Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Penyelidikan Devan


__ADS_3

***Kalau berkenan tekan tombol likenya yuk. Minimal bisa sampai 50 like author udah seneng banget kok, syukur- syukur kalau bisa sih lebih dari itu😁 Yuk, sebelum membaca tekan tombol like..like..likenya dong😄biar crazy up nya bisa langsung di percepat hehehehe dan jangan lupa selalu tinggalkan komentar ya, biar author lebih semangat lagi buat nulis.


🌺🌺 Happy Reading....🤗***


Kanaya terpaku di depan jedela ruang tamu sambil memegang telepon genggamnya di depan dada. Ia menggigit bibir bawahnya.Menampakkan ia sedang resah dan gelisah.


Apa aku harus menemuinya hari ini? Apa Alvaro siap untuk bertemu dengannya hari ini? Apa yang harus aku katakan pada Alvaro? Pikir Kanaya sambil tangannya mengetuk - ngetuk layar monitor di telepon genggamnya.


"Ay, ada apa sayang?" tanya Devan yang tiba - tiba ada di belakangnya dan memeluknya.


Kanaya menoleh dan melihat Devan yang sedang memandangnya, kemudian memutar tubuhnya hingga mereka berdua saling berhadapan. Tangan Devan memengangi pinggang Kanaya dengan lembut.


Kanaya memandangi Devan, berpikir untuk mengatakan pada Devan mengenai Elvano."


"Siapa yang barusan telepon? Apa ada yang menganggumu?" tanya Devan seperti yang seperti biasa. Bisa melihat kegelisahan yang di rasakan di diri Kanaya. Kanaya bagaikan sebuah open book di hadapan Devan, karena kedekatan mereka sejak kecil.


Kanaya menggeleng.


"Kak Elvano baru saja meneleponku," jawab Kanaya jujur. Ia memang tidak berniat menyembunyikan hal itu dari Devan.


"Yohanes... Elvano Alvarendra?" tanya Devan dengan mimik wajah terkejut. Bahkan Devan pun tidak mengetahui jika Elvano telah bebas dari penjara.


"Ya, dia bilang dia sedang ada di sini untuk beberapa hari, dan ia ingin bertemu dengan Alvaro." tutur Kanaya.


Devan menarik nafas panjang. Ia tahu pada akhirnya ini akan terjadi cepat atau lambat. Bagaimana pun Elvano adalah Ayah kandung dari Alvaro. Dan Alvaro berhak untuk bertemu dengannya.


"Lalu apa jawabanmu?" tanya Devan ia ingin tahu pendapat Kanaya mengenai hal ini.


"Devan, aku sangat tahu kamu sangat menyayangi Alvaro dan Alvaro pun sangat sayang padamu. Aku memang mengatakan ia boleh mememui Alvaro, akan tetapi aku belum bisa menentukan waktunya, sebelum aku bicarakan ini denganmu. Aku harap kamu tidak akan keberatan, jika Alvaro bertemu dengannya," ujar Kanaya.


Devan memandang wajah Kanaya dan mengelus lembut kepala istrinya itu. Ia tahu Kanaya tidak berbohong dan apa yang di katakan Kanaya memang benar adanya.

__ADS_1


Memang di dasar hati Devan ada rasa sedikit cemburu, dan takut jika akhirnya Alvaro tidak lagi memandangnya sebagai Ayah, namun ia sangat tahu jika Alvaro dan Elvano berhak untuk bertemu satu sama lain dan ia merasa tidak punya hak untuk keberatan.


Akan tetapi ia juga harus memastikan, jika mereka akan baik - baik saja jika mereka menemui Elvano nanti.


"Ya, tentu saja. Kalau kamu tidak keberatan, biar aku yang antar kalian nanti. Kapan rencananya kalian akan bertemu?" tanya Devan.


"Aku belum memutuskan kapan dan dimana, tapi Kak Elvano bilang dia ada waktu nanti sore," ujar Kanaya mengatakan apa yang Elvano katakan padanya.


"Oke, kamu hubungi Elvano. Nanti sore,aku antar kamu dan Alvaro untuk menemuinya." ujar Devan sambil tersenyum.


"Apa yang harus aku katakan pada Alvaro?" tanya Kanaya sambil memandang kearah kedua bola mata Devan, dan dalam beberapa detik ia telah menyesal menanyakannya.


Devan memang bereaksi normal dan tersenyum, namun Kanaya bisa melihat seberkas kesedihan dari pancaran mata Devan.


"Katakan saja apa yang menurutmu yang terbaik, aku yakin kamu lebih tahu mengenai hal ini," ujar Devan sambil tersenyum.


"Devan, terima kasih," ujar Kanaya sambil memeluk suaminya itu dengan erat dan Devan membalasnya sembari mengecup pucuk kepala Kanaya.


Devan duduk di dalam mobilnya, sambil memegang foto Elvano. Foto itu ia dapat dari Vito, salah seorang kenalannya yang ia minta untuk menyelidiki keadaan Elvano saat ini.


Devan memang sengaja menyelidiki Elvano,karena ia tidak mungkin membiarkan anak dan istrinya bertemu dengan seorang laki - laki yang baru saja keluar dari penjara begitu saja,meskipun ia tahu orang itu adalah Elvano, mantan suami istrinya dan juga Ayah dari Alvaro.


Ia harus yakin bahwa Elvano tidak akan melakukan sesuatu yang dapat membahayakan keluarganya.


"Sejak keluar dari penjara 6 bulan yang lalu,Pak Elvano telah merintis beberapa usaha, salah satunya perusahaan start-up 'Justklik' yang dirintisnya bersama Raka Adipura, salah seorang teman kuliahnya. Ia juga telah berpartner dengan beberapa orang pengusaha, salah satunya dengan Pak Alexander David Mahendra," tutur Vito, sejauh ini Devan tidak melihat Elvano bermasalah.


"Apakah ia pernah terlibat masalah hukum, setelah ia keluar dari penjara?" tanya Devan.


"Tidak Pak, bahkan dari penuturan banyak orang, Pak Elvano sangat mereka segani dan banyak orang yang kagum padanya," jawab Vito.


Vito pun memberikan rekaman video pertemuan bisnisnya hari ini, dan bagaimana penampilan Elvano. Bagi Devan, Elvano tampak baik - baik saja, dan pemabawaannya lebih dewasa dan tenang saat ini. Ia jauh berbeda dari Elvano yang di lihatnya terakhir kali, saat sidang cerainya dengan Kanaya.

__ADS_1


Beberapa tahun yang lalu Elvano memang terlihat gagah dan di kagumi banyak orang, apalagi dengan posisinya sebagai salah satu pengusaha yang sukses, akan tetapi Devan bisa melihat bahwa saat itu ia sangatlah emosional dan berapi - api. Namun saat ini, Elvano terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.


Apakah ia cemburu? Ya, terbesit rasa cemburu jika Kanaya dan Alvaro akan bertemu dengannya.


Namun Devan percaya pada Kanaya.Selama 1,5 tahun pernikahannya dengan Kanaya, mereka berdua selalu bisa menyelesaikan permasalahan yang timbul dengan baik, karena dasar saling percaya satu sama lain. Sehingga alasan Devan menyelidiki Elvano pun bukan di dasari rasa cemburu, tetapi lebih kepada instingnya untuk melindungi keluarganya dan memastikan bahwa keluarganya akan aman dan baik - baik saja.


Setelah menerima semua laporan dari Vito dan yakin bahwa Kanaya serta Alvaro akan baik - baik saja, ia pun meminta Budi, supirnya untuk mengendarai mobilnya pulang kerumah mereka untuk menjemput Kanaya dan Alvaro.


Di rumah, Kanaya sedang menyiapkan Alvaro untuk bertemu dengan Elvano. Ia memandikannya dan memakaikannya baju.


"Ita au mana Bunda?" tanya Alvaro sambil menarik kaos yang baru di kenakannya ke bawah.


"Kita mau... ketemu teman Bunda," jawab Kanaya sambil melirik ke arah Alvaro.


"Aunty ena?" tanya Alvaro. Ia terlihat senang jika mereka akan mengunjungi Aunty Rena. Dalam benaknya ia akan bisa bermain dengan Kakak Brayen, anak dari Adrena Clarissa Putri.


Kanaya tersenyum.


"Bukan... tapi teman Bunda yang lainnya," jawab Kanaya sambil tersenyum mendengar ucapan anaknya yang polos.


"Emen unda unya ainan ndak?" tanya Alvaro.


"Kita ketemu temen Bunda di taman bermain. Nanti Alvaro bisa bermain sepuasnya," ujar Kanaya sambil menyisir rambut Alvaro.


"Yeay! Alo ica ain!" Seru Alvaro gembira sambil menepuk tangannya.


"Halo jagoan, Ayah!" Seru Devan dari depan pintu kamr Alvaro.


"Ayah...!" Teriak Alvaro menghampiri Devan.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.


__ADS_2