Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Bertemu Sahabat Devan


__ADS_3

Kanaya mempercepat langkahnya dan segera masuk kedalam mobil mewah Elvano menunggu di drive way lobby kantor Elvano.


"Bapak mana Bu?" tanya Panji padanya, Namun Kanaya tidak menjawabnya. Ia sudah merasa cukup sakit hati dengan kelakuan Elvano yang bermesraan dengan Maya di depan matanya.


Kanaya mungkin tidak mencintai Elvano seperti dulu saat Elvano belum bertunangan dengan Devita, namun Kanaya telah mencoba menjadi istri yang baik bagi Elvano selama 7 bulan terakhir ini, dan apa yang dilakukan Elvano benar - benar menyakiti perasaannya. Elvano sengaja menpertontonkan kemesraan mereka di depan matanya. Elvano sengaja menyakiti perasaannya.


Kanaya tidak ingin menangis dan fokus melihat situs berita online, namun yang sebenarnya terjadi, ia sama sekali tidak bisa menangkap apa yang di beritakan di situs itu. pikirannya melanglang jauh entah kemana.


Setetes air mata jatuh di pipinya saat Elvano masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahnya. Dan Kanaya segera menghapusnya.


"Jalan Panji,"ujar Elvano pada Panji dengan nada datar.


Kanaya pun membalikkan tubuhnya menghadap jendela, tidak ingin melihat Elvano di hadapannya.


"Tidak usah terlalu berlebihan Kanaya," ujar Elvano tiba - tiba sambil tersenyum sinis.


"Kau kan sudah tahu hubunganku dengan Maya, untuk apa kau menangis?" ujar Elvano tanpa menoleh ke arah Kanaya.


"Terserah kamu Kak El, lakukan saja apa maumu," ujar Kanaya tidak ingin menampakkan betapa hatinya sangat sakit dengan perlakuan Elvano.


Elvano menoleh ke arah Kanaya, dan Kanaya melengos, menatap hiruk pikuk jalanan yang mereka lewati.


Mereka berdua terdiam sampai pada akhirnya sampai di tempat tujuan.


"Ingat kanaya..." ujar Elvano hendak mengancamnya untuk bertingkah laku seperti kemauannya.


"Ya aku tahu," jawab Kanaya tanpa menoleh ke arah Elvano dan meraih dompet pestanya.


Pintu terbuka dan Elvano pun mau tidak mau keluar dari mobilnya dan mulai tersenyum pada pencari berita yang sedang meliput acara tersebut.


Elvano mengulurkan tangannya ke arah Kanaya yang hendak keluar dari mobil, dan saat Kanaya keluar, lampu flash dari wartawan pun mengarah padanya dan Elvano.


Kamera pencari berita itu menangkap gambaran pasangan serasi yang banyak di puja semua orang di kota mereka.


Kanaya tersenyum dan berjalan bergandengan bersama Elvano di atas karpet merah.


"Ibu Kanaya apa kabarnya, Bu?"


"Ibu terlihat cantik sekali malam ini, gaun rancangan siapa yang Ibu kenakan?"


"Pak Elvano Anda terlihat serasi sekali Pak. Kapan rencananya kalian akan punya momongan?"

__ADS_1


Pencari berita bertanya sepanjang karpet merah yang mereka lalui.


Namun Kanaya hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan mereka. Ia memilih untuk diam malam itu, membuatnya mudah melewati malam itu dengan cepat.


Acara malam itu terasa membosankan bagi Kanaya, tidak seperti biasanya ia memilih untuk diam dan memainkan sandiwaranya dengan cepat.


Elvano sedang berbicara dengan kolega - koleganya di acara itu, dan Kanaya yang merasa bosan dengan jalannya acara itu berpamitan untuk ke toilet.


Kanaya tidak terburu - buru di dalam toilet, ia memanfaatkan waktu sendirinya untuk menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskannya setelah itu keluar.


"Kanaya!" Seseorang memanggil namanya dan ia pun menoleh.


Seorang laki - laki datang menghampirinya.


"Ay, Kamu menjatuhkan kalungmu," ujar laki - laki itu sambil menyodorkan kalung yang mirip


dengan miliknya.


Kanaya pun segera meraba lehernya, dan memang kalung miliknya tidak ada di tempatnya.


"Terimakasih," jawab Kanaya sambil menerima kalung itu.


"Mau aku pasangkan, sepertinya pengaitnya tidak rusak, hanya mungkin waktu memasangnya tadi yang kurang kencang," ujar laki - laki itu sambil tersenyum padanya.


Kanaya tidak ingin Elvano melihatnya bicara dengan laki - laki lain. Ia masih ingat terakhir kali ia bicara dengan laki - laki lain beberapa bulan yang lalu, membuat Elvano sangat murka.


"Biar aku pasangkan ya? Pasti sulit memasangkannya sendiri," ujar laki - laki itu langsung meraih kalung Kanaya dan melingkarkannya di leher jenjang Kanaya tanpa sempat untuk menolaknya.


"Tapi.....,"


"Nah, sudah!" ujar laki - laki itu di belakangnya. Kanaya bisa merasakan hangatnya nafas laki - laki itu di tengkuknya karena kedekatan mereka."


"Terima kasih," ujar Kanaya langsung berbalik menghadap laki - laki itu dengan gugup.


"Kamu benar - benar tidak ingat siapa aku ya?" tanya laki - laki itu.


Kanaya memperhatikan wajah laki - laki itu di hadapannya itu. Ia memang seperti pernah melihatnya tetapi ia lupa dimana.


"Aku Bagas, Ay." ujar laki - laki itu.


"Bagas," gumam Kanaya mencoba mengingat nama itu.

__ADS_1


"Kita pernah beberapa kali jalan bareng. Kamu,aku, Devan dan juga kakak kamu Devita." ujar Bagas.


Dan Kanaya mulai teringat pada Bagas sahabat Devan yang dulu beberapa kali pernah di temuinya.


"Bagas?" tanya Kanaya tersenyum lebar, teringat kembali sosok laki - laki di hadapannya. Bagas memang sedikit berubah, karena sudah lebih dari satu setengah tahun ia tidak pernah bertemu dengannya lagi.


"Ya!" jawab Bagas sambil tertawa senang melihat Kanaya bisa mengenalinya.


"Ya ampun bagaimana kabarmu? Bagaimana kabar Devan? Apa kamu bertemu dengannya?" Tanya Kanaya bertubi - tubi karena terlalu senang bertemu dengan salah satu teman dekat Devan.


Bagas tersenyum kemudian berkata, " Aku... belum pernah bertemu dengan Devan lagi. Tapi, nanti kalau bertemu dengannya akan aku sampaikan kalau aku bertemu denganmu," ujar Bagas.


"Dia pasti senang melihatmu bahagia, Ay." ujar Bagas dengan tersenyum canggung. Dan Kanaya pun berhenti tersenyum mendengar ucapan Bagas.


'Aku Bahagia?' Batin Kanaya


"Ehem,," tiba - tiba Elvano berdehem di belakang Kanaya.


Kanaya yang mengenali suara suaminya itu langsung menoleh dan wajahnya menjadi pucat pasi melihat Elvano berada di sana, dekat dengannya.


"Ka..Kak El," ucap Kanaya terbata - bata.


"Ya Sayang, apa kamu tidak akan memperkenalkan aku pada temanmu ini?" tanya Elvano sambil tersenyum. Namun pandangan tajamnya menatap ke arah Kanaya.


"I...ini temanku Bagas," ujar Kanaya memperkenalkan Bagas pada Elvano.


"Hallo Pak Elvano, Saya Bagas Adipura," ujar Bagas memperkenalkan diri sambil menyalami Elvano.


"Apa kalian sudah selesai berbicara? Karena sekarang waktunya untuk kita pulang sayang," ujar Elvano sambil merangkul Kanaya dengan mesra dan mengabaikan Bagas.


"Ya.. kami sudah selesai." Jawab Kanaya dengan wajah yang sudah pucat pasi.


Kanaya tidak ingin memperpanjang masalah dengan tetap berbicara dengan Bagas. Ia tidak ingin Elvano murka seperti dulu.


Biasanya Kanaya akan menolak berbicara lama dengan seorang pria dan ia akan selalu berada di sisi Elvano dalam acara - acara seperti ini. Namun saat mengenali Bagas tadi, ia begitu senang sehingga lupa jika Elvano ada di sana.


"Kami permisi," ujar Elvano kemudian menarik Kanaya dalam genggamannya dan berjalan keluar dari tempat acara.


"Kak El, aku hanya tidak sengaja bertemu teman lama dan berbicara dengannya," ujar Kanaya berbisik saat mereka sedang menunggu mobil yang di kendarai oleh Panji untuk menjemput mereka di pintu keluar acara.


"Aku tidak ingin membahasnya sekarang," ujar Elvano dengan dingin namun tersenyum melihat pada pencari berita yang ada di tempat itu.

__ADS_1


'Ya Tuhan apa yang akan Kak Elvano lakukana?' Batin Kanaya yang merasa hal itu tidak akan selesai begitu saja.


Jangan lupa like, komen dan vote


__ADS_2