
Ia pun mengancam Maya, karena teringat saat Maya mengkambing hitamkan Kanaya dan ia hampir membunuh Kanaya karenanya.
"Tenang Elvano, jangan berteriak aku akan menceritakannya padamu," ujar Maya. Ia pun takut dengan amarah dalam diri Elvano, hingga matanya terlihat memerah.
"Cepat katakan siapa laki - laki itu!" Ujar Elvano. Elvano tidak tahu jika laki - laki dalam foto itu adalah Devan, karena foto laki - laki itu hanya terlihat punggungnya saja.
"Sa.. sabar Elvano," ujar Maya terbata - bata sambil mengambil foto - foto yang lain dalam tasnya.
"I...ini," ujar Maya dengan ketakutan. Tangannya bergetar saat menyerahkan foto - foto itu.
Elvano mengambil foto - foto itu dengan kasar dan mulai melihatnya satu persatu.
'Devan? Kanaya bertemu dengan Devan tanpa sepengetahuanku? Apa yang mereka berdua lakukan di hotel ini?' batin Elvano dengan geram dan emosi saat melihat foto - foto Kanaya bersama Devan sedang menggengam tangan Kanaya dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Kanaya, yang membuat Elvano semakin emosi.
"Darimana kamu mendapatkannya?" tanya Elvano dengan geram sambil menatap tajam Maya.
"Aku... aku... melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku sendiri yang mengambil foto - foto itu." ujar Maya.
Elvano kembali memandangi foto - foto itu dengan nanar. Apalagi foto saat Kanaya dan Devan saling berpelukan dengan erat, seperti sepasang kekasih yang sedang melepaskan kerinduan. Dan dada Elvano menjadi panas. Api cemburu telah membakarnya.
"Elvano dia telah mengkhianatimu dengan dalih menginap dan menemani Mamanya. Saat kamu pergi keluar kota, dia bertemu dengan Devan di hotel itu dan aku berhasil mengikutinya. Mereka bersama - sama di hotel itu saat kamu tidak ada," ujar Maya melebih - lebihkan.
"Kanaya!!" Teriak Elvano dengan geram dan langsung membalikkan badan ke arah pintu kantornya.
Elvano pergi keluar kantornya dan membuka pintu kantornya dengan kasar hingga daun pintunya mengenai dinding dengan keras membuat Tina dan Anton terkejut.
"Panggil Panji sekarang juga!" Perintah Elvano sambil berjalan cepat menuju lift. Wajahnya penuh dengan amarah yang teramat sangat. Ia cemburu, marah dan geram pada Kanaya.
Kanaya, ternyata begitu kelakuanmu saat aku tidak ada! Bisa - bisanya kamu bersama laki - laki lain! Pantas saja kamu menolakku! Geram Elvano yang sudah di bakar api cemburu dan kehilangan akal sehatnya.
Anton segera menelepon Panji untuk bersiap - siap menjemput Bos mereka di lobby kantor.
Apa yang dilakukan Kanaya hingga Bosnya demikian murka? Anton tidak bisa membayangkan apa yang Elvano akan lakukan pada gadis malang itu.
Maya yang masih berada di dalam ruang kantor Elvano beranjak dari duduknya setelah mengatur nafasnya yang hampir saja berhenti karena ketakutan saat melihat kemurkaan Elvano. Namun sekarang ia dapat tersenyum dengan lebar, mengetahui rencananya akan berhasil. Elvano tidak akan memberi ampun pada Kanaya karena telah menghkhianatinya dengan Devan.
__ADS_1
'Elvano, saat Kanaya sudah tidak ada lagi, kamu akan kembali padaku,' batin Maya sambil tersenyum penuh kemenangan.
***
Kanaya sedang menyiapkan makan malam dengan di bantu oleh Desi. Ia sendiri yang memasak makan malam untuknya dan Elvano sore tadi.
"Semua sudah siap, Nyonya. Tinggal menunggu Tuan pulang," ujar Desi sambil tersenyum.
Desi sangat senang dengan perubahan sikap dari Tuannya itu. Ia pun ikut berbahagia, jika hubungan rumah tangga Tuan dan Nyonyanya menjadi langgeng.
Baru saja Desi selesai berkata, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah dan pintu mobil yang terbuka dan di banting dengan keras, membuat Kanaya dan Desi saling pandang.
"Kanayaaaaa!!" Teriak Elvano saat membuka pintu depan dan memasuki rumah.
Kanaya menelan ludahnya mendengar suara penuh amarah dari Elvano. Ia mempunyai firasat yang tidak baik akan apa yang terjadi.
'Ya Tuhan, apa yang akan terjadi?' batin Kanaya. Sambil menahan nafasnya.
Wajah Kanaya langsung pucat pasi saat melihat Elvano melangkah menuju arahnya sambil menatapnya tajam penuh amarah.
"Jangan berpura - pura kamu!" Teriak Elvano sambil melempar foto - foto Kanaya bersama Devan ke tubuh Kanaya hingga berhamburanlah foto - foto itu.
Mata Kanaya membelalak bukan karena terkejut dengan apa yang Elvano lakukan, tetapi juga karena melihat foto - foto dirinya dengan Devan. Seketika itu, ia pun tahu mengapa Elvano terlihat sangat marah padanya.
"Kak El.. Elvano.. biar aku jelaskan," ujar Kanaya sambil berjalan mundur melihat kemurkaan Elvano padanya.
"Mau jelaskan apa? Bahwa kamu berselingkuh? Bertemu dengan kekasihmu di hotel dengan diam - diam?" tanya Elvano yang hanya berjarak beberapa meter saja dari kanaya.
"Tuan, saya mohon bersabarlah, biarkan Nyonya menjelaskannya terlebih dahulu" pinta Desi sambil menghalangi Elvano dari meraih Kanaya. Saat itu Elvano hampir saja berhasil mencengkram Kanaya.
"Minggirlah Desi! Jangan ikut campur!" Teriak Elvano sambil membelalakan matanya kepada Desi karena sudah berani melawannya.
"Saya mohon Tuan, sebelum Tuan menyesal," pinta Desi dengan wajah antara takut dan iba dengan apa yang akan diterima Nyonyanya.
"Saya peringatkan untuk terakhir kalinya Desi! Minggir, atau kamu mau kehilangan pekerjaanmu?!" Teriak Elvano dengan penuh amarah, kali ini dengan mencengkram tubuh Desi yang berusaha melindungi Kanaya. Desi meringis kesakitan. Namun, ia tidak bergerak.
__ADS_1
"Desi, pergilah!" Ujar kanaya setengah berteriak melihat apa yang Elvano lakukan pada Desi.
Desi melihat kearah Kanaya dan menggeleng.
Namun Kanaya tahu, Desi mempunyai keluarga yang harus ia nafkahi dan ia tidak ingin Elvano memecat Desi. Dan kalau Elvano sampai menyakiti Desi, Kanaya tahu akan berakibat fatal padanya, karena usia Desi yang sudah tidak muda lagi.
"Desi, tidak apa, aku akan baik - baik saja," ujar Kanaya berusaha tenang.
"Keluar dan jangan ada yang masuk ke dalam rumah malam ini!" Teriak Elvano sambil menghentakkan tubuh Desi ke samping hingga ia terjatuh kelantai .
"Cepat keluar!" Usir Elvano.
Desi pun bangkit dan keluar setelah Kanaya mengangguk padanya.
"Kak Elvano, aku akan jelaskan semuanya," ujar Kanaya sambil menyentuh bahu Elvano perlahan, berharap akan meredam amarah Elvano padanya.
"Bagaimana kamu akan menjelaskanya, hah?!" Teriak Elvano di depan wajah Kanaya membuat Kanaya memejamkan matanya.
"Bahwa diam - diam kamu menemui kekasihmu itu saat aku tidak ada? Begitu?" tanya Elvano dengan nada mengejek.
"Tidak Kak Elvano, bukan begitu. Aku hanya menemui Devan untuk makan siang," ujar Kanaya berusaha untuk menerangkan.
"Kamu pikir aku akan percaya dengan omong kosong itu? Kau menemui Devan untuk makan siang di hotel? Apa kau anak kemarin sore?" ujar Elvano tidak menerima penjelasan Kanaya.
"Tapi itu yang sebenarnya terjadi, Kak Elvano," ujar Kanaya masih membujuk Elvano.
"Kau yang menyebabkan semua ini Kanaya!" Bentak Elvano, dan seketika menyeret Kanaya kelantai atas.
"Kak Elvano, apa yang akan kamu lakukan? Kak Elvano lepaskan aku," ujar Kanaya memberontak, berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Elvano di pergelangan tangannya.
Kesulitan menyeret Kanaya ke atas, Elvano memanggul Kanaya ke atas pundaknya.
"Turunkan aku Kak Elvano! Lepaskan aku Kak Elvano!" Teriak Kanaya sambil memukul - mukul punggung Elvano, berusaha agar Elvano melepaskannya.
Jangan lupa like, komen dan vote.
__ADS_1