
"Sampai kapan kamu akan menunggu Kanaya sampai siap? Kamu tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya bukan?" kalimat itu terngiang - ngiang di benak Elvano. Yang sesunguhnya adalah ia belum merasa siap untuk meminta Kanaya kembali padanya. Karena ia merasa tidak pantas untuknya. Tetapi untuk kehilangan Kanaya kedua kalinya? Ia lebih tidak siap lagi!
Mamanya benar. Kanaya adalah seorang wanita yang sangat cantik, tidak hanya wajahnya tetapi juga hatinya. Dan lelaki manapun yang mengenalnya akan berlomba - lomba mendapatkan hatinya Dan ia tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya karena tidak bisa mendapatkan Kanaya kembali!
Elvano tersenyum. Ia bertekad untuk mendapatkan hati Kanaya kembali, meskipun sedikit sudah cukup untuknya.
"Pak Elvano, apa semuanya baik - baik saja?" tanya Abian Syahlendra yang duduk di hadapannya.
Ia dan Abian sedang mengadakan dinner meeting malam itu, dan benaknya masih terisi dengan Kanaya.
Elvano tersenyum pada Abian.
"Ya, Pak Abian. Maafkan saya, tetapi apa kita sudah selesai?" tanya Elvano.
Abian mengerutkan keningnya.
"Ya, saya rasa kita sudah membicarakan mengenai proyek kita. Apa Pak Elvano ada acara lain?" tanya Abian.
"Ya Pak. Kalau Bapak tidak keberatan saya mau pulang menemui keluarga saya," ujar Elvano sambil tersenyum antara tersipu dan bahagia.
Sebenarnya Abian heran, karena setahunya Elvano sudah bercerai. Jadi, keluarga mana yang di maksudnya, akan tetapi melihat senyum lebar dan binar wajah Elvano. Ia tak sampai hati untuk merasa keberatan. Lagi pula yang di temuinya adalah keluarga bukan? Siapapun keluarga itu, pasti berharga untuknya.
"Ya tentu saja, Pak Elvano. Silahkan saja, toh kita sudah selesai menyelesaikan poin pertemuan kita," ujar Abian tidak ingin menahan pria bahagia ini lebih lama.
"Terima kasih, Pak Abian. Saya pergi dulu" ujar Elvano sambil menjabat tangan Abian, kemudian ia berbalik dan memanggil Arya untuk menjemputnya di lobby restoran.
Elvano meyempatkan membeli cake coklat di restoran itu untuk ia bawa ke rumah Kanaya dan berpikir bahwa anak - anak pasti akan menyukainya.
Dan dalam perjalanannya, ia pun meminta Arya untuk mampir ke toko bunga yang sering ia lewati jika akan pulang ke rumah. Untuk menuju ke rumah Kanaya memang searah dengan rumahnya. Mereka tinggal di lingkungan yang sama hanya berjarak 10 menit dari rumah masing - masing.
Tak lama sebuah buket bunga mawar merah dan lili putih telah berada di tangan Elvano dan ia pun meminta Arya untuk pergi ke rumah Kanaya.
Arya bertanya - tanya, apakah bunga itu untuk Ibu Kanaya? Tetapi melihat ekspresi wajah dari Tuannya, ia sudah mendapatkan jawaban itu sendiri.
"Kita sudah sampai, Pak." ujar Arya sambil melihat ke arah Tuannya yang sedang tersenyum.
"Terima kasih Arya, kamu pulang lah. Nanti, kalau sudah selesai aku telepon," ujar Elvano sambil melangkah keluar mobil.
__ADS_1
"Baik Pak, nanti telepon saja dan saya jemput,"ucap Arya sambil tersenyum melihat Bosnya itu berjalan menuju pintu rumah Kanaya.
Elvano pun membunyikan bel rumah dan Siti yang membukakannya.
"Silahkan masuk Pak Elvano, Kakak Alvaro sudah menanyakan Bapak sejak tadi," ucap Siti.
"Di mana Alvaro?" tanyanya sambil memberikan paper bag berisi cake coklat yang di belinya kepada Siti.
"Ada di atas, di kamarnya," jawab Siti sambil menerima paper bag itu.
"Ibu Kanaya?" tanya Elvano lagi.
"Ada di atas, di kamar Clara. Bapak mau saya panggilkan Ibu?" tanya Siti sambil melirik ke arah buket bunga cantik di tangan Elvano.
"Ya, Siti. Terima kasih," jawab Elvano.
Siti pergi ke lantai atas untuk memanggil Kanaya dan juga Alvaro.
Sementara itu, jantung Elvano berdegup dengan kencang menyadari ia akan mengekspresikan perasaannya kepada Kanaya secara langsung. Selama ini ia selalu menyatakan secara sembunyi - sembunyi, lewat sikap dan perhatiannya pada Kanaya dan anak - anak. Akan tetapi ia ingin Kanaya tahu, bahwa ia masih sangat menyayanginya. Rasa sayang seorang laki - laki kepada seorang wanita, bukan hanya sebagai teman. Dan bunga itu adalah pernyataan hatinya pada Kanaya.
Terdengar langkah kecil berlarian menuruni tangga. Hal pertama yang di lihat Elvano adalah Alvaro dan Clara yang berlomba menuruni tangga untuk menemui dirinya.
"Alvaro, Clara," panggil Elvano sembari mengelus kepala mereka.
Kanaya menuruni tangga dan melihat Alvaro dan Clara yang berhamburan memeluk Elvano. Tetapi yang menarik perhatiannya adalah buket bunga di tangan Elvano. Mawar merah dan lili putih?
Elvano menoleh ke arahnya saat Kanaya sampai di lantai bawah, beberapa meter jarak dari dirinya.
Mereka berdua tampak canggung. Alvaro dan Clara melepaskan pelukan mereka sembari menahan tawa.
Perhatian Elvano terfokus pada Kanaya yang masih berdiri mematung di bawah anak tangga dan tampak gugup. Elvano pun gugup, namun ia berjalan menghampirinya.
"Ay, untuk kamu," ucap Elvano sambil memandang manik mata Kanaya.
Kanaya memandang Elvano sambil menggigit bibirnya. Ia merasa jantung nya berdegup sangat kencang ada apa ini?
Kanaya menurunkan pandangannya ke arah buket bunga cantik di hadapannya. Mawar merah dan lili putih...
__ADS_1
"Terima kasih," Ucap Kanaya saat ia menerima buket bunga itu, dan tidak berani menatap wajah Elvano.
"Bu, tadi Pak Elvano bawa kue, ini mau di potong sekarang?" tiba - tiba Siti datang dari arah dapur dan bertanya pada Kanaya ia sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi.
Kanaya menoleh ke arah Siti dan kembali ke arah Elvano.
"Aku... taruh ini dulu.... ke dapur..." ujar Kanaya dengan gugup sambil berjalan mundur perlahan.
"Ya," jawab Elvano sambil tersenyum, kemudian berbalik ke arah Alvaro dan Clara yang masih memandanginya tanpa berkedip.
"Kalian jadi belajar?" tanya Elvano memecah keheningan.
"Ya Pah, hehehe," jawab Alvaro sambil terkekeh dan menaruh bukunya di atas meja di ruang keluarga dan duduk di atas karpet di dekatnya.
Begitu pula, Clara yang membawa buku bersamanya, duduk di sebrang Alvaro dan membuka bukunya.
"Belajar apa Alvaro?" tanya Elvano sambil ikut duduk di samping Alvaro.
"Matematika Pah, Alvaro masih ada PR dan Belum selesai Alvaro kerjakan," ujar Alvaro. Ia sebenarnya bisa mengerjakan PR itu sendiri, hanya triknya saja agar Papanya bisa datang ke rumahnya malam itu.
Elvano pun mengajarinya, dan sebentar saja mereka pun sudah fokus untuk belajar.
Kanaya membawa buket bunga itu, ke dapur dan menaruhnya dalam vas bunga.
"Cantik, Bu." ujar Siti sambil tersenyum melihat bunga itu.
"Pak Elvano, pintar memilih bunganya, sesuai untuk Ibu," ujar Siti sambil tersenyum sementara tangannya memotong cake yang di bawa oleh Elvano.
"Bunda! Jangan lama - lama di dapur, Clara mau belajar!" Teriak Clara dari ruang keluarga.
"Iya," jawab Kanaya, lalu cepat - cepat membawa bunga - bunga cantik itu ke ruang keluarga dan menaruhnya di atas bufet sebelum ia duduk di sebelah Clara, bersebrangan dengan Alvaro dan juga Elvano.
Elvano memperhatikan saat Kanaya datang menaruh vas bunga itu di atas bufet kemudian duduk di sebrangnya. Kanaya sempat melirik padanya sebelum ia menunduk dan melihat ke arah buku pelajaran Clara. Mereka kembali fokus mengajari anak - anak mereka sampai Siti datang membawakan cake coklat untuk mereka di sertai teh hangat untuk Kanaya dan anak - anak, dan kopi hitam untuk Elvano.
Saat di rasa Alvaro sudah menguasai materi yang ia pelajari. Elvano tak kuasa untuk tidak menatap Kanaya yang berada di sebrangnya, dan Kanaya pun tak sengaja melirik beberapa kali ke arah Elvano. Kanaya pun merasa salah tingkah dengan pandangan Elvano padanya.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya.