
"Udah Ah, aku mau masuk aja!" Ucap Kanaya masih kesal dengan ulah Devan.
"Sayang, tunggu aku!" Seru Devan sambil berjalan mensejajari langkah Kanaya.
Kanaya hanya melirik ke arah Devan, namun tetapa berjalan masuk ke arah rumah.
"Tunggu, Ay. Aku mau ajak kamu pergi hari ini," ujar Devan tiba - tiba sambil menahan Kanaya berjalan lebih lanjut.
"Pergi kemana?" tanya Kanaya kembali melanjutkan langkahnya setelah melirik ke arah Devan. Sejujurnya Kanaya tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Devan. Devan terlihat sangat gagah dan menarik di mata Kanaya saat itu. Apalagi dengan keringat yang menetes di dahinya dan kaos yang di pakainya benar - benar sulit untuk tidak menatap ke arah Devan.
Namun, Kanaya tidak ingin memperlihatkan pada Devan betapa ia sangat menarik perhatian Kanaya pagi itu. Kanaya masih malu memgakui bahwa ia sangat tertarik pada Devan.
"Aku mau ajak kamu ke suatu tempat," jawab Devan sambil tersenyum lebar. Pandangan matanya seperti menerawang ke tempat lain dan membuat senyuamannya bertambah lebar.
'Ada apa dengan Devan? Kenapa dia terlihat senang sekali?" batin Kanaya.
"Jauh?" tanya Kanaya. Kanaya tahu ia tidak mungkin pergi ke tempat yang jauh dengan usia kehamilannya saat itu.
"Nggak juga," jawab Devan sambil menyeringai, merahasiakan sesuatu dan hal itu membuat Kanaya tambah penasaran. Apa yang Devan sembunyikan?
"Ya udah, tapi kamu mandi dulu, Van.Tuh udah keringatan!" Ujar Kanaya sambil menunjuk keringat di baju Devan dan berpura - pura menutup hidungnya.
"Ay, bukannya kamu suka kalau aku berkeringat?" bisik Devan setelah melangkah ke depan mendekati telinga Kanaya. Seketika itu wajah Kanaya langsung memerah dan ia tampak sangat kikuk. Apalagi saat itu ada Mama dan Bunda Alika di dekat mereka. Ia akan malu jika kedua Ibu mereka mendengar perkataan Devan. Mau di taruh dimana wajahnya?
"Devan apa - apaan, sih!"Seru Kanaya dengan kikuk, lalu berjalan masuk kedalam kamarnya.
"Devan, sudah jangan godain Kanaya! Cepat mandi dan kita sarapan bareng!" Seru Alika memperingatkan anaknya.
"Iya Bun, Devan mandi dulu yah," ujar Devan sambil menahan senyumnya melihat tingkah Kanaya kemudian masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar Devan tidak langsung mandi karena tubuhnya masih berkeringat. Ia pun duduk di jendela kamarnya sambil menulis text message.
Kanaya sedang berdiri di depan lemari pakaiannya, memilih baju yang akan di pakainya untuk pergi bersama Devan, dan ia tidak tahu harus mengenakan apa, karena ia tidak tahu kemana Devan akan membawanya.
Saat sedang memilih - milih pakaian, telepon genggam yang ia taruh di atas ranjangnya bergetar. Sebuah text message masuk dan ia pun langsung membukanya.
Devan : Nikah Yuk?
Kanaya begitu terkejut saat membacanya. Namun, tulisan di telepon genggamnya membuat senyuman Kanaya merekah. Kanaya pun tidak langsung membalasnya.
Devan : Say yes please...
Kanaya : Mmmm....
Devan : Means yes?
Kanaya : Tanya dulu sama Alvaro.
Devan mengetik....
__ADS_1
Devan : Alvaro pasti setuju.... He love me, and i love you both!❤
Kanaya : Kamu mau ajak aku kemana?
Kanaya merubah topik pembicaraan.
Devan : Suatu tempat. Kamu belum jawab pertanyaanku, sayang..
Devan masih belum memberitahu Kanaya kemana ia akan membawa Kanaya.
Kanaya : Ok... aku akan jawab setelah kita sampai disana.
Devan : Baik. love you...
Kanaya : ❤
Kanaya menaruh telepon genggamnya sambil tersenyum dan masuk kedalam kamar mandi untuk mandi. Sementara Devan pun begitu, ia pun langsung mandi dan bersenandung. Devan sudah tidak sabar untuk menikahi Kanaya setelah Alvaro lahir. Ia sudah menunggu sangat lama sampai saat itu tiba dan tempat dimana dia ingin mengajak Kanaya adalah bagian dari rencana masa depannya bersama Kanaya, Alvaro dan anak - anak mereka nantinya.
****
Selama perjalan menuju ke tempat yang di janjikan Devan. Kanaya melirik ke arah Devan bersamaan dengan Devan yang melirik ke arah Kanaya. Sehingga membuat keduanya tersipu.
'Kenapa rasanya seperti anak SMA yang pertama kali jatuh cinta ya?' batin Kanaya, sambil tersenyum dan menatap keluar jendela.
Hanya berjarak beberapa detik dari pikiran di benaknya itu, ia merasakan hangatnya tangan Devan meraih tangannya dan mengecupnya lembut.
Alvaro pun tampaknya sangat senang pagi itu, hingga ia pun bergerak menendang atau menyikut atau apapun itu yang ia lakukan di dalam perut Kanaya dengan lebih sering.
"Tenang sayang," ucap Kanaya sambil mengelus perutnya.
"Kenapa Ay?" tanya Devan sambil mengenderai mobilnya dan menoleh sesaat ke arah perut Kanaya.
"Alvaro, dia sangat senang sekali di ajak jalan - jalan hari ini?" jawab Kanaya sambil tersenyum.
"Pasti! Aku yakin dia akan menyukai ke tempat yang akan kita datangi." ujar Devan
sambil tersenyum.Tangan kiri Devan mengelus perut Kanaya dan menerka dimana Alvaro akan menyundul, dan saat Devan merasakannya ia tersenyum lebar.
"Jagoan Ayah!" Ucap Devan tanpa ia sadari.
Kanaya tersenyum mendengar ucapan Devan yang memanggil dirinya Ayah bagi Alvaro. Kanaya sama sekali tidak keberatan atau terkejut.
Kanaya tahu, jika takdir menyatukannya dengan Devan, Devan akan menjadi sosok Ayah yang baik bagi Alvaro.
Devan mengendarai mobilnya memasuki kawasan perumahan elite di kota itu, kembali membuat Kanaya menoleh pada Devan dan Devan membalasnya dengan senyuman.
"Kita kerumah siapa, Van?" tanya Kanaya, ia sama sekali tidak menduga jika Devan akan mengajaknya bertemu seseorang atau bertamu ke rumah orang lain. Ia pikir Devan akan mengajaknya ke suatu tempat makan cafe atau tempat - tempat lain. Tetapi bukan ke rumah seseorang. Mereka pun tidak membawa apa - apa sebagai buah tangan.
__ADS_1
Namun lagi - lagi Devan hanya tersenyum dan mengecup jemari tangan Kanaya.
Kanaya tidak bertanya lagi sampai mobil yang di kendarai Devan berhenti di depan sebuah rumah besar yang tampak baru selesai di bangun dengan halaman depan yang luas, cukup untuk menampung 10 buah mobil jika di parkir di sana.
Devan keluar dari mobil tanpa mematikan mesinnya dan membuka pagar rumah itu.
"Ini rumah siapa, Van?" tanya Kanaya saat Devan kembali ke dalam mobil.
"Rumah kita," jawab Devan tersenyum pada Kanaya dan melajukan mobilnya memasuki pekarangan rumah itu.
'Rumah kita? Apa Devan baru saja mengatakan rumah kita? Apa aku tidak salah dengar?' batin Kanaya masih memandangi Devan yang sedang santainya memarkir mobilnya di depan pintu rumah itu.
Tanpa berkata apa - apa Devan mematikan mesin mobilnya dan keluar dari dalam mobil, untuk kemudian membuka pintu mobil di samping Kanaya dan mengajak Kanaya masuk ke dalam rumah.
"Ayo Ay, kita masuk ke dalam," ujar Devan sambil meraih tangan Kanaya yang saat itu masih tertegun dan tidak percaya dengan perkataan Devan."
Kanay turun dan melihat di samping mereka terdapat kolam ikan model minimalis yang cukup besar, namun masih kosong dan belum terisi air.
Dari apa yang Kanaya lihat dari luar, tampaknya rumah itu belum lama selesai di bangun.
"Ayo, Ay," ajak Devan lagi sambil menggandengnya menaiki teras ke arah pintu masuk rumah itu.
Devan membuka pintu rumah itu dan mereka masuk ke dalamnya.
Saat Kanaya masuk ke dalam rumah itu, yang pertama di lihatnya adalah ruangan besar dengan tembok putih bersih dan cukup tinggi. Ruangan itu masih kosong dan belum ada perabotannya, dan begitu pula dengan ruangan - ruangan yang lainnya yang Kanaya lihat setelah itu, ruang keluarga, ruang makan dan juga dapur.
"Bagaimana menurutmu, Ay?" tanya Devan sambil membuka pintu halaman belakang rumah itu yang membuat Kanaya semakin terkesima. Sebuah kolam renang di tengah - tengah taman di halaman belakang yang juga cukup besar.
"Ini rumahmu, Van?" tanya Kanaya yang masih terkagum dengan apa yang di lihatnya.
"Ini rumah kita, Ay. Aku membangunnya untuk kita. Kamu, aku dan anak - anak kita," ujar Devan membetulkan ucapan Kanaya sambil tersenyum dan menatap mata Kanaya.
Rasa hangat menjalar dari dalam hatinya menyebar ke seluruh tubuh Kanaya mendengar Devan mengatakan hal itu.
Kanaya benar - benar tidak menyangka jika Devan sudah mempersiapkan rumah untuk mereka, jangankan menikah, ajakan Devan untuk menikah saja belum ia jawab, tetapi Devan sudah membangun rumah untuknya dan anaknya.
"Kamu lihat kolam ikan yang tadi ada di depan kan? Nah, itu nanti akan jadi kolam ikan koi kesukaanmu, kalau yang ini agar kamu dan Alvaro bisa berenang bersama," ucap Devan dengan bersemangat. Memberitahu Kanaya ide - ide dalam pikirannya mengenai rumah yang sedang mereka datangi hari itu.
"Rumah ini sekarang memang belum ada perabotannya, kolam ini dan juga kolam yang ada di depan, serta tamannya juga belum di rapikan, tapi nanti setelah semuanya beres, aku yakin semuanya akan terlihat bagus," ujar Devan sambil melihat sekeliling rumah itu. Ia sangat antusias memperlihatkan rumah itu pada Kanaya, seakan - akan mereka sudah benar - benar berkeluarga.
"Kamu pasti akan sangat menyukainya, Ay" ujar Devan selalu menggenggam tangan Kanaya.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.
__ADS_1