Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Berhasilkah


__ADS_3

"Sebentar Pak, biar saya usahakan sesuatu," ujar Gilang.


"Sementara ini, katakan pada Ibu Kanaya dan Bella untuk bersiap - siap pergi," ujar Gilang


Devan mengangguk dan ia pun mengatakan kepada Kanaya dan Bella untuk mengepak barang - barang yang penting menurut mereka, dan Devan pun membantunya.


***


Elvano yang sedang duduk di meja kerjanya di dalam kamar, mendapat telepon dari Ardi. Ardi adalah detektif swasta yang ia sewa untuk mencari Kanaya, setelah ia belum juga mendapat kabar baik setelah beberapa hari pencarian Kanaya.


Elvano menyewa Ardi agar ia bisa segera menemukan Kanaya lebih cepat. Sebenarnya ia pun tidak ingin apa yang ia lakukan pada Kanaya di ketahui pihak kepolisian.


"Selamat malam, Pak Elvano," sapa Ardi.


"Selamat malam Ardi, apa kau sudah menemukannya?" tanya Elvano dengan antusias. Ia berharap dapat mendengar kabar baik mengenai Kanaya.


"Saya mendengar kepolisian, mengatakan bahwa Devan Permana datang secara mendadak malam ini dan ia tampak tergesa - gesa. Anak buah saya sedang menyelidiki kedatangannya dan memeriksa taksi yang di ketahui mengantarkannya." ujar Ardi.


Elvano memang sudah menceritakan perihal Devan padanya, dan meminta Ardi untuk mengawasi jika Devan kembali ke kota D.


'Devan...? Apa dia sudah menemukan Kanaya?' batin Elvano.


"Ardi! Tolong cari Devan sampai ketemu! Saya yakin ia akan menemui Istri saya! Jangan sampai dia membawanya pergi!" Perintah Elvano beranjak dari duduknya dan berjalan ke lemari pakaiannya yang besar dan mengambil baju dan celana yang panjang.


"Dan beritahu saya lokasinya sekarang, saya akan ikut kesana," ujar Elvano.


"Baik Pak Elvano, nanti setelah mengetahui lokasi pastinya akan kami kabari, Pak Elvano" ujar Ardi.


Selepas menerima telepon dari Ardi, Elvano segera bergegas berganti pakaian dan keluar kamarnya dengan tergesa - gesa.


Dalam perjalanan menuruni tangga, ia di telepon Ardi kembali.


"Kami sudah menemukan alamat Ibu Kanaya, Pak. Mereka tinggal di jalan Anggrek no 11," ujar Ardi.


"Kita ketemu di sana, Ardi," ujar Elvano.


"Baik Pak, tetapi sebaiknya kita segera kesana, karena pihak kepolisian juga telah mengetahui lokasi itu," ujar Ardi.


"Bagaimana bisa?" tanya Elvano dengan marah sambil ia membuka kunci mobilnya.


"Maaf Pak Elvano, saat kami sampai disana, polisi sudah menanyai supir taksi tersebut terkait Devan Permana," ujar Ardi.

__ADS_1


"Cepat kamu kesana Ardi! Jangan sampai kita keduluan!" Ujar Elvano sambil memutus sambungan teleponnya.


"Sial!" Umpat Elvano karena Ardi terlambat mendapatkan informasi. Elvano pun mengendarai mobilnya dengan cepat.


***


"Pak Alvian, bisa saya minta untuk evakuasi darurat dari kota D sekarang?" tanya Gilang dari sambungan telepon.


"Pak Gilang?" tanya Alvian.


"Ya, Pak. onboard 4 pax malam ini, exclusive," ujar Gilang.


"Beri waktu 5 menit, Gilang" ujar Alvian kemudian menutup percakapan telepon mereka.


Gilang menunggu telepon dari Alvian sambil memindahkan mobilnya ke depan rumah kontrakan Kanaya.


Belum sampai 5 menit, Alvian telah menghubunginya kembali.


"Gilang, pesawat menunggu di Bandara Kusuma dalam 45 menit," ujar Alvian.


"Baik Pak Alvian, kami segera kesana," ujar Gilang, kemudian segera masuk kedalam rumah. Ia pun mendekati Devan yang tengah duduk bersama Kanaya.


"Pak Devan, kita harus segera berangkat. Pesawat sedang menunggu dan akan berangkat dalam waktu 45 menit," ujar Gilang sambil melihat jam tangannya dan mengeset waktu keberangkatan pesawat.


"Ya Pak, aset milik Pak David dan Pak Alvian yang mengurusnya," ujar Gilang.


Devan pun menarik napas lega, merasa bersyukur dan berterima kasih atas bantuan Alexander David Mahendra itu.


"Kanaya, ayo kita berangkat sekarang?" ujar Devan pada Kanaya sambil membawa tas Kanaya.


Kanaya menggangguk dan mereka pun masuk kedalam mobil. Baru saja ia menstater mobilnya, tiba - tiba telepon genggam Gilang berbunyi.


Unknown number.


Gilang pun segera mengangkatnya.


"Halo?" sapa Gilang.


"Gilang, apa kamu sedang berada di jalan Anggrek 11," tanya Rafael dengan


nada menuntut dan butuh jawaban cepat.

__ADS_1


"Ya ada...."


"Cepat segera pergi dari sana Gilang, Polisi dan Suaminya sedang mengarah kesana! Mereka sudah tahu Kanaya bersama dengan Devan Permana sedang ada di sana!" ujar Rafael memperingatkan.


Devan yang duduk di sebelah pun dapat mendengar suara Rafael samar - samar. Ia Pun langsung terduduk tegak dan memandang Gilang.


"Aku baru saja mau berangkat ke Bandara Kusuma, ETA 45 menit, kau segera urus CCTV nya," ujar Gilang pada Rafael sambil mulai melajukan mobilnya, meninggalkan rumah kontrakan Kanaya.


"Ok, sedang aku kerjakan, berhati - hati lah," ujar Rafael, kemudian menutup panggilan telepon.


"Apa mereka menemukan kita, Gilang?" tanya Devan segera.


"Tenang Pak Devan mereka belum menemukan kita," ujar Gilang sambil mengendari kendaraannya sambil sesekali melirik kaca spionnya, seandainya ada yang mengikuti mereka.


Gilang tetap terlihat tenang meskipun ada beberapa pihak yang mengejar mereka.


***


Elvano akhirnya sampai di jalan Anggrek 11 bersamaan denga Ardi, namun ia terlambat. Saat mereka sampai disana pihak kepolisian terlebih dahulu sampai.


Elvano langsung turun dari mobilnya dan langsung masuk ke dalam pekarangan rumah. Ardi mengikutinya di belakang.


"Pak Elvano, darimana Bapak tahu?" tanya Kapten Riko terkejut melihat kedatangan Elvano di lokasi itu. Pasalnya ia belum memberitahu Elvano perihal Devan Permana dan Kanaya yang di perkirakan ada di rumah itu.


"Dimana Istri saya?" tanya Elvano tanpa mengindahkan pertanyaan Kapten Riko dan langsung masuk ke dalam rumah kontrakan yang saat itu telah di penuhi oleh beberapa orang polisi yang tengah memeriksa rumah tersebut.


"Maaf Pak Elvano, mereka sudah tidak ada di sini, saat kami datang," ujar Kapten Riko.


"Apa maksudmu? Bagaimana kamu bisa kehilangan mereka?" tanya Elvano dengan emosi, karena ia tidak berhasil menemukan Kanaya, dan Kanaya telah pergi.


"Kami terlambat Pak. Pada saat kami sampai rumah, rumah ini sudah kosong. Tetapi Pak Elvano tidak perlu khawatir, kami sudah menaruh penjagaan di bandara keberangkatan dan di gerbang tol," ujar Kapten Riko.


Elvano seakan tidak mengindahkan perkataan Kapten Riko. Pikirannya berkecamuk antara kesal dan was - was akan kehilangan Kanaya untuk selamanya. Elvano melihat ke sekeliling dan mendapati beberapa tumpuk buku bacaan di dekat ranjang di rumah itu. Ia pun mendekatinya dan memegang buku - buku itu.


"Kanaya...." Panggil Elvano pelan. Sambil membuka halaman sebuah buku dan melihat tulisan tangan Kanaya di sana. Ia tahu buku - buku itu milik Kanaya.


"Mereka tidak akan bisa ke luar kota malam ini?" ujar Kapten Riko berusaha menenangkan Elvano.


"Ardi cepat antar aku ke Bandara!" Perintah Elvano pada Ardi sambil menyerahkan kunci mobilnya. Ia tidak ingin kehilangan banyak waktu untuk tetap berada di sana. Ia harus segera menemukan Kanaya sebelum Devan membawanya keluar kota.


Elvano dan Ardi masuk ke dalam mobil Elvano.

__ADS_1


Jangan lupa, like, komen dan vote


__ADS_2