"Ya Boss, Pak Devan sendiri sempat pergi ke rumah Pak David tadi pagi, tapi sekarang beliau sudah kembali," lapor Nakula.


Gilang membasuh wajahnya dengan air wastafel di kamar mandinya.


"Kau jaga rumah, Pak Devan. Tunggu sampai aku datang," perintah Gilang pada Nakula.


"Siap Boss. Saya, Fajri dan juga Teo akan bersiaga di depan rumah Pak Devan." ujar Nakula.


Selepas telepon dari Nakula, Gilang pun segera mandi dan bersiap - siap untuk berangkat ke rumah Devan.


Saat tengah sampai di sana Devan telah bersiap - siap untuk berangkat ke rumah sakit untuk melakukan medical cek up atas kondisi Kanaya. Ia di dampingi oleh Beni, asistennya yang telah mengurusi berkas - berkas tuntutan dan surat pernyataan bahwa Devan Permana di tunjuk sebagai pengacara resmi dari Kanaya Zavira. Semua itu harus di lakukan sebelum Kanaya melakukan tuntutan perceraian dan hukum atas kekerasan yang di lakukan Elvano padanya.


"Bisa saya bicara sebentar dengan Bapak?" ujar Gilang. Sedangkan Nakula dan Teo berjaga di depan rumah Pak Devan.


Devan pun berjalan ke ruangan lain dengan Gilang.


"Saya mendapat kabar bahwa, Pak Elvano sedang menuju kerumah Bapak untuk membawa kembali Ibu Kanaya," ujar Gilang.


Devan tidak tampak terlalu terkejut. Ia tahu Elvano berusaha mendapatkan Kanaya kembali. Oleh sebab itu ia bergerak cepat untuk mengajukan tuntutan pada Elvano.


"Apa dia tahu dimana Kanaya?" tanya Devan.


"Menurut laporan anak buah saya, Pak Elvano sedang menuju ke rumah pak Devan," ujar Gilang.


Devan menghela napas.


"Baiklah kita tunggu saja dia. Dia pun tidak bisa memaksa masuk ke dalam rumah. Nanti biar saya yang menghadapinya." ujar Devan.


Devan pun geram pada Elvano, tetapi sebagai penasehat hukum Kanaya, ia harus menahan dirinya dan tidak boleh terbawa emosi.


"Baik Pak. Saya akan menemani Pak Devan," ujar Gilang.

__ADS_1


"Terima kasih, Gilang," ujar Devan sambil menepuk lengan Gilang.


Devan bergabung kembali dengan Kanaya dan juga Beni yang tengah membuat laporan terkait tuntutan hukum mereka.


Kanaya menoleh saat Devan masuk kembali ke dalam ruang makan mereka, dimana mereka tengah mengerjakan berkas - berkas tuntutan.


"Devan, ada apa?" tanya Kanaya.


Devan tersenyum dan mendekati Kanaya. Ia duduk di dekat Kanaya dan memutar kursi Kanaya menghadap ke arahnya.


"Elvano sedang menuju kesini, tapi kamu jangan kuatir, ada aku dan Gilang. Lagi pula Elvano tidak bisa seenaknya masuk ke rumahku, dan memaksa untuk membawamu," ujar Devan.


"Benarkah dia tidak bisa membawa ku?" tanya Kanaya dengan nada khawatir.


"Nggak Ay. Jangan khawatir," ujar Devan sambil mengenggam tangan Kanaya.


"Percaya sama Devan, Ay. Lagi pula ada Bunda di sini. Kalau ada yang macam - macam denganmu, biar Bunda yang hadapin!" Ujar Bunda Alika yang tiba - tiba datang menghampiri sambil menepuk pundak Kanaya, memberinya semangat.


"Tuh, Bunda aja semangat," kelakar Devan.


Kanaya pun tersenyum. Ia merasa cukup terhibur dan merasa aman berada di tengah - tengah mereka. Terlebih lagi Devan berada di sampingnya sekarang.


"Kamu disini saja sama Bunda, biar aku dan Gilang yang menemuinya," ujar Devan.


Kanaya tersenyum dan mengangguk. Ia tidak merasa terlalu takut lagi.


Devan tersenyum melihat senyum Kanaya dan tatapan kagum Kanaya padanya.


"Beni, apa surat kuasanya sudah siap?" tanya Devan pada asistennya.


"Sudah Pak, tinggal Bapak tanda tangani saja," ujar Beni sambil memberikan 2 lembar surat kuasa bermaterai pada Devan.


Devan memberikan surat itu pada Kanaya untuk di tanda tangani. Kanaya membaca surat itu sesaat kemudian menandatanganinya dan mengembalikannya pada Devan. Giliran Devan yang menandatangi surat itu. Sekarang Devan sudah sah sebagai kuasa hukum Kanaya.


Elvano sudah mendarat di Bandara kota B. Ia pun segera turun dan menaiki mobil yang sudah di siapkan oleh Anton asistennya untuk menjemput mereka.


"Devannnn!!! Dimana Kanaya! Kembalikan Kanaya padaku!"


Jangan lupa, like, komen, dan hadiahnya.

__ADS_1


Selamat Tahun Baru Semuanya. Semoga kita selalu di beri umur yang panjang, rezeki yang banyak dan kesehatan....🤗


Amin..


__ADS_2