Istri Pengganti Ceo

Istri Pengganti Ceo
Kedatangan Gilang


__ADS_3

Hari itu mesin life support yang menyanggah keberadaan Devan pun di hentikkan dan saat tubuh Devan menghembuskan nafas terakhirnya. Kanaya, Alvaro dan Elvano berada di sana. Sedangkan Clara, ia masih belum siap untuk menerimanya.


Keesokan harinya tubuh Devan di makamkan, semua kerabat handai taulan, sahabat dan rekan - rekan kerja datang mengantarkan kepergiannya ke peristirahatan terakhirnya. Semua merasa kehilangan sosok seorang Devan Permana, seorang Ayah, Suami, Sahabat, Rekan kerja, Atasan dan seorang Pengacara handal yang sangat berdedikasi.


"Mbak Kanaya, kamu harus lebih tabah." Pak Devan sudah berada di tempat yang lebih baik." ujar Rena padanya.


Rena pun tidak menyangka jika kisah hidup Devan Permana yang di kenal baik dengan keluarga akan berakhir seperti itu.


Tetapi semua orang punya jalan hidup masing - masing. Yang terpenting Devan pergi dengan meninggalkan kesan yang baik di mata orang - orang yang di kenalnya.


"Terima kasih Bu Rena dan Pak David. Terima kasih karena telah ikut mengantarkan kepergian suami saya. Mohon keikhlasan untuk memaafkan kesalahan beliau, baik yang di sengaja atau pun yang tidak di sengaja." ujar Kanaya pada David dan Rena yang di kenal keluarga mereka dengan baik.


"Insyaallah Mbak Kanaya." ujar Rena sambil memeluk Kanaya sebelum mereka berpisah.


Satu persatu para pelayat meninggalkan komplek pemakaman hingga hanya tinggal Kanaya, Elvano, Alvaro dan juga Clara.


"Ayo Ay. Sudah waktunya kita pulang. Kamu juga harus istirahat. Alvaro dan Clara harus istirahat pula," ujar Elvano, mengajak Kanaya untuk pulang, karena semua orang telah kembali.


Kanaya menarik nafas panjang, sambil mengusap gundukan tanah merah yang menutupi tubuh Devan.


Jika hanya dirinya seorang, Kanaya sudah pasti akan menunggu di sana lebih lama. Akan tetapi benar perkataan Elvano, ada Alvaro dan Clara yang sekarang bergantung padanya. Ia harus bisa lebih tegar dari pada mereka.


Kanaya pun mengangguk dan menarik Clara yang ada di pangkuannya untuk berdiri.


"Sini sama Papa," ujar Elvano, kemudian menggendong Clara. Clara tampak sangat sedih dan wajahnya menempel lemas di bahu Elvano.


Sedangkan Alvaro, ia terlihat lebih tabah. Ia menggandeng Kanaya berjalan bersamanya. Berjalan menuju mobil Elvano yang terparkir tak jauh dari makam Devan.


**********


Satu tahun berlalu. Tidak mudah untuk Kanaya dan anak - anaknya hidup tanpa Devan. Kasih sayang dan keberadaan Devan bersama mereka begitu melekat. Tetapi Kanaya dan anak - anaknya harus merelakannya. Agar ia tenang di sana, memudahkan jalannya menghadap ke sang ilahi.


Kecelakaan yang menimpa Devan menjadi pembicaraan banyak orang pada saat itu. Budi, supir Devan yang ikut bersamanya sore itu meninggal saat kecelakaan. Sedangkan Beni dan Bastian mengalami cidera, namun tidak terlalu parah dan dapat bertahan hidup.


Beni meneruskan Firma Hukum milik Devan, seperti keinginan Devan dalam surat wasiatnya, yang ternyata sudah ia siapkan sebelum kepergiannya. Sedangkan untuk beberapa aset yang lainnya seperti tanah, rumah dan lainnya di berikan untuk Kanaya dan anak - anaknya.

__ADS_1


Pengemudi truk tronton itu sudah di tangkap dan menjalani masa hukumannya dalam penjara, namun ia tidak mengakui jika ada keterlibatan dengan kasus yang sedang di tangani oleh Devan sebelumnya.


Beberapa hari setelah kepergian Devan. Gilang Narendra mendatangi Kanaya dan menyatakan bela sungkawanya. Ia meminta maaf karena tidak bisa berada bersama di sana saat itu, karena pekerjaannya di lain kota dan ia baru mengetahui apa yang terjadi pada Devan setelah semuanya sudah terlambat.


Tetapi Gilang mengatakan sesuatu hal pada Kanaya.


"Bu Kanaya, saya berjanji akan mencari orang yang bertanggung jawab atas kecelakaan Bapak, dan saya pastikan dia menerima apa yang sudah sepatutnya dia terima," ujar Gilang saat itu.


Kanaya tidak paham apa yang di katakan Gilang padanya.Dalam pengetahuan Kanaya, pengemudi truk yang bertanggung jawab atas kejadian itu sudah di tangkap dan di penjara atas perbuatan yang telah di lakukannya.Akan tetapi, beberapa hari setelahnya, Randy Sanjaya di temukan tewas di dalam penjara dan beredar kabar rekaman pengakuanya bahwa ia lah orang yang bertanggung jawab di balik kecelakaan itu.


Kanaya mengikuti berita itu, akan tetapi apa pun yang terjadi, ia sudah merelakannya, ia sudah mengikhlaskan Devan pergi ke tempat yang lebih baik.


"Ra, aku mau kerumahmu, kamu masih di kantor?" tanya Elvano pada Kanaya sore itu melalui telepon genggamnya.


"Iya, ini aku baru mau pulang?" jawab Kanaya sambil memasukkan barang - barang ke dalam tas kerjanya.


"Aku jemput ya, kebetulan aku lagi ada di dekat kantormu," ujar Elvano.


"Tapi aku bawa mobil sendiri, Kak El." ujar Kanaya menolak dengan halus.


"Oh.... kamu tunggu di depan aja, Kak El. Aku segera keluar!" Ujar Kanaya lalu ia bergegas keluar kantornya.


Di lihatnya mobil Elvano yang sudah berhenti di depan lobby apartemen, dan Arya, supir Elvano berdiri di samping mobil itu.


"Sore, Bu Kanaya." sapa Arya sambil membukakan pintu penumpang di bagian depan untuk Kanaya.


"Terima kasih Arya. Mobilku ada di sana," ujar Kanaya sambil menunjuk letak mobilnya yang terparkir dan memberikan kunci mobilnya kepada Arya.


"Baik Bu, akan saya bawa pulang mobil Ibu." ujar Arya. Lalu menutup pintu mobil Elvano.


"Sudah semua Ay?" tanya Elvano sambil menoleh dan tersenyum.


"Sepertinya sudah," jawab Kanaya sambil berpikir sesaat.


Mobil pun berjalan menuju ke rumah Kanaya.

__ADS_1


"Apa Clara meneleponmu lagi?" tanya Kanaya, mencari tahu alasan Elvano datang ke rumahnya.


Hubungan Alvaro dan Clara memang berjalan sangat baik. Ia menjadi figur Ayah bagi mereka setelah kepergian Devan.


Elvano tidak pernah segan - segan untuk datang saat Clara dan Alvaro memintanya untuk datang, meskipun hanya untuk hal kecil seperti membantu Clara untuk mengerjakan tugas sekolah atau bermain bola dengan Alvaro atau bahkan memintanya untuk menjemput mereka di sekolah. Semua itu ia lakukan tanpa mengeluh, dan Kanaya sangat berterima kasih padanya, meskipun berulang kali Kanaya pun meminta maaf pada Elvano karena selalu merepotkannya. Dan Elvano pun menanggapinya dengan tersenyum, sambil berkata, " Aku senang melakukannya."


Elvano terkekeh mendengar pertanyaan Kanaya.


"Tidak," jawabnya sambil melirik sekilas ke arah Kanaya.


"Alvaro? Apa dia mengajakmu bermain game lagi?" tanya Kanaya mencari tahu kenapa Elvano datang ke rumahnya.


"Apa harus anak - anak yang jadi alasan aku datang?" tanya Elvano sambil tersenyum. Melirik sekilas ke arah Kanaya, lalu kembali memperhatikan jalanan yang ada di depannya.


"Kanaya..."


"Ay, aku cuma mau bersama kalian aja. Apa perlu ada alasan?" batin Elvano sambil melirik ke arah Kanaya.


"Aku mau ajak kalian makan di luar malam ini, nggak pa - pa kan, Ay?" tanya Elvano akhirnya setelah mereka terdiam beberapa saat.


"Oh... nggak pa - pa. Kamu mau ajak makan kemana, Kak El?" tanya Kanaya.


"Aduh, kemana ya?" batin Elvano. Ia sebenarnya belum punya rencana untuk mengajak makan malam. Hanya karena ia harus menjawab pertanyaan Kanaya saja, makanya Elvano mengatakan hal itu.


"Ada... nanti kamu akan lihat," ujar Elvano sambil nyengir.


"Oke, gak pa - pa. Anak - anak pasti senang. Tapi jangan pulang terlalu malam ya, Kak El. Karena besok kan anak - anak harus sekolah," ujar Kanaya mengingatkan Elvano.


"Iya Ay. Aku tahu," ujar Elvano sambil melihat jalanan di depannya.


Saat mereka sampai di rumah, Alvaro dan Clara sudah siap untuk berangkat, karena Kanaya sudah menelepon Siti untuk menyiapkan Alvaro dan Clara.


Bersambung...


Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.

__ADS_1


__ADS_2