
Yohanes Elvano Alvarendra POV
Tiba - tiba aku merasakan sebuah tangan hangat menggenggam tanganku. Aku menoleh dan melihat Adella tersenyum padaku sambil kedua tangannya menggenggam tanganku.
Sorot matanya seperti mengatakan "Its fine, Elvano. Semua akan baik - baik saja."
Seandainya benar, aku akan sangat bersyukur.
Meskipun begitu, aku tidak ingin merusak kebahagiaan Kanaya. Aku lihat ia begitu bahagia bersama dengan Devan. Devan bukan hanya Suami dan sahabatnya. Dia bahkan pahlawan yang menyelamatkannya dari monster seperti aku.
Ya, aku adalah monster masa lalunya. Mungkin salah satu alasan ia mau memaafkan aku dan menerimaku kembali dalam hidupnya dan menganggapku sebagai teman adalah karena Alvaro. Alvaro yang membawa keajaiban dalam hidupku dan hidupnya.
Malamnya saat aku mengantarkan Adella pulang, Adella tidak banyak bicara. Dan aku pun lebih banyak diam.
Saat sampai di depan Apartemennya, aku menepikan mobilku, namun ia tak beranjak dari duduknya.
"Elvano," ujarnya.
"Ya?" tanyaku sambil menoleh. Sedikit heran karena ia terlihat serius. Adella jarang bicara serius, dia adalah tipe orang suka bicara ceplas - ceplos dan selalu ceria.
"Aku tahu pasti sakit hatimu melihatnya. Aku melihat kamu masih sangat mencintai Mamanya Alvaro, dan aku tahu mengapa,saat aku melihatnya," ujarnya sambil menatapku.Aku menghela nafas tidak menyangkalnya.
"Tapi aku lihat, dia sudah berbahagia bersama dengan orang lain, dan... aku pikir sudah waktunya kamu untuk move on;" ujarnya.
'Seandainya semudah itu, Adella.' batinku.
"Aku yakin Elvano, pasti ada wanita di luar sana yang bisa memikat hatimu seperti dia," ujar Adella sambil tersenyum.
"Yah, semoga saja Adella." jawabku.
Tiba - tiba dia tersenyum dan nyengir begitu lebar membuatku mengerutkan dahiku.
"Untuk itu, aku akan membantumu, Elvano! Aku punya beberapa teman yang baik dan juga cantik! Aku akan mengenalkannya padamu!" Ujarnya bersemangat.
"Apa?"
"Ya, aku yakin. Aku bisa mencarikannya satu untukmu! Ah, si Nadia, dia cantik aku rasa dia sama baiknya dengan mantanmu itu!" Ujarnya kemudian menyebut beberapa orang lagi temannya. Mulutnya tidak berhenti bicara sampai aku berkata padanya, "STOP! Cepat masuk! Aku mau pulang!"
Dia terbengong, kemudian dia tertawa.
"Oke, aku akan telepon besok dan atur jadwal untuk berkencan dengan teman - temanku!" Ujarnya sambil membuka pintu mobilku.
Aku speechless di buatnya!
__ADS_1
"Bye Elvano!" Teriaknya sambil ia masuk ke dalam lobby apartemennya.
****
Aku sedang berada di kantor Notaris untuk menyelesaikan proses jual beli rumah yang aku lihat minggu yang lalu bersama Adella. Dan setelah semuanya beres, aku akan mulai renovasi rumah itu. Agar bisa segera ku tinggali. Aku sudah membulatkan tekad untuk pindah ke kota B. Bisnisku bersama Raka tetap berjalan, dengan Raka yang mengaturnya di sana.
Baru saja selesai menandatangi semua dokumennya dan menyelesaikan pembayarannya, Adella menghubungiku.
"Elvano, kamu jangan lupa ya, dua jam lagi ke Cafe Flamboyan, aku dan Nadia akan menunggumu di sana!" Ujarnya langsung to the point, tanpa menyapa terlebih dahulu seperti kebanyakan orang.
Aku sebenarnya malas di jodohkan seperti ini, akan tetapi aku tak sampai hati menolak itikad baiknya agar aku bisa move on dari Kanaya. Walaupun begitu, tak setiap ajakan berkencan dengan temannya ku turuti. Aku hanya memilih beberapa orang saja dari yang ia sodorkan padaku, dan ini yang sudah ketiga kalinya. Itu pun ku terima dengan syarat.Aku mau berkencan dengan temannya asalkan dia tidak berhubungan lagi dengan Frans.
"Iya, Dell. Nanti aku kesana, aku sedang menyelesaikan jual beli rumah dulu," jawabku sambil masuk ke dalam mobil.
"Oh, sudah selesai semuanya?" tanyanya.
"Yup!" Jawab ku pendek sambil menyalakan strater mobil.
"Cakep! Selamat menjadi warga kota B, Pak Elvano!" Ujarnya sambil tertawa.
"Thanks, Dell," balasku.
"Terus apa rencanamu?" tanyanya.
"Rencana?"
"Tepat sekali timingmu!" Ucapnya dengan bersemangat. Kudengarkan sambil melajukan mobilku membelah kota B yang semakin hari semakin terasa seperti rumah untukku.
Aku sudah mulai hafal jalanan dan tempat - tempat yang ada di sana.
"Untuk?" tanyaku kurang paham apa yang ia katakan.
"Ya. Untuk memulai hidup baru!" Ujarnya.
"Dalam dua bulan kamu akan pindah kesini, dan tinggal dengan Istri barumu! Yang harus kamu lakukan hanya memilih salah satu dari teman - teman yang ku kenalkan padamu, dan menikahinya. Tenang saja Elvano, mereka semua sudah aku seleksi dengan baik. Aku hanya memberikan yang terbaik untuk sahabatku!" Ujarnya namun dapat kudengar samar - samar nada cekikikan dari mulut Adella.
Nah, mulai lagi dia. Menikah dalam waktu dua bulan? Memang semudah membalikkan telapak tangan? Meskipun itu mengingatkanku dengan pernikahanku bersama Kanaya yang hanya butuh waktu persiapan dalam waktu satu minggu.
"Terserah deh, Dell. Udah dulu yah! Aku lagi nyetir nih!" Ujarku sambil fokus pada jalanan yang aku lalui.
"Ok Elvano, jangan lupa satu setengah jam lagi, cafe flamboyan!" Ujarnya sebelum menutup panggilan telepon.
Setelah menemui kontraktor yang mengerjakan renovasi rumah, aku pun bertemu dengan Adella dan temannya di cafe flamboyan.
__ADS_1
Nadia, teman Adella memang cantik dan kalem pembawaaanya. Meskipun begitu dia bukan Kanaya, dan aku merasa tidak tertarik padanya. Jadi aku hanya mengobrol standar saja, untuk menghargai Adella dan juga Nadia, yang sudah mau repot - repot menemuiku.
Adella pindah duduk di kursi depan bersama ku saat aku baru selesai mengantarkan Nadia pulang ke rumahnya.
"Elvano, kamu harus lebih semangat sedikit dong! Jangan cuek banget!" ujar Adella protes dengan sikap ku saat bersama dengannya dan juga Nadia tadi.
"Aku nggak cuek, Din. Memang aku nggak ada rasa apa - apa sama temanmu," ujar Elvano.
"Ya, kan baru juga ketemu sekali. Nadia itu cantik loh! Udah gitu orangnya baik, dari keluarga baik - baik pula! Kurang apa coba!" Tanya Adella lagi.
"Ya," jawabku pendek.
Adella mendesah.
"Ya sudah, besok aku kenalkan kamu dengam Cynthia, siapa tahu kamu tertarik sama dia," ujarnya lagi sambil mengetik sesuatu di layar handphonenya, mungkin sedang menghubungi Cynthia.
"Kamu kapan ada waktu besok?" tanyanya.
"Aku besok nggak ada waktu, Dell. Meeting dari pagi, dan sore, aku mau bertemu dengan Alvaro," jawabku.
"Kamu ketemu Alvaro, dimana?" tanyanya.
"Di rumahnya, terus aku ajak Alvaro keluar ke taman bermain," ujarku.
Kanaya dan juga Devan sudah memberiku izin membawa Alvaro keluar bersamaku, untuk bermain bersamanya selama 1 - 2 jam. Oleh sebab itu lah aku ingin rumahku agar segera selesai, sehingga aku bisa ajak Alvaro bermian di rumah.
Adella mengangguk. Tak lama kemudian kami sampai di depan lobby apartemennya dan Adella terlihat gugup saat ia melihat ke arah lobby.
Kuikuti pandangan matanya yang tertuju ke seorang laki - laki berusia 35 tahun, tinggi standar, penampilan standar saja menurutku. Apa dia Frans? Batinku.
"Siapa, Dell?" tanyaku.
Adella tidak menjawab. Sebelum Adella beranjak keluar dari mobil, ku lajukan mobilku dan parkir tak jauh dari lobby apartemenya.
"Elvano, kok kamu ikutan parkir segala?" tanyanya heran.
"Iya, aku mau ke toilet sebentar, kebelet!" Jawabku.
Dia mengangguk dan turun dari mobilku begitu pula aku.
Adella berjalan di depanku dan terlihat gugup.
Pria yang tadi kulihat di lobby, langsung berdiri begitu ia melihat Adella.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.