
"Nyonya sangat suka sekali membaca buku sampai Nyonya hafal semua nama pengarang dan judul buku - buku itu." Ujar Bella kagum pada Nyonya.
"Aku memang suka membaca, Bella. Dengan membaca kita bisa mengetahui banyak hal. Dan buku - buku novel seperti ini adalah hiburan untukku. Aku bisa menyelami apa yang di rasakan oleh tokoh dalam ceritanya di buat bersambung setiap bulan," ujar Kanaya sambil tersenyum.
"Nyonya pernah mengarang buku?" Tanya Bella ingin tahu.
Kanaya berpikir dan mengingat sesuatu.
"Pernah waktu aku masih sekolah. Bukan buku sebenarnya. Waktu itu aku membuat sebuah cerita percintaan anak - anak sekolah untuk majalah sekolahku, dan ceritanya di buat bersambung setiap bulan," ujar Kanaya sambil tersenyum.
"Kenapa Nyonya tidak menulis novel saja?" tanya Bella.
Menulis novel? Apa mungkin? Apa Elvano akan mengijinkan? Pikirnya.
"Nyonya, sekarang kan banyak sekali novel - novel yang kita bisa baca melalui aplikasi di handphone kita. Mungkin Nyonya bisa mencoba itu," ujar Bella.
"Novel Online, maksudmu?" tanya Kanaya dan Bella mengangguk.
"Entahlah Bella," jawab Kanaya tidak yakin.
"Kenapa tidak Nyonya coba saja? Nyonya hanya membutuhkan handphone untuk mencobanya," ujar Bella menyemangati.
Kanaya tersenyum dan beranjak dari duduknya.
"Akan aku pikirkan Bella, sekarang aku mau mandi dulu," ujar Kanaya sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Saya ke dapur dulu, Nyonya," ujar Bella ikut beranjak dari duduknya dan mengambil baki bekas makanan Kanaya.
"Oh iya Bella, nanti kembali lagi kesini, aku perlu bantuanmu untuk mengobati lukaku," ujar Kanaya sambil menoleh ke arah Bella.
"Baik Nyonya," jawab Bella sambil tersenyum.
__ADS_1
Kanaya pun masuk ke dalam kamar mandi dan segera mandi. Guyuran air pancuran masih menyisakan perih di bekas lukanya yang belum kering. Ia pun perlahan - lahan mengeringkan punggungnya dengan handuk sambil meringis menahan sakit.
Setelah di rasanya cukup ia keluar kamar mandi dan memakai celana pendek piyamanya dan menunggu Bella sambil duduk bersila di ranjangnya, dan menutupi bagian depan tubuhnya dengan selimut. Ia tidak memakai baju apa pun karena menunggu Bella mengobati lukanya dengan salep yang di berikan oleh dokter.
Sambil menuggu Bella, ia pun membaca salah satu buku favoritnya, Me Before You. Karya Jojo Moyes.
Sementara itu, Elvano yang sedang berkaroke dengan Maya tidak sengaja melihat Bella turun membawa baki. Elvano tahu bahawa Kanaya baru saja selesai makan.
"Maya, aku ke kamar dulu sebentar, aku ingin berganti pakaian sebentar. Kaos ini tidak nyaman aku pakai," ujar Elvano pada Maya yang tengah asyik bernyanyi.
"Oke sayang cepat kembali ya," ujar Maya, kemudian mengecup bibir Elvano.
Elvano mengangguk dan beranjak menaiki tangga ke lantai dua. Namun Elvano tidak masuk ke dalam kamarnya, dan malah berjalan terus sampai ia berhenti di kamar yang paling ujung.
Kamar itu tampak sunyi senyap tidak ada suara sama sekali.
'Apa Kanaya sudah tidur? ' Batin Elvano.
Elvano pun membuka pintu tanpa mengetuknya dan berjalan masuk ke dalam.
Kanaya hanya mengenakan celana tidurnya, sedangkan bagian atas tubuh depan hanya di tutupi selimut dan di jepitkan di kedua ketiaknya dan membiarkan bagian belakang tubuhnya terbuka. Rambut panjang Kanaya di ikat ke atas berbentuk messy bun, makin jelas memperlihatkan guratan - guratan merah memanjang di beberapa tempat hampir di seluruh punggungnya. Dan itu semua karya yang ia torehkan di punggung indah Kanaya.
gambar ilustrasinya kurang lebih seperti ini ya cheu, dan anggaplah seperti itu kondisi dari punggung Kanaya,,,kwkkkwkkkkwkk😊
"Bella, tolong olesi salep ini," ujar Kanaya tanpa menoleh ke belakang. Ia sedang asyik membaca bukunya dan tangannya menjulur ke belakang memegang sebuah tube salep.
Elvano berjalan menghampiri Kanaya dan meraih tube salep itu, kemudian ia perlahan duduk di sisi ranjang di belakang Kanaya dengan diam tidak bicara. Sepertinya Kanaya pun hanyut dalama kisah di dalam novel yang di bacanya, sehingga tidak menyadari kehadiran Elvano di sana.
Elvano dapat melihat luka di tubuh Kanaya dengan lebih jelas, dan timbul rasa bersalah di hatinya.
__ADS_1
Perlahan di olesinya luka - luka Kanaya itu. Mulai dari yang paling atas dan perlahan bergerak ke bawah. Sesekali terdengar Kanaya meringis, namun sebentar saja ia kembali larut dalam bacaannya.
Saat telah selesai mengolesi luka - luka Kanaya, mata Elvano tak sengaja menatap leher jenjang Kanaya yang ada di hadapannya. Tidak ada guratan luka di sana, leher putih dan bersih Kanaya sangat bertolak belakang dengan tubuh di bawahnya. Mungkin jika ia tidak melukainya, punggung Kanaya akan terlihat sangat indah seperti leher jenjangnya.
Tatapan Elvano turun kembali ke pundak Kanaya, memperhatikan guratan - guratan dengan warna sedikit memudar dan memanjang sampai ke punggung, bekas goresan di tubuh Kanaya. Ia sadar itu adalah guratan yang lain yang ia ciptakan beberapa bulan yang lalu saat ia pertama kali memukul Kanaya. Di sentuhnya guratan itu perlahan dengan jari telunjuknya.
Saat itulah Kanaya merasakan ada yang aneh dengan sikap Bella, sehingga ia pun menoleh ke belakang.
Kanaya terkesiap saat melihat Elvanolah yang duduk di belakangnya, dan bukan Bella. Wajah Kanaya pucat pasi seperti baru saja melihat hantu.
Kanaya begitu terkejut sehingga ia menjatuhkan buku bacaannya dan bergerak mundur menjauhi Elvano. Ia tidak menyadari jika bergeser mundur, ia menarik selimut yang menutupi tubuhnya, hingga tersingkaplah kedua buah dadanya. Namun Kanaya segera sadar dan menarik selimut itu kembali menutupi leher hingga tubuhnya.
"Kamu... Kamu mau apa kesini?" tanya Kanaya dengan terbata - bata.
"Kanaya...," Panggil Elvano dengan suara yang bergetar dan memandang Kanaya dengan tatapan yang Kanaya tidak bisa mengerti.
Tiba - tiba pintu terbuka, dan Bella melangkah masuk.
"Nyonya maaf sa...." Bella tertegun melihat Tuannya berada disana.
"Maaf Tuan, saya tidak tahu kalau Tuan ada di sini," ujar Bella sambil menunduk.
Wajah Elvano pun memerah, ia merasa malu tertangkap basah oleh pelayan di rumahnya sedang berada di kamar Kanaya.
Elvano segera beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu keluar.
"Jangan pernah bicarakan hal ini pada siapa pun!" Ucap Elvano pada Bella sebelum ia benar - benar meninggalkan kamar Kanaya.
"Nyonya, apakah Anda baik - baik saja?" tanya Bella sambil menghampiri Kanaya.
Kanaya mengangguk namun tubuhnya masih bergetar karena kehadiran Elvano dalam kondisinya yang seperti itu. Dan ia pun menyadari jika Elvanolah yang telah mengoleskan salep di punggungnya.
__ADS_1
"Mari Nyonya, saya bantu untuk berpakaian," ujar Bella sambil mengambilkan piyama Kanaya yang terbuat dari kain sutra yang lembut, sehingga tidak akan menyakiti lukannya.
Jangan lupa like, komen dan vote.