Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Terbayang Perlakuan Elvano


__ADS_3

"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Lisda saat ia melirik ke arah telepon genggam Maya yang menyimpan foto - foto itu.


"Aku akan memperlihatkan pada Elvano. Dengan begitu Elvano akan meninggalkan Kanaya dan aku akan bisa mendekatinya kembali," ujar Maya dengan senyum liciknya.


Maya memang hampir tidak pernah bertemu dengan Elvano lagi sejak ia keguguran. Elvano tidak pernah mengunjunginya lagi selain karena kesibukannya, ia pun selalu saja beralasan. Dengan menggunakan foto ini ia akan mempunyai alasan untuk menemui Elvano dan mendapatkan Elvano kembali.


"Baguslah, siapa yang tahu dengan foto - foto ini, pundi - pundi uangmu akan terisi kembali," ujar Lisda sambil terkekeh.


"Maksudmu?" tanya Maya sambil mengerutkan dahinya.


"Ya maksudku... Elvano pasti akan memberikanmu uang lagi, kan. Kalau kalian bisa bersama lagi. Ayolah Maya, aku tahu keuanganmu sudah menipis sejak Elvano tidak pernah mendatangimu lagi," ujar Lisda sambil tersenyum canggung.


"Diamlah Lisda! Elvano akan selalu memberikan ku uang kapan pun aku mau. aku hanya... belum memintanya lagi.." ujar Maya berusaha menutupi perlakuan Elvano yang sebenarnya pada Lisda.


"Terserah apa katamu!" Ujar Lisda sambil tertawa kecil.


'Sialan kau Lisda!' Umpat Maya dalam hatinya.


***


Setelah melajukan mobilnya menjauhi halaman hotel itu, Kanaya menepikan mobilnya dan berdiam sejenak. Ia mengetahui hatinya sangat gundah mengetahui Devan sudah berhubungan dengan wanita lain. Wanita yang sangat cantik, jauh lebih cantik dari pada dirinya.


Kanaya menatap dirinya di kaca spion dalam mobil, memandangi wajahnya. 'Pantas saja Devan menyukai Melisa, dia seorang perempuan yang cantik, harusnya aku ikut senang dan berbahagia ia memiliki seseorang yang di sayanginya,' Batin Kanaya.


Ia pun menghela napas dan melajukan mengenderai mobilnya pulang kerumah Mamanya. Sore harinya Kanaya pulang kerumah Elvano dengan di jemput oleh Panji.


Elvano sendiri baru pulang saat malam tiba.


"Selamat datang, Tuan," sapa Desi di depan pintu rumah.

__ADS_1


"Terima kasih Desi. Kanaya mana? Apa dia sudah kembali?" tanya Elvano.


"Sudah Tuan, Nyonya sedang ada di ruang baca," ujar Desi sambil melirik ke arah Tuannya, menebak moodnya hari ini. Ia berharap Tuannya tidak menyakiti Nyonyanya lagi.


"Tolong bawakan tas saya ke kamar, Desi" pinta Elvano menyerahkan kopernya dan langsung naik tangga ke lantai dua menuju ruang baca.


Elvano membuka pintu ruang baca dan melihat Kanaya yang sudah mengenakan baju tidurnya sedang berdiri menghadap rak buku sambil membuka halaman sebuah buku dan membacanya dengan serius. Kanaya pun menoleh saat melihat mendengar pintu di buka.


"Ka El..Elvano, kamu sudah pulang" tanya Kanaya. Elvano tersenyum dan menghampiri Kanaya.


"Iya, aku baru saja sampai. Bagaimana kabarmu?" tanya Elvano. Sambil menyibak rambut Kanaya ke belakang dan memegang lehernya yang dulu pernah ia cengkeram hingga Kanaya hampir saja tidak sadarkan diri.


"Aku... baik. Dokter Adam sudah membukanya kemarin sore." ujar Kanaya.


Ia merasa risih saat Elvano masih saja memegang kulit lehernya dan mengelusnya dengan lembut.


"Kamu... sudah makan?" tanya Kanaya, untuk mengalihkan perhatian Elvano dari memandangi lehernya.


"Sudah" jawab Kanaya sambil melangkah menjauhi Elvano, merasa canggung dengan kedekatan mereka.


Namun Elvano menahannya dan memeluknya dari belakang.


"Kanaya, aku kangen sama kamu," bisik Elvano sambil menghirup ceruk leher Kanaya dan mengecup perlahan pundaknya.


Kanaya menahan nafas merasakan apa yang Elvano lakukan padanya. Elvano tidak melakukan ini sebelumnya. Bukankah ia mengatakan tidak ingin menyentuhnya? Apa yang harus aku lakukan? Pikir Kanaya bingung. Ia tidak ingin membuat Elvano marah dengan pergi menjauhinya, Namun ia juga tidak mau diam disana dan merasa canggung dengan apa yang terjadi.


"Kanaya..." bisik Elvano sambil membalikkan tubuh Kanaya menghadapanya dan melingkarkan lengannya di pinggang Kanaya.


Kanaya diam membeku, ia benar - benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ingatannya akan perlakuan kasar Elvano padanya masih berkelebat di benaknya. Ingin rasanya ia berlari dari sana dan pergi menjauhi Elvano. Hatinya menolak Elvano untuk mendekatinya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu," ujar Elvano sambil menatap wajah Kanaya dan turun ke bibirnya


Jari tangan Elvano mengelus lembut bibir Kanaya sebelum ia mendaratkan kecupan di sana. Tidak seperti waktu yang lalu, kali ini Elvano melakukannya dengan lembut.


Tubuh Kanaya menegang dan keringat timbul di dahinya karena pertentangan batinnya. Ia tidak membalas kecupan Elvano di bibirnya, namun Elvano tidak berhenti di sana, ia kembali mengecup dan menyesap bibir Kanaya dengan lebih intens dan merapatkan pelukannya, membelai tubuh Kanaya dengan tangannya. Bahkan tangan Elvano menyelinap masuk ke bawah piyamanya, menyentuh kulit lembut Kanaya dan membelainya.


Kanaya terdiam kaku, dan ia masih mengingat semua perlakuan Elvano padanya, sontak tubuh Kanaya reflek menolak Elvano. Ia mendorong tubuh Elvano dan menolehkan wajahnya ke samping sehingga bibir Elvano tidak menyentuh bibirnya lagi.


Elvano berhenti mencumbunya dan menatapnya dengan tajam.


Seketika itu juga Kanaya merasa takut, jika Elvano akan menghukumnya lagi karena telah menolaknya. Wajah Kanaya pun memucat. Ia tahu sebagai Istri tidak seharusanya ia menolak Elvano, namun tubuh dan hatinya tidak rela untuk melakukannya saat itu.


"Maaf Kak Elvano... aku.. aku belum siap," ujar Kanaya terbata - bata pada Elvano dengan berkeringat dingin.


'Ya Tuhan, apa yang akan ia lakukan?' Batin Kanaya terdiam Kaku. Kanaya mempersiapkan dirinya untuk menerima perlakuan kasar Elvano lagi padanya. Tapi di luar dugaan Elvano malah mengelus pipinya dengan lembut saat Kanaya mengira ia akan menamparnya atau memukulnya.


"Tidak apa Kanaya, aku mengerti kalau kamu butuh waktu. Tapi, aku ingin kamu menemani aku tidur di kamarku, kamar kita malam ini," ujar Elvano sambil menggandeng Kanaya keluar dari ruangan membaca dan menuju kamarnya.


"Elvano, aku.. sebaiknya aku..." Kanaya menunjuk pintu kamarnya, namun Elvano berbalik menghadapnya dan berkata, " Kanaya jangan menolakku, aku ingin bersamamu malam ini." Dan ia pun menarik Kanaya masuk ke dalam kamarnya dan mendudukannya di tepi ranjangnya.


"Anggaplah kamarmu sendiri, aku akan mandi dulu," ujar Elvano kemudian mengecup kening Kanaya dan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di sana.


'Apa yang terjadi? kenapa Kak Elvano melakukan semua ini? Apakah ini sandiwaranya saja?' Batin Kanaya dengan gelisah sambil melihat sekeliling kamar Elvano.


Kanaya sudah beberapa memasuki kamar Elvano sebelumnya untuk membersihkannya, dan sekarang Elvano menyuruhnya tidur di sana seakan - akan mereka adalah pasangan yang berbahagia dan Elvano tidak pernah menyakitinya.


Mungkin Elvano bisa melakukannya, namun Kanaya? Ia masih terbayang perlakuan kasar Elvano padanya, dan menerima Elvano begitu saja? Hatinya tidaklah terbuat dari batu.


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan vote.


__ADS_2