Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
4 Syarat


__ADS_3

"Ya udah, ngomong aja Ay, aku dengerin," ujar Devan sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


Kanaya memandang Devan yang menunggunya berbicara.


"Van, aku mau terima kasih sama kamu, atas semua bantuan kamu buat aku dan Mama. Aku nggak tau kapan aku bisa balas semua kebaikan kamu," ujar Kanaya dengan tulus berterima kasih.


"Ay, jangan bilang kalau kamu mau pergi," ujar Devan menebak arah pembicaraan mereka.


'Biasanya kalau seseorang bilang terima kasih dan balas budi, ujung - ujungnya pasti mau pergi,' batin Devan.


"Aku bukannya mau pergi ninggalin kamu, Van. Tapi aku.... ingin mencoba hidup mandiri. Nggak seharusnya aku terlalu bergantung sama kamu. Aku dan Mama selalu merepotkan kamu. " ujar Kanaya.


" Ay!"


"Apa - apaan sih, kok kamu ngomong kaya gitu? Emangnya kamu mau kemana, Ay?" tanya Devan nggak percaya kalau Kanaya benar - benar mau pergi.


"Maaf ya, Van. Bukannya aku nggak suka tinggal di rumahmu, tapi aku nggak suka ngrepotin kamu terus. Dan lagi aku nggak enak kalau harus tinggal serumah sama kamu. Karena aku, kamu jadi bahan omongan sama orang." ujar Kanaya.


"Ya ampun, Ay...." ujar Devan sambil tepuk jidat.


"Kamu nggak usah dengerin apa kata orang! Biarin aja ora mau ngomong apa, aku sama sekali nggak peduli!" Seru Devan sambil geleng - geleng kepala.


"Jadi itu yang jadi pikiran kamu beberapa hari belakangan ini?" tanya Devan sambil memegang bahu Kanaya dan menatapnya.


"Nggak bisa gitu, Van. Aku ini seorang janda yang sedang hamil dan tinggal serumah bersama kamu. Aku nggak mau orang ngomongin kamu yang nggak - nggak," jujur Kanaya mengatakan alasan keinginannya untuk pindah.


Kanaya sungguh tidak rela jika mereka menjelek - jelekkan Devan. Padahal Devan sudah sangat baik padanya. Entah bagaimana nasib Kanaya kalau Devan tidak menolongnya. Mungkin saat itu masih terluntang - terluntang bersama dengan Bella ataupun kembali ke rumah Elvano.


"Terus kenapa Ay? Yang penting kita berdua tak melakukan apapun yang melebihi batas. Dan kita juga nggak tinggal berdua aja kan, Ay. Ada Bunda, Mamamu dan juga Siti." ujar Devan tetap tidak menginginkan Kanaya untuk pindah.


Bagaimana ia bisa melindungi Kanaya kalau mereka tinggal terpisah? Bagaimana ia bisa yakin kalau Kanaya baik - baik saja tanpa ia melihatnya setiap hari? Bagaimana kalau Kanaya ingin makan sesuatu saat tengah malam seperti yang sudah - sudah? Dan bagaimana Devan bisa tahan untuk tidak memegang perut Kanaya dan berbicara dengan makhluk mungil yang bergerak dan tumbuh di sana? Hal itu sudah mewarnai hari - harinya, dan sepertinya Devan tidak akan siap untuk kehilangan itu semua.


"Van..." ucap Kanaya hampir putus asa mencoba meyakinkan Devan.


"Iya sayang..." jawab Devan sambil menaikan alisnya ke atas menggoda Kanaya.


"Kok malah bercanda sih, Van!" Sergah Kanaya dengan cemberut.


Devan tertawa melihat Kanaya cemberut.


"Emang kamu mau pindah kemana, Ay?" tanya Devan akhirnya, dengan nada lembut.


"Untuk sementara aku dan Mama akan pindah ke apartemen, kebetulan Ibu Rena sudah memberikan aku izin untuk tinggal di sana," terang Kanaya.


"Jadi kamu sama Mamamu mau tinggal disana?" tanya Devan.


Kanaya mengangguk.


"Aku pikir itu yang terbaik, Van. Karena kita nggak bisa menjaga omongan dan pikiran orang lain kalau aku tetap tinggal bersama kamu," ujar Kanaya berharap Devan mengerti.

__ADS_1


Devan memandang Kanaya dan menarik nafas dalam.


Mungkin Kanaya memang membutuhkan ini, karena beberapa hari belakangan ini Kanaya benar - benar terlihat gelisah dan banyak melamun.


"Rencananya mau pindah kapan?" tanya Devan sambil memperhatikan Kanaya.


"Minggu depan karena apartemen itu sudah lama tidak di huni jadi perlu di bersihkan dan di cek perabotannya terlebih dahulu," terang Kanaya.


"Ok, kalau itu memang maumu," ujar Devan akhirnya.


Kanaya bernafas lega. Paling tidak Devan tidak keberatan ia pindah.


"Tapi aku punya syarat," tambah Devan.


'Syarat?' batin Kanaya sambil mengerutkan dahinya.


"Syarat apa, Van?" tanya Kanaya heran kenapa Devan memberinya syarat.


"Syaratnya ada 4," ujar Devan lagi


"Banyak banget, Van. Emang syaratnya apaan sih? Kok pakai syarat segala!" Gerutu Kanaya.


Devan hanya tertawa melihat Kanaya menggerutu.


"Syarat yang pertama kamu sama dedek harus ketemu aku setiap hari," ujar Devan.


"Ay, kamu nggak usah khawatir biar aku yang ketempatmu setelah pulang kerja. Kamu di rumah aja, tunggu aku datang," ujar Devan sambil tersenyum.


Kanaya mengelus perutnya saat merasa bayi dalam kandungannya bergerak.


"Dek, kamu setuju sama Om Devan?" kanaya bertanya pada anak dalam kandungannya. Dan Kanaya merasakan sebuah sikutan di perutnya.


"Ya sudah, apa syarat yang kedua, Van?" tanya Kanaya, saat ia akhirnya menyetujui.


"Yang kedua kamu kalau kamu pengin apa - apa, bilang sama aku. Jangan cari sendiri, janji?" ujar Devan menyebutkan syarat keduanya.


Devan khawatir jika Kanaya harus keluar malam - malam untuk mencari sesuatu sendirian. Jadi ia ingin Kanaya berjanji untuk itu.


"Ya sudah, baiklah" batin Kanaya.


Kanaya pun mengangguk menyetujui.


"Lanjut. Syarat yang ke tiga apa, Van?" tanya Kanaya sudah tidak sabar ingin tahu syarat yang ketiga.


"Yang ketiga, janji untuk ajak aku setiap kamu mau cek kehamilan," ujar Devan.


Kanaya menatap Devan.


"Ay, aku nggak mau kehilangan saat aku bisa melihat Dedek. Kamu tega sama aku?" tanya Devan dengan memelas.

__ADS_1


Kanaya tahu Devan memang sangat menyayangi anak dalam kandungannya dan selalu menanti moment saat mereka pergi ke dokter kandungan untuk memeriksan kehamilannya. Dan Devanlah orang yang paling antusias saat meliahat layar monitor di ruang dokter obygn itu.


"Aku nggak janji," jawab Kanaya sambil menoleh ke arah lain.


Bagaimana mereka akan menghentikkan gosip yang beredar kalau Devan masih mengantarkannya ke dokter kandungan, mengantri di sana dan kadang - kadang bertemu dengan orang - orang yang mereka kenal?


"Ya sudah kamu nggak boleh pindah, Ay. Syaratku cuma 4. Kalau kamu nggak bisa 1, batal semuanya!" Ujar Devan kesal.


Kanaya cemberut dan Devan pun diam saja.


"Aku nggak setuju kamu pindah," tambah Devan.


"Ya sudah, iya Van. Aku ajak kamu kalau aku mau kontrol," jawab Kanaya akhirnya setuju syarat ke tiga dari Devan.


Devan menarik nafas lega.


"Terus yang terakhir apa?" tanya Kanaya.


"Yang terakhir...." ujar Devan tertahan sambil melirik Kanaya.


"Cium aku dulu dong..." ujar Devan sambil menyodorkan pipinya dan menujuknya dengan jari.


"Devan! Jangan bercanda!" Seru Kanaya sambil memukul lengan Devan, karena kesal dengan candaan Devan.


"Siapa yang bercanda? Aku serius, Ay!" Ujar Devan dengan mimik wajah yang serius.


"Kalau kamu mau tinggal di apartemen itu, cium aku dulu dong!" Ujar Devan masih tidak bergerak dari tempatnya menyodorkan pipinya.


"Ayo, Ay! Nggak sulit kok!" Goda Devan sambil melirik ke arah Kanaya.


Humfffftt!


Mau tak mau Kanaya mendekati Devan dan mengecup pipi yang di sodorkan Devan. Namun Devan malah menoleh sehingga yang di kecupnya bukan pipi, tetapi bibir Devan.


Devan tidak menyia - nyiakan kesempatan itu dan langsung menarik ke arahnya dan menyesap balik milik Kanaya.


Sudah lama ia tidak menyesap Kanaya seperti itu, dan ia pun rindu.


Bukannya melepas bibir Kanaya. Devan malah memperdalam ciumannya, dan membuat Kanaya memejamkan matanya, ikut menikmati dan membalas ciuman Devan yang sudah lama tidak di rasakannya.


Tidak di sadari sebuah ******* keluar dari antara tautan bibir mereka.


"Ay...." panggil Devan dengan parau menetralisir gejolak perasaannya, menyatukan keningnya dengan kening Kanaya.


"Empat bulan lagi, Ay. sampai aku bisa meminang mu," batin Devan


Bersambung...


Jangan lupa untuk like, komen, vote, dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2